Minggu, 06 Januari 2013

"Mengkono kuwi politik, yayi..."

Tiba-tiba ubun-ubun serasa mendidih. Betapa rumitnya manusia. Menarik diskusi saya dengan seorang kolega di dunia maya mengenai tokoh wayang bernama Bambang Ekalaya.  Ini membuat saya benar-benar merenung. Wow...

Bambang Ekalaya yang memiliki kemampuan melebihi Arjuna (terutama karena otodidak) tapi bodoh dalam berpolitik, dengan Arjuna yang sebenarnya juga hebat, pintar politik juga. Singkat cerita, Arjuna berhasil memenangkan pengakuan pemanah terhebat sejagad tapi dengan cara yang tidak adil. Arjuna berhasil membujuk Durna untuk memegang sumpah setianya hanya pada Pandawa (property right). Meski sebenarnya Durna mengalami perang batin setelah melihat potensi yang dimiliki Ekalaya. Tapi dia sudah terlanjur memegang sumpah itu. Kemudian Durna terpaksa mematikan potensi Ekalaya dengan meminta ibu jari "murid" yang dikasihaninya itu. Entah karena bodoh atau apa, Ekalaya mau dengan ikhlas menyerahkannya. Dia pun harus rela kehilangan istrinya juga gara-gara ulah Arjuna. Arjuna untuk hal ini mau mengakui kesalahannya. Dia menerima tantangan perang tanding dengan Ekalaya, dan kalah. Tapi pada akhirnya dia mengadu kepada gurunya untuk memusnahkan Ekalaya. 

Jika dilihat ini mungkin terjadi juga di negeri kita tercinta, Indonesia. Mereka yang berkuasa adalah pemenangnya. Mereka yang pandai berpolitik adalah pemenangnya. Para pemenang membutuhkan pengakuan dengan politik. Ada yang berpolitik dengan benar, ada yang tidak. Mereka yang tidak, menggunakan segala cara untuk menjadi pemenang, sah atau tidak sah. Arjuna melakukan hal yang tidak sah tersebut. Menang dengan property right, kekuasaan, dan pembunuhan. Iya, tidak adil. Tapi itu menjadi realistis di Indonesia. Orang-orang berebut kekuasaan untuk memperjuangkan apa yang menjadi kepentingannya. Dan kita tidak bisa menjamin para pemegang kekuasaan itu berpihak pada kepentingan akan kebenaran mana yang mereka anut. Kebenaran mutlak atau kebenaran relatif? Ada yang sama-sama mengusung kebenaran mutlak tapi beda dalam berproses. Proses sah dan tidak sah. Ada yang mengusung kebenaran yang berbeda, tapi sama-sama menjunjung proses yang adil. 

Dan sayangnya, masyarakat Indonesia masih belum secara utuh mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pandangan publik bisa dengan mudah diplintir sedemikian rupa. Itulah politik, dinda.

Ada orang yang mirip Durna. Sejatinya dia membela kebenaran, tapi karena kondisi, dia harus melakukan "kesalahan". Ada orang yang mirip Bhisma, yang merelakan apa saja darinya semata-mata untuk pengabdian terhadap apa yang dia yakini sebagai sesuatu yang benar. Apapun kondisinya, tetap kukeuh pada prinsip. Ada yang mirip Arjuna, yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan pengakuan. Meski secara umum dia punya kompetensi dan tujuan yang baik. Tapi caranya tidak gentle. Padahal dia disebut-sebut sebagai lelananganing jagad.  Ada yang mirip Ekalaya, kompeten, tapi tidak pandai berpolitik. Akhirnya tidak menyadari bahwa dirinya telah dizalimi. Ini gambaran rakyat jelata. Memberontak saat sudah merasa terzalimi. Tapi berontakan itu berhasil dipatahkan dengan politik.

Pengakuan, kekuasaan, politik.

Yang kita butuhkan adalah politikus ala Werkudara. Tegas benar dan salahnya. Berani bertindak. Berani menunjukkan keberpihakan. Tapi untuk keberpihakan kita perlu belajar dari Bhisma. Konsisten pada apa yang dia yakini. Proses dan tujuan yang benar. Ah, manusia wayang memang rumit.

Kita tetap butuh itu yang namanya politik. Mendakwahkan Islam pun butuh politik agar Islam diakui sebagai ustadjatul 'alam. Pertanyaannya, sudah seberapa besar usaha kita menjaga politik kita di jalur yang benar? Strategi perang ditentukan dengan mekanisme syuro'. Proses syuro' pun harus memenuhi adab-adab tertentu. Inilah indahnya Islam yang begitu menjunjung tinggi proses. Hasil adalah kondisi yang menjadi akibat dari proses dengan ACC dari Allah.

Lagi-lagi pada akhirnya yang membedakan antara mereka semua adalah amal dan niatannya. Apa yang mereka perbuat setelah mereka berkuasa. Digunakan untuk apa kekuasaan itu, dan untuk siapa.

Kamis, 03 Januari 2013

Dari Wiratha Hingga Kurusetra



Padang Kurusetra hening seketika dari kecamuk peperangan. Semua membisu melihat tubuh kakek mereka Bisma, yang tertancap oleh ratusan anak panah Srikandi. Mereka melihat wajah kakek mereka itu menyiratkan luka mendalam sekaligus rasa bersalah. Matanya hanya tertuju pada sosok yang terus meluncurkan anak panah ke arahnya.
“Amba…inikah yang akhirnya kau inginkan selama ini?” lirih mulutnya berucap.
Samar ia melukiskan senyum yang tak bisa dipahami oleh siapapun. 


Ini sekilas tentang kisah Dewi Amba dengan Bisma yang berakhir di Padang Kurusetra.  Bisma yang terpaksa menolak lamaran Dewi Amba karena sumpah dharmanya sebagai seorang ksatria harus merelakan kepergian gadis yang sebenarnya dicintainya terbunuh di tangannya sendiri. Dan pada akhirnya ia merelakan dirinya terbunuh di tangan titisan Dewi Amba. 
Kisah ini mengingatkan saya pada film yang dibintangi oleh Jackie Chan berjudul The Myth. Kisah seorang panglima yang jatuh hati pada seorang putri boyongan tapi mereka tidak bisa saling memiliki. Pada akhirnya sang panglima gugur di medan perang untuk menunaikan baktinya pada negeri. Sang putri bersedia meminum pil keabadian dan menggunakan seumur hidupnya untuk menunggu sang panglima datang kembali menjemputnya.
Ini mirip juga dengan kisah patah hatinya Damarwulan dan Anjasmara. Saat Damarwulan diutus oleh sang ratu memerangi Menakjinggo dengan janji: jika menang dia akan dinikahkan dengan sang ratu dan menjadi raja, jika kalah maka itu berarti kematiannya. Kisah mereka kemudian diterjemahkan oleh Pak Gunawan Muhamad dalam puisinya Asmaradana:

Asmaradana
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti,
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

Satu hal yang saya pelajari dari kisah-kisah ksatria di atas. Mereka berani mengorbankan perasaan cintanya untuk sesuatu yang lebih penting dan lebih besar. Ini namanya pengabdian. Para sahabat Rasulullah dulu pun lebih menyukai medan peperangan daripada hanya berasyik-masyuk dengan istri mereka. Bagi mereka perasaan cinta yang tertinggi adalah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Jika ditarik ke masa sekarang, ternyata banyak pula para pemuda yang belum bisa mewarisi jiwa ksatria itu. Dengan mudahnya mereka terlena pada cinta yang sifatnya hanya sementara kemudian melupakan perjuangan yang sesungguhnya. Hingga terjerumus dalam lembah dosa dan maksiat. 
Bagi saya cinta paling romantis itu bukan cinta mereka yang tiba-tiba bersatu dengan mudahnya. Tapi cinta mereka yang dilandasi atas kecintaan pada Tuhan mereka. Cinta pada perjuangan di jalan dakwah.

Rabu, 02 Januari 2013

Orang Darat dan Orang Laut



Masih tentang perjalanan dan sejarah.
Sebuah petikan menarik dari George Makdisi dalam The Rise of Colleges:
"Seseorang yang terpelajar adalah mulia di mana pun atau dalam kondisi apa pun ia mungkin berada, selalu bertemu dengan orang-orang yang menguntungkan dirinya, yang mendekat kepadanya dan mencari persahabatannya, mereka terhormat karena berada deka dengannya." -- 'Abd al Latief al Baghdadi
Ini mengingatkan saya pada perbincangan saya dengan seorang umahat yang patut diteladani pendidikan keluarganya. Bisa dibilang beliau adalah pakar Islamic Parenting di Jogja. Beliau menceritakan mengenai anak-anaknya yang sudah bersekolah di luar negeri dan berkelana ke mana-mana. Satu hal yang membuat beliau tetap yakin adalah bahwa orang baik akan selalu ditemukan dengan orang-orang baik. Ia tidak khawatir anak-anaknya akan salah pergaulan. Ia hanya membekali anak-anaknya dengan pengetahuan agama yang cukup, selebihnya biarkan mereka mencari sendiri. Allah yang akan menjaga mereka sepanjang waktu. 
Saya baru menyelesaikan pengantar buku Ibn Batuta yang ditulis oleh Rose E. Dunn. Sekilas saya melihat perbedaan antara Marco Polo dan Ibn Batuta. Sama-sama musafir hebat, tapi mereka punya kepentingan yang berbeda dalam setiap perjalanannya. Kebanyakan pengembara muslim jaman dahulu mengarungi lautan dan berkelana tanpa mengenal batas negara, suku, budaya, dan bahasa, yang ingin dilakukan adalah menyebarkan ajaran Islam dan belajar dari orang-orang alim yang ditemuinya di setiap persinggahan. Syiar Islam dan ilmu. Dengan niat tersebut tidak jarang Ibn Batuta selalu dikelilingi oleh orang-orang alim dan terpelajar di sekitarnya. Ia bisa belajar dan mengajarkan. Pengelana muslim tidak mengenal batas sekat negara, mereka hanya mengetahui keuniversalan ajaran Islam. Inilah yang kemudian mereka kenal sebagai Dar Al-Islam. 
Secara jujur Rose E. Dunn di sini juga membahas mengenai periode keemasan masa kekhalifahan Abbasiyah yang kemudian disusul dengan penurunan bertahap namun pasti hingga sejarah dunia membelokkan perhatiannya ke dunia barat dengan masa Renaissance-nya. Sejarawan terus menerus menafsirkan kejadian ini dengan kesalahan umat Islam sendiri yang tidak mau mewarisi pendahulunya dalam bidang ilmu. Sementara dinasti barat mulai bangkit dengan perkembangan penemuannya dengan mencatut apa yang telah dihasilkan oleh para ilmuwan muslim sebelumnya. Pada saat ini kemudian umat Islam tidak bisa memberontak bahwa itu dulu punya kita. Orang barat akan beralibi salah sendiri tidak mau mewarisi.
Satu hal yang saya pelajari dari Ibn Batuta adalah bahwa semangat pengelana muslim adalah syiar dan ilmu. Bahkan saat ia mengalami kecelakaan dalam pelayarannya ke Mongol di Cina, ia akhirnya singgal di pantai barat laut India selama bertahun-tahun tanpa pekerjaan. Namun tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk menunaikan amanah sang raja untuk bergerak ke Cina. Beberapa tahun kemudian ia berinisiatif berlayar ke Cina untuk menunaikan tugasnya yang sempat tertunda. 
Jakarta tempo dulu (http://tatasumitra.com/?p=2244)
Dalam catatan perjalanannya yang ia sebut dengan rihla, Ibn Batuta tidak pernah menyebutkan dirinya sebagai penduduk masyarakat tertentu sekalipun ia adalah pegawai kehakiman di Maroko dan lahir di sana. Ia hanya menyebut dirinya orang kota. Tentang ini saya jadi teringat dengan film Tamra the Island mengenai penduduk desa di Pulau Jeju yang tidak bisa keluar pulau seumur hidup mereka dengan orang-orang yang seumur hidup mereka didedikasikan untuk perjalanan laut. Mereka bergabung dalam suatu kongsi dagang atau hanya sekedar pengembara. Mereka hanya punya kampung halaman tapi tidak pasti kewarganegaraannya. Ini pula yang mengingatkan saya pada orang-orang darat dan orang laut di Pulau Belitong. Pada jaman dulu masih dikenal pembedaan tersebut. Orang-orang yang tinggal di daerah pantai, mereka hidup dari laut meski tidak mengembara jauh. Orang-orang darat adalah mereka yang hidup jauh dari pantai dan berocok tanam. Pada jaman dahulu kota dimulai dari daerah dermaga laut yang mana kapal-kapal lokal dan asing singgah di sana untuk melakukan transaksi perdagangan ataupun hanya sekedar mengisi perbekalan. Kemudian jauh di darat sana tumbuh sebuah pusat pemerintahan yang mereka sebut sebagai kota.
Entah ini tampak berbeda atau sedikit sama dengan masa sekarang. Jika ditarik ke masa kini, orang mana kita jika di masa lalu? Kadang saya merindukan masa dulu di mana orang hanya mengetahui kabar dari tempat lain melalui perantara para musafir yang singgah. Mereka hanya bisa menerka dari hasil pembicaraan dan catatan, atau mereka bertandang ke sana sendiri. Jika hidup di masa lalu, mungkin saya adalah seorang gadis desa yang bercocok tanam dan sudah menikah dengan seorang pemuda. Hahaha...(kalo yang ini beda konteks bahasan ya). 
Jogja tempo dulu
Seketika ingatan saya tertuju pada pementasan teatrikal Jawa di TBY beberapa waktu yang lalu sebelum saya menjejakkan kaki ke Bumi Kaulan. Pemuda dengan baju khas pendekar jaman dahulu melagukan tembang Jawa dengan begitu mempesona. Ia kemudian menggerakkan tangannya yang kekar membuat lukisan abstrak di sebuah kanvas yang berbuat dari kaca dengan balutan tarian dan tembang yang menawan. Itu pertama kalinya saya benar-benar jatuh cinta pada budaya Jawa dan kesenian tradisional, serta hal-hal yang berbau sejarah. Saya benar-benar merindukan masa-masa seperti yang digambarkan di pementasan ketoprak-ketoprak itu. Ndeso lan njawani. Kemudian setiap hari saya akan mendengar ayah berkisah mengenai cerita wayang mahabarata dan perang baratayuda. Para pemuda merayu para gadis dengan tembang-tembang asmaradananya. Seperti para pemuda-pemudi di Belitong tempo dulu yang saling bertukar pantun untuk saling menarik perhatian. 

Sekar asmaradana pun mengalun lembut dari laptop saya:
pratikele wong ngakrami
dudu brana dudu warna
....

*tiba-tiba kangen sama slenthem >,< (lhoh?), terus ngepoin para penari peran Arjuna (padahal lagi sebel sama Arjuna karena mengalahkan Ekalaya dengan tidak adil).

Selasa, 01 Januari 2013

Tentang Perjalanan dan Sejarah


Entah, apa yang hendak saya tulis kali ini. Saya membaca tulisan teman-teman mengenai refleksi akhir tahun, resolusi tahun baru, dan lain sebagainya. Semua telah mengukir karyanya masing-masing. Ada yang puas ada yang tidak. Lalu, apa yang saya kerjakan dan pelajari dari tahun kemarin? Saya sudah bisa menjawabnya. Tapi, apa yang akan saya lakukan di tahun ini? Itu masih belum bisa menjawabnya dengan mudah.



Awal tahun masehi kali ini diawali dengan bulan Safar di tahun Hijriyah. Safar berarti bulan saat orang-orang banyak melakukan perjalanan. Tapi yang terjadi  adalah saya masih tinggal di kota yang telah lama membesarkan saya ini. Saya sempat mendengar kabar mengenai teman-teman yang hendak melakukan perjalanan jauh untuk studi mereka. Iya, iri. Toh nyatanya saya belum menyelesaikan satu pekerjaan penting dalam hidup bernama skripsi. Saya membenci diri sendiri untuk hal ini.
Awal tahun ini, di Bulan Safar, saya mengawalinya dengan membaca buku perjalanan Ibn Batuta. Seorang petualang legendaris dunia yang seharusnya pamornya melebihi Marco Polo. Ia menjadi saksi sejarah perkembangan Islam pertama kali di Indonesia. Kerajaan Samudera Pasai. Saya hanya bisa memberikan satu cuplikan di awal buku itu:

"Saya berjumpa di (Brusa) syekh 'Abdallah al-Misri yang alim, sang musafir, dan seorang pria yang hidupnya seperti seorang wali. Ia telah menjelajahi bumi ini, tetapi ia tidak pernah pergi ke Cina ataupun Sri Lanka. Juga tidak pernah ke negeri Maghrib atau ke negeri Andalusia, atau ke negeri-negeri Negro, sehingga saya mendahuluinya dengan mengunjungi wilayah-wilayah tersebut."
-- Ibnu Batuta
Saya baru membaca pengantarnya. Nanti akan saya ceritakan lagi tentang buku ini. Insya Allah. Membaca sekilas tentang buku-buku sejarah, jadi merindukan suatu masa di mana akses telpon dan internet belum ada. Orang-orang berhubungan dengan orang lain di tempat yang jauh dari mereka hanya dengan perantara surat atau bahkan tanpa kabar sama sekali sehingga mereka hanya bisa mengirimkan doa-doa. Masa di mana mengunjungi tempat lain adalah benar-benar sebuah kejutan. Ibnu Batuta mengajari kita untuk melakukan perjalanan bukan hanya sebagai pelancong, penikmat kebudayaan, dan penikmat pariwisata. Tapi perjalanan yang ditujukan untuk ilmu. Maka berbahagialah kawan-kawan yang telah menjelajah belahan dunia untuk menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu. Kisah seorang pendekar tanpa nama yang diceritakan oleh Seno Gumira Ajidarma dalam novelnya Nagabumi sedikit membuat saya terkesima mengenai keluasan ilmu orang-orang jaman dahulu. Mereka mempelajari ilmu tidak dari sumber pasaran. Pendekar itu secara jelas memisahkan mereka yang berilmu dari sumber pasar dengan perantara telinga dan mulut orang tidak jelas dengan mereka yang berilmu dari sumber yang jelas. Satu quotes menarik yang disampaikan oleh sang pengantar di buku Ibn Batuta, bahwa para sejarawan itu mengisahkan cerita yang sudah selesai. Ia menceritakan kepingan kisah yang sudah diketahui endingnya.
Teringat dengan petuah Pak Fatan beberapa waktu lalu mengenai sanad. Tradisi para ilmuwan muslim dahulu adalah memelihara sanad. Sehingga bisa kita telusuri sekarang, siapa berguru pada siapa mengenai apa. Ini akan berguna bagi para sejarawan untuk menguji keotentikan dan subjektifitas penulis atau pelaku sejarah tersebut. Beda dengan sekarang yang sumber-sumber ilmu bertebaran di mana-mana tanpa sanad yang jelas. Alhasil, orang bisa dengan mudah comot sana comot sini tanpa memperhatikan keabsahan sumber.
Cerita tentang seorang ratu di Cina yang menjadi saksi kehancuran dinastinya, kisah tentang manusia-manusia berlatar kerajaan Padjajaran dan Majapahit, kisah perjalanan para Pandaya Sriwijaya dan perompak di Teluk Benggala, menelusuri jejak ratu Mongol dan perjalanan Cheng Ho, kemudian maju ke masa penjajahan Hindia-Belanda dari seorang Multatuli juga menikmati Pak Pram berkisah tentang wanita pribumi yang dipersunting oleh keturunan Walanda. Kisah sejarah kadang melukiskan kisah orang-orang penting dan dianggap besar. Jadi teringat dengan artikel yang dimuat di majalan tempo beberapa waktu lalu mengenai sejarah rakyat biasa, sejarah kaum jelata. Mereka juga pelaku sejarah yang penting.
Ingin rasanya melakukan perjalanan jauh untuk mempelajari dan mengalami sendiri apa yang Allah hendak ajarkan kepada manusia melalui perjalanan. Perjalanan sejatinya adalah mengenali diri sendiri dari sudut pandang lain, dan sejatinya watak diri akan tampak saat melakukan perjalanan yang tak biasa.
Berkaca pada tahun 2012, saya tidak bisa menyebutnya sebagai tahun karya, meski orang-orang bilang tahun itu saya menghasilkan beberapa karya (satu film, dua buku, dua proyek). Selebihnya ada banyak hal yang tidak terselesaikan dengan baik. Mudah sekali bagi orang membuat list mengenai apa yang telah ia hasilkan dan kerjakan, tapi, sulit pula untuk mengakui kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan. Seperti halnya jejak yang kita tinggalkan di atas pasir atau tanah. Mereka bisa terhapus dengan mudah. Tapi bagaimana jika jejak itu ditinggalkan pada batu? Bahkan para sejarawan dan arkeolog menjadikannya sebagai sesuatu yang bernilai sejarah jika itu merupakan jejak peristiwa penting di masa lalu. Jejak apa yang sudah kita tinggalkan di batu? Kebaikan atau keburukan?
Tahun 2013 saya berharap ini akan menjadi tahun persiapan dan penggemblengan sebelum saya melangkah ke tempat-tempat jauh di tahun 2014. Perjalanan ke tempat seluruh umat muslim merindukannya dan perjalanan ke tempat sebagian besar mahasiswa ingin belajar di sana. Sudah dicukupkan sampai di sini saja, masa-masa kekanak-kanakan. Sudah saatnya berpikir dewasa. Dewasa berarti bertindak berdasarkan benar dan tidak benar, bukan berdasarkan keinginan. Tahun ini akan menjadi tahun pengabdian, tahun penggemblengan, tahun penempaan, tahun penuh kesabaran.
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Hasyr: 18)
http://bobommz.blogspot.com/2011/11/aar-cer-cerpen-11-perjalanan-yang.html

Selasa, 25 Desember 2012

Yang Pertama dan Terakhir Kali

menara kincir angin parangracuk__by Wulan
Untuk pertama dan terakhir kalinya aku berada dalam satu tim dengan kalian.
Sungguh ini pengalaman yang luar biasa mendapatkan ukhuwah seperti ini.
Terima kasih untuk telah berada di antara kalian.
Selamat mengarungi ranah perjuangan masing-masing.
Selamat kembali berjuang di dakwah yang sesungguhnya, kawan.
Terima kasih atas teladan-teladan yang diam-diam kucuri dari kalian.
Semoga Allah terus menguatkan kita, memberikan keistiqomahan untuk terus berada di jalan ini.
Jalan yang mungkin akan sangat berat dilalui.
Tapi pengabdian adalah soal ketulusan, niat kita mendapatkan ridho Allah semata.
Niat kita untuk memberi manfaat dalam kebaikan.
Semangat berilmu untuk kebermanfaatan umat.
Ganbare!




Rabu, 19 Desember 2012

Orang-Orang "Though"

Sore ini "tanpa sengaja" saya lihat tayangan televisi tentang behind the scene konser Agnes. Wuah, gila-gilaan ya orang mau buat konser saja. Bener-bener latihannya berat.
Saya jadi ingat sebuah quote: "People pay more for entertainment than for education."
Bener juga sih, saya lebih mudah menghabiskan uang untuk hiburan daripada untuk konsumsi otak.
Kalau saya lihat Agnes saya jadi ingat dua orang yang menurut saya punya karakter mirip dengan dia. Kedua orang itu punya nama dengan huruf depan yang sama "D". Pertama adalah dosen saya yang cantik itu. Dosen PE semester 1, kelas Ekonomika Internasional 1, dan kelas Ekonometrika 1. She's always beautiful as she does (please check my grammar :P). Kedua adalah seorang wanita pertama yang menjadi juara masterchef, program salah satu stasiun televisi.
Apa yang paling saya sukai dari mereka adalah karakter kerja keras mereka.
Mereka usaha keras untuk apa yang mereka achieve.
Bu Denni: "Let your output at the maximum frontier!"
Bu Desi: "Pressure your self up to the limit!"
Dosen saya yang cantik itu pernah cerita di kelas bagaimana dia dulu waktu semester pertama dapat nilai kuis UTS yang jelek, kemudian beliau merevolusi cara belajarnya. Dan dari revolusi itu beliau menghasilkan hasil yang revolusioner. IPK 4 dua semester berturut-turut dan lulus dengan IPK tertinggi. Saya selalu terpukau bagaiman cara dia mengajar di kelas. Cerita paling menarik adalah cerita tentang pengalamannya di ranah politik di istana negara sana. Betapa sulitnya seorang ekonom harus membenturkan politik dengan ilmu ekonomi. Ah, sulit deh didefinisikan dengan kata-kata di sini. Kadang sempat berpikir bagaimana kalau dulu tiap kelas beliau ada rekamannya sehingga itu bisa diputar berulang-ulang. Bahkan salah satu teman saya pernah mereka kuliah beliau dengan kamera hp. hahaha.... Pesan utama beliau adalah kerja keras.
Satu hal lagi, mereka tetap humble.
Agnes: Inti dari make it happen bukan cuma akunya aja yang ditonjolkan bahwa aku make it happen. Tapi bagaimana kita make it happen.
Bu Denni: Guys, kalau kalian  sudah sukses nanti, jangan pernah merasa benar dalam segala hal. Kadang orang nanya di seminar-seminar dengan panjang lebar hanya untuk show-off apa yang mereka tahu meski sebenarnya inti pertanyaan mereka cuma simpel. Kalau mau tanya, singkat. Ekonom diajarkan untuk menjadi humble dengan term "second best". Mereka tidak pernah bilang "the first best". Hasil penelitian, kebijakan, mereka tidak pernah bilang itu yang terbaik, tapi "terbaik jika ...bla bla bla". Ada kondisinya masing-masing. Guys, di atas langit masih ada langit.
Bu Desi: Motivasi utama saya untuk menjadi pemenang adalah untuk meninggalkan legacy bagi anak-anak saya bahwa untuk mengejar mimpi itu harus ditempuh dengan kerja keras meski seringkali mengorbankan sesuatu.
Jika saya lihat Bu Desi di televisi, tiba-tiba teringat Bu Denni. Kemudian di otak saya menerjemahkan sesuatu yang memberi saya kesan bahwa mereka itu mirip. Begitu juga kalau lihat Agnes, saya jadi teringat Bu Denni juga, dengan kesan yang sama. 
Terlepas dari siapapun mereka, apapun agama mereka, saya cuma belajar dua hal: kerja keras dan humble.
Saya nggak ngefans sama mereka, cuma kagum dan belajar pada dua hal tersebut dari mereka.

Minggu, 16 Desember 2012

Desain Rak Buku

Sejak merasa "agak malas" dan "agak putus asa" dengan skripsi, belakangan saya jadi  sering mengumpulkan gambar-gambar desain rak buku, ruang baca, dan segala macamnya. Ya, ingin sekali punya rumah dengan huge book shelf. Buku itu nanti tidak hanya dibaca oleh saya sendiri, tapi juga dibaca oleh para karyawan yang sedang beristirahat atau mengisi waktu luang mereka di malam hari.
Kali ini saya pengen iseng membuat list isi rak buku:
1. Koleksi buku-buku ekonomi. Sayang kalau buku-buku kuliah dibuang begitu saja. Harus dilestarikan dan menjadi ingatan referensi jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Koleksinya nanti akan ditambah.
2. Koleksi buku-buku sejarah & biografi.
3. Buku-buku agama dan pengembangan diri.
4. Novel
5. Kumpulan jurnal
6. Kumpulan majalah: NG, Tempo, plus rak koran kompas/kliping
7. Kumpulan referensi hobi: traveling, gradening, masak!, kesenian & budaya, architect
8. .....
Jadi teringat dengan tugas dari mr untuk membuat life-plan. Saya sudah membuatnya. Ternyata ini kegiatan yang cukup mengasyikkan. Hmmm...saya jadi berpikir, ketika saya melihat teman-teman yang sudah lulus bingung mau ngapain, saya sendiri justru bingung bagaimana caranya agar segera cepat lulus dan bisa segera melakukan banyak hal yang sudah saya rencanakan.
Manusia memang berencana, tapi toh pada akhirnya nanti Allah Yang akan mengatur jalan kita agar menjadi cerita yang happy ending.
Traveling, be a volunteer in the social activities, write the novel, read the good books, more hiking, research, memorize the Quran, and learn more language are the things I want to do after graduation.
What I have to do to get money? Work as anything. Saya tidak takut dicap sebagai pengangguran. Yang terpenting adalah saya melakukan sesuatu yang berarti. Bukan sekedar jabatan di masyarakat kamu kerja jadi apa, tapi apa yang sudah kamu lakukan untuk masyarakat?
Kadang saya bingung jika ditanya mau kerja jadi apa nanti. Saya tidak tahu. Yang jelas saya bekerja untuk mendapatkan uang yang itu akan saya gunakan untuk mendapatkan kebahagiaan. Kapan saya bahagia? Ketika melakukan hal-hal yang berarti.
Tak masalah jika hanya menjadi pengurus di restoran keluarga. Tak masalah jika seorang sarjana bekerja serabutan. Asalkan masih bisa memberikan apa yang ia ketahui dari pendidikannya. Bukan sekedar kamu bekerja pada siapa, di mana, sebagai apa. Tapi apa yang bisa kita pertanggungjawabkan dari pendidikan itu sendiri.
What kind of job I have to do to create more money?
What kind of job I have to do to create more happiness?



__Ah, sepertinya keren sekali pergi ke pelosok-pelosok nusantara/dunia dan mengenal masyarakat lokal dari dekat, berkenalan dengan mereka lebih mendalam, membuat jurnal perjalanan dan profil masyarakat lokal, membagikannya kepada dunia, membahas isu-isu pengentasan kemiskinan dan pelestarian lingkungan di tataran global lewat tulisan, jurnal, dan berbagai konferensi, sekaligus menjadi wanita pengusaha yang sukses (hotel dan restoran, tourism), sekaligus menjadi ibu rumah tangga yang shalihah, pendidik calon-calon pemimpin. I dream it.