Senin, 27 Oktober 2014

Catatan Kajian Tauhid Masjid Nabawi (2)

Ustad Firanda Andirja, Lc, M.A. (Mahasiswa Jurusan Aqidah Kuliah Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam  Madinah)
17 September 2014


# SYIRIK KECIL (SYIRIK ASYQAR) #

Syirik besar à batal syahadatnya, seluruh amalan tertolak, neraka jahannam selamanya, diharamkan surga baginya
Syirik kecil à hanya menggugurkan amalan yang bercampur syirik keci tersebut
Pendapat ulama menyatakan bahwa dosa syirik (baik itu besar maupun kecil) tidak diampuni dan diletakkan di timbangan keburukan. Syirik kecil bukan berarti dosa kecil, tapi tetap dosa besar!
Salah satu bentuk dari syirik kecil adalah Riya’.
Syirik asyqar merupakan wasilah atau sarana yang mengantarkan seseorang pada kekufuran. Syirik berarti menyamakan Allah dengan selain Allah.
Contoh syirik asyqar:
  

Riya’
Riya’ berarti bahwa seseorang beramal untuk dipuji oleh manusia. Rasulullah pernah berpesan bahwa sesuatu yang aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Salah satunya adalah riya’. Jika kalian dipenuhi riya’. Jika kalian dipenuhi riya’, kembalilah pada yang kalian cari itu dari mereka. Wahai sahabatku, aku khawatirkan menimpa kalian selain fitnah Dajjal adalah riya’ karena ia bercokol di hati dan tersembunyi.
Rasulullah lebih khawatirkan fitnah riya daripada fitnah dajjal. FItnah riya’ justru menimpa orang-orang shalih, tersembunyi di hati. Fitnah dajjal hanya terjadi di akhir jaman.
“Kesyirikan yang terjadi pada umatku lebih lembut dari semut kecil hitam yang berjalan di atas batu hitam.”
Salah seorang juga bahkan sampai berkata, “Aku tidak pernah menghadapi yang lebih berat daripada niat.”
Orang shalih tahu kalau meraih ikhlas mereka akan bahagia. Allah Maha Mengetahui usaha kita untuk meraih keikhlasan. Yang penting adalah seseorang berusaha terus-menerus. Saat terjangkit riya’ ia berusaha untuk melawannya. Ibnu Taimiyah juga pernah menyatakan bahwa riya’merupakan salah satu bentuk syahwat yang tersembunyi. Seperti syahwat wanita, orang juga punya syahwat ingin dipuji. Barangsiapa berjihad untuk berjuang di jalan Allah ia harus ikhlas. Selain itu tertolak dan tempatnya neraka jahanam.
Ada tiga golongan yang dihisab Allah SWT kemudian masuk ke neraka jahanam:
a.    Orang yang mati syahid. Ia dihadirkan kepada Allah dan diingatkan akan nikmat-nikmat Allah SWT. Allah bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat yang Allah berikan?”
Barangsiapa beramal akhirat untuk dunia, dia akan mendapatkan dunia itu.
b.   Seorang dai. Ia belajar agama dan mengajarkannya, dihadirkan di hadapan Allah SWT. Allah ingatkan akan nikmat-Nya. Hafalan yang kuat, kecerdasan, dll. Apa yang kau lakukan dengan nikmat-Ku? Ia menjawab, “Ya Allah, aku ajarkan Al Quran. Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya. Namun kemudian Allah berkata,”Kau dusta! Kamu mengajarkan Al Quran untuk dipuji sebagai orang yang pandai Al Quran.” Kemudian Allah sungkurkan wajahnya ke dalam neraka jahanam.
c.   Orang dermawan. Dia luar biasa dermawannya. Dia berkata, tidak ada satupun kecuali aku sedekahkan karena Engkau ya Allah…
Allah jawab, “Kau Dusta!” kemudian ia tidak dapatkan apa-apa kecuali neraka jahanam.
Utsman bin Affan menangis sampai pingsan mendengar hadist ini. Amal kita sedikit, sedikit itupun belum tentu ikhlas…
Oleh karena itu menyembunyikan amalan lebih baik. Pahala ibadah yang sembunyi-sembunyi lebih baik kecuali yang memang zahir, seperti shalat jamaah, berjilbab, dll. Jauhilah hal-hal yang menimbulkan riya’.
Ada tujuh golongan yang Allah akan naungi di akhirat kelak. Di antaranya adalah orang yang ikhlas berinfak secara sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kiri tidak tahu. Kemudian seseorang yang ketika ia sendirian, ia menangis mengingat Allah SWT.
Ibnu Umar saat berjihad ia menutup wajahnya hingga orang tidak tahu kalau itu adalah dia. Hasan Al Basri tiap malam bawa gandum secara sembunyi-sembunyi kepada fakir miskin. Sedekah sembunyi-sembunyi akan meredakan kemurkaan Allah SWT. Jangan ceritakan kebaikan antum kecuali darurat. Saat beramal shalih, setan selalu menggoda. Lebih buruk lagi, berghibah sambil riya’. Jangan sampai juga orang memuji kita dengan amalan yang tidak kita lakukan.
2.       Jimat (dalam bahasa Melayu “Azimat”)
Sesungguhnya mantra, jampi, jimat merupakan kesyirikan, karena dengannyaseseorang menjadikan sebab tanpa sebab. Rasulullah mengajarkan doa, bukan jimat. Rasulullah pernah lihat tali jimat yang ada di unta, lalu dia perintahkan para sahabat untuk memutus talinya. Kalau kau mati dan jimat masih ada di dirimu, kau tak akan selamat. Di Indonesia banyak kyai yang memakai jimat meski itu dengan tulisan Arab sekalipun. Rasulullah mengajarkan doa dengan dibaca, bukan dengan dibawa atau disimpan.
Jimat membuat kita bertawakal tidak kepada Allah, tapi pada jimat. Jimat jadi syirik besar ketika sepenuhnya percaya pada jimat itu. Jimat jadi syirik kecil ketika hanya anggap sebagai sebab. Tapi keduanya tetap dosa besar.
Di antara ciri-ciri orang yang masuk surge tanpa hisab antara lain:
1.       Mereka yang tidak pernah minta diruqyah
2.       Mereka yang tidak pernah mengkait-kaitkan kejadian-kejadian dengan nasib sial
Tidak boleh bersumpah dengan nama selain Allah. Meskipun “Demi Allah dan demi nabi”. Meski sekedar diucapkan tanpa menyakini. Masya Allah artinya atas kehendak Allah.
Hadist tentang arba’in merupakan hadist lemah. Hadist ini mensyaratkan shalat 40 waktu di masjid nabawi. Hadist yang hasan shahih adalah shalat 40 hari penuh di masjid manapun dan tidak meninggalkan takbiratul ihram. Malah tidak diperbolehkan jika berlari-lari mengejar takbiratul ihram karena mengejar syarat arba’in. Apalagi untuk perempuan sebenarnya tidak wajib shalat wajib di masjid, malah lebih baik di rumah. Namun nabi tidak melarangnya.
Kita berhaji ke sini untuk diampuni dosa-dosanya oleh Allah!
Yang disunnahkan dalam sekali safar hanya satu kali umrah.

Catatan Kajian Tauhid Masjid Nabawi (1)

Ustad Firanda Andirja, Lc, M.A. (Mahasiswa Jurusan Aqidah Kuliah Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam  Madinah)
16 September 2014

# PERDUKUNAN #


Sekedar datang ke dukun pun, meski hanya tanya-tanya, Rasulullah melarangnya. Berangsiapa mendatangi dukun, shalatnya tidak diterima selama 40 hari. Bahkan Rasulullah pun sudah mewanti-wanti bahwa orang yang datang kepada dukun dan mempercayai perkataan mereka, maka ia telah kafir terhadap Al Quran. Mereka juga disebut sebagai dajjal-dajjal kecil karena mereka membuat orang kufur. Perdukunan merupakan salah satu bentuk dari Taghut.
Hal yang memprihatinkan terjadi di Indonesia karena hampir di setiap kampung di Indonesia ada dukunnya. Inilah yang menggambarkan sifat manusia yang ingin instan. Orang yang pergi ke dukun sudah tidak lagi menggunakan akalnya.
Adapun beberapa bahaya dari pedukunan adalah munculnya praktek-praktek kriminal seperti santet hingga membunuh. Meski hanya karena perkara sepele misal karena tersinggung, hingga mendatangi dukun untuk santet. Selain itu perdukunan juga dapat memunculkan timbulnya pertikaian dalam keluarga. Misal karena kehilangan suatu barang, orang datang ke dukun untuk meminta petunjuk tanda-tanda si pencuri kemudian hal tersebut dapat menimbulkan buruk sangka pada kerabat keluarga.
Di Arab, hukuman bagi para dukun adalah penggal kepala. Hal ini dilakukan sejak kekhalifahan.
Hanya Allah Yang mengetahui ilmu ghaib secara mutlak. Tidak ada yang mengetahui yang ghaib baik itu di langit maupun di bumi, melainkan Allah.Allah mengetahui seluruh yang ada di langit dan bumi, seluruh alam semesta diciptakan oleh Allah.
Tidak ada satupun daun yang gugur melainkan Allah mengetahuinya. Semua telah tercatat dalam Lauh Mahfuz. Allah menampakkan sebagian perkara ghaib, kepada para rasul saja dan para malailat tertentu. Para rasul merupakan utusan Allah sebagai bukti bahwa rasul itu benar. Nabi pun tidak bisa menolak kemudharatan dari Allah, ia hanya pemberi peringatan dan kabar gembira.
Seperti contoh ketika insiden Aisyah yang kehilangan kalungnya kemudian timbullah fitnah. Rasul pun hampir mempercayai perkataan para munafikun. Kemudian turunlah ayat yang memberikan penjelasan mengenai Aisyah dan ayat tentang tayamum. Fitnah terhadap Aisyah berlangsung selama satu bulan bahkan nabi pun belum jelas benar atau tidaknya. Kemudian turunlah ayat tersebut baru kemudian Rasulullah meminta para sabahat untuk membantu mencarikan kalungnya. Para sahabat saat itu mencarinya sampai hampir subuh tapi belum ketemu juga. Saat itu para sahabat tidak menemukan air, kemudian turunlah ayat yang menerangkan tentang tayamum. Pelajarannya adalah bahwa saat itu Rasulullah pun tidak tahu di mana kalung Aisyah yang hilang. Juga tidak tahu kebenaran fitnah yang terjadi saat itu.
Itu salah satu contoh dari seseorang yang diutus sebagai Rasulullah sekalipun. Nabi Yakub pun tidak tahu saat kehilangan nabi Yusuf. Hukum asalnya adalah seluruh manusia tidak tahu apa-apa tentang yang ghaib. Para Rasul diberi sedikit saja hanya untuk buktikan bahwa mereka adalah utusan Allah. Adapun ramalan-ramalan yang cocok dengan yang kemudian terjadi merupakan salah satu cara Allah untuk menguji manusia.
Kenapa para dukun terkadang ramalannya benar? Jika Allah telah menetapkan suatu perkara tentang masa depan, Allah mengabarkannya kepada malaikat. Para malaikat kemudian saling membicarakannya. Para jin mencuri dengar dari perbincangan mereka di langit. Karena dukun bekerjasama dengan para syaitan.
Baru belajar sihir saja sudah masuk kufur. Orang yang datang ke dukun saja sudah kafir, gimana dukunnya. Mereka beribadah dengan syaitan. Bedanya antara karamah dan ilmu syaitan adalah kalau karamah diberikan oleh Allah secara tiba-tiba dan tidak bisa dibatalkan. Sedangkan ilmu syaitan itu bisa dipelajar dan bisa dibatalkan.

Selasa, 17 Juni 2014

Berubah

Betapa istiqomah itu mahal memang
Mengapa manusia yang sudah mengerti bahwa itu dosa masih seringkali melakukan dosa?
Mungkin ini cara Allah mengajarkan pada kita untuk tidak sombong dengan keimanan kita sekarang
Mungkin juga ini cara Allah mengajarkan kita untuk selalu rindu untuk kembali pada-Nya dan untuk tidak berputus asa mengharap rahman-Nya
Sebaik-baik orang yang berdosa adalah ia yang bertaubat

Untuk menjadi lebih baik memang masih perlu usaha yang terus-menerus
Kita tidak tahu akhir hayat kita akan seperti apa, kapan, saat keimanan kita seperti apa, dan apa yang sedang kita lakukan saat itu...
Semoga Allah senantiasa menuntun kita agar amal terbaik kita adalah di ujungnya

Futur itu...mengajarkan kita untuk selalu rindu dekat dengan Allah
Futur itu...mengajarkan kita untuk tidak sombong ketika iman sedang naik
Futur itu...mengajarkan kita untuk empati pada saudara-saudara yang masih kesulitan bangkit dari jeratan dosa. Hingga kita tidak pernah membenci dan meninggalkan mereka.
Futur itu...mengajarkan kita untuk sabar. Bersabar untuk selalu dalam kebaikan.
Futur itu...adalah fase mengambil hentakan untuk melompat ke atas lebih tinggi lagi dari sebelumnya.

Umar!

Jika kita ingin bertanya bagaimana bisa melahirkan anak-anak seperti Umar bin Abdul Aziz, maka dari sini mulainya. Jauh sebelum pendidikannya. Jauh sebelum kelahirannya. Ibunya belum lagi hamil. Bahkan bapak ibunya belum lagi dipertemukan dalam catatan takdir cinta mereka berdua.
Umar bin Abdul Aziz terlahir dari dua bibit yang luar biasa. Bibit ayah istimewa yang disemai di lahan ibu istimewa. Jadilah ia sosok istimewa yang dicatat sejarah kebesaran Islam.
-Budi Ashari, Lc
"Semua Berawal dari Secawan Kejujuran"




Hujan Bulan Juni

Yeay! Akhirnya bisa nge-blog lagi. Hujan pertama di bulan Juni yang saya sadari betul-betul bahwa Jogja sudah hujan. Kemana aja, nona...hehe. Entah, mungkin saya sedang terkungkung dengan pikiran-pikiran negatif yang akhir-akhir ini mulai menggerogoti otak saya sampai harus ke rumah sakit coba! Plis deh! Maaf, saya mulai lebay.
Jadi intinya ini baru pembukaan. Oke. Saya lagi suntuk dengan para pegawai kantoran yang katanya melayani masyarakat ituh. Maaf, saya agak sensi memang kalo sudah menyebut profesi PNS. Iya, saya tahu kok tidak semuanya. Hanya beberapa oknum saja. Bolehkah saya menumpahkan kekesalan saya sejenak di sini? Ummph...
Oke, saya berubah pikiran, tidak baik menceritakan aib orang di sini. Yang jelas masih ada lho, kades yang mempersulit warganya. Yang sulit sekali ditemui saat warganya butuh. Yang rajin memungut pungutan liar dari setiap warga yang hendak membuat sura-surat untuk keperluannya. Masih ada juga lho, orang yang ngaku-ngaku pembela rakyat kecil, berjuang ke pelosok-pelosok desa untuk menyalurkan bantuan, tapi masih butuh pengakuan. Masih ingin disanjung sebagai pahlawan. Kemudian mereka akan saling rebutan klaim bahwa merekalah yang memperjuangkan mereka. Masih ada juga lho, pegawai administrasi kota yang judesnya minta ampun, padahal orang-orang datang ke tempatnya dengan baik-baik. Masih banyak juga lho, birokrasi yang dipersulit di negeri ini.
*Istighfar*
Maafkan saya ya Allah, saya kok belakangan jadi mudah berpikir negatif pada orang lain?
Padahal saya sudah tahu, apapun itu yang datang dari-Mu, apapun kejadiannya adalah kebaikan. Padahal saya tahu, bahwa Engkau menyajikan semua kejadian itu pada hamba untuk memperkokoh kesabaran hamba hingga Engkau semakin cinta pada hamba...
Mungkin hati kita saja yang sedang soak. Perlu diservis ke Sang Pemilik hati ini.
Kembali yuk...

Minggu, 04 Mei 2014

Rindu

Ah, saya hanya sedang rindu dengan kegiatan semasa menjadi mahasiswa S1 dulu.
Menemukan tulisan lama yang tidak jadi saya publish di blog karena sangat culun.

"Mari kita lihat, kawan…apa yang nanti menjadi hasil investigasi kami. Bulan-bulan berikutnya kita akan bergumul dengan Koran-koran tahun 1997-2003. Bulan-bulan berikutnya kita akan menghadapi ribuan data mikro untuk menguak kemiskinan.  Bulan-bulan berikutnya kita akan menjelajah bumi pertiwi ini dan belahan dunia lainnya. Tahun-tahun berikutnya kita akan berada di kota-kota besar dunia. Tahun-tahun berikutnya kita akan menyebar ke desa-desa di pelosok dunia. Atau kita mati muda saja."

Saya hanya rindu seharian menggeluti koran-koran tua di perpustakaan Malioboro yang jarang terjamah.
Setidaknya ada satu hal yang berhasil saya rampungkan bersama para dosen yang dulu pernah menjadi satu tim dengan Pak Anies Baswedan. Setidaknya  saya pernah belajar langsung dari mereka.
Kini saya baru saja menyelesaikan tugas untuk membantu disertasi seorang dosen lagi. Ini kedua kalinya saya membantu disertasi. Rasanya puas bisa melihat mereka menemukan sesuatu yang baru dari data olahan kita. Tentang ekonomi politik di berbagai negara dan tentang pengaruh upah minimum terhadap kesejahteraan pekerja.
Saya hanya rindu dengan data-data IFLS dan SUSENAS mengenai kemiskinan.
Saya hanya rindu melakukan cleaning data yang baru saja diambil dari lapangan untuk kemudian siap di-publish dan digunakan oleh banyak peneliti.
Saya hanya rindu diskusi dan nyerocos panjang lebar tentang isu-isu ekonomi di negeri ini bersama teman-teman.

Banyak hal yang menarik dari penelitian.

Pada saatnya nanti jika Allah mengijinkan, saya akan kembali menggeluti itu semua.
Insya Allah.

Minggu, 12 Januari 2014

Simalakama Kebijakan Impor Beras

Impor beras dianggap sebagai momok karena bertentangan dengan kemandirian pangan. Di sisi lain, apabila menggantungkan produksi lokal, harga beras sulit ditekan dan akan terbuka kemiskinan baru.
 Kebijakan pangan, khususnya impor beras, ibarat memakan buah simalakama. Keadaan yang serbasalah dalam menghadapi dua pilihan yang tidak diinginkan itu disebabkan keduanya menimbulkan kondisi yang tidak baik. Impor menyebabkan tidak mandiri, tidak impor pun kondisi produksi domestik kurang mencukupi.
Dalam beberapa dekade terakhir, ketersediaan pangan menjadi isu penting dunia. Begitu pesatnya peningkatan populasi dunia membuat permintaan akan pangan jauh meningkat. Di sisi lain, pertumbuhan pasokan pangan justru sebaliknya, mengalami kendala karena susutnya lahan pertanian dan gagal panen yang dipicu, di antaranya, perubahan iklim.
Kondisi itu juga terjadi di Indonesia sebagai salah satu negara yang kemampuannya dalam menyediakan pangan penduduknya justru mengalami degradasi. Kalau di era Orde Baru negeri ini bisa swasembada beras, saat ini hampir setiap tahun harus mengimpor agar pasokan dan harga pasaran di tingkat konsumen bisa terjaga.
Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Elan Satriawan, kepada Koran Jakarta mengatakan kenyataan susutnya lahan pertanian membuat masalah utama swasembada beras di negeri ini sulit dipecahkan. Data menunjukkan 60 persen lebih petani padi di Indonesia hanya memiliki lahan tak lebih dari 0,5 hektare. Masalah itu diperburuk dengan kondisi infrastruktur pertanian dan perdesaan yang sangat minim.
“Jumlah sawah yang memiliki irigasi teknis tak bertambah. Jalan desa yang menghubungan petani dan pasar masih jadi masalah besar. Dan pupuk masih jadi ajang spekulasi tiap tahunnya,” kata Elan Satriawan di Yogyakarta, kemarin.
Tanpa perbaikan semua hal tersebut, menurut Elan, cita-cita swasembada akan sangat sulit diwujudkan, bahkan tidak mungkin. Maka, menurut Elan, dalam jangka pendek dan menengah, sampai seluruh perangkat dasar mewujudkan swasembada tersebut dipenuhi, isu swasemba harus dilihat dari kacamata ketahanan pangan. Dua komponen ketahanan pangan menurut Elan adalah ketersediaan pangan dan keterjangkauan harga pangan.
Tepat di titik itulah Elan mengatakan impor menjadi hampir tak terelakkan. Sayangnya, isu impor beras selalu mendapat respons buruk dari publik karena dianggap akan menurunkan kesejahteraan petani sebab harga beras di pasaran dunia yang lebih murah dari beras yang diproduksi di dalam negeri. Impor dituding menjadi salah satu penyebab hancurnya pertanian nasional, yang tentu saja menjadi salah satu sebab pokok dari bertambahnya tingkat kemiskinan.
Dalam penelitiannya tentang “Pengaruh Kenaikan Harga Pangan terhadap Kesejahteran dan Kemiskinan”, Elan Satriawan bersama Wulan Wiyat Wuri dan Ahmad Jamil, justru menemukan hal yang sebaliknya.
Pokok masalah dari penelitian tersebut adalah siapa yang akan diuntungkan jika ada kenaikan harga beras di pasaran sebesar 20 persen dan di tingkat produsen sebesar 16 persen, 20 persen, dan 24 persen. Dampak terhadap peningkatan kesejahteraan berbeda untuk masing-masing kenaikan harga, bergantung pada berapa persen kenaikannya. Tetapi, dampaknya pada memburuknya kemiskinan ternyata justru konsisten. Kelompok yang paling dirugikan adalah rumah tangga miskin, khususnya kalangan miskin perkotaan.
Elan mengatakan komposisi kepemilikan tanah dan buruknya infrastruktur pertanian menjadi sebab utama dari temuannya. Yang diuntungkan dari kenaikan harga hanya petani-petani besar dan para spekulan, sementara petani kecil, meskipun dia memproduksi beras, nyatanya mereka adalah konsumen.
“Jadi, meski HPP dinaikkan dan tentu saja harga beras di pasaran juga naik, mayoritas petani kita yang 60 persen lebih itu tidak akan dapat untung karena mereka juga net consumer. Yang untung siapa? Ya petani besar dan para spekulan,” tukas Elan.

Ketersediaan Lahan
Pengamat ekonomi pertanian dari UGM, Masyhuri, sebelumnya, menegaskan hal yang paling pokok dari ketahanan pangan di Indonesia adalah persoalan kepemilikan lahan. Menurutnya, petani rata-rata hanya mengolah lahan kurang dari 0,5 hektare, sedangkan idealnya minimal 2 hektare seperti yang diamanatkan undang-undang.
Untuk itu, menurut Ketua Umum Asosiasi Pemerintahan Kebuapaten Seluruh Indonesia (APKASI), Isran Noor, tuntutan peran optimal pemerintah daerah untuk mengurusi admnistrasi pertanahan semakin menguat karena makin sering munculnya konflik-konflik agraria. Sehingga diperlukan peraturam pelaksanaan yang mengatur kewenagan pemerintah kabupaten/kota yang berhadapan langsung dengan masalah konflik hak-hak atas tanah. YK/E-12
Ketimpangan Harga Pangan Menarik Spekulan
Impor pangan menjadi isu yang paling panas dalam beberapa tahun terakhir terkait melonjaknya harga pangan yang berkontribusi besar terhadap inflasi dan kemampuan bangsa ini dalam hal menyediakan pangan bagi penduduknya.
Ketua Departemen Kajian Strategis Nasional Serikat Petani Indonesia (SPI), Ahmad Yakub, menyatakan persetujuannya dengan sejumlah catatan. Persetujuan terhadap impor pangan bukanlah hal yang musti diperjuangkan oleh para petani sebab hal tersebut terlalu mudah dilakukan oleh birokrat, importir, dan spekulan yang selama ini menguasai perdagangan pangan nasional.
 Menurutnya, dengan atau tanpa persetujuan petani saat harga beras dunia lebih rendah dari harga beras nasional, para pemburu rente akan bekerja semaksimal mungkin untuk mendapatkan keuntungan, dengan atau tanpa persetujuan petani. “Jadi yang saya tanyakan pada akademisi, penelitian-penelitiannya itu tujuannya apa? Kalau mau sekadar mengatakan impor pangan penting, ya buat apa, importir dan birokrat pemburu rente nggak perlu dibela,” tegas Yakub di Yogyakarta, kemarin.
 Yakub berpendapat pokok persoalan dari pertanian di Indonesia adalah, seperti disebutkan dalam penelitian Elan, adalah distribusi lahan yang sangat sempit. Menurut Yakub, kampanye petani melawan impor pangan bertujuan untuk menjaga isu paling penting dari isu pangan nasional yakni redistribusi lahan.
 Isu terpenting kedua, menurut Yakub, yakni pemberian bibit unggul dan teknologi serta industri pengolahan pascapanen, dan baru yang ketiga adalah soal perdagangan pangan. Penelitian Elan, menurut Yakub, hanya berpokok pada soal terakhir dan tanpa bekerja apa pun, tanpa keterlibatan akademisi ataupun petani, perdagangan pangan internasional (ekspor-impor) akan mengikuti keuntuntungan yang dijanjikan. Kalau ada untung dari impor, ya impor, kalau sebaliknya ya ekspor akan dilakukan.
 Maka, menurut Yakub, pembelaan terhadap petani maupun konsumen pangan dalam negeri harus selalu berpegang teguh pada keterlibatan petani kecil sebagai pelaku utama penyediaan pangan. Kalau hanya berfokus pada ketersediaan pangan, bangsa ini bisa terjerumus dalam privatisasi sektor pangan tanpa perlu redistribusi lahan pada petani kecil.
 “Kalau fokusnya ketersediaan, food estate bisa jadi pilihan. Tapi kalau fokusnya pada petani, ya redistribusi lahan,” kata Yakub.
 Menurut Yakub, pemerintah harus memiliki kebijakan politik anggaran berbasis pertanian dan melindungi produksi pangan dalam negeri. Kebijakan nasional Indonesia selama ini lebih berbasis pada industri dan perkotaan dibandingkan basis perdesaan dan pertanian sehingga petani sebagai soko guru pertanian pangan nasional bisa dengan mudah digantikan dengan impor ataupun food estate. YK/E-12