(sekedar mengepost kembali materi2 jadul)
Project Training for PBOX Entrevaganza (January, 2009)
BRIGHT INDONESIA-AIESEC LC UD
I
don’t know what to say, really. Three minutes to the biggest battle of
our professional life, all comes down to today. In here, we heal as a
team or we’re gonna crumble. Inch by inch, play by play, till we’re
finish. We’re in hell right now, gentlemen. Believe me.
And, we can
sit here, get the shit kicked out of us, of we can fight out way back
into the light. We can climb out of hell, one inch at a time.
Now I
can’t do it for you. I’m too old. I look around, I see young faces and I
think…, I mean…, I made every wrong choice a middle age man can make.
I…ah…. I piss away all my money, believe it or not. I chased off anyone
who’s ever love me. And lately, I can’t even stand the face I see in the
mirror.
You know, when you get old in life, things will take from
you. I mean that’s…that’s part of life. But, you’ll only learn that when
you start losing stuff. You find out life is a game of inches. So is
football. Because in either game, life or football, the margin for error
is so small, I mean… one half of step too late or too early you don’t
quite make it, one half second too slow or too fast you don’t quite
catch it. The inches we need are everywhere around us. They are at every
break of the game, every minute, every second.
On this team we fight
for that inch. On this team we dare ourselves and everyone around us
to pieces for that inch. We claw with our fingernails for that inch.
Because we know, when we end up all those inches, that’s gonna make the
fuckin’ difference between winning or losing! Between living and dying.
I
tell you this, in any fight, is the guy who is willing to die whose
gonna win that inch. And I know, if I gonna have any life anymore, is
because I still willing to fight and die for that inch. Coz, that’s what
living is! The six inches in front of your face!
Now I can’t make you do it. You’re gonna look the guy next to you. Look into his eyes!
Now
I think you’re gonna see a guy will go that inch with you. You’re gonna
see a guy who will sacrifice himself for this team, because he knows
when it comes down to it you gonna do the same for him. That’s a team
gentleman. And, either we heal, now, as a team, or we will die as
individuals. That’s football guys. That’s all of its. Now, what are you
gonna do?
Mengesat kacamata, menyalakan komputer tua, menghadap jendela, menulis apa saja. "Sastra itu tanpa kaidah" kata Sapardi Djoko Damono.
Rabu, 08 Agustus 2012
Ruang Inspirasi
Saat-saat seperti ini,
waktu-waktu tanpa teman, rasanya jadi rindu dengan suasana di ruang
insipirasi saya. Saya menyebutnya ruang inspirasi karena mereka selalu
menawarkan sisi yang berbeda dari kehidupan rutinitas keseharian. Mereka
selalu memantik berbagai macam inspirasi di alam pikiran saya. Setiap
kali datang ke tempat-tempat itu, saya seperti kembali lagi ke masa-masa
hidup yang tanpa tendensi (entah itu kapan). Ada suatu yang murni dan
jujur yang keluar dari sana dan membuat saya ingin selalu kembali lagi
ke sana.
Ruang inspirasi pertama ada di Taman Budaya Yogyakarta yang selalu menawarkan nuansa berbeda saat saya ke sana untuk melihat seni pertunjukkan entah itu teater, ketoprak, opera, atau deklamasi puisi. Saya melihat ada sesuatu yang lain di sana. Kehidupan yang bukan rutinitas kita. Saya sadar, kalau ke sana seringkali bisa sampai malam hanya untuk menikmati pemutaran film documenter atau menikmati pertunjukan ketoprak. Saya harus pulang sendirian malam-malam yang itu bisa membahayakan diri saya. Jujur, saya tidak terlalu peduli dengan aturan batas jam9 malam. Saya tahu itu maksudnya baik. Tapi aturan itu tetap saya langgar demi menempati “ruang inspirasi” ini. Ah, biarlah berjalan dulu seperti ini.
Ruang ini saya kunjungi untuk meladeni kecintaan saya kepada sastra. Cita-cita terpendam saya yang hingga sekarang tidak pernah ada usaha untuk mencapainya adalah menjadi seorang sutradara. Dulu saya juga hobi menulis puisi dan sesekali menulis cerpen picisan (namanya juga remaja yang sedang puber:D). Ketika menyaksikan pemutaran film hasil karya anak negeri rasanya bangga sekali dengan perkembangan industri kreatif di negeri ini. Sebenarnya banyak sekali orang-orang kreatif di sekeliling kita. Saya iri pada mereka yang benar-benar telah terjun menjadi sineas-sineas muda dengan karyanya masing-masing. Mereka juga mengorganisasi diri mereka dalam suatu komunitas untuk mempertunjukkan karyanya pada dunia. Dalam sebuah film kita bisa melihat apa yang sedang dipikirkan oleh sang sutradara. Ah, entahlah. Tapi suatu saat nanti saya tetap ingin melakukannya.
Apalagi dengan pertunjukkan drama langsung dalam sebuah teater, ketoprak, atau opera. Semua berjalan sesuai dengan alurnya. Kita seakan menyaksikan diri kita yang sedang bersandiwara dalam kehidupan kita. Saya jadi ingat bagaimana susahnya menghapalkan naskah drama saat saya dulu memerankan tokoh Hana dalam sebuah drama yang disutradarai oleh almarhumah teman saya, Candu Putrisari untuk sebuah ajang perlombaan di Jogja dulu. Meskipun tidak menang, tapi kami cukup puas dengan pertunjukkan kami. Rasanya sudah senang ketika kita sudah menunjukkan karya kita pada orang lain apalagi jika orang lain itu merasa puas dengan hasil karya kita. Rasa lelah terbayar sudah. Teater hamper-hampir mirip dengan opera. Tapi untuk opera ini saya belum pernah melihatnya secara langsung. Satu hal yang saya sukai dari pertunjukkan teater adalah teknik panggungnya, dari efek pencahayaan, music, gerak tubuh, setting tempat, dan lain-lain. Saya sungguh terpukau dengan totalitas mereka (panitia pertunjukkan) dalam menyiapkan the whole package dari suatu pertunjukkan untuk membuat orang lain senang dan dapat mengambil pelajaran dari sana. Mereka sangat mendetail dan rapi. Agak berbeda dengan seminar-seminar atau kajian-kajian yang seringkali disiapkan dengan seadanya. Memang tidak semuanya, tapi sebagian saja yang saya jumpai.
Untuk ketoprak, ini adalah salah satu yang unik menurut saya. Dari kecil dulu saat saya masih tinggal di desa Wonorejo bersama dengan nenek ketika ada pertunjukkan ketoprak kami berbondong-bondong bersama para tetangga berjalan kaki menelusuri jalan-jalan setapak, melewati persawahan, dan kuburan di kegelapan malam dengan hanya berbekal senter di tangan dan baju hangat untuk menahan udara dingin malam hari menuju sebuah lapangan yang seringkali menjadi tempat pertunjukkan setiap kali ada perayaan ada yang namanya rasulan. Lapangan itu adalah lapangan di desa Ngunut dengan pohon-pohon cemara di sekelilingnya. Perayaan itu biasanya ditutup dengan pertunjukkan ketoprak di malam hari. Para warga desa bahkan rela meninggalkan rumahnya kosong hanya untuk menyaksikannya. Lakon yang sering ditampilkan adalah rakyat kecil dan majikan. Bagian yang paling disukai oleh warga adalah saat ada percakapan yang terjadi antara “rakyat kecil” dengan guyonannya yang oleh kebanyakan warga sering disebut dengan “ludruk”. Sayang sekali,ketoprak modern sekarang sudah jarang yang membawakan cerita pewayangan. Seringkali yang ditampilkan adalah cerita tentang percintaan atau cerita rakyat yang sudah dibubuhi dengan cerita lain-lain. Saya menyukai latar cerita kolosal kerjaan-kerajaan tua di Indonesia. Cita-cita yang belum kesampaian adalah nonton Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Cita-cita yang hampir kesampaian ini sempat kandas karena saya harus memilih agenda lain beberapa waktu lalu. Semoga suatu saat nanti akan ada teman yang bersedia menemani saya nonton.
Ruang inspirasi kedua adalah saat saya makan dua bungkus nasi kucing dengan kepala ayam dan dua tahu bacem ditemani dengan susu jahe hangat di angkringan depan rumah Siyono sambil mendengarkan suara merdu gamelan dari “uyon-uyon” yang diputar dari radio kotak jadul dengan dua buah baterai ABC-nya. Saya lebih suka jika saya sendiri yang menguasai tempat itu saat saya makan karena saya bisa bebas makan dan tidak malu-malu kalau mau nambah. Hehe…^_^
Obrolan dengan mbak Ida, sang penjual angkringan, pun bisa saya sabotase sendirian. Dari mulai curhat tentang rutinitas di kampus, rencana-rencana ke depan, dan mendengarkan update-nya tentang perkembangan terbaru di dusun yang jarang sekali saya pulang ke sana akhir-akhir ini. Saya sudah tidak mendengar lagi perkembangan terbaru kegiatan remaja masjid di kampong sejak saya kuliah di Jogja. Itu yang membuat saya terkadang merasa bersalah karena terlalu egois dengan diri sendiri dan melupakan pengabdian saya pada masyarakat yang nyata ada di depan saya. Makanya Bapak selalu mewanti-wanti kalau mau KKN atau program pengabdian kepada masyarakat mbok ya di daerah sendiri, bukan malah ke daerah lain. Tapi saya selalu bandel tentang hal ini. Karena bagi saya masalah pengabdian itu tidak mengenal tempat. Bahkan kita bisa melihat budaya yang berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain. Ini adalah salah satu ruang inspirasi saya yang lain, yaitu dalam perjalanan ke luar kota yang tidak akan cukup saya ceritakan di sini dalam satu episode. Semoga saya masih punya kesempatan untuk menuliskannya di sini dalam episode lain tentang cerita-cerita perjalanan-perjalanan ke luar kota. Selalu saja memberikan pelajaran tersendiri dari setiap perjalanan. Pengalaman baru, orang-orang baru, suasana baru.
Kembali ke angkringan. Ini yang membuat saya bersyukur dilahirkan sebagai warga Yogyakarta yang tinggal di Yogyakarta yang setiap hari bisa melihat tenda-tenda angkringan bercahaya neon kecil atau lampu badai. Di angkringan ini kita bisa melihat dunia dan update-update berita terkini dari sisi rakyat kecil. Kita bisa mendengar keluhan-keluhan murni mereka tentang kenaikan harga sembako, tentang dunia perpolitikan, dan lain-lain. Kita seperti sedang menyaksikan siaran berita langsung dari sumbernya. Tidak jarang juga tempat ini menjadi favorit para mahasiswa berkantong pas-pasan. Menu khas nasi kucing, gorengan, dan wedang jahe. Hmmm….
Di setiap ruang inspirasi itu ada pelajaran kehidupan yang bisa kita petik untuk menjalani rutinitas kehidupan di hadapan kita. Di ruang-ruang itu kita bisa melepas kelelahan kita pada rutinitas dan beranjak kembali dari tempat peristirahatan dengan pandangan dan semangat baru. Ada hal-hal yang sungguh berbeda dari apa yang ada di alam pikiran kita selama ini, dari teori-teori kita selama ini. Ada realitas lain dari yang kita lihat selama ini. Other’s take a different view dan terkadang kita harus memandang dari sisi mereka untuk bisa mengetuk kejujuran hati dan pikiran kita.
Ruang inspirasi itu sebenarnya ada di setiap tempat yang kita singgahi.
Ruang inspirasi pertama ada di Taman Budaya Yogyakarta yang selalu menawarkan nuansa berbeda saat saya ke sana untuk melihat seni pertunjukkan entah itu teater, ketoprak, opera, atau deklamasi puisi. Saya melihat ada sesuatu yang lain di sana. Kehidupan yang bukan rutinitas kita. Saya sadar, kalau ke sana seringkali bisa sampai malam hanya untuk menikmati pemutaran film documenter atau menikmati pertunjukan ketoprak. Saya harus pulang sendirian malam-malam yang itu bisa membahayakan diri saya. Jujur, saya tidak terlalu peduli dengan aturan batas jam9 malam. Saya tahu itu maksudnya baik. Tapi aturan itu tetap saya langgar demi menempati “ruang inspirasi” ini. Ah, biarlah berjalan dulu seperti ini.
Ruang ini saya kunjungi untuk meladeni kecintaan saya kepada sastra. Cita-cita terpendam saya yang hingga sekarang tidak pernah ada usaha untuk mencapainya adalah menjadi seorang sutradara. Dulu saya juga hobi menulis puisi dan sesekali menulis cerpen picisan (namanya juga remaja yang sedang puber:D). Ketika menyaksikan pemutaran film hasil karya anak negeri rasanya bangga sekali dengan perkembangan industri kreatif di negeri ini. Sebenarnya banyak sekali orang-orang kreatif di sekeliling kita. Saya iri pada mereka yang benar-benar telah terjun menjadi sineas-sineas muda dengan karyanya masing-masing. Mereka juga mengorganisasi diri mereka dalam suatu komunitas untuk mempertunjukkan karyanya pada dunia. Dalam sebuah film kita bisa melihat apa yang sedang dipikirkan oleh sang sutradara. Ah, entahlah. Tapi suatu saat nanti saya tetap ingin melakukannya.
Apalagi dengan pertunjukkan drama langsung dalam sebuah teater, ketoprak, atau opera. Semua berjalan sesuai dengan alurnya. Kita seakan menyaksikan diri kita yang sedang bersandiwara dalam kehidupan kita. Saya jadi ingat bagaimana susahnya menghapalkan naskah drama saat saya dulu memerankan tokoh Hana dalam sebuah drama yang disutradarai oleh almarhumah teman saya, Candu Putrisari untuk sebuah ajang perlombaan di Jogja dulu. Meskipun tidak menang, tapi kami cukup puas dengan pertunjukkan kami. Rasanya sudah senang ketika kita sudah menunjukkan karya kita pada orang lain apalagi jika orang lain itu merasa puas dengan hasil karya kita. Rasa lelah terbayar sudah. Teater hamper-hampir mirip dengan opera. Tapi untuk opera ini saya belum pernah melihatnya secara langsung. Satu hal yang saya sukai dari pertunjukkan teater adalah teknik panggungnya, dari efek pencahayaan, music, gerak tubuh, setting tempat, dan lain-lain. Saya sungguh terpukau dengan totalitas mereka (panitia pertunjukkan) dalam menyiapkan the whole package dari suatu pertunjukkan untuk membuat orang lain senang dan dapat mengambil pelajaran dari sana. Mereka sangat mendetail dan rapi. Agak berbeda dengan seminar-seminar atau kajian-kajian yang seringkali disiapkan dengan seadanya. Memang tidak semuanya, tapi sebagian saja yang saya jumpai.
Untuk ketoprak, ini adalah salah satu yang unik menurut saya. Dari kecil dulu saat saya masih tinggal di desa Wonorejo bersama dengan nenek ketika ada pertunjukkan ketoprak kami berbondong-bondong bersama para tetangga berjalan kaki menelusuri jalan-jalan setapak, melewati persawahan, dan kuburan di kegelapan malam dengan hanya berbekal senter di tangan dan baju hangat untuk menahan udara dingin malam hari menuju sebuah lapangan yang seringkali menjadi tempat pertunjukkan setiap kali ada perayaan ada yang namanya rasulan. Lapangan itu adalah lapangan di desa Ngunut dengan pohon-pohon cemara di sekelilingnya. Perayaan itu biasanya ditutup dengan pertunjukkan ketoprak di malam hari. Para warga desa bahkan rela meninggalkan rumahnya kosong hanya untuk menyaksikannya. Lakon yang sering ditampilkan adalah rakyat kecil dan majikan. Bagian yang paling disukai oleh warga adalah saat ada percakapan yang terjadi antara “rakyat kecil” dengan guyonannya yang oleh kebanyakan warga sering disebut dengan “ludruk”. Sayang sekali,ketoprak modern sekarang sudah jarang yang membawakan cerita pewayangan. Seringkali yang ditampilkan adalah cerita tentang percintaan atau cerita rakyat yang sudah dibubuhi dengan cerita lain-lain. Saya menyukai latar cerita kolosal kerjaan-kerajaan tua di Indonesia. Cita-cita yang belum kesampaian adalah nonton Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Cita-cita yang hampir kesampaian ini sempat kandas karena saya harus memilih agenda lain beberapa waktu lalu. Semoga suatu saat nanti akan ada teman yang bersedia menemani saya nonton.
Ruang inspirasi kedua adalah saat saya makan dua bungkus nasi kucing dengan kepala ayam dan dua tahu bacem ditemani dengan susu jahe hangat di angkringan depan rumah Siyono sambil mendengarkan suara merdu gamelan dari “uyon-uyon” yang diputar dari radio kotak jadul dengan dua buah baterai ABC-nya. Saya lebih suka jika saya sendiri yang menguasai tempat itu saat saya makan karena saya bisa bebas makan dan tidak malu-malu kalau mau nambah. Hehe…^_^
Obrolan dengan mbak Ida, sang penjual angkringan, pun bisa saya sabotase sendirian. Dari mulai curhat tentang rutinitas di kampus, rencana-rencana ke depan, dan mendengarkan update-nya tentang perkembangan terbaru di dusun yang jarang sekali saya pulang ke sana akhir-akhir ini. Saya sudah tidak mendengar lagi perkembangan terbaru kegiatan remaja masjid di kampong sejak saya kuliah di Jogja. Itu yang membuat saya terkadang merasa bersalah karena terlalu egois dengan diri sendiri dan melupakan pengabdian saya pada masyarakat yang nyata ada di depan saya. Makanya Bapak selalu mewanti-wanti kalau mau KKN atau program pengabdian kepada masyarakat mbok ya di daerah sendiri, bukan malah ke daerah lain. Tapi saya selalu bandel tentang hal ini. Karena bagi saya masalah pengabdian itu tidak mengenal tempat. Bahkan kita bisa melihat budaya yang berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain. Ini adalah salah satu ruang inspirasi saya yang lain, yaitu dalam perjalanan ke luar kota yang tidak akan cukup saya ceritakan di sini dalam satu episode. Semoga saya masih punya kesempatan untuk menuliskannya di sini dalam episode lain tentang cerita-cerita perjalanan-perjalanan ke luar kota. Selalu saja memberikan pelajaran tersendiri dari setiap perjalanan. Pengalaman baru, orang-orang baru, suasana baru.
Kembali ke angkringan. Ini yang membuat saya bersyukur dilahirkan sebagai warga Yogyakarta yang tinggal di Yogyakarta yang setiap hari bisa melihat tenda-tenda angkringan bercahaya neon kecil atau lampu badai. Di angkringan ini kita bisa melihat dunia dan update-update berita terkini dari sisi rakyat kecil. Kita bisa mendengar keluhan-keluhan murni mereka tentang kenaikan harga sembako, tentang dunia perpolitikan, dan lain-lain. Kita seperti sedang menyaksikan siaran berita langsung dari sumbernya. Tidak jarang juga tempat ini menjadi favorit para mahasiswa berkantong pas-pasan. Menu khas nasi kucing, gorengan, dan wedang jahe. Hmmm….
Di setiap ruang inspirasi itu ada pelajaran kehidupan yang bisa kita petik untuk menjalani rutinitas kehidupan di hadapan kita. Di ruang-ruang itu kita bisa melepas kelelahan kita pada rutinitas dan beranjak kembali dari tempat peristirahatan dengan pandangan dan semangat baru. Ada hal-hal yang sungguh berbeda dari apa yang ada di alam pikiran kita selama ini, dari teori-teori kita selama ini. Ada realitas lain dari yang kita lihat selama ini. Other’s take a different view dan terkadang kita harus memandang dari sisi mereka untuk bisa mengetuk kejujuran hati dan pikiran kita.
Ruang inspirasi itu sebenarnya ada di setiap tempat yang kita singgahi.
Code Blue Quotes
Result are what count. Today's hilar twist is the same. If result are good, you're told you were courageous. If they're bad, you're called a murderer and taken to court. No one can avoid that process. That's our job. I chose this job, thinking that was good. That's how it was supposed to be. At that time, it helplessly becomes meaningless (Aizawa sensei)
Well, I don't know about anything but soccer. The first time someone praised me was when I scored in soccer. I was fourth grade at that time. My homeroom teacher, who was always angry at me, was all smiling all of a sudden. And since then I was able to fit in. So I got into the soccer club, and scored more points. In soccer, when you score, everyone's happy. Even with someone like me.This is the only way I can make others happy. (soccer guy patient)
There is no easy way to heal emotional scars. I just think of it this way: Wounds of heart are undoubtedly necessary. That's because bearing wounds in our hearts, we can become aware of other people's pain.
(Aizawa sensei)
That's why everyone work hard for their studies, their jobs. In order to become a person who is needed by someone else.(Aizawa sensei)
About the last one: that's why our biggest happiness is when other can smile because of our best effort. Orang ingin bermanfaat kepada orang lain karena mereka ingin hidup yang berarti. Tanpa memberi, hidup seperti tidak berguna.
"The best of you is the most contributing to the people." (Hadist)
Jumat, 03 Agustus 2012
Cahaya Delapan Lentera (Antologi Cerpen)
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Barry Irama, Rizal Faoji, dkk |
"Satu cerita cahaya lentera, inspiratif. Cerita lentera lain, berkarakter. Ada lentera yang menyuguhkan konflik yang menarik, ada yang mengalikan alur dengan lancar, dan ada yang menyuntikkan semangat.
'Vision without execution is a daydream, execution without vision is a nightmare. So, what is the truth?' Cahaya 8 Lentera akan menjawabnya."
(Kun Geia, Penulis Novel "The Lost Java")
Delapan lentera itu bukan sesuatu yang magis. Mereka hanyalah sosok yang menebar cahaya kebaikan dengan menulis. Bukan hanya kata-kata yang puitis, tetapi juga pesan keindahan yang manis.
Ibarat delapan binang yang ada di rasi pohon willow musim panas. Lentera itu selalu memancarkan cahaya. Cahaya yang tak berdimensi, tak berdinding, dan tak terbatas. Cahaya itu bersinar ke semua elemen kehidupan. Memantik semangat untuk bermimpi. Memanaskan gairah berkarya. Membuka cakrawala.
Delapan lentera berpadu dalam melukis siluet cahaya yang indah. Pesonanya memikat hati siapa saja yang memandangnya. Merasuk hingga pori-pori kalbu dan jiwa. Ragam warna cahayanya sangat eksotis. Ada yang memancarkan keindahan bersama sang Bunda tercinta. Ada yang memendarkan cahaya kekuatan melalui sebuah usaha bersama sang Ayah. Ada pula yang berbagi kisah kasih bersama sahabat dan teman dekat, lalu terpancarlah cahaya persahabatan. Selain itu, ada juga cahaya imaji yang berkilau begitu memukau melalui jejak perjuangan dalam meraih mimpi, dalam menggapai sebuah prestasi.
Bersiaplah menikmati keelokan Cahaya Delapan Lentera!
190 hal + i-xii
14,5 cm x 20,5 cm
ISBN 602898179-6
Penerbit Deepublish
PEMESANAN:
Nurul Fajriyah (085726182673)
Yuris T. Saputra (08995138419)
Kamis, 26 Juli 2012
Jogja-Jakarta-Karawang-Ciamis di Bulan Juli
Bulan ini adalah bulan di mana saya melewati ulang tahunnya yang ke-23 di sebuah kereta menuju Jakarta dengan dinyanyikan lagu "wer-ewer-ewer" oleh seorang waria yang tiba-tiba datang di dekatnya. Sore itu sawah-sawah telah menguning dengan warna senja di ujung barat.
Sebenarnya keberangkatan saya ke Jakarta juga sebagai penghilang "sedikit kekesalan" yang berkecamuk di hati. Biarlah, perjalanan yang melepas kesedihan itu. Satu motif lain lagi selain tujuan utama perjalanan adalah karena saya ingin secara random bertemu dengan seseorang yang sedang sangat ingin saya temui saat itu. Mengucapkan kata, "Hi, long time no see" or just smile. Setidaknya dengan kepergian saya itu saya mendapatkan 1% probabilitas itu. Mungkin kurang. What I really want to say to "him/her" is "thank you so much!".
Nyatanya memang saya tidak bertemu kemarin. Tapi saya menemukan banyak hal-hal baru. Terutama tentang kegentingan orang-orang Jakarta. Tentang perjalanan dengan sekelompok orang tak dikenal dan berbicara dengan bahasa yang tidak saya pahami sama sekali, tapi mereka kelihatan bahagia.
Malam itu saya berada di sebuah mobil menuju Ciamis, tepatnya Rajadesa. Saya beserta dua orang teman duduk di jok paling belakang. Di jok tengah ada dua orang pemuda kira-kira berumur 20an tahun. Di jok paling depan ada seorang sopir dan seorang temannya sopir yang mirip seperti salah seorang artis komedi Indonesia. :P
Saya dijemput di sebuah mushola di depan Stasiun Jatinegara usai maghrib. Dua orang teman saya, sebut saja De dan Phun sudah berada di mobil. Kali ini kami akan dibawa dulu ke Grogol. Sepanjang perjalanan saya mengawasi pemandangan kota Jakarta yang mewah itu. Rasanya seperti orang udik yang baru melihat Jakarta. hahaha... Lampu-lampu di jalan dan gedung bermain-main di mata saya. Ini seperti sebuah pertunjukan kembang api yang dipuisikan. Dalam hati saya menyenandungkan salah satu lagu favorit, "You Belong to Me"-nya Jason Wade. Apakah suatu saat ada orang yang akan menyanyikan lagu itu untuk saya saat saya sedang melakukan perjalanan jauh?
Jika orang-orang bilang bahwa LDR itu sulit dan sakit. Justru saya sangat ingin merasakan hal itu untuk beberapa saat. Saya ingin merasakan kerinduan yang amat sangat pada orang yang dicintai yang berada di tempat yang jauh dari kita. Dan pertemuan itu akan berakhir dengan happy ending. Hehe
Kembali ke mobil van menuju Grogol tadi. Saya mulai terkantuk-kantuk di mobil itu. Setelah saya bangun tiba-tiba kami sudah berada di suatu daerah yang disebut slum area yang mungkin masih di pinggiran Jakarta. Tiba-tiba lagi kami sudah berada di perumahan padat di pinggiran rel kereta api. Beberapa lama kemudian kami sudah berada di perumahan lain. Saya berusaha melihat jam tangan yang tidak kelihatan karena gelap. Ternyata sudah menunjukkan pukul 12 malam. Phun bertanya pada sopir,
"Pak, masih jemput berapa orang lagi?"
"Masih 6 lagi neng. tambah motor juga."
APAAA???? Ini sudah larut malam! Masih juga jemputin orang??? Dan itu 6 orang! Di mobil sudah ada 6 orang! Saya mulai memperkirakan posisi duduk kami masing-masing. Hanya ada dua jok lagi yang tersisa untuk orang bisa duduk secara manusiawi. Tapi ini 6 orang??? Tambah motor pula! Pikiran buruk mulai menyeruak di alam pikiranku. Jangan-jangan kami mau diculik. Karena dari tadi yang dijemput adalah orang laki-laki semua. Hanya kami bertiga yang perempuan sendiri di mobil itu. Saya mulai memikirkan jurus-jurus untuk melarikan diri jika saat menegangkan itu tiba. Saat dimana kami disekap, kemudian dibuang atau dimusnahkan atau...ah, khayalan menyeramkan mulai bermunculan di otak. Tapi rasanya kewaspadaan itu segera dikalahkan oleh rasa kantuk dan lelah yang teramat sangat. Lelah karena harus duduk berdempetan setelah ketambahan satu orang laki-laki di jok kami. Saya duduk di tengah kedua teman saya yang sama-sama menyandarkan kepalanya di bahu saya (kanan dan kiri). Mau bergerak saja susah sekali. Mau mencari posisi tidur yang nyaman hampir mustahil. Akhirnya saya tertidur juga dengan posisi kepala tanpa sandaran dan kadang kerkantuk-kantuk ke jok depan membuat kepala yang sedang migran tambah sakit. Rasa lapar karena belum makan malam harus kami tahan dan berharap mobil ini akan berhenti di rumah makan. What the journey...
Pukul 2.15 dini hari. Kami sudah berada di daerah Karawang. Ah, ini mengingatkanku pada puisi Chairil Anwar "Karawang Bekasi".
KARAWANG BEKASI
Oleh: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
(Yang Terempas dan Yang Putus, Pustaka Rakyat, 1949)
Ya, rasanya mereka yang terbaring di antara Karawang-Bekasi itu berbicara kepada saya dalam malam hening itu. Angin dari luar jendela menerpa wajah yang telah bangun sambil mengucap syukur bahwa kami telah berada di Karawang dan seketika melupakan fantasi kejadian penculikan itu. Kami memasuki perkampungan padat di sekitar sungai yang diapit oleh dua badan jalan. Kemudian berhenti di depan rumah bercat pink-hijau yang ternyata sudah ada seorang wanita paruh baya menunggu di sana. Ia mengenakan daster tidurnya sambil tangan kanannya mengapit seputung rokok yang menyala. Sebentar-sebentar ia hisap rokok itu. Tiba-tiba pikiran jahat menyeruak lagi. Apalagi mereka berbicara dengan bahasa Sunda. Tidak satupun dari kami
bertiga yang paham akan bahasa itu. Jangan-jangan mereka merencanakan
sesuatu... Dalam hati saya berbisik, waduh, jangan-jangan kami mau diculik untuk dijual melalui wanita ini kemudian kami dijadikan pelacur...haaah...???
Saya berusaha untuk bersikap sewajar mungkin dengan tetap waspada. Mobil sepertinya akan berhenti agak lama. Maka saya turun sebentar dari mobil sambil meregangkan otot-otot dan menghirup udara luar. Saya mengambil duduk di pinggir jalan sempit itu. Beberapa wanita lain sudah mulai bermunculan dari rumah itu. Mereka semua masih muda. Bercelana pendek dan kaos ketat pendek menampilkan lekuk-lekuk tubuh mereka yang ramping. Juga seorang anak kecil yang muncul di sela-sela mereka. Saya hanya melihat pemandangan bagaimana para lelaki di mobil itu saling bahu-membahu berusaha untuk memasukkan motor ke dalam mobil. Gila! Saya semula memprediksi bahwa pintu belakang mobil tidak akan bisa titutup rapat karenanya. Ternyata setelah dengan berbagai uji-coba posisi, mereka bisa! Motor berhasil dinaikkan dengan sempurna. Selanjutnya si bapak sopir menyuruh saya masuk ke mobil lagi dengan bahasa Sunda yang kurang lebih saya tahu artinya bahwa saya harus masuk mobil lagi. Saya pun harus kembali menghadapi "siksaan mobil" itu. Di luar ibu paruh baya itu berpamitan dengan para gadis muda yang berada di balik pagar. Sementara si anak kecil itu menangis sekeras-kerasnya. Ternyata ia harus berpisah dengan para gadis muda itu yang ia panggil sebagai "kakak". Anak itu terus menangis sambil berteriak, "kakaak...kakak...". Jok depan telah dikosongkan. Ternyata jok depan itu diperuntukkan untuk ibu dan anak itu dan seorang pemuda yang kelihatan masih remaja kira-kira usia SMP-SMA plus sopir. Di jok tengah kini sudah ada empat orang laki-laki muda. Di jok belakang ada kami bertiga dan seorang laki-laki di samping Phun dengan kaos merahnya dan rambut gondrongnya. Sementara dua orang laki-laki berada di bak belakang untuk menjaga motor. Mereka duduk lesehan. Lengkap sudah susunan penumpang mobil van yang kemudian kami bertiga sebut dengan van mikrolet karena semua-muanya bisa dimasukkan di sana.
Pukul 2.45 perjalanan ke Ciamis baru saja dimulai. Saya terlelap lagi sepanjang perjalanan.
Pukul 4.30 kami tiba di Bandung. Berhenti di sebuah rumah makan untuk makan (pagi atau malam?) dan shalat subuh. Pagi itu seluruh penumpang kelihatan sangat kuyu, termasuk diri saya.
Kira-kira 45 menit kemudian kami berangkat lagi. Kali ini saya tidak tidur dan hanya memakan camilan yang telah saya beli di rumah makan tadi. Kenangan Kota Bandung mulai muncul lagi di benak. Kenangan akan stasiun yang menurut ssaya bagus, juga kenangan akan perjalanan yang "kurang mengasyikkan" jika tidak bisa disebut annoying. Beberapa jam kemudian kami telah berada di Tasik Malaya. Saya berusaha mengetahui posisi kami dengan melihat plakat-plakat di sepanjang pinggir jalan. Atap mobil yang pendek membuatku harus menunduk untuk melihat keluar. Rasanya mobil ini melaju dengan kencang karena saya seringkali harus terbata-bata membaca tulisan di plakat tidak sampai selesai karena mobil sudah melaju ke depan lagi. Nuansa persawahan yang menghijau di pagi hari yang dingin memenuhi mata saya. Kedua teman saya masih tidur. Sementara para penumpang di depan bercakap-cakap dengan serunya sambil tertawa-tawa. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena mereka menggunakan bahasa mereka sendiri (Sunda). Saya tersenyum melihat pemandangan itu. Mereka kelihatan seperti satu keluarga. Seketika suasana lelah dan suntuk tadi malam berganti dengan kecairan yang menenangkan pagi itu. Ternyata sejak wanita itu berada di mobil, suasana mobil jadi hidup.
Oya, ada hal yang sangat saya herankan dari penumpang di mobil itu. Hampir di setiap tempat yang dilewati, mereka menyapa orang dengan teriakan akrab seperti teman sendiri. Seperti yang dilakukan oleh wanita itu yang menyapa beberapa pemuda di pinggir jalan masih di Karawang dini hari. Ia sapa dengan bahasa Sunda yang terkesan akrab. Kemudian Pak Sopir menyapa beberapa orang di Tasik Malaya saat melewati pasar yang agak padat. "Woi! #$%@&&*&%@!^%...dst" entahlah pokoknya pakai bahasa Sunda juga. Ini kami sedang berada di dunia manakah? Mengapa mereka berteman dengan siapa saja dan menyapa siapa saja? We were in a very strange world...
Tempat yang kami lalui mulai menunjukkan daerah pedesaan seperti di daerah Tegal. Jalan mulai berkelok-kelok. Pemandangan mulai dipenuhi dengan sawah, bukit, dan hutan. Rumah-rumah yang ada tampak seperti rumah adat. Saya seketika berucap syukur saat menemukan sebuah plakat di pinggir jalan bertuliskan Ciamis. Finally...
Jalan yang dilalui semakin sempit dan primitif. Semakin banyak pula orang yang disapa oleh pak sopir.
Sampai di tempat tujuan, kami disambut oleh seorang bapak yang kemudian mengantarkan kami ke sebuah rumah di tepian sawah dengan berjalan kaki. Di rumah itu seorang ibu shalihah yang begitu ramah menyambut kami. Ia kemudian mempersilakan kami untuk istirahat di kamar yang telah di sediakan di bagian belakang. Sebuah kasur lebar menyapa kami dengan begitu manisnya. Udara sejuk di pinggiran sawah dan kasur empuk. What the heaven...
Siang hari kami sudah harus berangkat lagi untuk mengejar angkutan yang bisa membawa kami sampai terminal terdekat. Dengan jalan kaki kurang lebih 1,5 km di jalanan berbatu, akhirnya kami mencapai jalan raya. Tidak ada halte, kami duduk di pinggir jalan menunggu kedatangan angkutan. Kata orang sekitar kira-kira 45 menit lagi ada angkutan. Perut keroncongan, saya isi dengan semangkuk bakso yang berada di seberang jalan sambil menunggu angkutan datang. Posisi duduk di pinggir jalan itu persis seperti gelandangan yang membutuhkan santunan! hahaha...
Satu mobil sebenarnya pernah menghampiri kami dengan plat AB menawarkan tumpangan. Tapi entah mengapa dengan begitu bodohnya secara spontanitas orang Jogja, saya menolak halus tawaran itu dengan alasan mau menunggu angkutan saja. Dua orang teman saya tercengang melihat saya. Hahaha...
Karena lama menunggu, kami sempat berinisiatif jika ada truk yang lewat kami akan naik truk itu! Sempat ada satu truk lewat, tapi tidak mau berhenti karena penuh muatan. Mungkin sopir truk itu berpikir, mau ditaruh di mana kalian, mau naik gimana caranya, pakai rok gitu...
Akhirnya angkutan yang dinanti tiba juga tepat waktu. Mobil sudah agak hampir penuh. Tapi masih muat untuk kami bertiga. Penumpang lain juga banyak yang membawa bawaan khas pasar. Sebagian besar penumpangnya adalah wanita. Dan hampir semuanya berkerudung. Hanya satu orang yang tidak. Kami melewati jalan yang sama dengan tadi pagi. Kali ini dengan mobil dan orang-orang yang berbeda. Sempat terbersit keinginan suatu saat bisa tinggal di sini.
Sampai di terminal Ciamis yang sederhana. Kami bergegas menuju agen bus ke Jogja. Ternyata bus ke Jogja berangkat jam 7 malam. Saat itu baru jam 4 sore. Untungnya agen itu menyediakan tempat duduk bekas jok bus yang nyaman untuk para calon penumpang yang sedang menunggu bus.
Hari kemudian mulai berganti senja. Silih berganti orang datang dan pergi dari kios agen itu. Kami bertiga menghabiskan waktu dengan nyemil, baca buku, ngobrol, dan sesekali tidur. Menjelang maghrib tiba-tiba ada sekelompok anak kecil bermain-main di depan kios. Mereka berlari dan bergulat satu sama lain. Mulai datang pula seorang anak kecil perempuan bersama seorang kakaknya. Nama mereka Fatimah dan Sayidah. Phun akhirnya mulai akrab dengan mereka dan mengajak mereka bermain bersama. Orang-orang di kios hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Itu seperti saat kami berada di masjid melihat orang ngajar TPA. Hihihi...
Pukul 7 akhirnya bus yang dinantikan datang. Saatnya kembali ke Jogja...
Angin dingin di Ciamis telah menyapu kenangan perjalanan kami.
Kamis, 31 Mei 2012
Karut Marut Pertambangan Indonesia
Saya tergerak untuk menulis ini
karena teringat dengan sebuah pulau kecil yang beberapa bulan lalu memberikan
pengalaman berharga bagi kehidupan saya hingga saat ini. Pulau kecil yang dulu
dikenal sebagai Bumi Timah Kaulan itu, kini dikenal dengan pulau kecil yang
memiliki sejuta pesona pantai pasir putih dan batu granitnya. Pulau Belitong.
Sejak mendengar berita beberapa waktu terakhir ini, saya cemas pada nasib
orang-orang yang pernah menjadi sahabatku di sana. Mereka yang setiap pulang
sekolah menambang ke kulong. Mereka yang ketika laut tidak memungkinkan bagi
mereka untuk mencari ikan, mereka akan pergi ke kulong atau berkebun karet dan
sawit. Hampir semua kulong (tempat penambangan timah) di desa yang saya singgahi
itu adalah illegal. Itu adalah pertambangan rakyat tanpa izin. Setiap ada
polisi yang datang harus mereka sogok agar mereka bisa tetap aman meneruskan
usaha tambang mereka, yang sebenarnya itu adalah tambang sisa! Mereka hanya
mengais sisa dari penambang-penambang besar yang dulu pernah mengeruk habis
cadangan timah di bumi timah itu! Ya, mereka itu hanya mengais!
Kemudian sejak aturan kementerian
ESDM keluar dengan UU no. 4 tahun 2009 nya itu, para penambang mineral, yang
salah satunya adalah timah dan nikel (yang banyak terdapat di pulau itu),
berusaha memacu sebesar-besarnya ekspor mereka sebelum tahun 2014 nanti ketika
ekspor barang tambang mineral dalam bentuk mentah itu tidak diperbolehkan lagi.
Akibatnya harga barang tambang mineral mentah beberapa waktu terakhir turun
drastis dari sebelumnya. Para penambang kulong itu, yang tadinya sehari bisa
mendapatkan keuntungan hingga 300an ribu rupiah per kilogram yang mereka
dapatkan, mereka kini hanya bisa mendapatkan kisaran seratus ribuan saja dari
jumlah yang sama, bahkan terkadang kurang dari itu. Itu untuk mereka yang
menambang secara illegal. Mereka yang menambang dengan bekerja di perusahaan
pertambangan besar (yang kebanyakan mendapatkan predikat HITAM untuk penilaian
program PROPER dari KemenLH), yang dikhawatirkan dari mereka adalah ketika
jatah beras bulanan yang selama ini mereka peroleh dari perusahaan tambang akan
dihentikan karena kemudian banyak perusahaan tambang yang gulung tikar. Mengapa
harus rakyat kecil lagi yang harus jadi mainan?
Untuk saat ini saya bisa menerima
alasan mengapa pemerintah mengeluarkan UU No. 4 tahun 2009 bahwa tahun 2014
nanti, para penambang Indonesia tidak bisa lagi mengekspor bahan tambang mentah
mereka langsung ke luar negeri. Bahwa lonjakan ekspor dengan adanya UU yang
dikeluarkan tahun 2009 lalu itu menjadi sangat tinggi, ini dikhawatirkan
Indonesia akan segera kehabisan bahan tambangnya yang hanya digunakan untuk
negara lain sementara kita sendiri mengimpor barang jadi atau setengah jadi
dari mereka dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kita itu bodoh atau apa ya?
China pun sudah melakukannya dari dulu. Mengapa mereka mengimpor terus dari
Indonesia sementara mereka sendiri punya persediaan tambang yang besar? China
tinggal terima mentahnya terus diolah deh itu bahan dijual lagi ke kita.
Sementara nanti kalau Indonesia habis persediaannya, Cina bisa gali sendiri
milik mereka dan olah sendiri, kemudian dijual ke kita dengan harga tinggi
karena mungkin saat itu barang-barang itu sudah langka di dunia ini. Nggak
hanya Cina sih, beberapa negara lain juga melakukan hal serupa. Cina sudah
diwanti-wanti USA untuk menjaga lingkungannya sehingga mereka harus segera
meninggalkan dirty industry.
Yang menjadi sorotan di sini
adalah, apakah pemerintah waktu mengeluarkan UU tahun 2009 lalu itu tidak
melalui kajian mendalam mengenai unintended effect-nya? Bahwa bisa jadi
penyelundupan akan semakin marak. Kesalahannya adalah bahwa pemerintah waktu
mengeluarkan UU itu tidak langsung disertai dengan aturan teknisnya. Sehingga
yang ada di pikiran pengusaha tambang adalah ekspor habis-habisan sebelum thaun
2014 itu. Ini permasalahan produksi man, maka harus diselesaikan dengan
produksi, bukan dengan trade. Jika permasalahannya adalah bahwa masih minimnya
pengolahan pemurnian hasil tambang mineral di Indonesia, itu kenapa? Ya,
mungkin insentif dari produsen tambang untuk ekspor lebih tinggi daripada kalau
dijual ke Indonesia. Kenapa lagi? Karena kapasitas pengolahan Indonesia belum
memadai. Ini masalah produksi, lagi-lagi.
Saya nggak mikirin tuh pengusaha
tambang besar deh, serugi-ruginya mereka pun masih bisa makan. Tapi
cukong-cukong yang ada di sekitar mereka yang mengais rezeki dari mereka, yang
nggak berdaya itu yang perlu dipikirkan juga.
Plis, paling tidak ada upaya dari
pemerintah deh buat mengantisipasi kerugian yang dialami oleh masyarakat kecil
yang terlibat secara langsung maupun tidak secara langsung dengan area
pertambangan mineral itu. Saya kemudian akan teringat Pak Tatin dan kelompok
budidaya rumput lautnya di Belitong sana. Apakah mereka saat ini lebih
mengandalkan laut dan kebun untuk mencukupi hidup mereka? Kemudian apakah
permasalahan yang ada di kelautan Indonesia tidak mengganggu mereka? Dan apakah
kebun-kebun sawit yang menjadi andalan Indonesia itu, ternyata sebagian besar
dimiliki oleh pengusaha sawit Malaysia yang semena-mena membuka lahan tanpa
memperhatikan lingkungan negara tetangganya, dan ketika asap sampai ke negara
mereka, mereka akan menyalahkan Indonesia. What the Indonesia!
Akhir kata, semoga rekan-rekan
tim pertambangan riset LOI bisa menemukan sesuatu yang berarti untuk negeri
ini! Kami, tim pangan juga akan bekerja keras, kawan! Semangaaat!
Rabu, 30 Mei 2012
He is George Hogg
| And life is colour and warmth and light; And a striving evermore for these; And he is dead who will not fight; And who dies fighting has increase. |
||
|
—Julian Grenfell
| ||
Langganan:
Postingan (Atom)
