Kamis, 17 Oktober 2019

Morning Glimpse

Berlatih mindfulness dari sebuah momen sarapan di pagi hari
Sebuah kumpulan pagi hari




Sebenarnya ingin menulis lebih banyak lagi tentang ini. Semoga lain waktu ada kesempatan lebih baik untuk mengalirkannya dalam tulisan di blog ini. 😊

Senin, 14 Oktober 2019

Family Business: Catatan Diskusi Hari Ini

Kami berempat berkumpul dalam ketertarikan kami pada dunia family business yang belum banyak dibahas di Indonesia secara gamblang dari sisi akademis. Meskipun background saya bukan dari manajemen yang lebih banyak membahas sisi praktis dan konsepsi perusahaan di level mikro, tetapi paling tidak saya sendiri menjadi salah satu aktor dari family business (in practice). Bukankah ke depan akan lebih banyak penelitian-penelitian kolaboratif antar disiplin ilmu?

Kembali ke masalah family business. Mengapa sih hal ini menarik untuk dibahas? Apa yang membedakannya dengan bisnis yang lainnya?

Pertama mari kita telaah dulu isi otak kita ketika mempersepsikan "bisnis keluarga" sebagai bisnis yang dijalankan oleh keluarga dan kerabat-saudara yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Faktor dari kekerabatan ini menjadi unsur penting bagi keberlanjutan bisnis yang jika kita tarik ke kacamata ilmu ekonomi juga berpengaruh terhadap livelihood keluarga antar generasi dengan akumulasi modal, aset, dan sumber daya ekonomi lainnya.

Lalu, seperti apa saja tipenya? Barangkali ada yang sifatnya hanya sebatas kepemilikan perusahaan tanpa ada campur tangan keluarga sama sekali, atau keluarga mengambil bagian dalam manajemen perusahaan dengan berbaur juga bersama tenaga profesional lainnya untuk menjalankan bisnis perusahaan, atau bahkan seluruh manajemen perusahaan dikendalikan oleh anggota keluarga.

Sisi yang paling banyak disoroti dalam bisnis keluarga ini adalah mengenai keberlanjutan perusahaan itu sendiri. Permasalahan profesionalitas dan gap antar generasi, baik itu mengenai figuritas dan orisinalitas nilai hingga permasalahan inovasi.

Collapse-nya satu perusahaan keluarga bisa berimplikasi pada collapse-nya ekonomi/livelihood satu keluarga bahkan untuk generasi selanjutnya jika bisnis itu menjadi lahan utama bagi keluarga. Barangkali kita bisa lihat perusahaan besar seperti Nyonya Meneer yang pada akhirnya harus gulung tikar. Perlu kita telisik juga isu-isu mengenai manajemen bisnis dalam keluarga di dalamnya. Apakah karena perusahaan gagal melakukan inovasi untuk menjawab tantangan pasar? Selayaknya Blue Birds yang hampir saja collapse karena terjangan Gojek, Grab, dan platform transportasi online lainnya. Jika ia terlambat melakukan inovasi barangkali nasibnya akan sama dengan Nyonya Meneer.

Itu mengenai inovasi. Bagaimana dengan bisnis kuliner yang pasar saat ini ingin kembali ke orisinalitas. Di mana dunia saat ini menuju era yang dapat dinamakan sebagai "experience economics", pasar menengah ke atas kini ingin mencari sesuatu yang dapat mereka experienced. Maka dari itulah kini berkembang industri pariwisata. Bahkan banyak bisnis kuliner di Jogja seperti Gudeg Yu Djum, SGPC, dll yang tetap menjaga orisinalitasnya namun tetap bisa bertahan di pasar. Lalu seberapa jauh inovasi dan orisinalitas dapat berdampingan untuk menjawab tantangan pasar?

Isu yang lainnya dan barangkali paling penting adalah mengenai suksesi perusahaan yang mana anak-anak mereka akan menjadi penerus bagi keberlanjutan bisnis keluarga di masa mendatang. Seberapa jauh suksesi penanaman nilai dasar perusahaan itu dapat diturunkan? Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi keberlangsungan perusahaan hingga dalam jangka panjang? Siapa saja pemain utama bisnis keluarga di Indonesia yang sudah bertahan hingga tiga generasi? Bagaimana gap antar generasi dapat mempengaruhi kelangsungan bisnis dan berbagai isu-isu emosional lainnya.

Saya masih kesulitan membahasakan ide dengan kata-kata manajemen. Tapi ini bagian dari latihan permulaan saya.

Saya kok kepikiran ke depan bisa membangun network untuk para family business successors.

Ini hanya sekedar catatan pemantik bagi saya.

Catatan Malas: Kota dan Warung Kopi (Sebuah Daftar Pertanyaan untuk Dibahas 'Nanti-Nanti')

Agak terusik untuk menulis saja setelah membaca bahan diskusi "Etnografi Warung Kopi" dari postingan feed klub seri buku di Instagram. Tentang masyarakat kota yang hidupnya seakan nyaris tanpa jeda untuk bersosialisasi sehingga seperti perkataan Karl Marx bahwa kapitalisme telah mencerabut manusia dari dunia kemanusiaannya. Lagi-lagi biang keladinya adalah kapitalisme. Atas nama kapitalisme itu manusia kota mengejar "kecukupan materi" bernama pencarian jati diri melalui pekerjaannya. Kota, diidentikan dengan ritme kerja dan kapitalisme (tentang kapitalisme ini sendiri tentu banyak hal yang perlu dibahas di ruang tersendiri).

Saya sendiri agak tergelitik dengan asosiasi tentang orang-orang kota ini. Saya hanya ingin memunculkan beberapa pertanyaan yang agaknya malas saya jawab secara langsung di sini.

Apakah semua orang kota kehilangan jeda kemanusiaannya untuk bersosialisasi sehingga muncullah warung-warung kopi modern berbentuk kopi untuk menyuguhkan nuansa nostalgia ruang bersosialisasi? Agaknya sekarang ruang sosialisasi itu telah bergeser. 

Pertanyaan kedua adalah, apakah kita hanya akan menyalahkan orang-orang kota dan "kota" atas tergusurnya nuansa tradisional dan konvensional di masyarakat?

Tapi jika boleh memilih, saya lebih memilih menjadi orang kota dengan definisi 'pekerja'nya dan memiliki tempat kembali di desa yang memiliki asosiasi kelokalan, kearifan, rumah, tenang, dan waktu luang untuk bersosialisasi.

Saya tidak ingin memilih menghabiskan seluruh waktu hidup saya untuk menjadi orang desa dalam konteks sekarang. Tapi jika bisa menjadi "orang kota" yang tinggal di desa tentu itu juga menyenangkan.

Mohon untuk tidak ditafsirkan secara terburu-buru atas pertanyaan-pertanyaan dan kalimat-kalimat penjelas yang menggantung di atas. Biarlah menggantung.

Bukankah saat ini telah banyak gerakan-gerakan ekonomi di desa? Pemuda-pemuda inspiratif yang mampu menggerakkan masyarakat lokal  untuk bekerja dengan konteks kelokalan menjadi bernilai global. Mereka berusaha mendobrak sekat-sekat perdesaaan dan perkotaan.

Mari kita bayangkan 20-30 tahun kemudian di mana generasi yang memimpin telah berganti. Preferensi antar generasi tentu berbeda. Apakah budaya-budaya desa-kota ini masih akan ada?

Ingat, saya hanya ingin memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala.

Apa yang saya asosiasikan sebagai orang kota dan orang desa sekarang adalah sampai saat ini saya masih mengasosiasikan orang desa sebagai generasi yang mendekati retirement mereka dengan pola pekerjaan yang kurang produktif (dari sudut pandang ekonomi) dan paradigma konservatif. Sedangkan orang kota saya asosiasikan dengan kelompok masyarakat yang bekerja di sektor formal dengan taraf pendidikan yang lebih tinggi dan paradigma yang lebih terbuka.
Tidak bermaksud mengkotak-kotakkan, karena saya sendiri juga yakin bahwa tidak semua masyarakat yang tinggal di desa maupun di kota seperti yang saya asosiasikan di atas. Ini hanya bayangan melekat di otak saya yang terbentuk karena pengalaman berinteraksi dengan mereka.

Maka saat ini, barangkali bisa saya sebut sebagai generasi pembaharu, sedang mencoba mendobrak itu semua. Kita hilangkan kesan masyarakat desa yang bodoh dan terbelakang dengan tingkat ekonomi yang rendah dan pemikiran yang kolot. Kita hilangkan juga kesan bahwa masyarakat kota itu anti-sosial, borjuis, dan tidak down-to-earth.

Pertanyaannya lagi adalah, apakah para pembaharu itu saat ini sudah ada di seluruh lapisan masyarakat dan bersiap untuk melakukan perubahan yang lebih baik? Apakah semua generasi phi, adalah orang yang well-educated dan berpikiran terbuka, sehingga mereka berkapasitas untuk mengubah atau hanya akan meneruskan dan mewarisi apa yang ada saja dari generasi sebelumnya dan sekedar melanjutkan hidup.

Karena pola pikir akan membentuk cara berperilaku yang nanti akan menjadi pola perilaku dan kebiasaan dan pada akhirnya akan menjadi sistem.


Minggu, 29 September 2019

Menyapa Kembali Sasikirana

Hai, apa kabar?
Sudah lama ya tidak saling bertukar kabar. Pasti banyak sekali cerita yang sudah kamu lalui. Apakah itu sedih? Apakah itu bahagia? Pasti dua-duanya.

Kalau begitu, kamu mau mulai cerita dari mana?
Mari sini aku seduhkan kopi.

Senin, 17 November 2014

Catatan Kajian Tauhid Masjid Nabawi (4) TAFSIR QS. AL KAHFI (1)


Ustadz Firanda Andirja, Lc, M.A. (Mahasiswa Jurusan Aqidah Kuliah Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam  Madinah)
19 September 2014

# TAFSIR QS. AL KAHFI (18) #


Rasulullah memberikan perhatian khusus untuk surat ini. Banyak keutamaan dari surat Al Kahfi.
-          Barangsiapa menghapal 10 ayat pertama QS. Al Kahfi dia akan dilindungi dari fitnah Dajjal
-          Baca ketika hari Jumat, maka Allah akan liputi ia dengan cahaya selama pekan itu. Barangsiapa membaca QS. Al Kahfi pada hari Jumat, keluar cahaya dari hatinya hingga menjulang energinya di akhirat kelak
Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah dan membaca ayat-ayatnya serta mempelajarinya, melainkan Allah akan karuniakan ketenangan padanya.
QS. Al Kahfi berisi mengenai kisah-kisah, di antaranya:
-          Kisah para pemuda yang tidur di gya selama 300 tahun lebih.
-          Allah karuniakan kebun kepada orang yang tidak bersyukur, kemudian kebun itu musnah.
-          Pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidr.
-          Kisah Dzulkarnain
Seluruh kisah dalam Al Quran adalah kisah nyata. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad, “Wahai Muhammad, sampaikanlah kepada mereka kisah-kisah supaya mereka berpikir.” Karena di balik kisah-kisah tersebut ada faedah-faedah. Pada kisah-kisah sebelum mereka ada pelajaran untuk orang-orang yang cerdas
Asbabun Nuzul QS. Al Kahfi
Orang-orang musyrikin Arab saat itu berupaya untuk menghentingak dakwah Rasulullah SAW. Mereka kemudian mengutus orang ke seorang Yahudi untuk bertanya mengenai bagaimana caranya menghentikan dakwah Rasulullah. Kondisinya adalah mereka (musyrikin Arab dan Yahudi) sama-sama tidak suka dengan dakwah Islam. Orang Yahudi tersebut kemudian memberikan saran untuk menanyakan tiga perkara kepada Rasulullah SAW. JIka beliau bisa menjawabnya, maka dia adalah benar-benar seorang Rasul.
Ketiga pertanyaan tersebut antara lain:
1.       Bagaimana kabar sekelompok pemuda yang keluar di pagi hari
2.       Bagaimana kabar pengembara yang sampai dari timur ke barat
3.       Apa itu hakikat ruh
Para kafir Quraisy sangat senang dengan hal tersebut karena teka-teki ini sulit. Mereka yakin Rasulullah tidak dapat menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan itu menjebak karena sangat umum dan selama ini mereka kesulitan untuk mematikan dakwah Rasulullah. Saat ditanyakan kepada Rasulullah, Rasulullah kemudian berjanji akan menjawabnya besok untuk menunggu turunnya wahyu, tapi lupa bilang “in syaa Allah”.
Setelah 15 hari baru turun QS. Al Kahfi. Semua jawaban untuk pertanyaan no. 1 dan no.2 ada di QS. Al Kahfi. Allah juga mengajarkan adab dalam berjanji yaitu adab in syaa Allah. Sedangkan pertanyaan tentang ruh jawabannya ada di QS. Al Isra’ bahwa tentang ruh, hanya Allah yang tahu. Kita hanya diberi sedikit.
Pada ayat pertama Allah memuji diri-Nya yang telah berikan nikmat terbesar bagi manusia yaitu Al Quran, sebagai bimbingan yang lurus. Al Quran berisi kabar gembira (bisyarah) dan peringatan. Yaitu peringatan untuk orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Ada tiga golongan yang mengatakan bahwa Allah itu mempunyai anak. Siapakah mereka itu?
1.       Nasrani, yang mengatakan bahwa Isa adalah putra Allah.
2.       Yahudi, yang mengatakan bahwa Uzair adalah putra Allah. Hal ini terjadi saat kejadian Taurat yang hilang dan hanya Uzair yang mampu mentafsirkannya kembali.
3.       Musyrikin Arab, mereka mengatakan bahwa malaikat itu putri-putri Allah. Maka Allah katakan bahwa itu adalah pembagian yang tidak adil. Padahal musyrikin Arab tidak suka dengan anak perempuan. Anehnyamereka sendiri mengatakan malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah.
Tidak ada ilmu bagi mereka untuk mengatakan hal ini. Yang keluar dari mereka adalah murni kedustaan yang besar. Allahu ahad!
Pernah ada perkataan dari orang filsafat, “Apakah Allah bisa menciptakan semacam Allah?” Ini adalah pertanyaan yang tidak masuk akal. Seperti ketika orang menanyakan bisakah turun ke atas atau naik ke bawah? Allah Sang Khaliq, Allah Maha Pencipta, tidak diciptakan.
Pada ayat ke-6 Allah menghibur Rasulullah atas kesedihannya. Kau tak perlu bersedih ya Muhammad, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya sementara kemudian kamu akan dikembalikan kepada kehidupan akhirat yang kekal. Kesedihan yang berlebihan adalah dari syaitan. Jika orang yang beriman sedih berlebihan, banyak kebaikan yang kemudian dia tinggalkan.
Mulai ayat 9, Allah ceritakan tentang kisah penghuni gua sebagai tanda kebesaran Allah yang sangat menakjubkan. Masih banyak kisah-kisah menakjubkan yang Allah turunkan di samping kisah pemuda yang tidur 300 tahun lebih itu. Siapakah para pemuda itu? Pengikut nabi siapakah mereka itu? Dalam tafsir Ibnu Katsir mereka adalah pemuda bangsawan kaya raya dan mereka adalah pengikutnya Nabi Musa. Kisah ini juga dibawa oleh para pendeta Yahudi. Pada masa itu, mereka hidup di jaman Raja Daknius yang menyuruh rakyatnya untuk berbuat kesyirikan. Suatu waktu mereka dan seluruh warga pergi ke padang untuk acara penyembahan berhala. Pada saat acara berlangsung ada beberapa pemuda yang masih dijaga fitrahnya oleh Allah keluar dari kaumnya secara diam-diam dan mereka berdiam diri di bawah pohon. Satu per satu mereka bergabung di bawah pohon itu. Kemudian mereka saling bertanya, “Mengapa kalian ke sini?”
“Saya tidak menyukai kesyirikan.”
Mereka pun merasakan perasaan yang sama dan bersepakat untuk membangun tempat ibadah untuk mereka sendiri. Lama-lama aktifitas para pemuda itu terdengar oleh warga. Mereka kemudian menjadi perhatian masyarakat karena cara ibadah mereka yang “berbeda” dengan yang umumnya dilakukan oleh masyarakat. Mereka dianggap aneh. Sampai terdengarlah berita itu kepada sang raja hingga sang raja murka. Akhirnya mereka dipanggil oleh sang raja.
“Buka baju bangsawan kalian! Mengapa kalian berbuat demikian?”
“Kami tidak suka dengan kesyirikan.”
Mereka diberi waktu untuk berpikir pilihannya ada dua, yaitu kembali ke agama nenek moyang atau dirajam sampai mati. Mereka mengalami dilemma yang hebat. Sampai akhirnya mereka bersepakat memutuskan untuk lari ke goa.
Inilah mengapa sampai sekarang kebanyakan yang menerima dakwah adalah anak muda dibandingkan orangtua. Dalam tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa di Makkah tidak banyak orangtua yang menerima dakwah nabi kecuali sedikit. Abu Bakar sebaya dengan nabi. Saat itu kurang lebih beliau berumur 40 tahun saat Muhammad diangkat sebagai nabi. 

bersambung...





Sabtu, 15 November 2014

Pesan dari Husen, Salem, dan Omar

Ini adalah sedikit pesan dari Gaza yang sempat tertangkap di catatan saya, 3 November kemarin di Masjid Nurul Ashri. Itu adalah salah satu masjid favorit saya...hehe...apalagi kalau Ramadhan (curcol).
Jadi kemarin kita kedatangan tamu istimewa dari Gaza. Mereka adalah para remaja keren yang di tengah kecamuk perang masih semangat menjaga Al Quran. Mereka ke sini untuk membagi semangatnya pada kita.
Sampai sekarang mereka percaya bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang tergerak untuk membuat markas penghapal Al Quran di Palestina. Itu lho yang kemarin sama Ustadz Yusuf Mansur dan Ustadz Salim A. Fillah ke sana untuk ikut acara peresmiannya. Tapi tidak lama diresmikan, tempat itu sudah dibom oleh orang-orang jahat menyebalkan bernama zionis israel atau apalah kata-kata paling jelek untuk mereka. (sebeeeelllll!)
Oya, ini saya ceritakan kembali pakai kata-kata saya sendiri ya, jadi jangan membayangkan ini adalah gaya bahasa yang mereka bertiga pakai. Hehe
Tentara israel itu mengebom tempat-tempat penting seperti rumah sakit, pemukiman, masjid, dan juga rumah tahfidz. Rumah tahfidz di Gaza kemarin diserang dengan tiga bom! Padahal satu bom saja bisa menembus kedalaman 10 meter. Israel benci pada Palestina dan negara-negara yang membantu Palestina. Jujur peperangan di Palestina bukanlah peperangan antar tentara, tapi peperangan masa depan! Mereka ingin memberangus generasi umat Islam terbaik. Sebelum perang mereka mengebom rumah-rumah. Kemudian setelah itu rakyat Palestina mengangkat bendera perang, "KAMI TAK AKAN PERNAH BERDAMAI DENGAN KALIAN!"
Apa sih yang sebenarnya terjadi dengan masyarakat Gaza?
Hampir setiap tahun mereka di bom tapi mereka sulit sekali untuk menyerah. Tidak mau menyerahkan diri. Ternyata karena sejak 60 tahun yang lalu, orangtua-orangtua mereka mendidik anak-anaknya untuk dekat dengan Al Quran, untuk menjadi penhapal Al Quran.
Kalau memang hanya tanah yang diinginkan oleh zionis israel, nyatanya kemarin yang dibom adalah masjid-masjid. Masjid-masjid yang dijadikan tempat para penghapal Al Quran, dengan tiga bom terbesar sehingga masjid luluh lantak, bukan dengan bom kecil, Selain masjid, ada markas tahfidz yang dibom, rumah sakit, dan lembaga-lembaga sosial yang dijadikan tempat untuk menghapal Al Quran. 
Peperangan yang terjadi adalah siapa yang bisa menguasai generasi masa depan di bumi Palestina.
Tapi mereka yakin, israel tidak akan pernah sukses! Yang diinginkan israel adalah agar anak-anak keluar dari masjid-masjid ke jalan raya, dari halaqah-halaqah ilmu ke tempat-tempat main. Tapi mereka tetap bersama Al Quran. 
Yang bikin mereka semangat untuk tidak menyerah pada israel adalah AL QURAN. Ketika Al Quran sebagai hakam, amaka Allah akan memberikan pertolongan-Nya pada kita. Mereka bertiga berpesan: "Benar-benar jagalah anak-anak bapak ibu sekalian. Jangan biarkan mereka lalai dengan pergaulan di sekelilingnya karena mereka adalah amanah."
Shalahudin Al Ayubi, sang pembebas Masjidil Aqsha, pernah dulu saat kecil ia main dijalan bersama teman-temannya. Kemudian ayahnya datang lalu memukulnya dengan pukulan keras tapi dia tidak menangis sama sekali. Ia berkata, 
"Saya dilahirkan dengan susah payah oleh ibu saya bukan untuk menjadi orang yang cengeng (orang yang mudah menangis), tapi untuk menjadi pembebas Al Aqsha!"
Mereka bertiga juga berpesan, "Didik anak dengan agama, untuk menjadi pembebas, pemimpin di masa mendatang!"
"Kami berdoa kepada Allah, semoga Allah menjaga Bapak Ibu sekalian, semoga Allah menjadikan anak-anak bapak ibu sekalian menjadi penghapal Al Quran."
Yang membuat saya terharu adalah saat sesi tanya jawab ada seorang pengelola SDIT di Jogja sengaja membawa murid-murid dan para gurunya dengan dua bus untuk bisa bertemu dan mendapatkan semangat dari mereka bertiga ke acara tersebut. Beliau juga bercerita kalau sebelumnya sudah menghubungi panitia untuk meminta satu jadwal agar mereka bisa berkunjung juga ke sekolah mereka, namun jadwal Husen, Salem, dan Omar sudah penuh akhirnya mereka menggunakan kesempatan itu untuk belajar dari mereka bertiga. Bagaimana agar menjaga semangat menghapal para murid dan di antara gurunya.
Saat itu mereka bertiga terharu dengan cerita bapak ini. Mereka terharu juga dengan semangat bangsa Indonesia yang selalu mensupport Palestina. Mereka sampai saat ini percaya bahwa Indonesia adalah negara yang paling terdepan membela Palestina. Huft...saya sendiri berpikir bantuan Indonesia saja masih seperti ini. Disuruh untuk menekan PBB saja masih susahnya minta ampun. Lalu di mana negeri-negeri muslim lain? Bahkan sampai detik ini Saudi Arabia yang di sana terdapat Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha saja masih bungkam! Mesir yang tadinya menjadi nadi utama kegiatan ekonomi Palestina, kini disandera oleh pemerintahan kudeta.

Jumat, 14 November 2014

Cerita Dari Tanah Haram

Ini saya cicil dulu video paling berkesan yaa
Ini adalah saat menuju jamarat dengan jalan kaki sekitar 7 kiloan sekali jalan. Jadi PP sekitar 14 kilometer. Kondisinya sangat panas, kalau rata-rata 45 derajat celcius di waktu siang. Ini adalah perjalanan menuju jamarat setelah lempar jumrah 'aqabah. Jumrah 'aqabah itu dilaksanakan sekali setelah mabit di Mudzdalifah dan sebelum tahalul awal.
Begitulah suasananya. Kondisi yang panas dan padat itu awalnya membuat saya sangat lelah, tapi setelah mendapati serombongan jamaah dari negara lain ini, mereka menggelorakan takbir dengan hentakan ala tentara gitu. Sontak semangat saya jadi ikut meletup-letup! Berasa di tengah-tengah pasukan Khaibar! :D