Sabtu, 02 Mei 2020

Feminism & Other Things

DISCLAIMER: Kalau tidak mau pusing, langsung loncat ke paragraf ke-8 untuk bahasan utamanya. Tapi kalau mau menikmati alur soliloquy saya, yuk mari, selamat membaca dari awal. Semoga tidak mual. Hahaha

Sepertinya bahasan saya belakangan ini tidak jauh-jauh dari ini. Well, saya pernah berada di satu kondisi di mana pandangan saya terhadap feminismus itu negatif dan benar-benar mengikuti alur berpikir itu hingga berwujud nyata. Setelah saya renungi lebih jauh, dan saya berada di posisi sekarang, yes, I used to think "the other way" yang pada saat ini saya pikir itu bodoh. Tapi saya tidak ingin menyalahkan diri saya di masa lalu. Saya berada di wisdom saya yang sekarang ya karena saya pernah berada di masa lalu yang seperti itu. 

Oke, apa sih masa lalu dan masa sekarang saya? Tentu saja tidak akan saya bicarakan di sini. Gila apa. 

Enggak sih, tetap saja saya akan membicarakannya (dengan cara yang lain).

Yes, saya senang dengan pemikiran saya sekarang untuk menjadi seorang feminist. Uwuw, dulu saya dengar ada orang mengklaim dirinya sebagai seorang feminist saja sudah mengernyitkan dahi. Bahkan sekarang saya bahagia dengan adanya pemikiran ini. Oh my God! Kemana saja saya selama ini? Iya itu tadi, kurang baca. See? Sometimes you will know the beautiful things only if you slow down. Eh, tapi saya juga harus berhati-hati sih untuk mengklaim diri sebagai seorang feminist jika laku dan pikiran saya belum sepenuhnya mencerminkan hal yang sebenarnya. Sama juga seperti ketika dulu pernah diskusi dengan seorang kolega waktu acara di Solo (sebut saja Bang Edo bageur, katanya :D) tentang penghapusan kolom agama di KTP. Apakah kamu bisa mengklaim dirimu sendiri seorang muslim? Saat itu saya menimpali ya, kita sebagai seorang yang bersyahadat harus bangga dong dengan keIslaman kita. Menunjukkan identitas bahwa kita seorang muslim itu perlu. Misal sebagai manusia kita berhak dong ya ketika kita nanti meninggal, disemayamkan dengan cara yang selayaknya agama kita anut. So, what's the point of not to mention your religion or religious view? 

Sampai sekarang saya masih memikirkan hal tersebut. Ini menurut saya lebih ke pemahaman sufi sih. Gini, apakah kita benar-benar tahu bahwa Allah dan Rasulullah menerima kita sebagai seorang umatnya Rasulullah? Damn, menurut saya ini lebih dari sekedar pengakuan identitas di KTP sih. Ini lebih ke penghambaan. Sejauh apa sih sebenarnya kita sudah mengamalkan agama yang kita anut secara kaffah? Apakah kita yakin amal-amal kita diterima? Bagaimana kalau kita menjadi golongan orang yang di akhirat nanti seperti yang ada di hadist, dengan membawa amalam yang segunung, kemudian ditolak mentah-mentah sama Allah. "Kamu berdusta!" Itu se-broken-broken-nya patah hati.

Ah lagi-lagi saya suka gini, untuk menuju ke inti dari apa yang sebenarnya mau ditulis, saya menggiring pembaca berbelok dulu ke yang lain. Baik, kembali ke feminism. Jadi, saya tidak jadi mengklaim diri sebagai feminist lho ya, tapi saya sedang belajar dan menemukan hal yang membuat saya ber-wow-wow tentang itu. Sama halnya dengan salah seorang kolega lain yang kemarin bertanya-tanya apa sih sebenarnya "economist" atau ekonom itu? Kriteria apa yang yang disematkan pada seseorang sehingga layak disebut sebagai seorang ekonom? Apakah tanpa mengambil economics degree juga bisa disebut ekonom? Nah, ini bahasan lain lagi. Hahaha. Intinya what's the matter of claiming the identity? Iya, betul, to some extent diperlukan, tapi jika kita return to the meaning, acts speak louder. Dan satu lagi: innamal a'malu binniyat. (Serius saya pernah hapal hadist pertama kumpulan Imam An Nawawi ini. Klaim yang tidak penting.) Ini kenapa jadi bahas identity woy.

Baik, sekarang benar-benar bahas sesuai judulnya. Jadi itu kemarin sempat chit-chat dengan beberapa kolega lain membahas postingan teman mengenai emotional works (domestic works) dalam pandangan syariat Islam. Bahasan ini semakin santer setelah adanya pandemik yang mengharuskan hampir semua orang untuk tinggal di rumah saja. Jadi kan banyak tuh mencuat bahasan mengenai gender imbalance of domestic works. Bersamaan dengan bulan Stop Discrimination Maret lalu. Pokoknya Maret adalah bulan kesetaraan untuk semua lah. 

Teman saya (Fahmi) kemarin juga bahas tentang ini di IG Stories-nya (Uh, senangnya semakin banyak laki-laki yang berpandangan feminist). Saya ceritakan singkat saja, dia juga mengutip salah satu perkataan Asy-Syirazi dalam Al Muhadzdzab yang di-syarahkan Imam An Nawawi: 
"Tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci, dan bentuk khidmat lainnya..." (Asy-Syirazi, al-Muhadzadzab, jilid 15, hal 581). 
Juga kutipan yang lain ketika dia mempertanyakan, mengenai adat dan kebiasaan masyarakat yang sudah melekatkan urusan domestik berdasarkan gender tertentu: 
Menurut Al Bujairimi yang menjelaskan dalam Hasyiyah-nya ketika ada pertanyaan, "Apakah suami wajib memberi tahu bahwa istrinya tidak wajib berkhidmat, seperti memasak dan menyapu sebagaimana yang berlaku pada adat?" "Kami menjawab zahirnya yang pertama, yaitu suami wajib memberitahu, sang istri akan menyangka khidmat tersebut sebagai kewajiban."
Pas juga sih saya sedang baca bukunya Gemma Hartley judulnya FED UP yang belum kelar-kelar juga. Di sana juga banyak membahas mengenai emotional labor. Apa lagi itu emotional labor? Lihat wikipedia: 
Emotional labor is the process of managing feelings and expressions to fulfill the emotional requirements of a job.
Bahasa singkatnya untuk konteks ini, sependek yang saya pahami, adalah pekerjaan domestik kaitannya dengan taking care yang selama ini disematkan pada identitas gender tertentu, atau "female work". Nah, dalam chit-chat itu kami sedikit berkesimpulan bahwa penyematan identitas gender pada pekerjaan domestik itu sesungguhnya adalah konstruksi budaya, bukan dari pengamalan syariat. Barangkali banyak yang mengernyitkan dahi ini. Ah, pemikiran kami terlalu liberal.

Yes, memang dalam sebuah hadist disebutkan mengenai pahala seorang istri yang menghidangkan segelas air minum untuk suaminya seperti beribadah umroh. Begitu juga dengan kewajiban seorang istri untuk patuh pada ajakan suami. Barangkali akan ada juga yang membenturkan derajat perkataan ulama dengan hadist. Tapi bukan kapasitas saya untuk itu ya...saya hanya bercerita tentang apa yang saya dan teman-teman saya bahas kemarin. Bisa benar, bisa salah.

Sebenarnya perlu tidak sih division of labor based on gender? Itu sih inti yang ingin saya bahas di sini. Ini opini saya lho ya, sependek yang saya baca juga, saya kurang sepakat dengan penisbatan suatu pekerjaan terhadap gender tertentu. Misal, tugas masak adalah tugas istri. Tugas mengurus rumah tangga dan anak-anak adalah tugas istri. Dalihnya adalah kemelekatan otak dan hormon perempuan yang cenderung lebih detail daripada laki-laki. Secara realitas yang selama ini terjadi barangkali itu bisa benar. Tapi jauh sebelum itu terjadi, saya pikir kita tidak bisa mengkotak-kotakan suatu pekerjaan rumah tangga hanya baik jika dilakukan oleh gender tertentu. Misal membenarkan genteng yang bocor adalah pekerjaan laki-laki. Pekerjaan perempuan adalah memasak, menjahit, dan apa-apa yang selama ini kita lekatkan padanya. Hipotesis saya adalah, itu berakar dari konstruksi budaya yang dibina dari pembiasaan di keluarga. Coba kalau anak laki-laki kita juga dibiasakan untuk memasak sendiri makanannya, tentu tidak ada lagi yang memberikan pemakluman "maklum, masakan lelaki". It's simply about duration. Jam terbang. Pembiasaan. Bahkan Rasulullah pun menjahit sendiri pakaiannya yang robek.

Hal menarik yang saya baca dari bukunya Gemma Hartley adalah bagaimana konstruksi budaya itu telah membuat suatu standar ganda pada perempuan. Salah satu hal yang dia ilustrasikan di dalam bukunya adalah ketika ia meminta suaminya menjaga anak-anaknya di rumah sementara dia harus menghadiri undangan makan bersama teman-temannya. Teman-temannya bertanya-tanya di mana anak-anak? Mengapa tidak dibawa sementara yang lainnya membawa anak-anaknya? Dia menjawab bahwa anak-anak sedang bersama suaminya di rumah. Seketika pujian ditujukan pada suaminya. Wow, kamu memiliki suami yang hebat karena bersedia berbagi peran. Atau di kesempatan lain ketika suaminya mendapatkan jadwal untuk berbelanja kebutuhan rumah bersama anaknya saja tanpa didampingi istri, orang-orang kemudian membuat pujian kepadanya. Sekarang jika dibalik, si istri melakukan hal yang sama, apakah pujian yang sama akan berlaku kepada istrinya?

Saya ingat sebuah perkataan dari seorang narasumber Lalita Project beberapa waktu lalu, bahwa seseorang ketika sudah tidak lagi dipuji atas pekerjaannya, itu menandakan sudah konsisten dan lamanya ia melakukan pekerjaan itu. Nampaknya jika kita kaitkan dengan kasus di atas bisa jadi benar. Ya, kita kebanyakan dipuji atas hal-hal yang tidak biasa, bukan?

Padahal...seharusnya pekerjaan taking care bisa dilakukan oleh keduanya dengan baik. Memang tidak masalah dengan seorang istri yang memilih untuk mengambil alih semua pekerjaan domestik agar suami bisa fokus bekerja mencari nafkah. It's really fine, jika memang didasarkan atas keputusan sadar dan bebas. Freedom to choose. Dan salah satu inti dari tujuan dari pembangunan yang saya pelajari dari Amartya Sen adalah tentang kebebasan dalam memilih. Daripada karena keharusan, keterpaksaan. Keharusan berarti memang tidak ada pilihan lain yang bisa dipilih. Yang saya titik beratkan di sini adalah pada konstruksi sosial yang bisa berimplikasi pada insecurity seorang istri ketika melakukan tektok dengan suaminya mengenai division of domestic labor. Ketika istri tidak melakukan pekerjaan tertentu maka dia termasuk seorang istri yang pemalas, tidak bisa melayani suami, dll. Wow, padahal jika balik lagi ke syariatnya, justru kewajiban memberi nafkah lahir dan batin itu suami lho. Istri hanya membantu. Nafkah tidak selalu dalam bentuk uang belanja yang secara tidak langsung harus diterjemahkan oleh seorang istri untuk dibelanjakan dan disulap menjadi kebutuhan sehari-hari keluarga berupa masakan yang siap dihidangkan di meja. Boleh juga lho nafkah itu diwujudkan langsung dalam bentuk makanan yang dihidangkan di meja untuk istri atau lansung disuapkan ke mulut istri dan anak-anaknya. Tapi saya tidak ingin juga meletakkan kewajiban sepenuhnya pada sosok suami. Kasihan juga sih. Ya gimana lagi tanggung jawab kalian berat bung. Dunia akhirat. Makanya kami sebagai istri harus patuh.

Tapi, instead of membicarakan pembebanan kewajiban pada suami apa, pada istri apa, saya pikir akan lebih nyaman jika konstruksi itu berakar dari sebuah tanggung jawab yang setara. Equality. Bahwa selain mengandung dan menyusui, semua aktifitas pekerjaan rumah tangga juga bisa dilakukan oleh suami. Begitu juga istri. Semua punya tanggung jawab yang sama dalam berjalannya suatu rumah menjadi nyaman untuk penghuninya atau tidak. Dan itu simply adalah masalah skill. Basic skill yang kemampuannya bisa diasah dari pembiasaan dan juga berakar dari pendidikan di keluarga masing-masing.

Yang mau saya tekannya di sini adalah untuk tidak perlu lagi seorang istri merasa insecure atau merasa bersalah ketika belum memasak makan malam untuk keluarga karena belum sempat. Karena merasa itu adalah tanggung jawab dia. Sebagaimana yang berlaku di society untuk kata "seharusnya". Sementara suami tidak merasa bersalah dengan kondisi yang sama. Saya pikir kita bisa saling berbagi peran dengan lebih fleksibel tanpa mempermasalahkan gender sesuai dengan konstruksi sosial selama ini. Saya pikir tidak melulu karena otak perempuan yang lebih detail sehingga ia lebih mudah noticed ketika ada hal yang perlu dilakukan dengan urusan domestik, misal lantai kotor, cucian, dll. Bahwa laki-laki pun bisa menjadi detail untuk urusan yang memang ia gandrungi. Misal ketika terjadi kerusakan mesin mobil yang akan noticed duluan biasanya laki-laki kan. Begitu juga jika kita memiliki pemahaman yang sama mengenai tanggung jawab domestik, yang terjadi adalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Berlomba-lomba untuk saling melayani dan membahagiakan. Intead of protes ini kewajibanmu, itu kewajibanku. It's not my job, it's your job. Bahwa motivasi melakukan pekerjaan taking care adalah kepedulian, karena memang care. Dan lebih bagus lagi karena taking care each other itu berpahala. Semoga bisa dipahami dengan baik.

Bahwa setiap kita, apapun gendernya, punya peluang untuk melakukan pilihan-pilihan atas apa yang kita kerjakan, dengan bebas, dan bertanggung jawab. Bahwa kita punya peluang yang sama untuk melakukan yang terbaik dalam hidup. Based on skill. Not gender. Bahwa kita punya peluang yang sama untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Rabu, 15 April 2020

Bad Time

Jika kemarin saya mengkritik analisis mengenai dampak pandemik ini berpeluang menjadi krisis seperti kasus 1997/1998, kali ini secara riil saya mulai menghadapinya. Karyawan mulai mengeluhkan setoran yang minus dan bersedia dirumahkan daripada menjadi beban. Kenapa masih bersikeras buka sementara beberapa pengusaha lain sudah tutup. Atau mencari alternatif marketing atau usaha. Setoran pajak bulan ini barangkali tidak bisa dilakukan. Alih-alih pemerintah daerah melakukan penghapusan seperti di daerah lainya, di daerah kami hanya berupa pengurangan. Ditambah dengan harga bahan baku yang mulai meroket. Agaknya benar juga usulan salah satu rekan saya kemarin saat mengobrol via chat, mengapa tidak diberlakukan kebijakan ceiling-price atau floor-price untuk komoditas-komoditas tertentu yang vital.
Pertama, saat ini adalah musim panen bagi petani. Mereka menggantungkan pendapatan tahunan mereka di sini untuk menutupi biaya bibit, tanam, hingga pupuk. 
Kedua, ada komoditas yang memiliki permintaan tinggi namun di sisi penawaran menghadapi scarcity
Berapa lama masyarakat bisa bertahan? Yes, people face trade-off. Dan kali ini mempertahankan ekonomi bukan pilihan untuk menanggalkan upaya keselamatan dan kesehatan. Semua ini benar-benar tergantung pada keberhasilan menanggulangi dan menekan penyebaran virus, at all cost. Hanya itu pilihan satu-satunya. Ekonomi tidak hanya bicara tentang profit making, tetapi lebih esensial pada welfare. Inilah mengapa saya belajar economics instead of business
Maka tolong, bantu kami dengan mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan. Sebentar saja. Agar usaha kami tidak larut dalam ketidakpastian lebih lama.
Baik, kita memang sudah pernah mengalami krisis di tahun 1997/1998 yang kemudian dunia memuja-muji sektor riil sebagai penyelamat. Tapi kali ini berbeda. Semoga saja tidak sampai jatuh pada kondisi resesi hingga depresi. Kali ini mereka yang berada di sektor formal dengan jaminan gaji bulanan yang better-off. Paling tidak ini mengajari kita pentingnya saving dan investasi. Menyediakan dana mitigasi. Insurance. Pentingnya kelembagaan untuk meminimalisir uncertainty

Saya belajar dari bapak, dalam berbisnis beliau kadang bukan hanya sekedar bicara tentang strategi bisnis atau persaingan, tetapi bagaimana juga agar bisnis bisa menolong saudara-saudara yang membutuhkan. Kami berkaca dari pengalaman krisis 1997/1998 saat PHK besar-besaran mulai terjadi, satu per satu kerabat pulang ke kampung tanpa pesangon. Kasus kriminal merebak di mana-mana. Sampai masih ingat waktu warung kami hampir setiap malam didatangi preman yang menghabiskan uang dagangan. Saya dan kakak hanya bersembunyi di kamar mendengar bagaimana bapak dan ibu menghadapi mereka. Dan kali ini pun, dari cerita pedagang sayur, beberapa dari mereka sudah mengalami kasus kemalingan. 

Jika melihat bisa sampai sejauh ini, bersyukur. Kami masih bertahan. Hanya saja kali ini saya harus ikut andil dalam pengambilan keputusan. 
Untuk urusan bisnis, barangkali saya bukan orang yang berjiwa kompetitif untuk berkecimpung di sana. Ibarat ketiban sampur, mau tidak mau tetap harus dilanjutkan. 
Sebenarnya, dalam dunia nyata (non-akademis), saya bersyukur ketika ibu bercerita tentang karyawan-karyawan baru yang bergabung dengan segala background mereka. Dan akhir-akhir ini saya cukup trenyuh dengan beberapa kasus korban perceraian di usia muda. Immature marriage. Menjadi janda di usia muda bukanlah hal yang mudah. Someday I hope I could stand up for them. Bahkan ada yang memang menjadi korban KDRT. Ini yang sebenarnya ingin saya angkat dalam penelitian ber-isu tentang gender. Yes, I should stand up for them. Being a marginal group of society is not always fine.
Ya Allah, jika boleh, saya ingin tetap bisa melakukan keduanya. Tetap menjalankan usaha di sektor riil, di sisi yang lain saya juga ingin berkontribusi di bidang keilmuan. Allah, let me do it...
Saya sangat merasa berarti ketika menulis skripsi saya dulu hingga bisa mencicipi belajar langsung di dapur pembuat kebijakan negara. Saya sangat merasa berarti ketika ternyata hasil skripsi saya masih dipakai sampai sekarang sebagai dasar mengapa menjaga harga beras di tingkat petani maupun di tingkat konsumen itu penting. 
Yes, I want to do both. Semangat!  

Sabtu, 04 April 2020

Unfinished Agenda

Entah sudah hari keberapakah ini berada di dalam rumah dan sedikit interaksi dengan orang lain karena pandemik COVID-19 dari bulan kemarin. Menghabiskan seharian penuh berada di meja kerja dan di depan laptop dengan ekspektasi bisa menyelesaikan satu research idea, literature reviews, presentasi, dan mengerjakan hal-hal basic lainnya, juga pekerjaan lainnya. Hari berganti hari, rasanya masih stuck di situ-situ saja dan belum ada satu pun yang terselesaikan dengan baik. Pernah merasa stress karena unfinished business? Merasa kesulitan untuk menyelesaikan satu tugas dengan cepat dan segera beranjak ke tugas lainnya?
Iya, menulis blog ini pun juga adalah satu distraksi yang saya sengajakan. Berharap paling tidak bisa sedikit release dengan ditulis. Semoga sih ya. Dibandingkan dengan bicara langsung, agaknya kemampuan mengutarakan ide dengan tulisan lebih mudah dilakukan bagi saya. Saya ingin bisa seperti dulu lagi, produktif dalam berkarya. Dan kali ini saya demand karya yang jauh lebih impactful. Dasar memang manusia memang tidak pernah puas dengan satu kondisi. Agaknya ini adalah semacam "balas dendam" saya dari "tiga tahun" itu. Ah, lagi-lagi masih belum bisa memaafkan diri sendiri dari masa lalu. Ada di posisi yang membuat kita merasa tidak berguna ternyata sangat tidak nyaman bukan? Seketika pencapaian-pencapaian di masa lalu tidak berarti apa-apa. 
Kembali ke masalah unfinished job
Ini sebenarnya adalah seni move-on. Stuck in the past. Memang benar bahwa manusia memang perlu belajar untuk hidup di sini-kini. Fokus dengan apa yang sedang dikerjakan untuk kemudian beritme ke pekerjaan lain yang dikerjakan saat itu juga. 
Apa yang membuat kita sulit untuk fokus? Distraksi. Bisa jadi distraksi dari masa lalu maupun kekhawatiran akan masa depan. Seringkali kan ya, kita membuat to-do-list terlalu panjang sampai pada saatnya memulai satu pekerjaan kita sudah kepikiran pada pekerjaan berikutnya yang harus diselesaikan alih-alih fokus pada apa yang sedang dikerjakan. 
Benar sih kata Mas Adjie di sesi #heningserentak di live IG beberapa waktu lalu. Bahwa kita perlu lebih belajar untuk mengurangi. Bukan menambah, tapi mengurangi apa yang perlu diurus. 
Benar juga sih. Jadi ingat saat muda dulu selalu diprotes oleh orang rumah karena terlalu sibuk di luar dengan kegiatan organisasi yang tidak hanya satu, tapi banyak. 
Kita perlu belajar memilih prioritas mana saja yang perlu kita urus dan mana saja yang perlu diletakkan.
Mari kita perbaiki. Satu per satu.
Tolong suatu saat kamu bisa dengan percaya diri "claim your space" dan siap menerima tantangan berikutnya. Yes, I do. 

Rabu, 11 Maret 2020

Song for March

Bagi saya bulan Maret adalah salah satu favorit. Dengan perasaan yang sama saat tahun 2013 lalu, menulis penelitian di ruangan dosen yang "dipinjamkan" untuk kami. Saat itu saya dan rekan-rekan ditugasi membantu fakultas untuk suatu pekerjaan dan ruangan itu menjadi basecamp kami. Salah satu tempat favorit saya waktu itu karena nuansa yang dihadirkan langsung menghadap ke jendela dengan pemandangan sejuk di luar jendela. Saya sangat suka melakukan aktivitas entah itu menulis, membaca, atau berkontemplasi sambil duduk di dekat jendela. Maka kemudian saya menyebutnya dengan "Nash Window", terinspirasi dari film Beautiful Mind yang menceritakan perjalanan seorang John Nash hingga ia menemukan teori penting dan meraih nobel. Dia suka sekali mencoret-coret jendela dengan rumus-rumus hingga kini kita kenal dalam pelajaran Game Theory sebagai Nash Equilibrium. Persis seperti yang digambarkan dalam jendela itu.
Kembali ke bulan Maret 2013 di ruangan seorang profesor. Saat itu saya menuliskan beberapa perenungan mengenai penelitian yang saya lakukan itu apakah akan berguna untuk mereka yang berada di bawah garis kemiskinan (ini postingannya). Berbulan-bulan bergelut dengan data-data mikro rasanya akan terbayarkan tidak hanya dengan nilai sempurna tetapi juga kontribusi riil yang bisa diberikan dari penelitian itu. Di bulan itu pula beberapa tawaran membahagiakan untuk melaksanakan apa yang menjadi harapan saya waktu itu berdatangan. Alhamdulillah...setidaknya menjadi kenangan yang manis di kemudian hari, yang ketika mengingat itu semangat itu tumbuh kembali.
Barangkali jika di belahan bumi utara, bulan ini menjadi penanda dimulainya musim semi. Itulah musim semi bagi saya.
Tahun ini, di bulan yang sama, Allah memberi kesempatan untuk merasakan hal yang sama lagi. Tulisan ini dibuat di ruangan favorit saya juga, di dekat jendela yang saya sebut sebagai "Nash Window" saya juga, masih dengan pertanyaan yang sama. Apakah saya bisa menuliskan hal yang cukup berarti untuk isu-isu pembangunan?
Rasanya ini bukan perasaan klise seorang mahasiswa yang berpikir idealis. Rasanya menurut saya ini adalah hal yang normal untuk dirasakan orang-orang, bahwa setiap kita pasti menginginkan kehidupan yang bermakna kan. Iya, paling tidak untuk orang-orang terdekat dan tersayang. Setiap kita berhak atas hidup yang meaningful.
Tahun ini sudah memasuki tahun terakhir studi master saya. Masih banyak sekali kekhawatiran akan masa depan yang belum pasti akan bagaimana. Setelah tahun-tahun yang berat sudah terlewati, sudah lah cukup memberi pembelajaran untuk melanjutkan hidup. Hidup harus tetap berlanjut. Memberi makna dan bermakna. Bukankah tujuan akhir kita ada di surga-Nya?

Saya berharap...di tahun-tahun mendatang saya akan kembali melakukan perjalanan-perjalanan yang lebih jauh untuk belajar dan berkontribusi dengan bermakna. Semoga Allah mampukan dan pantaskan. Iya, cita-cita harus dibayar tuntas. Mari kita tuntaskan, setelah sempat diletakkan dan berbelok arah dengan harapan yang lain, yang ternyata harus berhenti sebelum usai. Tidak apa-apa. Daijoubu! Kita semua pernah patah. Batang-batang yang patah akan menumbuhkan ranting-ranting yang lebih lebat. Mari lanjutkan perjalanan. Mari tuntaskan cita-cita. Mari lebih bermakna.

Welcome back, Sasikirana! It's never too late to start over.

Jumat, 25 Oktober 2019

Today's Yoga Session: Let's Talk About Relationship

Sebelum feeling menulis ini tertumpuk oleh hal lain dan menjadi lebih sulit untuk memanggilnya kembali, mari sini sejenak untuk sharing tentang apa yang saya dapatkan hari ini dari sesi yoga. Hari ini temanya cukup spesial dan barangkali sebagian dari kita akan sedikit malu-malu untuk membahas ini, termasuk juga saya. Mengapa tema kali ini cukup spesial bagi saya, karena sangat dekat dengan apa yang saya alami tahun kemarin hingga membutuhkan proses penyembuhan yang cukup panjang selama setahun ini.

Cukup relates juga dengan dua tulisan saya sebelum ini. Mari kita mulai merangkai puzzle itu. Saya sendiri juga masih dalam proses merangkai puzzle saya sendiri untuk melihat gambaran besar tentang diri saya dan apa yang harus saya lakukan selanjutnya agar menjadi lebih baik dan pola lama tidak terulang lagi.

Bahwa sejatinya hidup kita itu sendiri adalah relationship atau barangkali jika saya terjemahkan lebih ke keterhubungan atau koneksi, rather than menerjemahkannya secara bahasa dengan "hubungan" meskipun sebenarnya bisa juga sih. Hubungan kita dengan diri kita sendiri, dengan Tuhan, dengan alam, dengan benda di sekitar kita, dengan makanan yang kita makan, dengan orang-orang di sekitar kita, dengan orang asing yang kita temui di perjalanan, dan seterusnya. Semua saling terhubung dan sempurna. Semua sudah baik adanya. Semua dirangkai dengan sangat baik oleh leissez faire. Ada tangan tak terlihat yang mengatur itu, jika dalam bahasa ekonomi. Atau jika kita ambil konsep spiritualitas, semua sudah sempurna diatur oleh Tuhan.

Lalu, mengapa ada yang tidak berjalan sempurna seperti apa yang kita harapkan? Atau jika kita ambil teori Keynesian, mengapa ada kegagalan pasar? Mengapa ada resesi dan mengapa pasar tidak mampu pulih dengan sendirinya dari resesi itu? Lalu apa yang dikatakan oleh Keynesian? Perlu adanya intervensi dari pemerintah untuk mempercepat pasar kembali ke kondisi equilibrium-nya, kembali ke keseimbangannya.

Yah, mengapa semua yang sempurna itu menjadi tidak sempurna di mata kita?

Ya karena kita memikirkan hal itu tidak sempurna. Kita merasa kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Kita merasa hubungan kita dengan orang lain hancur berantakan. Ya memang kenyataannya seperti itu. Dan kenyataan terjadi dengan sempurna.

Nah, pola apa yang kita lihat dari "ketidaksempurnaan kenyataan" itu? Apa yang kita alami saat ini? Apa yang kita rasakan dari pengalaman kita itu?

Mari kita kupas satu per satu dalam diri kita sebelum menyalahkan orang lain atas tragedi yang terjadi pada hidup kita. Misal, ketika menghadapi sakitnya patah hati karena harus mengakhiri sebuah hubungan dengan salah satu significant person dalam hidup kita, apa yang kamu rasakan dan pikirkan pada orang tersebut? Apakah saya merasa dia tidak mencintai saya? Atau sebaliknya, apakah saya tidak bisa menumbuhkan cinta pada dirinya karena hal-hal yang membuat saya illfeel padanya? Apakah saya merasa saya tidak pantas untuk dicintai? Atau dia menyakiti hati saya dan terus menerus membuat saya merasa tidak berharga dan pantas hidup di dunia lagi?

Catat perasaan-perasaan yang hadir itu. Beri tiga highlight dari orang tersebut. Kemudian mari kita balikkan pada diri kita sendiri. Apakah saya pernah melakukan hal yang sama pada orang lain? Apakah pola tersebut juga ada pada diri kita? Lihat pola yang muncul dari setiap aksi dan reaksi kita pada sekitar selama ini. Tentang apa yang kita pikirkan dan rasakan.

Kemudian mari kita kembali pada masa kanak kita. Masa-masa golden age di bawah 5 tahun yang secara tidak sadar tertangkap oleh memori bawah sadar tentang apa yang terjadi pada orang-orang dewasa di sekitar kita saat itu. Tentang kejadian apa yang menimpa mereka dan bagaimana mereka bereaksi. Tentang bagaimana mereka bersikap pada kita di masa kanak-kanak itu. Ingatan apa yang terekam dan perasaan apa yang terekam saat itu oleh kita hingga membentuk pola kita yang saat ini.

Jika itu pola yang baik, berterima kasihlah pada mereka. Jika itu buruk, do not blame them. Blaming hanya merupakan tindakan yang sia-sia dan membuat kita tidak akan pernah beranjak dari tempat duduk kita sekarang. Apa yang kita alami di waktu kecil bisa jadi akan berpola juga ke bagaimana kita memperlakukan orang lain di masa sekarang bahkan ke anak-anak kita. Atau pola yang sama akan terjadi pada anak kita. Mengapa saat ini saya seperti sekarang ini, barangkali juga terjadi pada orangtua kita di masa mudanya yang merupakan pola dari orangtuanya, dan seterusnya semakin ke atas. Maka jika itu berpola, sesuatu yang tidak baik, harus dihentikan dan diputus mata rantainya dari kita saat ini.

Seperti mengupas bawang, kita buka satu per satu layer-nya hingga menemukan sumber dan intinya. Setelah menemukan inti itu, baru kita bisa perbaiki dari sana. Hingga nanti pola yang akan tumbuh sudah dengan pola baru. Layer yang akan tumbuh sudah merupakan layer baru yang lebih baik.

Sebenarnya banyak tools yang bisa kita gunakan untuk proses ini. Salah satu tools yang bisa digunakan untuk penyembuhan ini adalah mirror work. Kali ini kami dibimbing untuk menyelami lagi ke dalam diri dan menjalin hubungan yang lebih harmonis dengan diri sendiri. Mirror work memungkinkan kita untuk secara jujur melihat inner child yang ada dalam diri kita. Menyapa dia melalui kontak mata yang benar-benar bicara secara jujur. Apa yang sedang ia rasakan saat kita menyapa dia dan mengatakan rasa cinta kita padanya?

Saya teringat beberapa waktu lalu ketika berkunjung ke Artjog 2019, ada satu karya yang paling memantik hati saya. Mohon maaf saya lupa dengan judul dan senimannya. Tapi dalam caption penggambaran karyanya yang paling menyentuh adalah "focal point of heart: eye". Karya ini seperti tumpukan kayu yang kait-mengkait satu sama lain dan membuat sebuah lingkaran berlapis seperti angin tornado, dan di jika kita masuk ke lorongnya hingga ke bagian intinya, kita akan menemukan satu titik lampu dengan pohon kecil di dalamnya. Ini karya paling berkesan sih bagi saya. Benar sekali ketika saya masuk ke dalamnya dan memandangi satu titik pohon itu dari luar, ada ketenangan di dalamnya.

lorong menuju inti

focal point of heart: eye

Ah, saya sangat ingin mengapresiasi karya seni ini. Jika ada yang tahu judul dan siapa yang menciptakan karya ini, mohon beri komentar di bawah ya. Terima kasih sekali.

Seperti halnya hati kita. Pohon kecil itu bisa tumbuh. Sejauh apa kita merawat dia selama ini? Apa yang kita keluhkan tentang pertumbuhannya? Sejauh apa kita menjalin hubungan baik dengan diri sendiri dan melimpahinya dengan kasih sayang yang seharusnya kita berikan untuk dirinya? 

Ambil cermin, sapa dia melalui matanya. Lihat baik-baik apa yang mata itu katakan dan emosi apa yang ia rasakan saat kita bilang cinta padanya. Katakan padanya bahwa saya ingin berubah dan mencintainya dengan lebih baik.

Tentang keyakinan kita, pola pikir kita, pola sikap kita, apa yang perlu diubah? Break the negative pattern, fix it. Be honest, but do not to be perfect. Cinta tidak akan datang ketika kita meminta atau hunting. Jika ada yang datang, maka itu bukan cinta yang sebenarnya kita inginkan. Trust me, ini benar-benar saya alami. We only attract the main concern of our thinking. Ini bukan tentang memaksakan positive thinking, tapi lebih pada jujur dan membuat reaksi yang positif tentangnya. Lebih pada membiasakan pola. 

Yes, you're always enough to be loved. 



Rabu, 23 Oktober 2019

"The Feeling of Going Somewhere and Discovering New Things"

Penggalan akhir kalimat dari buku "Simple Life" karya Desi Anwar (hal. 152, bagian Travel):
"The feeling of going somewhere and discovering new things."
Saya sedang dalam proses menyelesaikan buku ini. Buku yang easy reading dan seperti judulnya, simpel, tapi bisa menjadi teman hangat untuk bercengkerama dengan diri sendiri. Saya berhenti sejenak setelah menyelesaikan bagian Travel ini ketika tiba-tiba ada pop-up di kepala untuk menuliskan ini.

Hmm... Rasanya sudah agak lama saya tidak merasakan perjalanan yang benar-benar deep untuk diri saya. Dalam artian, waktu di mana kita benar-benar menikmati proses perjalanan itu sendiri. Misal ketika berada di sebuah kereta atau bandara dan pesawat, bertemu singkat dengan orang yang benar-benar baru. Melakukan percakapan basa-basi dengan mereka kemudian tenggelam dalam pikiran masing-masing, entah bersama handphone, buku, atau lamunan. Biasanya saya dapatkan momen ini ketika dulu sering melakukan duty trip sendirian keluar kota. Ah, sudah lama ya ternyata...

Agaknya sesekali kita perlu melakukan perjalanan itu seorang diri, di mana kita benar-benar bisa membuat keputusan-keputusan mandiri selama perjalanan kita tentang apa yang akan kita lakukan, tentang apa yang kita pikirkan, tentang apa yang kita renungkan, dst. Atau sekedar memberi sapa hangat pada anak kecil yang melihat kita terheran-heran, kemudian kita penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh wajah innocent mereka yang lucu tentang kita.

Saat itu barangkali bisa menjadi momen untuk melihat ke dalam diri kita, tentang siapa sebenarnya kita jika tidak ada orang yang mengenal kita. Menguji bagaimana akhlak kita ketika berinteraksi dengan orang-orang yang benar-benar baru dan asing tanpa kekhawatiran pada penilaian-penilaian.

Saat ini saya sedang tertarik untuk hal-hal yang saya temui secara random. Salah satunya ketika bertemu dengan teman baru di sebuah pameran seni rupa beberapa waktu lalu. Ternyata mengasyikan juga bisa menemukan teman baru secara tidak sengaja kemudian bisa berlanjut ke pertemuan-pertemuan selanjutnya untuk menghadiri pameran-pameran yang lain. Seperti mendapat kejutan-kejutan menarik dalam hidup.

Begitu juga dengan sebuah perjalanan di mana kita bisa banyak menemukan hal-hal baru dan kekaguman-kekaguman tentang suatu hal yang baru kita ketahui. Membiarkan diri kita sibuk "ber-wow-wow" dan merasakan antusiasme.

Agaknya perasaan "wow" itu bagus juga jika kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menikmati perasaan antusias dalam setiap aktifitas yang dikerjakan. Mengasyikan ya.

Ah, iya. Beberapa waktu lalu saya sempat membahas secara singkat mengenai satu drama korea dan satu film pendek yang bercerita tentang pertemuan dengan orang asing di dalam suatu perjalanan kemudian jatuh cinta. Seperti film-film trilogi "Before...". Drama korea yang pernah saya tonton judulnya "Encounter" dengan 16 episode, dan film pendeknya merupakan iklan dari Angkasa Pura berjudul "Purnama di Terminal 3" garapan sutradara Adhiyat Mika dengan durasi sekitar 16 menit.

Film-film dan drama di atas sedikit banyak memberi gambaran setidaknya bagi saya tentang bagaimana menjadi orang yang "easy going", dan tidak kaku. Tidak perlu jauh-jauh dulu untuk klik dengan orang baru yang ditemui dan mengalami jatuh cinta. Paling tidak dari interaksi tiba-tiba itu ada pengalaman "kejutan" atau "wow moment" yang dapat kita temui. Selalu ada kebijaksanaan yang dapat kita ambil dari setiap orang yang kita temui, terlepas dari siapapun orangnya. Paling tidak kita bisa sejenak melepaskan diri untuk berinteraksi secara jujur tanpa kekhawatiran dan melepaskan diri dari bias penilaian baik dan buruk atau normatif pada orang lain.

Saya sendiri belum bisa seterbuka itu sih  ketika bertemu "stranger" dalam perjalanan. Bertemu dengan teman baru saat di pameran lukisan kemarin itulah pertama kali saya merasa mudah sekali klik dengan orang baru dan bisa santai sekali membuka diri dengannya. Sebelumnya saya lebih banyak mudah curiga dan cenderung lebih berhati-hati pada orang baru. Sedikit menyambung juga sih dengan post saya sebelumnya, tentang hasil perbincangan saya dengan para mentor dan perenungan saya tentang apa yang telah saya lewati selama ini. Ini lebih tentang bagaimana kita bisa membuka diri pada pengetahuan baru dengan tidak mudah memberikan penilaian pada orang lain di awal atau sesuatu yang baru. Tidak ada salahnya jika sesekali bisa sejenak membiarkan isi gelas kita kosong dan bersiap menerima pelajaran baru dari orang baru yang kita temui.

Jadi, siapkah untuk "jatuh cinta" pada wisdom baru dari perjalanan dan "orang baru"?




Sabtu, 19 Oktober 2019

Sweet Escape Diaries #1 - Catatan Pertemuan ke-3

Sudah setahun proses healing saya berjalan dan rasanya sangat bersyukur semakin ke sini merasa semakin banyak orang yang menyayangi saya, semakin banyak cinta yang dilimpahkan kepada saya. Salah satunya, Allah hadirkan para mentor yang selalu ada dalam setiap proses decision making saya selanjutnya, terutama tentang hidup. Ah, andai saja Allah hadirkan mereka sebelum tahun 2014. Atau wisdom saya saat ini sudah saya miliki sebelum tahun 2014. Tapi ternyata Allah hendak mengajarkan sesuatu pada saya. That's part of life. Pasti selalu ada rahasia baik, dari setiap kejadian yang dihadirkan Allah dalam hidup kita.

Jadi awal pertemuan kami dulu adalah ketika saya sedang berada di titik terbawah hidup saya akhir tahun kemarin, tiba-tiba ada ajakan untuk travel. Ah iya, saat itu saya sedang merindukan perjalanan dengan kereta ke daerah barat Jawa. Gayung pun bersambut. Tapi, karena lain dan suatu hal, pada akhirnya arah perjalanan kami ubah ke arah timur. Kami bertiga terbang ke Bali yang dimaksudkan untuk menepi. Saat itu di pesawat keberangkatan sekitar pukul 09.00 WIB tanggal 1 Februari 2019. Saya hanya bisa menangis di cabin pesawat dengan sodoran tisu dari mereka setelah melihat sebuah pesan masuk tentang kenangan 1 Februari di jam itu. Ada hati yang harus segera beranjak move on.

Hingga pesawat tinggal landas dan mendarat di Kuta, Bali. Satu cup cokelat hangat dari seorang kakak untuk mengobati gerimis saya, sementara mobil Mas Stefan sudah menunggu di luar kemudian melaju ke daerah Ubud sejenak menikmati suasana padang bunga edelweiss di ketinggian dengan satu kotak beng-beng dan setoples kopiko sponsor dari PT MAYORA (hahaha :D). Kemudian kami menyapa para peziarah pura untuk kemudian berakhir di lembah Gunung Batur menjelang senja. Sore itu di ujung danau Allah seperti memberi sebuah hadiah untuk mengukir lengkungan senyum kepada kami. Pelangi di ujung Bali. Sore semakin mendekati senja dan kabut turun perlahan. Musim hujan dan daerah pegunungan, tentu kami harus belajar menyesuaikan diri dengan cuaca dingin dan malam yang berkabut di sana.

Selama tiga hari di Bali, kami banyak membahas tentang bagaimana memberi cinta kepada orang di sekitar kita. Intinya sih bagaimana menjadi lebih bahagia. Kemudian hingga sekarang obrolan itu berlanjut mengenai topik-topik kesehatan mental. Kami berlatih untuk lebih mindful, menjaga kesehatan jiwa dan raga, berlatih yoga, dst. Satu per satu seperti ditunjukkan oleh Allah tentang wisdom apa yang seharusnya saya miliki dalam hidup.

Nah, malam tadi kami berkumpul kembali. Sebelumnya saya sempat mendapatkan sebuah pe-er untuk memaknai jatuh cinta dari pesan yang ingin Allah sampaikan melalui dua kenangan masa lalu saya yang cukup dekat dan masih membekas. Entah mengapa sedikit demi sedikit jawaban itu terbuka. Saya sempat memiliki anxiety di masa lalu tentang jatuh cinta hingga kemudian Allah hadirkan pesan langsung melalui kehilangan satu "significant person" dalam hidup saya tahun lalu.

Persis sekali saat kemarin mendapati satu feed post di Instagram Mas Adjie Silarus: "Sudah cukup jadi bucin, mengorbankan diri karena takut kehilangan. Sudah cukup pula jadi pembenci jatuh cinta, enggan menjalin cinta karena takut patah hati. Sudah saatnya urusan cinta dihadapi dengan berani. Berani kehilangan, berani patah hati. Itulah cinta yang sebenarnya."

Seringkali ketakutan-ketakutan kita itu mencegah kita untuk terbuka dan rileks menerima kebaikan orang lain, sehingga malah yang menjadi kenyataan adalah apa-apa yang terlalu kita khawatirkan dan takutkan. Saya sempat membaca juga tentang ini, dari The Secret, juga dari beberapa sesi sharing dengan guru yoga saya. Tentang Law of Attraction. Apa-apa yang paling banyak muncul di pikiran kita, bisa jadi dibaca oleh semesta untuk menuju ke bayangan yang ada di pikiran kita. Apalagi mereka yang memiliki intuisi tajam perlu sangat berhati-hati dalam mengelola pikirannya. Ah ini sebenarnya pembahasan yang cukup panjang tapi barangkali bisa saya rekomendasikan tulisan-tulisan dari guru saya, Ibu Amalina.

Beberapa hari yang lalu saya juga mendapatkan sebuah insight dari kelas Bapak Suwardjono mengenai penggunaan Bahasa Indonesia dalam tata bahasa tulisan ilmiah. Salah satu insight yang saya dapat tentang bagaimana sikap kita terhadap istilah/bahasa baru yang terkesan "aneh" di telinga. Apakah kita skeptis atau malah penasaran dan berusaha memahaminya? Pemikiran skeptis dan memberikan judgement di awal justru lebih banyak mencegah kita dari belajar dan memahami perspektif berbeda. Akibatnya orang akan cenderung berkacamata kuda, hanya berpikiran sempit dalam memandang dunia. Akan tetapi jika kita memberi ruang pada diri kita untuk belajar memahami tanpa memberikan judgement di awal, wisdom itu akan terbuka. Ibarat ketika berada di dalam aliran sungai, mereka yang panik dan merasa ketakutan akan tenggalam justru akan tenggelam. Sedangkan mereka yang rileks, akan memberikan ruang bagi dirinya untuk mengambil strategi dan belajar berenang ke tepi atau tujuan yang diinginkan. (Catatan: maaf jika masih menggunakan tata bahasa campuran meski sudah habis dapat pelajaran di kelas beliau. Ternyata menyesuaikan Bahasa Indonesia itu sulit juga. hehe) 

Begitu juga dengan hidup. Kepanikan, ketakutan yang hanya akan memapah kita pada pemikiran sempit dan satu arah, bisa jadi akan memapah arah hidup kita juga ke tempat yang kita takutkan itu.

Satu hal yang sedang berusaha saya latih sekarang adalah merilekskan pikiran, hati, dan harap. Men-tawakal-kan penuh kepada Allah dengan prasangka baik yang benar-benar mindful. Memaafkan masa lalu dan bahagia dengan apa adanya sekarang. Entah kejutan baik apa lagi yang Allah akan hadirkan, tenang, rileks, serahkan biar Allah yang mengatur. Berikan respect terhadap diri sendiri dengan menunaikan haknya untuk menjadi lebih baik. Self-respect.