Sabtu, 31 Maret 2012

Tentang Kenaikan Harga BBM

Hari ini setelah kabar Sidang Paripurna DPR sampai di telinga, saya mendapat pesan dari salah seorang adik angkatan, “mbak, gimana tanggapanmu BBM gak jadi naik?” Saya tahu dia bertanya seperti itu karena saya selama ini dipandang sebagai “orang yang pasar minded”. Maksudnya mungkin penganut paham laizes faire yang berpikir segala sesuatu serahkan saja pada mekanisme pasar. Saya hanya tersenyum dalam hati membaca pesan itu.
Saya bukanlah pakar ekonomi ataupun mahasiswa yang tahu benar tentang isu kenaikan BBM ini. Tapi melihat situasi yang ada, rasanya tidak bisa dibenarkan juga jika seorang mahasiswa ekonomi tidak berbuat apa-apa soal isu ini. Saya jika ditanya memihak siapa, maka tentu saya akan menjawab bahwa saya berpihak para rakyat. Tapi bukan berarti saya tidak setuju jika harga BBM dinaikkan. Bukannya saya tidak sepakat dengan teman-teman yang melakukan demonstrasi untuk membela rakyat. Saya justru salut dengan mereka yang mati-matian melakukan diskusi dan mau panas-panas turun ke jalan untuk menunjukkan pembelaan mereka. Tapi saya punya sikap yang lain.
Saya memang tidak ahli dalam menganalisis ekonomi. Tapi ini pendapat saya yang masih terlalu kolot ini. Inilah alasan kolot saya tidak menolak kenaikan BBM.
Pertama, seperti yang dijelaskan oleh Pak Anggito dan para ahli ekonomi yang sempat melakukan kajian mengenai subsidi BBM bahwa Indonesia pada kenyataannya kini adalah net importer , artinya kita lebih banyak melakukan impor daripada ekspor. Which is, mau tidak mau pendapatan ekspor migas kita yang digunakan untuk subsidi BBM dalam negeri akan semakin menyusut dengan kenaikan harga minyak dunia. Sehingga beban subsidi makin lama makin berat sehingga anggaran untuk subsidi sektor lain pun berpeluang akan dikorbankan. Padahal subsidi infrastruktur, subsidi pupuk untuk petani, subsidi untuk orang-orang miskin tentu lebih produktif dan lebih berpeluang untuk memboosting perekonomian Indonesia. Berbeda dengan subsidi BBM, dengan menyubsidi BBM artinya negara mensubsidi konsumsi. Dan itu tidak pandang bulu apakah mereka kaya atau miskin, dan berdasarkan data statistik dari Kemenkeu didapatkan bahwa sebagian besar yang mengkonsumsi BBM adalah mereka yang memiliki mobil dan motor. Dan hanya 20% saja yang merupakan kendaraan umum (ini yang perlu disubsidi). Jika tidak dikurangi, sampai kapan pertumbuuhan ekonomi Indonesia berkualitas bukan lagi consumption driven growth?
Kedua, menanggapi kekhawatiran daya beli masyarakat akan turun karena harga-harga naik. Masyarakat miskin tentu tidak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi ini. Menurut saya, gejolak kenaikan harga-harga secara umum itu hanya akan bertahan sementara paling lama 3 bulanan. Kemudian harga-harga akan kembali stabil. Yang perlu dilakukan oleh para negarawan adalah bagaimana mengamankan masyarakat miskin dari gejolak kenaikan harga tersebut? Intinya mengamankan daya belinya. Setelah gejolak berakhir, bukan lantas langkah itu juga berakhir, tapi bagaimana bantuan yang semula untuk mengamankan daya beli itu, kini ditujukan untuk keperluan produktif, sehingga perlu yang namanya pendampingan di sini. Selama ini kita milih enaknya saja, kasih dan urusan selesai tanpa kita tahu merek gunakan untuk apa bantuan itu. Ya masyarakat miskin kalau diberi uang banyak tiba-tiba tentu mereka akan berpikir konsumsi daripada investasi, karena selama ini mereka bekerja untuk keperluan konsumsinya.
Toh, memang pada akhirnya BBM tidak jadi dinaikkan pada tanggal 1 April ini. Itu mungkin karena wakil rakyat kita masih berusaha mendengar suara hati rakyat. Mereka berusaha untuk berpihak pada rakyat. Tapi saya justru berpikir seakan mereka takut pada rakyat. Sisi positifnya adalah bahwa rakyat masih memiliki kekuasaan. Tapi kita juga perlu mengedukasi masyarakat tentang kenyataan yang dihadapi oleh Negara ini. Bahwa kita adalah net consumer sekarang. Kita sudah over-demanded terhadap BBM sedangkat kita menuntut harga tetap rendah. Dalam ilmu ekonomi yang saya pelajari saat ini, tuntutan itu seakan tidak realistis dan seperti tidak lazim terjadi di dalam pasar. Oke, silakan sebut saya kapitalis. Terserah, memang ini yang saya pelajari dari ilmu ekonomi. Bahwa economics is a cold blooded. Ini kenyataan positivism. Jika ingin normative, ya maunya harga tetap rendah sementara demand kita tinggi. Inginnya rakyat kita sejahtera, tidak lagi terpuruk dalam kemiskinan yang membuat mereka semakin menderita. Saya tentu juga punya rasa itu. Tapi jangan lari juga dari kenyataan. Sampai kapan kita menyubsidi konsumsi orang-orang kaya? Sampai kapan rakyat kita dibutakan dari kenyataan pasar?
Jika kita ingin membuat negeri impian kita sendiri dengan mekanisme harga yang kita tentukan sendiri, maka kuasailah pasar itu! Kenyataannya sekarang kita tidak kuasai pasar dunia dengan minyak kita. Kita seharusnya punya sawit, tapi kita masih tidak bisa kendalikan harga CPO dunia. Apa yang salah dengan Indonesia?
Ketiga, memang seharusnya pemerintah tidak lagi melakukan penetapan harga dan membiarkan harga bergerak dengan sendirinya di pasar. Yang pemerintah lakukan adalah melakukan stabilisasi harga tersebut, sehingga ketika terjadi lonjakan besar, masyarakat tidak terlalu bergejolak. Intinya, dengan harga bergerak sendiri, pemerintah tidak perlu melakukan pengumuman akan naik ataupun akan turun tuh harga. Pasar akan terus bergulir saja. Dengan demikian, gejolak multiplier akibat pengumuman tidak akan terjadi. Yah, begitulah, kadang saya juga merasa pasar itu kejam. Ia hanya memihak mereka yang memiliki daya beli. Mereka yang tidak punya daya beli akan ter-crowd out dari pasar. Itulah fungsinya charity. Orang yang kelebihan WTP akan meng-cut pendapatannya untuk menaikkan daya beli masyarakat miskin. So, what to subsidize is the people (production side), not subsidize the market by price, because market will run as it does and it will create the dead-weight-loss.
Jadi ingat sebuah hadist yang mengisahkan tentang pengaduan seorang sahabat kepada rasulullah ketika harga-harga bahan pokok melonjak akibat peceklik dan dia meminta rasulullah untuk menetapkan harga. Maka rasulullah pun menjawabnya dengan “bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan kezalimanku di akhirat kelak dengan menetapkan harga? Paceklik itu terjadi atas kehendak Allah.” Intinya, kita bisa ambil pelajaran dari hadist tersebut bahwa kenaikan harga minyak dunia karena sentiment pasar dunia akan isu-isu tertentu itu sunatullah. Tapi penimbunan itu manusia yang melakukan kezaliman itu sendiri.
Keempat, kita mau nih menurunkan emisi karbon dunia. Target Negara kita tahun 2030 penurunan sekitar 57%. Tapi bagaimana bisa dicapai jika kita masih subsidi bahan bakar kendaraan yang menyumbang masalah kemacetan dan polusi di Negara ini? Baik, memang BBM tidak hanya berkaitan dengan emisi karbon saja, tapi terkait dengan kebutuhan pokok masyarakat. Lantas apa yang bisa dilakukan pemerintah? Untuk menjawab ini, saya sudah jelaskan di atas.
Saya tidak tahu keputusan yang dibuat oleh partai-partai itu karena murni membertimbangkan kepentingan rakyat dengan disandingkan teori ilmiah atau hanya sekedar sok berpihak pada rakyat dan takut kehilangan simpati. Saya tidak tahu apakah para tokoh politik yang semula ikut melakukan kajian-kajian tentang kenaikan harga BBM mengapa pada akhirnya tidak bersuara apakah itu karena mereka tidak berdaya dan merasa iba dengan rakyat yang semakin sulit ataukah hanya karena takut image mereka turun. Tapi saya yakin, kawan-kawan mahasiswa yang turun ke jalan itu, meskipun tidak semuanya, mereka murni memihak masyarakat. Saya hanya berharap mereka semua bertindak karena murni memihak kepada masyarakat dan semoga keputusan itu adalah keputusan terbaik. Penimbunan berakhir, harga cabai segera kembali turun 100% kembali.
Ah, lagi-lagi saya merasa bahwa masyarakat memang tidak berdaya dengan apa yang terjadi di pasar dunia ini. Bahwa dunia ini ternyata hanya dimainkan oleh beberapa orang saja yang berkuasa tanpa kita bisa melawan. Jika mau melawan pun rasanya terlalu naïf karena kita tidak punya bukti yang cukup logis. Tapi jika suatu saat kita bisa membuat arus sendiri, maka kita pun bisa pengaruhi mekanisme pasar dunia.
Wallahu’alam.

backsound: "Galang Rambu Anarki" - Iwan Fals

sumber gambar:
http://isuenergi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1168:asumsi-target-produksi-minyak-2012-disetujui-dpr&catid=38:minyak&Itemid=231

Selasa, 21 Februari 2012

Deck 6

Dengan barang-barang di punggung, kami berlima melangkah terburu-buru menuju tangga KM. Leuser yang melabuh di dermaga Tj.Priok tengah malam itu. Tangan kanan kami satu per satu menunjukkan tiket masuk kepada pemeriksa tiket di bawah tangga.
“Hati-hati, tangganya agak goyang!” Dani yang menjadi pemimpin perjalanan kami dengan kapal ini memperingatkan.
Dengan nafas kepayahan karena beban di punggung dan udara malam, aku menaiki satu per satu anak tangga hingga pemandangan dalam kapal itu terlihat dari mata kepalaku sendiri. Orang-orang di dalam kapal sudah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Beberapa masih mencoba menjejalkan berkarung-karung bawaan mereka ke dalam ruangan kapal, beberapa mencari-cari tempat peristirahatan yang nyaman dengan mata menyapu seluruh ruangan kapal. Kami turun ke lantai dasar untuk mencari tempat tidur. Bau pengap mulai menyeruak ke wajah. Sepanjang kami menyapu pandangan ke tempat tidur kayu yang berjejeran di ruangan remang-remang itu telah dipenuhi dengan orang-orang melayu dan hokian yang tidur, main catur, main kartu, makan, kerokan, dan aktifitas santai lainnya yang membuat suasana menjadi semakin pengap dan padat.
“Udah penuh, Dan. Kita ke atas aja deh. Pengap banget di sini.” Mita yang merupakan satu-satunya teman perjalananku yang perempuan pun protes.
Akhirnya kami naik lagi ke atas dan atasnya lagi hingga kami menemukan deck 6 yang tanpa ruangan. Seorang bapak menghampiri kami yang tampak celingukan.
“Di dalam penuh dik, mending di sini aja. Pake alas ini. Nanti bayarnya gampang.” Bapak itu langsung menggelar karung plastik putih yang disulap menjadi alas di emperan deck 6.
Akhirnya karena sudah merasa lelah berkeliling kapal, kami pasrah menerima tawaran bapak itu. Barang-barang pun kami jatuhkan di emperan deck yang langsung berhadapan dengan tangga ke ruang bawah dan mendapatkan angin segar dari pintu keluar yang berada di kiri dan kanan deck 6. Dengan sedikit enggan, aku duduk bersandar di dinding yang kotor depan tangga sambil memeluk tas ransel. Sementara teman-teman memeriksa seisi emperan deck dan sebagian berjalan-jalan ke luar. Aku dan Mita pasrah duduk di emperan itu, termangu dan letih setelah hampir satu hari menunggu dalam ketidakpastian kapan kapal akhirnya berangkat.
Wah, ternyata kami cukup beruntung mendapatkan tempat ini lebih dulu karena tidak lama setelah itu orang-orang masih bingung mencari tempat singgah untuk mereka di bagian kapal ini. Kemudian seorang bapak yang menggendong anak perempuannya yang berumur kira-kira 4 tahun menyusul kami di emperan deck 6 itu. Bapak itu tampak tua dan letih dengan pakaian yang sangat sederhana. Sementara anaknya menggelayut di lengannya sambil mengusap ingus di hidung yang sudah belepotan di pipinya. Anak itu tampak takut dan sedih. Mereka tidak berucap apa-apa dan langsung duduk diam di samping kananku. Aku mencoba tersenyum pada anak itu tapi ia membalasnya dengan tatapan takut. Akhirnya aku menyerah untuk menghiburnya dan beranjak dari duduk untuk berkeliling deck 6 yang berukuran 8x1,5 meter itu.




Akhirnya aku berhenti di depan sebuah pintu yang ditempeli gambar Spiderman hitam berpose di atas gedung tinggi sambil menjentikkan jemarinya yang mengeluarkan benang jaring laba-labanya. Di atasnya tulisan “Theater Film KM.LEUSER” ditempel dengan solasi seadanya. Kemudian mataku tergoda pada tulisan di samping kanannya yang ditulis tangan dengan pulpen: DILARANG MENEMPATI DEPAN THEATER FILM. Samping kirinya ada kertas karton kosong yang ditempel dengan solasi bening seadanya, di atasnya ditulis: “FILM HARI INI”.
Nampaknya ini sedikit menghiburku karena membuatku terkekeh geli.
“Eh, lihat deh, ternyata ada teaternya to di sini. Wuih, beruntung sekali kita. Hehehe...”
Kulihat teman-temanku akhirnya beranjak dari tempatnya masing-masing penuh minat.
“Bayar gak nih? Film apa ya yang diputer?”
“Weh, keren juga nih kapal. Udah kayak bioskop aja. Hahaha...”
“Halah, paling filmnya yang nggak mutu.”
“Masa sih, lha wong ini gambarnya ada Spiderman, Harry Potter, Transformer. Keren nu...”
Satu per satu mereka mengeluarkan komentar spekulasinya. Tapi ini akhirnya bisa membuka percakapan di antara kami yang sudah berwajah kuyu hingga tak terasa akhirnya subuh menjelang.
***
Di luar sepertinya gerimis. Kami tidur setelah berjuang melaksanakan shalat subuh sambil terhuyung-huyung karena gelombang laut. Rasanya lega sekali akhirnya bisa merebahkan tubuh di emperan deck 6 dengan beralaskan karung plastik seadanya. Ah, memang sudah lama aku mengimpikan bisa naik kapal pesiar seperti di film Titanic dan akhirnya aku mengalami pengalaman pertama naik kapal pesiar meskipun ngemper seperti ini. Hahaha...anggap saja kami sedang berada di kapal sekelas Titanic.
Pagi itu kami terbangun oleh suara Dani yang mengabarkan keadaan di luar.
“Eh, mau lihat pelangi di tengah laut nggak?”
Sontak aku bangun dan mengambil kamera sakuku di tas kecil kemudian bergegas ke luar. Luhung ternyata sudah duduk termangu di luar menatap pemandangan indah di hamparan laut lepas. Mita menyusulku di belakang sementara Reki masih tertidur dengan tenang.
“Wah, keren! Kok bisa sih di tengah-tengah gitu?” aku pun beraksi dengan kamera merahku. Seutas senyum menyembul di balik wajah kami yang diterpa angin laut bercampur butiran-butiran lembut air laut.
“Eh, udah waktunya sarapan nih. Kumpulin tiket sarapan gih, biar nanti aku sama Luhung yang ngambilin” sang ketua perjalanan tiba-tiba muncul dari dalam.
“Emang disediain sarapan ya? Wah, tambah keren aja nih kapal.” sentilku.

bersambung...
(hehe tunggu ya...)

Senin, 13 Februari 2012

Negeri di Awan

Sore itu adalah sore yang biasa, namun sekejap menjadi luar biasa dengan pengalaman kami mendaki ke negeri di awan itu. Antara tebing, lereng gunung, jurang, dan sejuta pemandangan indah lain memantul di mata kami yang sudah letih dan kedinginan. Basmalah, takbir, tasbih selalu menghiasi perjalanan kami. Pendakian itu bukanlah pendakian seperti biasanya, tapi kali ini penuh makna. Kami akan menuju sebuah negeri di mana senyum hangat para warganya mampu mengalahkan dinginnya udara di sana. Kami menuju sebuah negeri di mana kita bisa melihat lukisan tanpa kuas Sang Pencipta Yang Maha Indah. Kami menuju sebuah negeri di mana para anak memiliki semangat yang tinggi untuk belajar agama. Kami menuju sebuah negeri di mana mereka harus menempuh perjalanan puluhan kilo dengan jalanan yang terjal untuk dapat mengecap pendidikan SMA. Kami menuju sebuah negeri di mana orang-orang hidup dan menghidupi di tepi-tepi jurang dan lereng-lereng pegunungan.
Ya, negeri itu berada di antara dua gunung yang indah, Merapi dan Merbabu.
Malam itu kedatangan kami disambut dengan nyanyian anak-anak di masjid, "saat langit berwarna merah saga, dan kerikil perkasa berlarian, meluncur laksana puluhan peluru, terbang bersama teriakan takbir. semua menjadi saksi atas langkah keberanianmu, kita juga menjadi saksi atas keteguhanmu..."
juga lantunan manis QS. An Naba dari seorang gadis kecil bernama Nurul.
Bagaikan kaum Muhajirin yang disambut oleh kaum Anshar, malam itu membuatku trenyuh dengan semua orang yang ada di sana.
Anak-anak gunung itu jika ditanya ingin menjadi apa kelak, mereka akan menjawab: ingin menjadi ustad/ustadzah karena mereka pintar dan berwawasan luas.
Anak-anak gunung itu mampu mengalahkan rasa malas karena hawa dingin untuk berangkat ke masjid setiap masuk waktu shalat wajib.
Anak-anak gunung itu selalu tersenyum malu pada kami saat kami memandang wajah-wajah teduh mereka.
Hari ini saya sudah kembali ke Jogja. Setiap saya melihat ke arah Merapi, saya selalu teringat dengan mereka. Di balik Gunung Merapi ini ada sebuah negeri yang cantik, Negeri di Awan.
Terima kasih untuk tiga hari yang tak terlupakan ini, ya Allah. Terima kasih atas kesempatan menemukan mereka dan berbagi dengan mereka. Terima kasih.

Salam rindu dari Jogja,
13 Februari 2012

backsound: Priska-Negeri di Awan

kau mainkan untukku sebuah lagu tentang negeri di awan,
di mana kedamaian menjadi istananya dan kini telah kau bawa aku menuju ke sana...

Rabu, 01 Februari 2012

S.O.S

Strawberry On the Shortcake (S.O.S). Haik, ini adalah sebuah judul dorama yang habis saya tonton. Hobi baru, nonton film-film lama. Tapi saya tidak sedang ingin membicarakan hobi baru saya ataupun film itu. Tapi tentang “strawberry on the shortcake”.
Saya tidak begitu terkesan dengan ceritanya, tapi saya terkesan dengan filosofi yang digambarkan dari judulnya. Ketika sedang makan kue dengan strawberry di atasnya, mana yang akan Anda makan duluan? Strawberinya atau kuenya?
Sama seperti ketika kita makan yang lain; kue dengan buah cherry di atasnya atau makanan dengan hiasan yang kita sukai dan paling ingin kita makan di antara bagian makanan yang lain yang sedang dihidangkan di depan kita.
Apakah kita tipe orang yang makan kuenya dulu atau strawberinya dulu? Apakah kita akan makan sesuatu yang paling kita sukai dulu atau kita memakan sesuatu yang kita sukai paling akhir?
Saya tidak terlalu mengerti tentang ini, tapi ini menarik. Saya tipe yang akan makan strawberinya terakhir setelah saya menghabiskan kue itu karena saya ingin menikmati strawberi itu setelah saya berjuang menghabiskan kuenya. Saya lebih merasa puas dengan sesuatu yang dicapai dengan susah payah, bukan dengan cuma-cuma. Saya harus melakukan tanggungjawab untuk menghabiskan kue itu baru saya akan mendapatkan hak dari strawberi yang istimewa itu. Dia istimewa karena berbeda. Kalau dari film itu, tipe ini adalah mereka yang lebih memilih untuk menyisihkan kebahagiaan dirinya sendiri untuk kebahagiaan orang lain yang kita cintai. Dia lebih memilih mundur untuk orang yang ia cintai. Tipe ini lebih memilih untuk terluka sekarang daripada terluka nanti. Tipe antisipatif. Apakah dia suka menabung? Hahaha, entahlah…karena tabungan saya sendiri semakin menipis. Yosh! Saya ingin strawberi yang saya dapatkan di akhir nanti bisa mengobati kelelahan saya dalam makan kue itu.
Ah, tapi ini hanya based on film. Oya, tapi dia selalu punya risiko dia tidak dapat memakan strawberi itu pada akhirnya karena orang lain telah mengambilnya terlebih dahulu. Dia kalah start. Inilah risiko terbesar para pemakan strawberi paling akhir akhir. Dia akan kecewa berat karena tidak bisa menikmati strawberi itu. Dia ngamuk, marah berat, aaaa…mengapa ada orang lain mengambil strawberinya? Mungkin orang lain itu tidak tahu kalau dia menyukai strawberi itu karena dia menyisihkannya, makanya dia makan. Yap, seakan-akan dia tidak menyukai strawberi itu padahal dia sangat menginginkannya. Ada pula yang akhirnya merelakan strawberi itu untuk dimakan orang lain karena orang lain itu memintanya. “Hey, kamu tidak suka strawberi itu ya? Kalau begitu boleh aku saja yang memakannya?”
“Oh, sebenarnya aku menyisihkannya untuk kumakan terakhir. Tapi kalau kamu menginginkannya, silakan.”
Wah, tipe ini malaikat sekali… tipe penyabar. Jadi ingat iklan pulpy orange. Mungkin orang yang memakan strawberi itu tipe oportunis. “salahnya sendiri tidak langsung dimakan” mungkin begitu pikirnya.
Untuk tipe yang ngambil strawberinya duluan, dia adalah tipe pejuang dan suka dengan kompetisi. Mereka akan berusaha menjadi yang pertama sebelum orang lain mendapatkannya. Jika dihubungkan dengan ekonomi mungkin tipe ini adalah tipe borrower yang persinggungan antara Budget Line dengan indifferennya ada di bagian kiri bawah titik endowment point. Ini dalam konteks teori konsumsi antar periode di mana seseorang diandaikan memiliki pendapatan dan konsumsi dalam dua periode. Apakah dia akan mengkonsumsi lebih banyak di periode pertama dan lebih sedikit di periode kedua atau sama kedua-duanya? Mereka yang mengkonsumsi lebih banyak di periode pertama berarti akan melakukan pinjaman untuk memenuhi konsumsinya di periode pertama dan membayarkannya di periode kedua sehingga di periode kedua dia mengkonsumsi lebih sedikit. Sedangkan mereka yang mengkonsumsi lebih sedikit di periode kedua adalah tipe saver. Mereka mengorbankan konsumsi masa skarang untuk masa mendatang. Nah inilah tipe yang makan strawberinya di akhir tadi.
So, tipe mana Anda? Hahaha…tulisan ini tidak terlalu kredibel, jadi jangan terlalu percaya. Ini hanyalah sedikit pemikiran yang tiba-tiba melayang di otak saya setelah menonton film tersebut yang pada endingnya ternyata kedua tipe tersebut akan bersatu dan saling melengkapi. Borrower tidak bisa hidup tanpa saver, begitu juga seorang saver butuh borrower untuk meningkatkan nilai investasi mereka.

Bali yang Terpotong (sebuah awalan)


Sore itu, sore yang sangat cerah menyambut saya di tanah Kaulan. Kaulan merupakan nama lain dari Pulau Belitung yang dahulunya merupakan sebuah kerajaan. Kerajaan ini bernama Kerajaan Balok yang merupakan afilisasi dari Kerajaan Mataram Kuno.
Asal nama Belitung konon diambil dari Pulau Bali yang terpotong. Menurut cerita rakyat, dahulu pada saat daratan Indo-Asia dan Indo-Australia masih menyatu, Pulau Bali dengan Pulau Belitung masih menjadi satu daratan. Karena pergeseran lempeng bumi, lambat laun pulau yang bersatu tersebut terpecah dan saling menjauhi. Yang pada akhirnya potongan itu sampai pada posisi di mana Pulau Belitung sekarang berada.
Sebelum pengaruh Islam masuk ke Belitung, dulunya penduduk Pulau Belitung merupakan masyarakat Hindu dengan Kerajaan Balok yang masih menganut ajaran Hindu, baru kemudian setelah masa pemerintahan Datuk Mayang Gresik atau lebih akrab dipanggil dengan Ki Ronggo Udo, kerajaan tersebut menjadi kerajaan Islam.
Sebelumnya memang banyak ditemui peninggalan-peninggalan kebudayaan yang mirip dengan kebudayaan Bali yang mengindikasikan bahwa dahulunya masyarakat Belitung memang masyarakat Hindu. Baru kemudian setelah pengaruh Islam masuk ke pulau tersebut, kebudayaan Hindu berangsur punah hingga saat ini masyarakat Belitung lebih dikenal dengan masyarakat Melayu Islam.
Mungkin karena alasan sejarah inilah di PulaU Belitung dibentuk desa yang kental dengan budaya masyarakat Bali. Desa ini merupakan desa yang dibentuk dari proses transmigrasi bedol di desa dari Bali ke Belitung sehingga desa ini disebut dengan Desa Balitong atau masyarakat setempat kadang menyebutnya dengan Trans-Bali. Desa itu kini masih kental dengan nuansa Balinya. Begitu kita masuk, kita akan merasakan seperti berada di Pulau Dewata. Bangunan-bangunan pura, sesajen, dan lain-lain yang mencirikan masyarakat Bali yang khas. Tradisi-tradisi mereka pun masih tetap terjaga, seperti Kuningan, dan tradisi khas Bali lainnya. Tak heran jika desa ini oleh pemerintah kabupaten dijadikan sebagai salah satu desa wisata yang menjadi daya tarik pariwisata di Pulau Belitung.
Ya, sore itu saya akhirnya bisa menginjakkan kaki lagi di pulau cantik ini setelah kurang lebih 45 menit perjalanan dengan Batavia airlines dari Bandara Soekarno-Hatta didampingi dengan seorang bapak-bapak yang menjadi teman cerita saya sepanjang perjalanan. Ia adalah orang asli Belitung yang "menginterogasi" saya seputar buku yang sedang saya baca di perjalanan dan tujuan perjalanan saya ke Belitung. Novel Yin Galema karya Ian Sanchin menjadi teman perjalanan saya mengenal bumi Belitung ini. Novel inilah yang kemudian menginspirasi saya untuk bisa menulis novel sejarah yang sedang saya riset dan belum saya mulai. (-_-')
Pukul 16.15 Bandara  HAS Hanandjoeddin telah ramai dengan para penunggu koper dan barang kiriman. Mereka berebut tempat untuk segera mendapatkan barang kiriman. Bapak-bapak dengan tampang sangar dan berseragam segera membelakangi saya yang dengan kalemnya menatap pemandangan serba ruwet tersebut. Ah, biarlah...saya nunggu belakangan aja daripada berebut (orang Jogja banget). Saya sendiri masih was-was karena sampai sekarang belum ada kabar apa-apa dari teman-teman yang menjemput di bandara.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya saya dapatkan koper saya! fyuh...
Di seberang kaca sudah ada bapak-bapak berseragam travel agent yang memegang papan dengan nama "Ms Wulandari". Apa? Nama saya bukan Wulandari. Itu nama teman saya yang datang juga hari ini dari Jakarta tapi sudah duluan. Apa Bapak ini salah? Saya segera mendatangi bapak itu.
"Pak, saya Wulan, tapi bukan Wulandari. Sama-sama mahasiswa KKN."
"Oh, mobilnya ada di sebelah sana mbak, mari kopernya saya bawakan."
Mobil kijang itupun akhirnya membawa kami meninggalkan bandara. Di sepanjang perjalanan bapak itu bercerita tentang Belitung dan sedikit mengajarkan saya beberapa kosakata bahasa daerah. Kebetulan waktu itu kami melewati jalan shortcut dari bandara menuju Kecamatan Sijuk yang dibuat oleh Tommy Soeharto yang juga memiliki salah satu penginapan mewah di Kecamatan Sijuk. Di sepanjang jalan tersebut saya menyaksikan berhektar-hektar perkebunan kelapa sawit milik PT..... Kondisi jalannya pun sudah rusak parah dan bergelombang karena setiap hari dilalui oleh truk-truk yang mengangkut hasil panen. Tidak jarang pula di tengah dan tepi badan jalan kami menjumpai biawak yang telah mati karena terlindas kendaraan. Lebih tepatnya saat itu kami seperti sedang offroad di sebuah sungai kering yang lebar. :P
Sampai di Desa Sungai Padang teman-teman sudah menunggu di depan pondokan. Inilah seutas senyum sambutan kali pertama kami di desa ini untuk kemudian selama dua bulan kami mengabdi. Masa-masa yang di kemudian hari akan sangat kami rindukan. Dan perjalanan pengabdian itupun dimulai.

Minggu, 25 Desember 2011

" Sajak Matahari "

karya: Arieyoko Bodjonegoro

Sajak kita adalah sajak peperangan
mengasah pisau dan parang
membabat hati dan semua persinggahan.

Sajak kita adalah sajak pancuran,
bening bergemricik, lindap dan wangi
menyeberangi hari waktu kisah juga embun
mencatat manusia yang lumat
diterjang nafsi-nafsi
digempur mimpi.

Sajak kita bukan sajak hati
yang hanya bicara cinta, suka-suka atawa
kesemrawutan welas asih yang telah berupa wujud
sebagai tanda-tanda matinya keluhuran
pada jiwamu
bukan jiwaku.

Sajak kita memang beda
dan memang tak perlu sama,
sebab sorga kita juga
yang menatahnya.

Jonegoro,
10 Muharam 2011
 Beliau adalah salah satu sastrawan favorit saya. Senang rasanya bisa di-tag langsung oleh beliau di fb untuk sajak ini. Kemudian saya bertanya-tanya pada diri sendiri, "kapan mau nulis lagi?" Sudah lama ide-ide saya mengendap tanpa dituliskan. Kegamangan antara menulis fiksi dulu atau non-fiksi dulu harus segera diakhiri. Saya sudah lama sekali tidak menulis fiksi. Untuk itu saya sedang memaksa diri untuk membenturkan ide-ide saya dengan hal-hal yang berbau dengan karya-karya fiksi. Mengapa seringkali kalau menulis cerpen selalu berhenti di tengah-tengah?

Kamis, 22 Desember 2011

Menjelang Berpisah

Ini belum selesai. Entah saya harus senang atau sedih meninggalkan tempat ini. Malam tadi anak-anak berkumpul di halaman kantor desa untuk menerima pembagian hadiah dari panitia lomba 17 Agustus. Wajah-wajah yang bersemangat itu mendatangi kami satu per satu seraya menanyakan kapan kami akan pulang. Maka saya menjawab, besok Senin pulang, dua hari lagi. Dan saya melihat ada ekspresi kecewa di wajah mereka. Melihat ekspresi wajah-wajah itu, hati saya yang berbunga-bunga karena akan segera pulang ke kampong halaman berubah menjadi sedih.
Ah, rasanya belum banyak yang saya lakukan di sini. Entah apakah kami kemari datang sebagai pahlawan atau hanya sebagai mahasiswa yang KKN. Tapi apapun yang kami lakukan di sini semoga memberikan arti bagi mereka. Suatu kenangan indah mengenai life changing experience.
32 jam menuju kepulangan saya duduk di sofa ruang tamu pondokan dengan notebook di hadapan. Mungkin sudut ini suatu saat akan sangat saya rindukan. Sudut di mana anak-anak sering datang berkunjung untuk sekedar melihat aktifitas kami di depan layar notebook atau sekedar bermain bersama kami. Sudut di mana teman-teman KKN makan bersama dan tidur di sofa ini. Sudut di mana kami bercengkerama dan bernyanyi bersama dengan para pemuda desa. Sudut di mana saya bisa melihat ke halaman depan secara langsung.
Pagi ini beberapa teman masih berkutat juga dengan LPK dan menekuri layar notebook dengan ekspresi wajah serius agak frustasi. Hahaha.
Saya masih ingat beberapa bulan yang lalu saat malam-malam di dalam taksi menuju Stasiun Pasar Senen dari kampus UI saya menerima sebuah sms dari salah satu classmate yang menawari KKN di Belitung. Pada saat itu saya masih galau menunggu tawaran KKN ke luar Jawa terutama yang ke daerah timur. Namun tanpa berpikir panjang saya pun langsung membalasnya dengan kata setuju untuk bergabung. Maka sejak itulah perjalanan menuju pulau seribu pelangi ini pun dimulai.
Pertemuan pertama dengan tim saya tidak dapat hadir karena masih dalam perjalanan ke Yogyakarta dan keesokan harinya harus langsung berangkat ke Solo untuk presentasi karya tulis (lagi). Dan pertemuan kedua saya bertemu dengan wajah-wajah lama satu kampus yang sudah saya kenal sebelumnya. Pada saat itu kami masih buntu harus melakukan apa. Akan tetapi perjuangan harus tetap berlanjut. Setelah pertemuan kedua tersebut kami mulai sibuk berburu informasi tentang Belitung, prosedur pengajuan proposal ke LPPM, pengalaman dari kakak-kakak yang telah KKN di luar Jawa, dan merekrut anggota baru. Tiap minggunya pun kami bertemu dengan wajah-wajah yang sama dan kebuntuan yang sama. Wajah-wajah yang frustasi namun tetap optimis. Hingga hari-hari berikutnya satu per satu wajah-wajah baru dan ide-ide baru pun mulai bermunculan.
Januari 2011, beberapa dari kami kemudian berangkat untuk yang pertama kalinya ke pulau ini. Perjalanan dengan kapal yang sangat melelahkan namun begitu experiencing bagi saya yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh dengan kapal. Pelangi di tengah lautan, perahu kecil penumpang, teater deck 6, dan hal-hal baru lainnya saya temui di sini. Pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini senyum bahagia terukir di wajah kusut saya. Akhirnya sampai juga setelah 18 jam perjalanan!
Sambutan hangat dari bupati membuat kami semakin tertarik pada pulau ini untuk dijelajahi lebih dalam. Hingga akhirnya kami sampai pada keputusan untuk mengambil Desa Sungai Padang sebagai salah satu sasaran program KKN kami. Sebelumnya hampir saja teman-teman memutuskan untuk  mengambil Desa Sijuk saja. Perdebatan yang alot pada malam itu dengan teman-teman untuk memutuskan tempat KKN akhirnya membuahkan hasil. Saya yang pada waktu itu mendapatkan kesempatan terakhir memberikan pendapat, adalah satu-satunya yang membuka sebuah argument untuk mengambil kedua desa tersebut menjadi sasaran KKN. Dan pada akhirnya takdir membawa kami ke dua desa tersebut. Dan takdir pulalah yang membawa tim subunit kami ke Sungai Padang. Tujuh orang dengan harapan untuk bisa mengabdi dan belajar banyak dari masyarakat Belitung.
Yah, mungkin kami akan begitu merindukan tempat ini, orang-orang yang setiap hari mendatangi pondok kami, orang-orang yang setiap hari menyapa nama kami, dan orang-orang yang ketika bertanya kepada kami pulang kapan mereka akan memasang ekspresi yang sedih karena pertemuan yang singkat.
Tinggal beberapa menit lagi kami menginjakkan kaki terakhir di desa ini, seluruh pemuda datang ke pondokan untuk melepas kepergian kami. Mata-mata yang sayu dan sandiwara pertukaran barang kenang-kenangan mewarnai pagi itu. Pondokan tiba-tiba berubah menjadi tempat yang begitu ramai dan sibuk. Pagi itu pula saya menyempatkan diri untuk berkeliling ke tetangga-tetangga untuk mengucapkan kata pamit. Entah apa perasaan saya waktu itu…tapi saya tidak mampu mendeskripsikan perasaan saya waktu itu. Setiap kali melihat Pak Kades, hati saya selalu ingin menangis sedih karena pada akhirnya kami harus meninggalkan beliau berjuang sendirian kembali membangun desa ini. Karena pada akhirnya kami belum mampu mengubah apa-apa dari desa ini. Beliau adalah ayah kami saat berada di sini.
Sekitar pukul 10.00 barang-barang kami sudah dimasukkan ke dalam mobil. Semua sudah siap untuk berangkat. Teman-teman sudah menunggu di luar. Saat saya menatap ke luar pintu, ternyata puluhan anak-anak SD sudah berada di luar untuk melepas kepergian kami. Itulah pertama kalinya saya pada akhirnya menitikkan air mata menjelang kepergian. Satu per satu teman-teman menyalami tangan-tangan kecil mereka. Para tetangga dan teman-teman pemuda Sungai Padang mulai menitikkan air mata. Sungguh pemandangan yang mengharukan. Seumur-umur belum pernah kami dilepas dengan begitu indahnya seperti ini. 


Siang itu, lambaian tangan anak-anak mengiringi kepergian kami menuju bandara…selamat tinggal Sungai Padang yang manis. Semoga apa yang telah kami lakukan di sana bisa memberi arti. Koperasi Tunas Mekar, bapak-bapak nelayan budidaya rumput laut, bapak-bapak kelompok pembuat terasi belacan, kawan-kawan pemuda, dan anak-anak yang manis. Apa lagi yang bisa saya ucapkan selain terima kasih? Terima kasih atas kesempatan indah ini. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk setidaknya merasa berarti. Terima kasih…