Sabtu, 28 April 2012

Tentang Dia

Tidak sengaja saya masih menemukan arsip tulisan ini di komputer lama. Nukilan ini saya ambil dari sebuah buku sejarah yang entah siapa pengarangnya. Buku itu saya temukan di perpustakaan kecil Sekolah Angkasa dekat Adisucipto saat saya SMA dulu ketika menemani seorang kakak yang mencari bahan untuk penelitian. Saya sangat bersyukur menemukan buku itu meskipun tidak sempat saya baca secara penuh, tapi saya sempat menuliskan kata-kata ini dan yang paling saya ingat dari cerita tentang beliau adalah ketika dalam sebuah ekspedisi bersama para muridnya dalam kegelapan subuh. Di sebuah desa tampak para ibu berjalan menelusuri kegelapan menuju masjid. Keteguhan dan kebersahajaan. Itulah mengapa Jenderal Sudirman adalah salah satu tokoh pahlawan yang saya kagumi.

Amalkan Janji dan Tekad

Di dalam kita menghadapi ujian yang sedasyat seperti sekarang ini. Kita tak boleh bimbang-bimbang, tidak boleh was-was. Kita percaya kepada kekuatan lahir dan batin kita. Dengan segala kekuatan yang nyata, dengan cara yang sesuai dengan kekuatan serta keadaan alam di bumi Indonesia mewujudkan sesuatu senyawa yang amat kuat. Senjata amat tajam, untuk menjalankan pertahanan dan pertempuran senjata apapun jua. Percaya dan yakin, alat yang ada pada kita, untuk melakukan pertempuran secara apapun juga dan secara besar-besaran.
Hanya ada satu syarat yang perlu sekali dipenuhi oleh rakyat seluruhnya, ialah kita masing-masing harus insaf dan ikhlas meninggalkan harta benda kita, gedung-gedung kita, dan anak istri kita.
(dari Jendral Sudirman)

_pindahan dari blog lama_

Jumat, 13 April 2012

Suatu Malam

"Jangkrik! Jangkrik!" 
"Hmm, Hmm, Hmm, Hmm"
Bunyi bonang, demung, saron, kenong, dan perangkat gamelan lain kemudian bersahut-sahutan dengan nyaring. Sesaat kemudian tiba-tiba mereka hening bersamaan.
"Layoong....layooong...." dengan lantang seorang laki-laki menembang secara solo.
Malam itu aku duduk sendirian di tempat duduk penonton deretan ketiga dari depan. Aku melihat penonton di seberang barisan tempat duduk sedang asyik menyimak bersama keluarga dan temannya. Dalam hati aku hanya tersenyum pahit pada diriku sendiri. Dasar jangkrik, seorang gadis keluyuran sendirian di malam hari hanya untuk menonton pertunjukkan karawitan yang tempatnya cukup jauh dari rumahnya. 
Sementara itu hatiku terus berdebar-debar mencemaskan bagaimana nanti jadinya ketika pulang sendirian di malam hari yang dingin dengan sepeda motor. Waktu sudah menunjukkan jam 21.30. Sampai di rumah bisa jam 22.30. Duh Gusti, maafkanlah aku yang nekat ini...
Setelah MC memberikan selamat malam, para penonton pun berhamburan ke luar gedung. Di luar telah disajikan berbagai macam jajanan pasar oleh panitia. Aku hanya melewatinya sambil tersenyum kepada para panitia yang menjaga deretan makanan yang disajikan. Aku bergegas menuju parkiran dan membawa kabur motor bututku mengarungi suasana malam yang sepi di sudut kota Yogyakarta. 
Untuk mencapai rumah, motorku harus melewati gang gelap dan kumuh di salah satu sudut dekat Pasar Beringharjo. Saat itu anak-anak punk sedang berkumpul di emperan toko. Ternyata mereka sedang membuat pola gambar graffity di tembok-tembok kosong gang itu. Pilox warna-warni seketika menghiasi tembok-tembok usang itu dengan gambar yang apik.
Di ujung gang yang lain aku melewati seorang bapak yang sedang memaki-maki seorang bapak yang lainnya. Kata-kata dari kebun binatang sekilas terdengar lantang di telingaku saat aku melewati mereka. Di samping mereka ada sebuah mobil merah tua diparkir di depan toko kelontong yang sudah tutup. Sudut gang yang gelap itu berubah menjadi pandangan yang mencekam di hadapanku. Kupacu gas lebih kencang.
Hatiku sedikit lega ketika motorku akhirnya telah memasuki area jalan raya. Mobil dan motor mulai ramai saling mendahului.
*** 
Hahaha...itu sepenggal kisah fiksi dari perjuangan mendapatkan rekaman tembang karawitan karya R.C.Hardjosubroto sang maestro karawitan Jogja. Sebenarnya saya ingin meneruskan ceritanya menjadi sebuah cerpen, tapi tiba-tiba ide mentok berhenti sampai di situ. Ya sudahlah, saya cerita tentang tembangnya saja ya.
Petikan tembang dalam cerita di atas merupakan salah satu favorit saya selama ini. Tembang ini pula yang sehari-hari menemani aktivitas saya di depan layar komputer. Saya tidak tahu yang ini judulnya apa. Hahaha
Hmm, mungkin Anda tidak tahu siapa itu R.C.Harjosubroto? Anda tahu lagu dolanan yang sering kita nyanyikan sewaktu SD dulu, "Gundul-Gundul Pacul"? Ya, beliaulah pencipta lagu tersebut. Lagu dolanan yang selama ini kita kenal sebagai lagu rakyat karena tidak diketahui siapa pengarangnya.
Hmm, saya bukanlah orang yang ahli dalam pengetahuan tentang hal-hal ini. Saya tidak tahu apa-apa tentang karawitan, tentang gamelan. Saya hanya penikmat saja. Sejak kecil ayah gemar menyetelkan lagu uyon-uyon untuk para tamu di rumah makan, sehingga mau tidak mau telinga ini terasa akrab dengannya.
Karya R.C. Hardjosubroto lain yang selalu membuatku tersenyum adalah Fragmen Nangka Rungkat. Tembang ini mengisahkan dialog di masyarakat ketika sebuah pohon nangka rubuh. Mereka bergotong royong untuk membereskannya. Sebenarnya ada juga tembang karawitan karya beliau yang dikemas dengan nuansa jenaka dan berBAHASA INDONESIA! Di telinga mungkin akan terasa aneh mendengar tembang karawitan Jawa dengan BAHASA INDONESIA. Tapi Anda akan tersenyum geli mendengar syairnya. Judulnya adalah Rumahku. 
"Anda ingin tahu dimana rumahku?...."
Itu petikan lirik pembukanya. Selanjutnya dengarkan sendiri hingga akhir.
Beliau pula yang menciptakan tembang dengan salah satu petikan syairnya, "Kuwi apa kuwi, kembange melati. Sing tak puja-puji, aja dho korupsi..."
Kalau tidak salah judulnya Aja Ngona-Ngono Kuwi apa ya...? Lupa saya...Tapi yang jelas tembang ini mungkin sudah begitu akrab di telinga masyarakat Jogja. Tembang ini berusaha menjadi nasehat bagi para pemimpin untuk tidak melakukan korupsi. Iya tetap menggunakan kata "aja" (artinya jangan) untuk mendidik masyarakat yang mendengarkan lagu ini. Selama ini pendidikan gaya barat selalu berusaha untuk menghindari kata "jangan". Saya tidak tahu alasannya. Tapi di Alquran pun dituliskan "LA" saat mengisahkan bagaimana Imran mendidik anaknya untuk TIDAK menyekutukan Allah, yang di ayat selanjutnya Imran memberikan penjelasan, "Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kezaliman yang besar."
Tidak semua kalimat larangan itu bisa menghindarkan dirinya dari kata "jangan" atau "tidak boleh". Bahkan perkembangan ilmu psikologi anak yang baru-baru ini saya dengar justru malah menganjurkan untuk menggunakan kata "jangan" itu di akhir kalimat. Anak cenderung mendengarkan kata-kata bagian akhir. Sekarang coba deh, bagaimana dengan kalimat larangan untuk merokok? 
Coba bandingkan:
"Jangan merokok di ruang publik!"
"Merokoklah pada tempatnya!"
"Jangan merokok! Merokok itu ...bla bla bla."
"Merokok dapat menyebabkan ... bla bla bla."

Ah, pusinglah saya membahas ini. Saya kan sedang membahas tembang.
"Kae... lho, kae... lho." (petikan tembang Persatuan Pembangunan)

Yogyakarta, 13 Februari 2012

Sabtu, 31 Maret 2012

Tentang Kenaikan Harga BBM

Hari ini setelah kabar Sidang Paripurna DPR sampai di telinga, saya mendapat pesan dari salah seorang adik angkatan, “mbak, gimana tanggapanmu BBM gak jadi naik?” Saya tahu dia bertanya seperti itu karena saya selama ini dipandang sebagai “orang yang pasar minded”. Maksudnya mungkin penganut paham laizes faire yang berpikir segala sesuatu serahkan saja pada mekanisme pasar. Saya hanya tersenyum dalam hati membaca pesan itu.
Saya bukanlah pakar ekonomi ataupun mahasiswa yang tahu benar tentang isu kenaikan BBM ini. Tapi melihat situasi yang ada, rasanya tidak bisa dibenarkan juga jika seorang mahasiswa ekonomi tidak berbuat apa-apa soal isu ini. Saya jika ditanya memihak siapa, maka tentu saya akan menjawab bahwa saya berpihak para rakyat. Tapi bukan berarti saya tidak setuju jika harga BBM dinaikkan. Bukannya saya tidak sepakat dengan teman-teman yang melakukan demonstrasi untuk membela rakyat. Saya justru salut dengan mereka yang mati-matian melakukan diskusi dan mau panas-panas turun ke jalan untuk menunjukkan pembelaan mereka. Tapi saya punya sikap yang lain.
Saya memang tidak ahli dalam menganalisis ekonomi. Tapi ini pendapat saya yang masih terlalu kolot ini. Inilah alasan kolot saya tidak menolak kenaikan BBM.
Pertama, seperti yang dijelaskan oleh Pak Anggito dan para ahli ekonomi yang sempat melakukan kajian mengenai subsidi BBM bahwa Indonesia pada kenyataannya kini adalah net importer , artinya kita lebih banyak melakukan impor daripada ekspor. Which is, mau tidak mau pendapatan ekspor migas kita yang digunakan untuk subsidi BBM dalam negeri akan semakin menyusut dengan kenaikan harga minyak dunia. Sehingga beban subsidi makin lama makin berat sehingga anggaran untuk subsidi sektor lain pun berpeluang akan dikorbankan. Padahal subsidi infrastruktur, subsidi pupuk untuk petani, subsidi untuk orang-orang miskin tentu lebih produktif dan lebih berpeluang untuk memboosting perekonomian Indonesia. Berbeda dengan subsidi BBM, dengan menyubsidi BBM artinya negara mensubsidi konsumsi. Dan itu tidak pandang bulu apakah mereka kaya atau miskin, dan berdasarkan data statistik dari Kemenkeu didapatkan bahwa sebagian besar yang mengkonsumsi BBM adalah mereka yang memiliki mobil dan motor. Dan hanya 20% saja yang merupakan kendaraan umum (ini yang perlu disubsidi). Jika tidak dikurangi, sampai kapan pertumbuuhan ekonomi Indonesia berkualitas bukan lagi consumption driven growth?
Kedua, menanggapi kekhawatiran daya beli masyarakat akan turun karena harga-harga naik. Masyarakat miskin tentu tidak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi ini. Menurut saya, gejolak kenaikan harga-harga secara umum itu hanya akan bertahan sementara paling lama 3 bulanan. Kemudian harga-harga akan kembali stabil. Yang perlu dilakukan oleh para negarawan adalah bagaimana mengamankan masyarakat miskin dari gejolak kenaikan harga tersebut? Intinya mengamankan daya belinya. Setelah gejolak berakhir, bukan lantas langkah itu juga berakhir, tapi bagaimana bantuan yang semula untuk mengamankan daya beli itu, kini ditujukan untuk keperluan produktif, sehingga perlu yang namanya pendampingan di sini. Selama ini kita milih enaknya saja, kasih dan urusan selesai tanpa kita tahu merek gunakan untuk apa bantuan itu. Ya masyarakat miskin kalau diberi uang banyak tiba-tiba tentu mereka akan berpikir konsumsi daripada investasi, karena selama ini mereka bekerja untuk keperluan konsumsinya.
Toh, memang pada akhirnya BBM tidak jadi dinaikkan pada tanggal 1 April ini. Itu mungkin karena wakil rakyat kita masih berusaha mendengar suara hati rakyat. Mereka berusaha untuk berpihak pada rakyat. Tapi saya justru berpikir seakan mereka takut pada rakyat. Sisi positifnya adalah bahwa rakyat masih memiliki kekuasaan. Tapi kita juga perlu mengedukasi masyarakat tentang kenyataan yang dihadapi oleh Negara ini. Bahwa kita adalah net consumer sekarang. Kita sudah over-demanded terhadap BBM sedangkat kita menuntut harga tetap rendah. Dalam ilmu ekonomi yang saya pelajari saat ini, tuntutan itu seakan tidak realistis dan seperti tidak lazim terjadi di dalam pasar. Oke, silakan sebut saya kapitalis. Terserah, memang ini yang saya pelajari dari ilmu ekonomi. Bahwa economics is a cold blooded. Ini kenyataan positivism. Jika ingin normative, ya maunya harga tetap rendah sementara demand kita tinggi. Inginnya rakyat kita sejahtera, tidak lagi terpuruk dalam kemiskinan yang membuat mereka semakin menderita. Saya tentu juga punya rasa itu. Tapi jangan lari juga dari kenyataan. Sampai kapan kita menyubsidi konsumsi orang-orang kaya? Sampai kapan rakyat kita dibutakan dari kenyataan pasar?
Jika kita ingin membuat negeri impian kita sendiri dengan mekanisme harga yang kita tentukan sendiri, maka kuasailah pasar itu! Kenyataannya sekarang kita tidak kuasai pasar dunia dengan minyak kita. Kita seharusnya punya sawit, tapi kita masih tidak bisa kendalikan harga CPO dunia. Apa yang salah dengan Indonesia?
Ketiga, memang seharusnya pemerintah tidak lagi melakukan penetapan harga dan membiarkan harga bergerak dengan sendirinya di pasar. Yang pemerintah lakukan adalah melakukan stabilisasi harga tersebut, sehingga ketika terjadi lonjakan besar, masyarakat tidak terlalu bergejolak. Intinya, dengan harga bergerak sendiri, pemerintah tidak perlu melakukan pengumuman akan naik ataupun akan turun tuh harga. Pasar akan terus bergulir saja. Dengan demikian, gejolak multiplier akibat pengumuman tidak akan terjadi. Yah, begitulah, kadang saya juga merasa pasar itu kejam. Ia hanya memihak mereka yang memiliki daya beli. Mereka yang tidak punya daya beli akan ter-crowd out dari pasar. Itulah fungsinya charity. Orang yang kelebihan WTP akan meng-cut pendapatannya untuk menaikkan daya beli masyarakat miskin. So, what to subsidize is the people (production side), not subsidize the market by price, because market will run as it does and it will create the dead-weight-loss.
Jadi ingat sebuah hadist yang mengisahkan tentang pengaduan seorang sahabat kepada rasulullah ketika harga-harga bahan pokok melonjak akibat peceklik dan dia meminta rasulullah untuk menetapkan harga. Maka rasulullah pun menjawabnya dengan “bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan kezalimanku di akhirat kelak dengan menetapkan harga? Paceklik itu terjadi atas kehendak Allah.” Intinya, kita bisa ambil pelajaran dari hadist tersebut bahwa kenaikan harga minyak dunia karena sentiment pasar dunia akan isu-isu tertentu itu sunatullah. Tapi penimbunan itu manusia yang melakukan kezaliman itu sendiri.
Keempat, kita mau nih menurunkan emisi karbon dunia. Target Negara kita tahun 2030 penurunan sekitar 57%. Tapi bagaimana bisa dicapai jika kita masih subsidi bahan bakar kendaraan yang menyumbang masalah kemacetan dan polusi di Negara ini? Baik, memang BBM tidak hanya berkaitan dengan emisi karbon saja, tapi terkait dengan kebutuhan pokok masyarakat. Lantas apa yang bisa dilakukan pemerintah? Untuk menjawab ini, saya sudah jelaskan di atas.
Saya tidak tahu keputusan yang dibuat oleh partai-partai itu karena murni membertimbangkan kepentingan rakyat dengan disandingkan teori ilmiah atau hanya sekedar sok berpihak pada rakyat dan takut kehilangan simpati. Saya tidak tahu apakah para tokoh politik yang semula ikut melakukan kajian-kajian tentang kenaikan harga BBM mengapa pada akhirnya tidak bersuara apakah itu karena mereka tidak berdaya dan merasa iba dengan rakyat yang semakin sulit ataukah hanya karena takut image mereka turun. Tapi saya yakin, kawan-kawan mahasiswa yang turun ke jalan itu, meskipun tidak semuanya, mereka murni memihak masyarakat. Saya hanya berharap mereka semua bertindak karena murni memihak kepada masyarakat dan semoga keputusan itu adalah keputusan terbaik. Penimbunan berakhir, harga cabai segera kembali turun 100% kembali.
Ah, lagi-lagi saya merasa bahwa masyarakat memang tidak berdaya dengan apa yang terjadi di pasar dunia ini. Bahwa dunia ini ternyata hanya dimainkan oleh beberapa orang saja yang berkuasa tanpa kita bisa melawan. Jika mau melawan pun rasanya terlalu naïf karena kita tidak punya bukti yang cukup logis. Tapi jika suatu saat kita bisa membuat arus sendiri, maka kita pun bisa pengaruhi mekanisme pasar dunia.
Wallahu’alam.

backsound: "Galang Rambu Anarki" - Iwan Fals

sumber gambar:
http://isuenergi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1168:asumsi-target-produksi-minyak-2012-disetujui-dpr&catid=38:minyak&Itemid=231

Selasa, 21 Februari 2012

Deck 6

Dengan barang-barang di punggung, kami berlima melangkah terburu-buru menuju tangga KM. Leuser yang melabuh di dermaga Tj.Priok tengah malam itu. Tangan kanan kami satu per satu menunjukkan tiket masuk kepada pemeriksa tiket di bawah tangga.
“Hati-hati, tangganya agak goyang!” Dani yang menjadi pemimpin perjalanan kami dengan kapal ini memperingatkan.
Dengan nafas kepayahan karena beban di punggung dan udara malam, aku menaiki satu per satu anak tangga hingga pemandangan dalam kapal itu terlihat dari mata kepalaku sendiri. Orang-orang di dalam kapal sudah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Beberapa masih mencoba menjejalkan berkarung-karung bawaan mereka ke dalam ruangan kapal, beberapa mencari-cari tempat peristirahatan yang nyaman dengan mata menyapu seluruh ruangan kapal. Kami turun ke lantai dasar untuk mencari tempat tidur. Bau pengap mulai menyeruak ke wajah. Sepanjang kami menyapu pandangan ke tempat tidur kayu yang berjejeran di ruangan remang-remang itu telah dipenuhi dengan orang-orang melayu dan hokian yang tidur, main catur, main kartu, makan, kerokan, dan aktifitas santai lainnya yang membuat suasana menjadi semakin pengap dan padat.
“Udah penuh, Dan. Kita ke atas aja deh. Pengap banget di sini.” Mita yang merupakan satu-satunya teman perjalananku yang perempuan pun protes.
Akhirnya kami naik lagi ke atas dan atasnya lagi hingga kami menemukan deck 6 yang tanpa ruangan. Seorang bapak menghampiri kami yang tampak celingukan.
“Di dalam penuh dik, mending di sini aja. Pake alas ini. Nanti bayarnya gampang.” Bapak itu langsung menggelar karung plastik putih yang disulap menjadi alas di emperan deck 6.
Akhirnya karena sudah merasa lelah berkeliling kapal, kami pasrah menerima tawaran bapak itu. Barang-barang pun kami jatuhkan di emperan deck yang langsung berhadapan dengan tangga ke ruang bawah dan mendapatkan angin segar dari pintu keluar yang berada di kiri dan kanan deck 6. Dengan sedikit enggan, aku duduk bersandar di dinding yang kotor depan tangga sambil memeluk tas ransel. Sementara teman-teman memeriksa seisi emperan deck dan sebagian berjalan-jalan ke luar. Aku dan Mita pasrah duduk di emperan itu, termangu dan letih setelah hampir satu hari menunggu dalam ketidakpastian kapan kapal akhirnya berangkat.
Wah, ternyata kami cukup beruntung mendapatkan tempat ini lebih dulu karena tidak lama setelah itu orang-orang masih bingung mencari tempat singgah untuk mereka di bagian kapal ini. Kemudian seorang bapak yang menggendong anak perempuannya yang berumur kira-kira 4 tahun menyusul kami di emperan deck 6 itu. Bapak itu tampak tua dan letih dengan pakaian yang sangat sederhana. Sementara anaknya menggelayut di lengannya sambil mengusap ingus di hidung yang sudah belepotan di pipinya. Anak itu tampak takut dan sedih. Mereka tidak berucap apa-apa dan langsung duduk diam di samping kananku. Aku mencoba tersenyum pada anak itu tapi ia membalasnya dengan tatapan takut. Akhirnya aku menyerah untuk menghiburnya dan beranjak dari duduk untuk berkeliling deck 6 yang berukuran 8x1,5 meter itu.




Akhirnya aku berhenti di depan sebuah pintu yang ditempeli gambar Spiderman hitam berpose di atas gedung tinggi sambil menjentikkan jemarinya yang mengeluarkan benang jaring laba-labanya. Di atasnya tulisan “Theater Film KM.LEUSER” ditempel dengan solasi seadanya. Kemudian mataku tergoda pada tulisan di samping kanannya yang ditulis tangan dengan pulpen: DILARANG MENEMPATI DEPAN THEATER FILM. Samping kirinya ada kertas karton kosong yang ditempel dengan solasi bening seadanya, di atasnya ditulis: “FILM HARI INI”.
Nampaknya ini sedikit menghiburku karena membuatku terkekeh geli.
“Eh, lihat deh, ternyata ada teaternya to di sini. Wuih, beruntung sekali kita. Hehehe...”
Kulihat teman-temanku akhirnya beranjak dari tempatnya masing-masing penuh minat.
“Bayar gak nih? Film apa ya yang diputer?”
“Weh, keren juga nih kapal. Udah kayak bioskop aja. Hahaha...”
“Halah, paling filmnya yang nggak mutu.”
“Masa sih, lha wong ini gambarnya ada Spiderman, Harry Potter, Transformer. Keren nu...”
Satu per satu mereka mengeluarkan komentar spekulasinya. Tapi ini akhirnya bisa membuka percakapan di antara kami yang sudah berwajah kuyu hingga tak terasa akhirnya subuh menjelang.
***
Di luar sepertinya gerimis. Kami tidur setelah berjuang melaksanakan shalat subuh sambil terhuyung-huyung karena gelombang laut. Rasanya lega sekali akhirnya bisa merebahkan tubuh di emperan deck 6 dengan beralaskan karung plastik seadanya. Ah, memang sudah lama aku mengimpikan bisa naik kapal pesiar seperti di film Titanic dan akhirnya aku mengalami pengalaman pertama naik kapal pesiar meskipun ngemper seperti ini. Hahaha...anggap saja kami sedang berada di kapal sekelas Titanic.
Pagi itu kami terbangun oleh suara Dani yang mengabarkan keadaan di luar.
“Eh, mau lihat pelangi di tengah laut nggak?”
Sontak aku bangun dan mengambil kamera sakuku di tas kecil kemudian bergegas ke luar. Luhung ternyata sudah duduk termangu di luar menatap pemandangan indah di hamparan laut lepas. Mita menyusulku di belakang sementara Reki masih tertidur dengan tenang.
“Wah, keren! Kok bisa sih di tengah-tengah gitu?” aku pun beraksi dengan kamera merahku. Seutas senyum menyembul di balik wajah kami yang diterpa angin laut bercampur butiran-butiran lembut air laut.
“Eh, udah waktunya sarapan nih. Kumpulin tiket sarapan gih, biar nanti aku sama Luhung yang ngambilin” sang ketua perjalanan tiba-tiba muncul dari dalam.
“Emang disediain sarapan ya? Wah, tambah keren aja nih kapal.” sentilku.

bersambung...
(hehe tunggu ya...)

Senin, 13 Februari 2012

Negeri di Awan

Sore itu adalah sore yang biasa, namun sekejap menjadi luar biasa dengan pengalaman kami mendaki ke negeri di awan itu. Antara tebing, lereng gunung, jurang, dan sejuta pemandangan indah lain memantul di mata kami yang sudah letih dan kedinginan. Basmalah, takbir, tasbih selalu menghiasi perjalanan kami. Pendakian itu bukanlah pendakian seperti biasanya, tapi kali ini penuh makna. Kami akan menuju sebuah negeri di mana senyum hangat para warganya mampu mengalahkan dinginnya udara di sana. Kami menuju sebuah negeri di mana kita bisa melihat lukisan tanpa kuas Sang Pencipta Yang Maha Indah. Kami menuju sebuah negeri di mana para anak memiliki semangat yang tinggi untuk belajar agama. Kami menuju sebuah negeri di mana mereka harus menempuh perjalanan puluhan kilo dengan jalanan yang terjal untuk dapat mengecap pendidikan SMA. Kami menuju sebuah negeri di mana orang-orang hidup dan menghidupi di tepi-tepi jurang dan lereng-lereng pegunungan.
Ya, negeri itu berada di antara dua gunung yang indah, Merapi dan Merbabu.
Malam itu kedatangan kami disambut dengan nyanyian anak-anak di masjid, "saat langit berwarna merah saga, dan kerikil perkasa berlarian, meluncur laksana puluhan peluru, terbang bersama teriakan takbir. semua menjadi saksi atas langkah keberanianmu, kita juga menjadi saksi atas keteguhanmu..."
juga lantunan manis QS. An Naba dari seorang gadis kecil bernama Nurul.
Bagaikan kaum Muhajirin yang disambut oleh kaum Anshar, malam itu membuatku trenyuh dengan semua orang yang ada di sana.
Anak-anak gunung itu jika ditanya ingin menjadi apa kelak, mereka akan menjawab: ingin menjadi ustad/ustadzah karena mereka pintar dan berwawasan luas.
Anak-anak gunung itu mampu mengalahkan rasa malas karena hawa dingin untuk berangkat ke masjid setiap masuk waktu shalat wajib.
Anak-anak gunung itu selalu tersenyum malu pada kami saat kami memandang wajah-wajah teduh mereka.
Hari ini saya sudah kembali ke Jogja. Setiap saya melihat ke arah Merapi, saya selalu teringat dengan mereka. Di balik Gunung Merapi ini ada sebuah negeri yang cantik, Negeri di Awan.
Terima kasih untuk tiga hari yang tak terlupakan ini, ya Allah. Terima kasih atas kesempatan menemukan mereka dan berbagi dengan mereka. Terima kasih.

Salam rindu dari Jogja,
13 Februari 2012

backsound: Priska-Negeri di Awan

kau mainkan untukku sebuah lagu tentang negeri di awan,
di mana kedamaian menjadi istananya dan kini telah kau bawa aku menuju ke sana...

Rabu, 01 Februari 2012

S.O.S

Strawberry On the Shortcake (S.O.S). Haik, ini adalah sebuah judul dorama yang habis saya tonton. Hobi baru, nonton film-film lama. Tapi saya tidak sedang ingin membicarakan hobi baru saya ataupun film itu. Tapi tentang “strawberry on the shortcake”.
Saya tidak begitu terkesan dengan ceritanya, tapi saya terkesan dengan filosofi yang digambarkan dari judulnya. Ketika sedang makan kue dengan strawberry di atasnya, mana yang akan Anda makan duluan? Strawberinya atau kuenya?
Sama seperti ketika kita makan yang lain; kue dengan buah cherry di atasnya atau makanan dengan hiasan yang kita sukai dan paling ingin kita makan di antara bagian makanan yang lain yang sedang dihidangkan di depan kita.
Apakah kita tipe orang yang makan kuenya dulu atau strawberinya dulu? Apakah kita akan makan sesuatu yang paling kita sukai dulu atau kita memakan sesuatu yang kita sukai paling akhir?
Saya tidak terlalu mengerti tentang ini, tapi ini menarik. Saya tipe yang akan makan strawberinya terakhir setelah saya menghabiskan kue itu karena saya ingin menikmati strawberi itu setelah saya berjuang menghabiskan kuenya. Saya lebih merasa puas dengan sesuatu yang dicapai dengan susah payah, bukan dengan cuma-cuma. Saya harus melakukan tanggungjawab untuk menghabiskan kue itu baru saya akan mendapatkan hak dari strawberi yang istimewa itu. Dia istimewa karena berbeda. Kalau dari film itu, tipe ini adalah mereka yang lebih memilih untuk menyisihkan kebahagiaan dirinya sendiri untuk kebahagiaan orang lain yang kita cintai. Dia lebih memilih mundur untuk orang yang ia cintai. Tipe ini lebih memilih untuk terluka sekarang daripada terluka nanti. Tipe antisipatif. Apakah dia suka menabung? Hahaha, entahlah…karena tabungan saya sendiri semakin menipis. Yosh! Saya ingin strawberi yang saya dapatkan di akhir nanti bisa mengobati kelelahan saya dalam makan kue itu.
Ah, tapi ini hanya based on film. Oya, tapi dia selalu punya risiko dia tidak dapat memakan strawberi itu pada akhirnya karena orang lain telah mengambilnya terlebih dahulu. Dia kalah start. Inilah risiko terbesar para pemakan strawberi paling akhir akhir. Dia akan kecewa berat karena tidak bisa menikmati strawberi itu. Dia ngamuk, marah berat, aaaa…mengapa ada orang lain mengambil strawberinya? Mungkin orang lain itu tidak tahu kalau dia menyukai strawberi itu karena dia menyisihkannya, makanya dia makan. Yap, seakan-akan dia tidak menyukai strawberi itu padahal dia sangat menginginkannya. Ada pula yang akhirnya merelakan strawberi itu untuk dimakan orang lain karena orang lain itu memintanya. “Hey, kamu tidak suka strawberi itu ya? Kalau begitu boleh aku saja yang memakannya?”
“Oh, sebenarnya aku menyisihkannya untuk kumakan terakhir. Tapi kalau kamu menginginkannya, silakan.”
Wah, tipe ini malaikat sekali… tipe penyabar. Jadi ingat iklan pulpy orange. Mungkin orang yang memakan strawberi itu tipe oportunis. “salahnya sendiri tidak langsung dimakan” mungkin begitu pikirnya.
Untuk tipe yang ngambil strawberinya duluan, dia adalah tipe pejuang dan suka dengan kompetisi. Mereka akan berusaha menjadi yang pertama sebelum orang lain mendapatkannya. Jika dihubungkan dengan ekonomi mungkin tipe ini adalah tipe borrower yang persinggungan antara Budget Line dengan indifferennya ada di bagian kiri bawah titik endowment point. Ini dalam konteks teori konsumsi antar periode di mana seseorang diandaikan memiliki pendapatan dan konsumsi dalam dua periode. Apakah dia akan mengkonsumsi lebih banyak di periode pertama dan lebih sedikit di periode kedua atau sama kedua-duanya? Mereka yang mengkonsumsi lebih banyak di periode pertama berarti akan melakukan pinjaman untuk memenuhi konsumsinya di periode pertama dan membayarkannya di periode kedua sehingga di periode kedua dia mengkonsumsi lebih sedikit. Sedangkan mereka yang mengkonsumsi lebih sedikit di periode kedua adalah tipe saver. Mereka mengorbankan konsumsi masa skarang untuk masa mendatang. Nah inilah tipe yang makan strawberinya di akhir tadi.
So, tipe mana Anda? Hahaha…tulisan ini tidak terlalu kredibel, jadi jangan terlalu percaya. Ini hanyalah sedikit pemikiran yang tiba-tiba melayang di otak saya setelah menonton film tersebut yang pada endingnya ternyata kedua tipe tersebut akan bersatu dan saling melengkapi. Borrower tidak bisa hidup tanpa saver, begitu juga seorang saver butuh borrower untuk meningkatkan nilai investasi mereka.

Bali yang Terpotong (sebuah awalan)


Sore itu, sore yang sangat cerah menyambut saya di tanah Kaulan. Kaulan merupakan nama lain dari Pulau Belitung yang dahulunya merupakan sebuah kerajaan. Kerajaan ini bernama Kerajaan Balok yang merupakan afilisasi dari Kerajaan Mataram Kuno.
Asal nama Belitung konon diambil dari Pulau Bali yang terpotong. Menurut cerita rakyat, dahulu pada saat daratan Indo-Asia dan Indo-Australia masih menyatu, Pulau Bali dengan Pulau Belitung masih menjadi satu daratan. Karena pergeseran lempeng bumi, lambat laun pulau yang bersatu tersebut terpecah dan saling menjauhi. Yang pada akhirnya potongan itu sampai pada posisi di mana Pulau Belitung sekarang berada.
Sebelum pengaruh Islam masuk ke Belitung, dulunya penduduk Pulau Belitung merupakan masyarakat Hindu dengan Kerajaan Balok yang masih menganut ajaran Hindu, baru kemudian setelah masa pemerintahan Datuk Mayang Gresik atau lebih akrab dipanggil dengan Ki Ronggo Udo, kerajaan tersebut menjadi kerajaan Islam.
Sebelumnya memang banyak ditemui peninggalan-peninggalan kebudayaan yang mirip dengan kebudayaan Bali yang mengindikasikan bahwa dahulunya masyarakat Belitung memang masyarakat Hindu. Baru kemudian setelah pengaruh Islam masuk ke pulau tersebut, kebudayaan Hindu berangsur punah hingga saat ini masyarakat Belitung lebih dikenal dengan masyarakat Melayu Islam.
Mungkin karena alasan sejarah inilah di PulaU Belitung dibentuk desa yang kental dengan budaya masyarakat Bali. Desa ini merupakan desa yang dibentuk dari proses transmigrasi bedol di desa dari Bali ke Belitung sehingga desa ini disebut dengan Desa Balitong atau masyarakat setempat kadang menyebutnya dengan Trans-Bali. Desa itu kini masih kental dengan nuansa Balinya. Begitu kita masuk, kita akan merasakan seperti berada di Pulau Dewata. Bangunan-bangunan pura, sesajen, dan lain-lain yang mencirikan masyarakat Bali yang khas. Tradisi-tradisi mereka pun masih tetap terjaga, seperti Kuningan, dan tradisi khas Bali lainnya. Tak heran jika desa ini oleh pemerintah kabupaten dijadikan sebagai salah satu desa wisata yang menjadi daya tarik pariwisata di Pulau Belitung.
Ya, sore itu saya akhirnya bisa menginjakkan kaki lagi di pulau cantik ini setelah kurang lebih 45 menit perjalanan dengan Batavia airlines dari Bandara Soekarno-Hatta didampingi dengan seorang bapak-bapak yang menjadi teman cerita saya sepanjang perjalanan. Ia adalah orang asli Belitung yang "menginterogasi" saya seputar buku yang sedang saya baca di perjalanan dan tujuan perjalanan saya ke Belitung. Novel Yin Galema karya Ian Sanchin menjadi teman perjalanan saya mengenal bumi Belitung ini. Novel inilah yang kemudian menginspirasi saya untuk bisa menulis novel sejarah yang sedang saya riset dan belum saya mulai. (-_-')
Pukul 16.15 Bandara  HAS Hanandjoeddin telah ramai dengan para penunggu koper dan barang kiriman. Mereka berebut tempat untuk segera mendapatkan barang kiriman. Bapak-bapak dengan tampang sangar dan berseragam segera membelakangi saya yang dengan kalemnya menatap pemandangan serba ruwet tersebut. Ah, biarlah...saya nunggu belakangan aja daripada berebut (orang Jogja banget). Saya sendiri masih was-was karena sampai sekarang belum ada kabar apa-apa dari teman-teman yang menjemput di bandara.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya saya dapatkan koper saya! fyuh...
Di seberang kaca sudah ada bapak-bapak berseragam travel agent yang memegang papan dengan nama "Ms Wulandari". Apa? Nama saya bukan Wulandari. Itu nama teman saya yang datang juga hari ini dari Jakarta tapi sudah duluan. Apa Bapak ini salah? Saya segera mendatangi bapak itu.
"Pak, saya Wulan, tapi bukan Wulandari. Sama-sama mahasiswa KKN."
"Oh, mobilnya ada di sebelah sana mbak, mari kopernya saya bawakan."
Mobil kijang itupun akhirnya membawa kami meninggalkan bandara. Di sepanjang perjalanan bapak itu bercerita tentang Belitung dan sedikit mengajarkan saya beberapa kosakata bahasa daerah. Kebetulan waktu itu kami melewati jalan shortcut dari bandara menuju Kecamatan Sijuk yang dibuat oleh Tommy Soeharto yang juga memiliki salah satu penginapan mewah di Kecamatan Sijuk. Di sepanjang jalan tersebut saya menyaksikan berhektar-hektar perkebunan kelapa sawit milik PT..... Kondisi jalannya pun sudah rusak parah dan bergelombang karena setiap hari dilalui oleh truk-truk yang mengangkut hasil panen. Tidak jarang pula di tengah dan tepi badan jalan kami menjumpai biawak yang telah mati karena terlindas kendaraan. Lebih tepatnya saat itu kami seperti sedang offroad di sebuah sungai kering yang lebar. :P
Sampai di Desa Sungai Padang teman-teman sudah menunggu di depan pondokan. Inilah seutas senyum sambutan kali pertama kami di desa ini untuk kemudian selama dua bulan kami mengabdi. Masa-masa yang di kemudian hari akan sangat kami rindukan. Dan perjalanan pengabdian itupun dimulai.