Yeay! Akhirnya bisa nge-blog lagi. Hujan pertama di bulan Juni yang saya sadari betul-betul bahwa Jogja sudah hujan. Kemana aja, nona...hehe. Entah, mungkin saya sedang terkungkung dengan pikiran-pikiran negatif yang akhir-akhir ini mulai menggerogoti otak saya sampai harus ke rumah sakit coba! Plis deh! Maaf, saya mulai lebay.
Jadi intinya ini baru pembukaan. Oke. Saya lagi suntuk dengan para pegawai kantoran yang katanya melayani masyarakat ituh. Maaf, saya agak sensi memang kalo sudah menyebut profesi PNS. Iya, saya tahu kok tidak semuanya. Hanya beberapa oknum saja. Bolehkah saya menumpahkan kekesalan saya sejenak di sini? Ummph...
Oke, saya berubah pikiran, tidak baik menceritakan aib orang di sini. Yang jelas masih ada lho, kades yang mempersulit warganya. Yang sulit sekali ditemui saat warganya butuh. Yang rajin memungut pungutan liar dari setiap warga yang hendak membuat sura-surat untuk keperluannya. Masih ada juga lho, orang yang ngaku-ngaku pembela rakyat kecil, berjuang ke pelosok-pelosok desa untuk menyalurkan bantuan, tapi masih butuh pengakuan. Masih ingin disanjung sebagai pahlawan. Kemudian mereka akan saling rebutan klaim bahwa merekalah yang memperjuangkan mereka. Masih ada juga lho, pegawai administrasi kota yang judesnya minta ampun, padahal orang-orang datang ke tempatnya dengan baik-baik. Masih banyak juga lho, birokrasi yang dipersulit di negeri ini.
*Istighfar*
Maafkan saya ya Allah, saya kok belakangan jadi mudah berpikir negatif pada orang lain?
Padahal saya sudah tahu, apapun itu yang datang dari-Mu, apapun kejadiannya adalah kebaikan. Padahal saya tahu, bahwa Engkau menyajikan semua kejadian itu pada hamba untuk memperkokoh kesabaran hamba hingga Engkau semakin cinta pada hamba...
Mungkin hati kita saja yang sedang soak. Perlu diservis ke Sang Pemilik hati ini.
Kembali yuk...
Mengesat kacamata, menyalakan komputer tua, menghadap jendela, menulis apa saja. "Sastra itu tanpa kaidah" kata Sapardi Djoko Damono.
Selasa, 17 Juni 2014
Minggu, 04 Mei 2014
Rindu
Ah, saya hanya sedang rindu dengan kegiatan semasa menjadi mahasiswa S1 dulu.
Menemukan tulisan lama yang tidak jadi saya publish di blog karena sangat culun.
Saya hanya rindu seharian menggeluti koran-koran tua di perpustakaan Malioboro yang jarang terjamah.
Setidaknya ada satu hal yang berhasil saya rampungkan bersama para dosen yang dulu pernah menjadi satu tim dengan Pak Anies Baswedan. Setidaknya saya pernah belajar langsung dari mereka.
Kini saya baru saja menyelesaikan tugas untuk membantu disertasi seorang dosen lagi. Ini kedua kalinya saya membantu disertasi. Rasanya puas bisa melihat mereka menemukan sesuatu yang baru dari data olahan kita. Tentang ekonomi politik di berbagai negara dan tentang pengaruh upah minimum terhadap kesejahteraan pekerja.
Saya hanya rindu dengan data-data IFLS dan SUSENAS mengenai kemiskinan.
Saya hanya rindu melakukan cleaning data yang baru saja diambil dari lapangan untuk kemudian siap di-publish dan digunakan oleh banyak peneliti.
Saya hanya rindu diskusi dan nyerocos panjang lebar tentang isu-isu ekonomi di negeri ini bersama teman-teman.
Banyak hal yang menarik dari penelitian.
Pada saatnya nanti jika Allah mengijinkan, saya akan kembali menggeluti itu semua.
Insya Allah.
Menemukan tulisan lama yang tidak jadi saya publish di blog karena sangat culun.
"Mari kita lihat, kawan…apa yang nanti menjadi hasil investigasi kami. Bulan-bulan berikutnya kita akan bergumul dengan Koran-koran tahun 1997-2003. Bulan-bulan berikutnya kita akan menghadapi ribuan data mikro untuk menguak kemiskinan. Bulan-bulan berikutnya kita akan menjelajah bumi pertiwi ini dan belahan dunia lainnya. Tahun-tahun berikutnya kita akan berada di kota-kota besar dunia. Tahun-tahun berikutnya kita akan menyebar ke desa-desa di pelosok dunia. Atau kita mati muda saja."
Saya hanya rindu seharian menggeluti koran-koran tua di perpustakaan Malioboro yang jarang terjamah.
Setidaknya ada satu hal yang berhasil saya rampungkan bersama para dosen yang dulu pernah menjadi satu tim dengan Pak Anies Baswedan. Setidaknya saya pernah belajar langsung dari mereka.
Kini saya baru saja menyelesaikan tugas untuk membantu disertasi seorang dosen lagi. Ini kedua kalinya saya membantu disertasi. Rasanya puas bisa melihat mereka menemukan sesuatu yang baru dari data olahan kita. Tentang ekonomi politik di berbagai negara dan tentang pengaruh upah minimum terhadap kesejahteraan pekerja.
Saya hanya rindu dengan data-data IFLS dan SUSENAS mengenai kemiskinan.
Saya hanya rindu melakukan cleaning data yang baru saja diambil dari lapangan untuk kemudian siap di-publish dan digunakan oleh banyak peneliti.
Saya hanya rindu diskusi dan nyerocos panjang lebar tentang isu-isu ekonomi di negeri ini bersama teman-teman.
Banyak hal yang menarik dari penelitian.
Pada saatnya nanti jika Allah mengijinkan, saya akan kembali menggeluti itu semua.
Insya Allah.
Minggu, 12 Januari 2014
Simalakama Kebijakan Impor Beras
Impor beras dianggap sebagai momok karena bertentangan
dengan kemandirian pangan. Di sisi lain, apabila menggantungkan produksi lokal,
harga beras sulit ditekan dan akan terbuka kemiskinan baru.
Kebijakan pangan,
khususnya impor beras, ibarat memakan buah simalakama. Keadaan yang serbasalah
dalam menghadapi dua pilihan yang tidak diinginkan itu disebabkan keduanya
menimbulkan kondisi yang tidak baik. Impor menyebabkan tidak mandiri, tidak
impor pun kondisi produksi domestik kurang mencukupi.
Dalam beberapa dekade terakhir, ketersediaan pangan menjadi
isu penting dunia. Begitu pesatnya peningkatan populasi dunia membuat
permintaan akan pangan jauh meningkat. Di sisi lain, pertumbuhan pasokan pangan
justru sebaliknya, mengalami kendala karena susutnya lahan pertanian dan gagal
panen yang dipicu, di antaranya, perubahan iklim.
Kondisi itu juga terjadi di Indonesia sebagai salah satu
negara yang kemampuannya dalam menyediakan pangan penduduknya justru mengalami
degradasi. Kalau di era Orde Baru negeri ini bisa swasembada beras, saat ini
hampir setiap tahun harus mengimpor agar pasokan dan harga pasaran di tingkat
konsumen bisa terjaga.
Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Elan Satriawan, kepada
Koran Jakarta mengatakan kenyataan susutnya lahan pertanian membuat masalah
utama swasembada beras di negeri ini sulit dipecahkan. Data menunjukkan 60
persen lebih petani padi di Indonesia hanya memiliki lahan tak lebih dari 0,5
hektare. Masalah itu diperburuk dengan kondisi infrastruktur pertanian dan
perdesaan yang sangat minim.
“Jumlah sawah yang memiliki irigasi teknis tak bertambah.
Jalan desa yang menghubungan petani dan pasar masih jadi masalah besar. Dan
pupuk masih jadi ajang spekulasi tiap tahunnya,” kata Elan Satriawan di
Yogyakarta, kemarin.
Tanpa perbaikan semua hal tersebut, menurut Elan, cita-cita
swasembada akan sangat sulit diwujudkan, bahkan tidak mungkin. Maka, menurut
Elan, dalam jangka pendek dan menengah, sampai seluruh perangkat dasar mewujudkan
swasembada tersebut dipenuhi, isu swasemba harus dilihat dari kacamata
ketahanan pangan. Dua komponen ketahanan pangan menurut Elan adalah
ketersediaan pangan dan keterjangkauan harga pangan.
Tepat di titik itulah Elan mengatakan impor menjadi hampir
tak terelakkan. Sayangnya, isu impor beras selalu mendapat respons buruk dari
publik karena dianggap akan menurunkan kesejahteraan petani sebab harga beras
di pasaran dunia yang lebih murah dari beras yang diproduksi di dalam negeri.
Impor dituding menjadi salah satu penyebab hancurnya pertanian nasional, yang
tentu saja menjadi salah satu sebab pokok dari bertambahnya tingkat kemiskinan.
Dalam penelitiannya tentang “Pengaruh Kenaikan Harga Pangan
terhadap Kesejahteran dan Kemiskinan”, Elan Satriawan bersama Wulan Wiyat Wuri
dan Ahmad Jamil, justru menemukan hal yang sebaliknya.
Pokok masalah dari penelitian tersebut adalah siapa yang
akan diuntungkan jika ada kenaikan harga beras di pasaran sebesar 20 persen dan
di tingkat produsen sebesar 16 persen, 20 persen, dan 24 persen. Dampak
terhadap peningkatan kesejahteraan berbeda untuk masing-masing kenaikan harga,
bergantung pada berapa persen kenaikannya. Tetapi, dampaknya pada memburuknya
kemiskinan ternyata justru konsisten. Kelompok yang paling dirugikan adalah
rumah tangga miskin, khususnya kalangan miskin perkotaan.
Elan mengatakan komposisi kepemilikan tanah dan buruknya
infrastruktur pertanian menjadi sebab utama dari temuannya. Yang diuntungkan
dari kenaikan harga hanya petani-petani besar dan para spekulan, sementara
petani kecil, meskipun dia memproduksi beras, nyatanya mereka adalah konsumen.
“Jadi, meski HPP dinaikkan dan tentu saja harga beras di
pasaran juga naik, mayoritas petani kita yang 60 persen lebih itu tidak akan
dapat untung karena mereka juga net consumer. Yang untung siapa? Ya petani
besar dan para spekulan,” tukas Elan.
Ketersediaan Lahan
Pengamat ekonomi pertanian dari UGM, Masyhuri, sebelumnya,
menegaskan hal yang paling pokok dari ketahanan pangan di Indonesia adalah
persoalan kepemilikan lahan. Menurutnya, petani rata-rata hanya mengolah lahan
kurang dari 0,5 hektare, sedangkan idealnya minimal 2 hektare seperti yang
diamanatkan undang-undang.
Untuk itu, menurut Ketua Umum Asosiasi Pemerintahan
Kebuapaten Seluruh Indonesia (APKASI), Isran Noor, tuntutan peran optimal
pemerintah daerah untuk mengurusi admnistrasi pertanahan semakin menguat karena
makin sering munculnya konflik-konflik agraria. Sehingga diperlukan peraturam
pelaksanaan yang mengatur kewenagan pemerintah kabupaten/kota yang berhadapan
langsung dengan masalah konflik hak-hak atas tanah. YK/E-12
Ketimpangan Harga Pangan Menarik Spekulan
Impor pangan menjadi isu yang paling panas dalam beberapa
tahun terakhir terkait melonjaknya harga pangan yang berkontribusi besar
terhadap inflasi dan kemampuan bangsa ini dalam hal menyediakan pangan bagi
penduduknya.
Ketua Departemen Kajian Strategis Nasional Serikat Petani
Indonesia (SPI), Ahmad Yakub, menyatakan persetujuannya dengan sejumlah
catatan. Persetujuan terhadap impor pangan bukanlah hal yang musti
diperjuangkan oleh para petani sebab hal tersebut terlalu mudah dilakukan oleh
birokrat, importir, dan spekulan yang selama ini menguasai perdagangan pangan
nasional.
Menurutnya, dengan
atau tanpa persetujuan petani saat harga beras dunia lebih rendah dari harga
beras nasional, para pemburu rente akan bekerja semaksimal mungkin untuk
mendapatkan keuntungan, dengan atau tanpa persetujuan petani. “Jadi yang saya
tanyakan pada akademisi, penelitian-penelitiannya itu tujuannya apa? Kalau mau
sekadar mengatakan impor pangan penting, ya buat apa, importir dan birokrat
pemburu rente nggak perlu dibela,” tegas Yakub di Yogyakarta, kemarin.
Yakub berpendapat
pokok persoalan dari pertanian di Indonesia adalah, seperti disebutkan dalam
penelitian Elan, adalah distribusi lahan yang sangat sempit. Menurut Yakub,
kampanye petani melawan impor pangan bertujuan untuk menjaga isu paling penting
dari isu pangan nasional yakni redistribusi lahan.
Isu terpenting kedua,
menurut Yakub, yakni pemberian bibit unggul dan teknologi serta industri
pengolahan pascapanen, dan baru yang ketiga adalah soal perdagangan pangan.
Penelitian Elan, menurut Yakub, hanya berpokok pada soal terakhir dan tanpa
bekerja apa pun, tanpa keterlibatan akademisi ataupun petani, perdagangan
pangan internasional (ekspor-impor) akan mengikuti keuntuntungan yang
dijanjikan. Kalau ada untung dari impor, ya impor, kalau sebaliknya ya ekspor
akan dilakukan.
Maka, menurut Yakub,
pembelaan terhadap petani maupun konsumen pangan dalam negeri harus selalu
berpegang teguh pada keterlibatan petani kecil sebagai pelaku utama penyediaan
pangan. Kalau hanya berfokus pada ketersediaan pangan, bangsa ini bisa
terjerumus dalam privatisasi sektor pangan tanpa perlu redistribusi lahan pada
petani kecil.
“Kalau fokusnya
ketersediaan, food estate bisa jadi pilihan. Tapi kalau fokusnya pada petani,
ya redistribusi lahan,” kata Yakub.
Menurut Yakub,
pemerintah harus memiliki kebijakan politik anggaran berbasis pertanian dan
melindungi produksi pangan dalam negeri. Kebijakan nasional Indonesia selama
ini lebih berbasis pada industri dan perkotaan dibandingkan basis perdesaan dan
pertanian sehingga petani sebagai soko guru pertanian pangan nasional bisa
dengan mudah digantikan dengan impor ataupun food estate. YK/E-12
Selasa, 19 November 2013
Living Under Uncertainty
“As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain; and as far as they are certain, they do not refer to reality.” ― Albert EinsteinThe truth is that every single one of us lives in uncertainty. No one knows what’s going to happen next. We just occasionally like to pretend we do because it allows us to feel safe. (source)
Allah knows, Allah knows...
The one of certainty is death.
Why I post these quotes? Because currently I'm living in the uncertainty about conditions where I need to decide. Decide about something. We are uncertain about what will happen tomorrow. But Allah knows...and Allah will always guide us. Why we often careless, avoid Allah's guidance? It is so irrational, isn't it? How could we're being so stupid like that?
Ingin, Butuh, atau Pantas?
Mohon maaf untuk teman-teman yang sudah lama menanti share kajian Ustadz Syatori tentang tema ini ke dalam tulisan. Baru bisa menuliskan sekarang. ^^V Maaf juga ya, kalau terlalu panjang dan mungkin rangkaiannya masih keputus-putus. Semoga bisa nangkep intinya.
Intinya adalah apa yang menjadi dasar kita menikah? Apakah itu ingin, butuh, atau karena kita memang sudah pantas? Mari kita bahas di sini.
Pertama, menikah karena ingin. Ini adalah menikahnya orang yang susah dalam kesendirian. Ia membayangkan jika berdua ada kesenangan, kegembiraan, dan keceriaan. Maka yang ia kejar dari pernikahan adalah kesenangannya. Sejatinya kawan, menikah karena ingin itu seperti merokok. Merokok kelihatannya nikmat, padahal nyatanya tidaklah demikian. Merokok (menghisap asap) itu pahit dan merusak kesehatan bukan? Toh, kalau sudah habis kita akan membuangnya. Maka tidak ada lagi kenikmatan merokok yang ada di awal. Jadi, menikah dengan bermodal keinginan itu seperti menyulut bom waktu. Suatu saat ia akan menemui ketidakpuasan-ketidakpuasan di dalam pernikahannya.
Kedua, menikah karena butuh. Ini adalah menikahnya orang yang merasa harus menjaga diri. Biasanya ini dimiliki oleh orang yang merasa sudah punya kemampuan secara lahir dan takut terjerumus dalam dosa. Alasan ini terlihat rasional. Seharusnya menikah bisa jadi solusi untuknya, tapi karena kemampuan al ba’ah yang lebih, maka bisa tetap terjadi perselingkuhan. Al ba’ah dia adalah kaya financial tapi miskin secara spiritual, sehingga di kemudian hari muncullah ketidakpantasan-ketidakpantasan dalam dirinya.
Ketiga, menikah karena pantas. Ini adalah menikahnya orang yang sangat kaya spiritual, meski bisa jadi belum terlalu kaya secara material. Al ba’ah menurut Rasulullah sendiri tidak sekedar material, tapi juga spiritual.
Yang manakah kita? Mari kita telusuri lehih jauh lagi manusia seperti apakah diri kita sebenarnya saat ini?
Apakah kita manusia nafsu?
Apakah kita manusia akal?
Atau apakah kita manusia hati?
Siapakah mereka ini?
Nah, mereka yang menikah karena ingin inilah manusia nafsu itu. Ia adalah manusia yang tidak ingin dan memang tidak tertarik pada kebaikan karena sejatinya ia telah kehilangan jati dirinya sebagai manusia. Misal, tertarik karena kecantikan saja, bukan sebagai manusia. Sedangkan mereka yang menikah karena butuh adalah manusia akal. Ia adalah manusia yang menginginkan kebaikan tapi dirinya sendiri belum ada ketertarikan pada kebaikan. Karena menikah tidak hanya tergantung pada kekuatan akal. Hum…agak susah sih menjelaskannya. Kita ambil contoh mengenai konsep sabar. Jika ditanya, “Apakah kamu mau bersabar?” Ia menjawab, “Ya, saya mau.” Tapi kemudian ditanya lagi, “Apakah sabar itu enak?” Kemudian ia menjawab, “Sabar itu tidak enak.” Nah, ini adalah pernyataan orang yang tidak tertarik pada kesabaran, meskipun ia ingin. Seringkali orang logis (akal) itu menjadi sangat tidak logis. Ia menginginkan sabar, tapi ia menganggap bahwa sabar itu tidak enak. Nah, dengan anggapan seperti itu ia berarti telah membantah keinginannya. Tidak logis bukan, orang menginginkan sesuatu yang tidak mengenakkan? Ia menginginkan sabar yang menurut dia nggak menyenangkan gitu lho…seperti halnya menginginkan makanan yang tidak enak. Nah loh… Menurut akal yang lurus, seharusnya ia menganggap sabar itu enak. Tapi apakah sabar itu gampang?
O.O Humm….masih bingung?
Mari kita coba contoh kedua, tentang konsep “ikhlas”.
Apakah ikhlas itu baik? à mayoritas menjawab “ya”.
Inginkah kita menjadi orang yang ikhlas? à for sure, yes.
Misal contoh kasus gini, barang kita dipinjam orang dan ia kembali dalam keadaan rusak. Ikhlaskah kita menerimanya? Sebagian dari kita mungkin masih nggak rela. Kita ingin ikhlas, tapi saat itu ada kesempatan kita masih menggerutu. Logiskah kita pada keinginan kita untuk ikhlas?
Atau misal saat kita lagi kedatangan tamu yang nggak penting di saat kita lagi ada urusan yang sangat penting. Ikhlas nggak menerima dan menjamunya? Hehe…
Sekarang dibalik. Misal kita lagi laper banget, terus tiba-tiba ada orang ngasih makanan gratis, enak pula. Apakah kita logis jika kita malah menggerutu karenanya?
Nah…saya sendiri pas ustadz menyampaikan sampai di sini saya speechless…#makjlebjleb
Allah Maha Tahu kalau kita itu ingin bisa ikhlas, dan Allah ingin membantu kita dengan menghadirkan kejadian-kejadian itu tadi. Tapi seringkali kita menolak bantuan-Nya.
Ikhlas itu kaitannya dengan pengertian akan sebuah kejadian. Misal, pas beli buah, kita dapatnya malah kepasan yang udah kecut atau jelek. Orang yang ikhlas akan menjawab, “Alhamdulillah, untung jeruk kecut ini ada di saya, bukan orang lain.” Karena ia merasa bahwa dengan ia mendapatkan jeruk kecut itu ia telah menyelamatkan orang lain dari mendapatkan jeruk yang kecut, dengan orang lain itu tidak tahu kalau sedang dibantu.
Ketika kita mendapatkan kesenangan tapi dengan senang itu tidak ada keuntungannya untuk orang lain, maka kita telah berbuat zalim terhadap kesenangan kita itu. Bukankah orang yang ikhlas itu bahagia dengan kebahagiaan orang lain?
Hummm…oke, sekarang gini. Kita kepengin pahala yang besar nggak? Terus, manakah yang lebih besar pahalanya: senyum pada orang yang senyum, atau senyum pada orang yang manyun? Hehe…
Nah, kita tidak ingin masuk neraka bukan? Neraka itu tempat untuk orang yang berbuat dosa dan maksiat. Nah, apakah dosa dan maksiat itu sendiri sudah menjadi sesuatu yang sangat tidak menarik bagi kita? Atau justru kita masih menikmati dosa dan maksiat? Astaghfirullah…:’(
Oke, kita kembali ke masalah pernikahan.
Ijab Kabul itu sendiri adalah janji untuk menjadikan suami/istri menjadi satu-satunya laki-laki/wanita yang paling menarik untuk dirinya. Sedangkan manusia akal itu sendiri adalah ia yang tidak tertarik pada yang diinginkan, tapi tertarik pada yang tidak diinginkan. Karena itu manusia akal adalah manusia yang tengah berada pada kondisi yang tidak ideal atau sakit. Orang sakit meskipun lapar ia tidak enak makan bukan? Maka seringkali karena ketertarikannya melenceng dari janjinya, banyak manusia akal kemudian melanggar janji ijab kabul mereka.
Selanjutnya, mari kita lihat siapakah manusia hati itu?
Manusia hati adalah mereka yang menginginkan kebaikan dan memang tertarik pada kebaikan itu. Inilah manusia yang sudah pantas untuk menikah. Manusia yang perjalanan hidupnya telah sampai ke hati, karena sejatinya perjalanan hidup adalah perjalanan kita ke dalam, yaitu hati.
Kalaupun kita seringkali masih merasa pedih ketika bersedekah atau berbuat kebaikan untuk orang lain tapi yang kita dapat justru keburukan dari orang yang dibantu itu. Pedih di hati yang dirasakan itu adalah disebabkan oleh dosa-dosa kita. Dan saat itulah, selama kita tidak mengucapkan kepedihan itu/tetap memendam saja kepedihan itu di dalam hati, itulah indikasi Allah sedang menghapus dosa-dosa kita. . Kebaikan itu sendiri merupakan hal yang tidak berhenti pada satu kejadian saja, tapi ia punya sifat yang mengalir.
Perihnya menahan, tidak mengungkapkannya pada orang lain dan diterima saja kekecewaan itu, kemudian Allah akan menggantinya dengan kelapangan hati.
Sabar itu sendiri merupakan akibat dari beningnya hati, akibat dari lurusnya pikiran yang ada di hati kita, akibat dari kemampuan kita untuk bertahan lebih lama menghadapi masalah, untuk bertahan lebih lama dari masalah yang terjadi. Karena masalah dalam hidup ini tidak pernah lama, karena ia dating dari Allah Ar Rahman.
Adapun tujuan dari menikah itu adalah kesediaan untuk saling:
Menikah, minimal kita sudah punya bakat kepantasan itu, tinggal temukan latihannya. Sedangkan latihan mengelola hati yang paling efektif adalah dengan menikah. Ini bisa menjadi pembuktian bahwa keinginan kita pada orang lain adalah selalu mengandung kebaikan untuk orang tersebut. Jadikan keinginan kita adalah untuk kebaikan orang lain dan buktikan bahwa itu memang baik melalui diri sendiri (teladan). Misal kita menginginkan agar pasangan kita bisa rajin shalat sunnah karena kita yakin itu baik untuk dirinya. Maka kita buktikan dengan diri kita rajin shalat sunnah dan bahwa itu baik untuk diri kita sendiri.
Jika ingin pasangan yang baik, jadikan diri kita baik dengan kekuatan yang lebih, dengan siapapun jodoh yang ditakdirkan nanti. Karena kebaikan itu sendiri adalah proses. Sejatinya persoalan menikah itu bukan dengan siapa kita akan menikah, melainkan dengan siapa saat kita sudah menikah. Ngerti nggak maksudnya? Coba didalami lagi…
Bisa jadi ada orang baik dapatnya jodoh yang kurang baik. Maka usaha dia adalah dengan mengusahakan dirinya sendiri lebih baik dengan kekuatan lebih dibandingkan dengan mengusahakan pasangan agar lebih baik. Hum…ambigu kalimatnya. Maksudnya gini, sembari mengusahakan pasangan agar lebih baik, usaha untuk menjadikan diri sendiri lebih baik itu lebih keras gitu lho.
Oke, masuk ke konsep SAMARA
SAKINAH, itu ada dalam diri kita, karena ia adalah ketenangan. Keluarga sakinah berarti keluarga yang tidak menjadikan kesenangan dunia menjadi tujuannya. Tidak silau oleh gemerlap kesenangan dunia. Orientasi keluarga sakinah adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini berarti meletakkan kepentingan akhirat di atas kepentingan dunia. Misal, keluarga sakinah adalah yang menganggap perkara terlambat bangun subuh itu merupakan bencana yang lebih besar dibandingkan dengan perkara kehilangan mobil seharga jutaan. Simple kan? Karena urusan pertama adalah urusan akhirat dan yang kedua hanyalah urusan duniawi.
Keluarga sakinah menjadikan dunia sebagai jembatan menuju akhirat. Apapun selalu bernilai akhirat. Meletakkan pengertian-pengertian akhirat di atas pengertian dunia. Memahami bahwa susah itu menyenangkan: “Tiadalah seorang hamba yang sedang diuji Allah terhadap kesusahan melainkan dia sedang direncanakan oleh Allah untuk menjadi pribadi yang besar.” Ia tidak menyimpan kebencian sekecil apapun kepada sesame dan menganggap biasa segala yang biasa dan menganggap luar biasa segala yang memang luar biasa. Yang biasa itu dunia, dan yang luar biasa itu akhirat. Maka ia akan ringan mengatasi segala urusan dunia, dan akan tetap bisa mempertahankan ketertarikan kepada pasangannya saja. Sedangkan yang luar biasa itu urusan akhirat, urusan apa saja yang menimbulkan akibat untuk hidup sesudah mati. Keluarga sakinah itu sendiri tidak mudah terusik oleh urusan-urusan dunia. Pribadi sakinah memandang apapun sebagai jalan untuk ke surge.
MAWADDAH, melambangkan cinta ke langit. Cinta yang membuat kita dan yang kita cintai semakin mencintai Allah ta’ala. Gunakan apapun yang kita cintai untuk mengejar surga.
RAHMAH, mengasihi tanpa berharap dikasihi. Bahagia kita terasa pada saat kita bisa membahagiakan orang lain. Kita tidak mungkin bahagia sendirian karena bahagia sendirian itu aneh. Kenapa? Gini, kita nggak mungkin kan bahagia tanpa dibahagiakan? Nah, Kita juga tidak mungkin kan dibahagiakan sama orang yang belum bahagia? Maka sejatinya bahagia adalah membahagiakan orang lain.
Hosh…Alhamdulillah selesai. Semoga bisa paham dan bermanfaat. ^_^
Intinya adalah apa yang menjadi dasar kita menikah? Apakah itu ingin, butuh, atau karena kita memang sudah pantas? Mari kita bahas di sini.
Pertama, menikah karena ingin. Ini adalah menikahnya orang yang susah dalam kesendirian. Ia membayangkan jika berdua ada kesenangan, kegembiraan, dan keceriaan. Maka yang ia kejar dari pernikahan adalah kesenangannya. Sejatinya kawan, menikah karena ingin itu seperti merokok. Merokok kelihatannya nikmat, padahal nyatanya tidaklah demikian. Merokok (menghisap asap) itu pahit dan merusak kesehatan bukan? Toh, kalau sudah habis kita akan membuangnya. Maka tidak ada lagi kenikmatan merokok yang ada di awal. Jadi, menikah dengan bermodal keinginan itu seperti menyulut bom waktu. Suatu saat ia akan menemui ketidakpuasan-ketidakpuasan di dalam pernikahannya.
Kedua, menikah karena butuh. Ini adalah menikahnya orang yang merasa harus menjaga diri. Biasanya ini dimiliki oleh orang yang merasa sudah punya kemampuan secara lahir dan takut terjerumus dalam dosa. Alasan ini terlihat rasional. Seharusnya menikah bisa jadi solusi untuknya, tapi karena kemampuan al ba’ah yang lebih, maka bisa tetap terjadi perselingkuhan. Al ba’ah dia adalah kaya financial tapi miskin secara spiritual, sehingga di kemudian hari muncullah ketidakpantasan-ketidakpantasan dalam dirinya.
Ketiga, menikah karena pantas. Ini adalah menikahnya orang yang sangat kaya spiritual, meski bisa jadi belum terlalu kaya secara material. Al ba’ah menurut Rasulullah sendiri tidak sekedar material, tapi juga spiritual.
Yang manakah kita? Mari kita telusuri lehih jauh lagi manusia seperti apakah diri kita sebenarnya saat ini?
Apakah kita manusia nafsu?
Apakah kita manusia akal?
Atau apakah kita manusia hati?
Siapakah mereka ini?
Nah, mereka yang menikah karena ingin inilah manusia nafsu itu. Ia adalah manusia yang tidak ingin dan memang tidak tertarik pada kebaikan karena sejatinya ia telah kehilangan jati dirinya sebagai manusia. Misal, tertarik karena kecantikan saja, bukan sebagai manusia. Sedangkan mereka yang menikah karena butuh adalah manusia akal. Ia adalah manusia yang menginginkan kebaikan tapi dirinya sendiri belum ada ketertarikan pada kebaikan. Karena menikah tidak hanya tergantung pada kekuatan akal. Hum…agak susah sih menjelaskannya. Kita ambil contoh mengenai konsep sabar. Jika ditanya, “Apakah kamu mau bersabar?” Ia menjawab, “Ya, saya mau.” Tapi kemudian ditanya lagi, “Apakah sabar itu enak?” Kemudian ia menjawab, “Sabar itu tidak enak.” Nah, ini adalah pernyataan orang yang tidak tertarik pada kesabaran, meskipun ia ingin. Seringkali orang logis (akal) itu menjadi sangat tidak logis. Ia menginginkan sabar, tapi ia menganggap bahwa sabar itu tidak enak. Nah, dengan anggapan seperti itu ia berarti telah membantah keinginannya. Tidak logis bukan, orang menginginkan sesuatu yang tidak mengenakkan? Ia menginginkan sabar yang menurut dia nggak menyenangkan gitu lho…seperti halnya menginginkan makanan yang tidak enak. Nah loh… Menurut akal yang lurus, seharusnya ia menganggap sabar itu enak. Tapi apakah sabar itu gampang?
O.O Humm….masih bingung?
Mari kita coba contoh kedua, tentang konsep “ikhlas”.
Apakah ikhlas itu baik? à mayoritas menjawab “ya”.
Inginkah kita menjadi orang yang ikhlas? à for sure, yes.
Misal contoh kasus gini, barang kita dipinjam orang dan ia kembali dalam keadaan rusak. Ikhlaskah kita menerimanya? Sebagian dari kita mungkin masih nggak rela. Kita ingin ikhlas, tapi saat itu ada kesempatan kita masih menggerutu. Logiskah kita pada keinginan kita untuk ikhlas?
Atau misal saat kita lagi kedatangan tamu yang nggak penting di saat kita lagi ada urusan yang sangat penting. Ikhlas nggak menerima dan menjamunya? Hehe…
Sekarang dibalik. Misal kita lagi laper banget, terus tiba-tiba ada orang ngasih makanan gratis, enak pula. Apakah kita logis jika kita malah menggerutu karenanya?
Nah…saya sendiri pas ustadz menyampaikan sampai di sini saya speechless…#makjlebjleb
Allah Maha Tahu kalau kita itu ingin bisa ikhlas, dan Allah ingin membantu kita dengan menghadirkan kejadian-kejadian itu tadi. Tapi seringkali kita menolak bantuan-Nya.
Ikhlas itu kaitannya dengan pengertian akan sebuah kejadian. Misal, pas beli buah, kita dapatnya malah kepasan yang udah kecut atau jelek. Orang yang ikhlas akan menjawab, “Alhamdulillah, untung jeruk kecut ini ada di saya, bukan orang lain.” Karena ia merasa bahwa dengan ia mendapatkan jeruk kecut itu ia telah menyelamatkan orang lain dari mendapatkan jeruk yang kecut, dengan orang lain itu tidak tahu kalau sedang dibantu.
Ketika kita mendapatkan kesenangan tapi dengan senang itu tidak ada keuntungannya untuk orang lain, maka kita telah berbuat zalim terhadap kesenangan kita itu. Bukankah orang yang ikhlas itu bahagia dengan kebahagiaan orang lain?
Hummm…oke, sekarang gini. Kita kepengin pahala yang besar nggak? Terus, manakah yang lebih besar pahalanya: senyum pada orang yang senyum, atau senyum pada orang yang manyun? Hehe…
Nah, kita tidak ingin masuk neraka bukan? Neraka itu tempat untuk orang yang berbuat dosa dan maksiat. Nah, apakah dosa dan maksiat itu sendiri sudah menjadi sesuatu yang sangat tidak menarik bagi kita? Atau justru kita masih menikmati dosa dan maksiat? Astaghfirullah…:’(
Oke, kita kembali ke masalah pernikahan.
Ijab Kabul itu sendiri adalah janji untuk menjadikan suami/istri menjadi satu-satunya laki-laki/wanita yang paling menarik untuk dirinya. Sedangkan manusia akal itu sendiri adalah ia yang tidak tertarik pada yang diinginkan, tapi tertarik pada yang tidak diinginkan. Karena itu manusia akal adalah manusia yang tengah berada pada kondisi yang tidak ideal atau sakit. Orang sakit meskipun lapar ia tidak enak makan bukan? Maka seringkali karena ketertarikannya melenceng dari janjinya, banyak manusia akal kemudian melanggar janji ijab kabul mereka.
Selanjutnya, mari kita lihat siapakah manusia hati itu?
Manusia hati adalah mereka yang menginginkan kebaikan dan memang tertarik pada kebaikan itu. Inilah manusia yang sudah pantas untuk menikah. Manusia yang perjalanan hidupnya telah sampai ke hati, karena sejatinya perjalanan hidup adalah perjalanan kita ke dalam, yaitu hati.
Kalaupun kita seringkali masih merasa pedih ketika bersedekah atau berbuat kebaikan untuk orang lain tapi yang kita dapat justru keburukan dari orang yang dibantu itu. Pedih di hati yang dirasakan itu adalah disebabkan oleh dosa-dosa kita. Dan saat itulah, selama kita tidak mengucapkan kepedihan itu/tetap memendam saja kepedihan itu di dalam hati, itulah indikasi Allah sedang menghapus dosa-dosa kita. . Kebaikan itu sendiri merupakan hal yang tidak berhenti pada satu kejadian saja, tapi ia punya sifat yang mengalir.
Perihnya menahan, tidak mengungkapkannya pada orang lain dan diterima saja kekecewaan itu, kemudian Allah akan menggantinya dengan kelapangan hati.
Sabar itu sendiri merupakan akibat dari beningnya hati, akibat dari lurusnya pikiran yang ada di hati kita, akibat dari kemampuan kita untuk bertahan lebih lama menghadapi masalah, untuk bertahan lebih lama dari masalah yang terjadi. Karena masalah dalam hidup ini tidak pernah lama, karena ia dating dari Allah Ar Rahman.
Adapun tujuan dari menikah itu adalah kesediaan untuk saling:
- Saling mengerti. Mereka yang sudah berlomba-lomba untuk menyalahkan diri sendiri, bukan saling menyalahkan. Karena ada saatnya yang benar itu tidak harus dijelaskan. Ia terkadang bisa dijelaskan melalui kesantunan dalam bersikap.
- Saling mendengar pikiran-pikiran pasangan hidup. Mereka yang sudah saling mengerti, tafahum, tidak diucapkan pun mereka sudah paham.
- Saling memperhatikan impian-impian pasangan hidupnya.
- Saling menyediakan diri sebagai “sayap” yang menerbangtinggikan pasangan hidupnya.
Lalu, kapan kita akan menjadi pantas untuk menikah? Ikhlas itu sendiri adalah sebuah proses bukan? Bagaimana kita bisa ikhlas jika tidak menjalani prosesnya? Begitu juga dengan menikah. Semua adalah proses yang dijalaniKepantasan itu sendiri adalah hal yang abstrak. Ia akan menemukan bentuk aslinya ketika sudah melakukannya.“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum: 21)
Menikah, minimal kita sudah punya bakat kepantasan itu, tinggal temukan latihannya. Sedangkan latihan mengelola hati yang paling efektif adalah dengan menikah. Ini bisa menjadi pembuktian bahwa keinginan kita pada orang lain adalah selalu mengandung kebaikan untuk orang tersebut. Jadikan keinginan kita adalah untuk kebaikan orang lain dan buktikan bahwa itu memang baik melalui diri sendiri (teladan). Misal kita menginginkan agar pasangan kita bisa rajin shalat sunnah karena kita yakin itu baik untuk dirinya. Maka kita buktikan dengan diri kita rajin shalat sunnah dan bahwa itu baik untuk diri kita sendiri.
Jika ingin pasangan yang baik, jadikan diri kita baik dengan kekuatan yang lebih, dengan siapapun jodoh yang ditakdirkan nanti. Karena kebaikan itu sendiri adalah proses. Sejatinya persoalan menikah itu bukan dengan siapa kita akan menikah, melainkan dengan siapa saat kita sudah menikah. Ngerti nggak maksudnya? Coba didalami lagi…
Bisa jadi ada orang baik dapatnya jodoh yang kurang baik. Maka usaha dia adalah dengan mengusahakan dirinya sendiri lebih baik dengan kekuatan lebih dibandingkan dengan mengusahakan pasangan agar lebih baik. Hum…ambigu kalimatnya. Maksudnya gini, sembari mengusahakan pasangan agar lebih baik, usaha untuk menjadikan diri sendiri lebih baik itu lebih keras gitu lho.
Oke, masuk ke konsep SAMARA
SAKINAH, itu ada dalam diri kita, karena ia adalah ketenangan. Keluarga sakinah berarti keluarga yang tidak menjadikan kesenangan dunia menjadi tujuannya. Tidak silau oleh gemerlap kesenangan dunia. Orientasi keluarga sakinah adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini berarti meletakkan kepentingan akhirat di atas kepentingan dunia. Misal, keluarga sakinah adalah yang menganggap perkara terlambat bangun subuh itu merupakan bencana yang lebih besar dibandingkan dengan perkara kehilangan mobil seharga jutaan. Simple kan? Karena urusan pertama adalah urusan akhirat dan yang kedua hanyalah urusan duniawi.
Keluarga sakinah menjadikan dunia sebagai jembatan menuju akhirat. Apapun selalu bernilai akhirat. Meletakkan pengertian-pengertian akhirat di atas pengertian dunia. Memahami bahwa susah itu menyenangkan: “Tiadalah seorang hamba yang sedang diuji Allah terhadap kesusahan melainkan dia sedang direncanakan oleh Allah untuk menjadi pribadi yang besar.” Ia tidak menyimpan kebencian sekecil apapun kepada sesame dan menganggap biasa segala yang biasa dan menganggap luar biasa segala yang memang luar biasa. Yang biasa itu dunia, dan yang luar biasa itu akhirat. Maka ia akan ringan mengatasi segala urusan dunia, dan akan tetap bisa mempertahankan ketertarikan kepada pasangannya saja. Sedangkan yang luar biasa itu urusan akhirat, urusan apa saja yang menimbulkan akibat untuk hidup sesudah mati. Keluarga sakinah itu sendiri tidak mudah terusik oleh urusan-urusan dunia. Pribadi sakinah memandang apapun sebagai jalan untuk ke surge.
MAWADDAH, melambangkan cinta ke langit. Cinta yang membuat kita dan yang kita cintai semakin mencintai Allah ta’ala. Gunakan apapun yang kita cintai untuk mengejar surga.
RAHMAH, mengasihi tanpa berharap dikasihi. Bahagia kita terasa pada saat kita bisa membahagiakan orang lain. Kita tidak mungkin bahagia sendirian karena bahagia sendirian itu aneh. Kenapa? Gini, kita nggak mungkin kan bahagia tanpa dibahagiakan? Nah, Kita juga tidak mungkin kan dibahagiakan sama orang yang belum bahagia? Maka sejatinya bahagia adalah membahagiakan orang lain.
Hosh…Alhamdulillah selesai. Semoga bisa paham dan bermanfaat. ^_^
Jumat, 15 November 2013
"Uang Transportasi"
Ternyata emang gitu ya wartawan ecek-ecek itu?
Ya...nggak semuanya sih...tapi ternyata emang ada bener wartawan ecek-ecek itu.
Bilangnya sih minta uang transportasi, tapi "memeras" calon pembeli.
Hey, ini saya tidak sedang membicarakan jilbab hitam atau bunda putri.
Saya sedang membicarakan apa yang saya alami sendiri.
Bahwa mereka, yang ngaku kuli tinta, meminta suap dan saya terpaksa beri.
Walhasil?
Pemberitaan ditulis dengan seadanya.
Jika kemarin tidak kukasih, apa iya mereka masih mau memuatnya?
Begitukah jual-beli media?
Jijik gua...
Iya sih,
Berita yang disebarkan bukan perkara korupsi atau binatang najis ajnabi
Iya sih,
Beritanya tentang hal-hal positif yang memang seharusnya publik layak konsumsi
Tapi?
Saya hanya nggak suka sama proses mereka mencari bahan publikasi
Bukankah mereka seharusnya telah diberi code of conduct sebagai seorang kuli?
Uang transportasi
Hah, saya benci dengan diri sendiri karena saya sendiri yang bertransaksi
Uang transportasi
Ternyata sudah membudaya di negeri ini
Ya!
Semua itu dianggap biasa
Bahkan dianggap tidak sopan jika tidak memberi mereka
Bahkan sudah dianggarkan di setiap instansi-instansi pemerintahan
Bahkan transaksinya resmi tercatat di pembukuan
Uang transportasi
Praktek korupsi yang dilegalkan
Menyedihkan!
Yogyakarta, 15 November 2013
#sajak_status
Ya...nggak semuanya sih...tapi ternyata emang ada bener wartawan ecek-ecek itu.
Bilangnya sih minta uang transportasi, tapi "memeras" calon pembeli.
Hey, ini saya tidak sedang membicarakan jilbab hitam atau bunda putri.
Saya sedang membicarakan apa yang saya alami sendiri.
Bahwa mereka, yang ngaku kuli tinta, meminta suap dan saya terpaksa beri.
Walhasil?
Pemberitaan ditulis dengan seadanya.
Jika kemarin tidak kukasih, apa iya mereka masih mau memuatnya?
Begitukah jual-beli media?
Jijik gua...
Iya sih,
Berita yang disebarkan bukan perkara korupsi atau binatang najis ajnabi
Iya sih,
Beritanya tentang hal-hal positif yang memang seharusnya publik layak konsumsi
Tapi?
Saya hanya nggak suka sama proses mereka mencari bahan publikasi
Bukankah mereka seharusnya telah diberi code of conduct sebagai seorang kuli?
Uang transportasi
Hah, saya benci dengan diri sendiri karena saya sendiri yang bertransaksi
Uang transportasi
Ternyata sudah membudaya di negeri ini
Ya!
Semua itu dianggap biasa
Bahkan dianggap tidak sopan jika tidak memberi mereka
Bahkan sudah dianggarkan di setiap instansi-instansi pemerintahan
Bahkan transaksinya resmi tercatat di pembukuan
Uang transportasi
Praktek korupsi yang dilegalkan
Menyedihkan!
Yogyakarta, 15 November 2013
#sajak_status
Sabtu, 19 Oktober 2013
"Maukah kamu bersabar?"
Ayat ini menjadi begitu berkesan bagi saya sejak 2010 kemarin. Saat itu saya masih kuliah S1 dan berambisi sekali untuk mengukir prestasi dalam bidang karya tulis ilmiah. Berbagai ajang perlombaan saya ikuti tapi berkali-kali pula mentok hanya sampai di finalis. Rasanya ingin sekali menjadi salah satu yang namanya dipanggil untuk menerima hadiah juara. Mungkin niatan yang salah inilah kemudian Allah belum mengizinkan saya untuk meraih apa yang diinginkan. Pada suatu ketika saya dan teman baik satu jurusan melihat tawaran lomba di UI. Saat itu bukan ambisi lagi bagi kami untuk mencari kejuaraan (karena sudah lelah, hehe). Ambisi kami adalah bahwa para finalis yang diundang ke Jakarta nanti akan ikut serta dalam diskusi perumusan usulan kebijakan untuk ekonomi Indonesia tahun berikutnya. Apalagi itu nantinya akan disampaikan langsung kepada ibu menteri. Kami hanya ingin itu saja sudah alhamdulillah kalau tercapai. Dan kemudian doa kami terjawab karena kami menjadi salah satu finalis yang mempresentasikan karyanya di Jakarta. Kami berdua sangat senang karena karya tulis yang dikerjakan dalam waktu satu hari dan dikumpulkan pada detik-detik terakhir deadline, juga tanpa editing sama sekali kok ya bisa lolos finalis dengan ajang yang menurut saya itu lebih bergengsi daripada ajang-ajang sebelumnya yang saya ikuti. Alhamdulillah ya...akhirnya impian kami ke Jakarta terwujud."Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat." (QS.25:20)
Singkat cerita menjelang keberangkatan kami harus menyiapkan materi presentasi. Malam sebelum keberangkatan, saya tilawah dan menemukan ayat ini yang dua kalimat terakhirnya mak jleb-jleb buat saya. Pas kondisi saya yang sebenarnya masih mengharapkan kemenangan dan pasrah jika memang nggak dapet, yang penting bisa ikut diskusi dan memberikan presentasi terbaik. Saat itu saya benar-benar seperti diingatkan oleh Allah, bahwa Allah melihat betapa kerasnya usaha yang telah kita lakukan untuk mencapai impian. Saat belum juga terwujud, Allah dengan begitu santun dan lembut menyapa kita, "Maukah kamu bersabar?" Tiada jawaban lain yang bisa terucap selain, "ya, saya mau ya Allah..."
Justru saat niat berangkat tidak begitu berambisi, Allah justru memberi hadiah juara itu. Bahkan lebih dari itu, persahabatan dengan rekan-rekan dari berbagai penjuru universitas di Indonesia.
Saya teringat dengan nasihat salah seorang murobi waktu dulu di SMA, kalau lagi sedih atau dalam masalah coba buka Al Quran secara random dan baca sampai puas dengan artinya juga. Biasanya Allah akan menyelipkan solusi di situ. Tadi malam pula saya menemukan ayat ini kembali dalam tilawah. Pas kok ya kondisi hati sedang galau karena sesuatu. Malam ini mungkin kondisinya beda dengan malam yang dulu saat pertama kali tersentuh oleh ayat ini. Kalau dulu saya terhenyaknya oleh dua kalimat terakhir, sekarang oleh tiga kalimat terakhir. Jadi:
Seakan Allah memberi tahu langsung kepada saya bahwa kamu ini sedang diuji dengan adanya orang lain itu."Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat." (QS.25:20)
"Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain"
Segala tingkah lakunya mungkin bisa menjadi ujian bagi kamu untuk bersabar dan sekuat tenaga bersabar. Kemudian Allah lagi-lagi bertanya pada kita dengan lembut, "Maukah kamu bersabar?" Allah Maha Melihat kok apa yang sudah kamu usahakan. Allah sudah menghitung kok berapa kali kamu jatuh bangun. Allah cuma menawarkan pada kita, "Maukah kamu bersabar?"
I DO!
Kemudian tiada lain yang bisa terucap selain doa agar Allah senantiasa membimbing kita dalam kesabaran dan keistiqomahan.
Yakin deh, Allah akan senantiasa memberikan jawaban-jawaban terbaik dari setiap doa-doa kita.
Langganan:
Postingan (Atom)