Kali ini saya ingin berefleksi sedikit tentang dinamika kehidupan sosial di masyarakat. Beberapa waktu ini saya memiliki luang yang lebih banyak untuk belajar tentang sistem pangan di Indonesia. Bagaimana kebutuhan kita sebenarnya untuk kembali ke sistem pangan lokal yang nenek moyang kita sudah atur sedemikian rumah agar berjalan beriringan dengan alam. Menjadi bagian dari alam, bukan pihak yang seolah menguasainya. Bertolak belakang dengan apa yang sedang negara lakukan sekarang dengan menyeragamkan pangan dan sangat ekstraktif hingga harus mengabaikan hak-hak masyarakat adat.
Ya, sudah saatnya kita berpihak kembali pada masyarakat adat. Menghormati cara hidup mereka yang menyatu dengan alam, alih-alih memaksakan kepentingan "pembangunan" yang hanya dinikmati oleh segelintir orang di perkotaan. Betapa berdosanya kita masyarakat kota pada masyarakat adat di perdesaan maupun pedalaman. Justru kita perlu kembali lagi belajar pada mereka bagaimana seharusnya kita hidup beriringan dengan alam dan sesamanya.
Beberapa waktu ini saya juga seperti dihantamkan pada berbagai peristiwa yang membuat saya perlu melakukan refleksi lagi tentang seberapa "sopan" saya selama ini hidup di dalam masyarakat. Pekerjaan yang banyak bersinggungan dengan masyarakat di kota lain tidak lantas menjadikan saya baik di masyarakat tempat tinggal sendiri. Betapa egoisnya kita menumpang ruang tinggal tanpa membayar "biaya sosial" yang layak. Saya pernah berada di lingkungan yang sangat individualis di mana antar tetangga saja tidak pernah saling kenal dan saling sapa. Tapi kini saya berada di lingkungan masyarakat yang menuntut saya untuk meluangkan waktu bersama mereka.
Ada porsi sosial yang perlu kita rawat. Melihat sendiri bagaimana saat pengurusan jenazah paman saya kemarin, sungguh masyarakat begitu kompaknya bisa mengorganisir pembagian tugas dengan sangat kompak. Ini adalah biaya sosial yang tidak bisa diukur dengan sekedar iuran tanpa pernah muncul. Ini bukan pula tentang pamrih. Di sebagian besar masyarakat ada pihak-pihak yang tanpa pamrih berperan melakukan pengorganisasian masyarakat untuk hal-hal baik. Tanpa mereka barangkali juga NGO-NGO ini ataupun program-program pemerintah lainnya pun akan kesulitan menemui sasaran penerima manfaatnya, mencapa objectivenya.
Apa yang selama ini dikhawatirkan timbulnya friksi-friksi negatif di masyarakat tidak selalu terjadi. Jangan sampai kekhawatiran itu justru mengecilkan upaya kita untuk menjadi warga yang baik. Tidak semua ibu-ibu PKK berghibah dalam keburukan kok, tidak semua warga nyinyir kok seperti yang banyak dikeluhkan di media sosial. Justru dari sana kita perlu belajar tentang manajemen konflik. Menjadi baiklah tanpa mengkhawatirkan perlakuan orang lain. Seringnya justru semakin masyarakat apatis, semakin tinggi potensi penyelewengan di tingkat pimpinan maupun friksi-friksi di masyarakat karena minimnya pemahaman masyarakat satu-sama lain.
Demokrasi yang baik tumbuh karena masyarkatnya peduli, bukan tumbuh dari masyarakat yang apatis.
Dari situ saya belajar, ternyata penduduk perkotaan perlu belajar lagi bagaimana masyarakat komunal saling peduli hingga bisa hidup harmoni dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Bahwa sistem pangan kita pun tidak lepas dari kultur budaya. Bukan sebagai komoditas yang melulu ditransaksikan. Pun juga dengan kegiatan bermasyarakat tidak melulu berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya transaksional. Ada kerja-kerja keikhlasan dari beberapa orang untuk menjaga komunitasnya.