Selasa, 19 November 2013

Living Under Uncertainty

“As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain; and as far as they are certain, they do not refer to reality.” ― Albert Einstein
The truth is that every single one of us lives in uncertainty. No one knows what’s going to happen next. We just occasionally like to pretend we do because it allows us to feel safe. (source)

Allah knows, Allah knows...
The one of certainty is death.

Why I post these quotes? Because currently I'm living in the uncertainty about conditions where I need to decide. Decide about something. We are uncertain about what will happen tomorrow. But Allah knows...and Allah will always guide us. Why we often careless, avoid Allah's guidance? It is so irrational, isn't it? How could we're being so stupid like that?

Ingin, Butuh, atau Pantas?

Mohon maaf untuk teman-teman yang sudah lama menanti share kajian Ustadz Syatori tentang tema ini ke dalam tulisan. Baru bisa menuliskan sekarang. ^^V Maaf juga ya, kalau terlalu panjang dan mungkin rangkaiannya masih keputus-putus. Semoga bisa nangkep intinya.
Intinya adalah apa yang menjadi dasar kita menikah? Apakah itu ingin, butuh, atau karena kita memang sudah pantas? Mari kita bahas di sini.
Pertama, menikah karena ingin. Ini adalah menikahnya orang yang susah dalam kesendirian. Ia membayangkan jika berdua ada kesenangan, kegembiraan, dan keceriaan. Maka yang ia kejar dari pernikahan adalah kesenangannya. Sejatinya kawan, menikah karena ingin itu seperti merokok. Merokok kelihatannya nikmat, padahal nyatanya tidaklah demikian. Merokok (menghisap asap) itu pahit dan merusak kesehatan bukan? Toh, kalau sudah habis kita akan membuangnya. Maka tidak ada lagi kenikmatan merokok yang ada di awal. Jadi, menikah dengan bermodal keinginan itu seperti menyulut bom waktu. Suatu saat ia akan menemui ketidakpuasan-ketidakpuasan di dalam pernikahannya.
Kedua, menikah karena butuh. Ini adalah menikahnya orang yang merasa harus menjaga diri. Biasanya ini dimiliki oleh orang yang merasa sudah punya kemampuan secara lahir dan takut terjerumus dalam dosa. Alasan ini terlihat rasional. Seharusnya menikah bisa jadi solusi untuknya, tapi karena kemampuan al ba’ah yang lebih, maka bisa tetap terjadi perselingkuhan. Al ba’ah dia adalah kaya financial tapi miskin secara spiritual, sehingga di kemudian hari muncullah ketidakpantasan-ketidakpantasan dalam dirinya.
Ketiga, menikah karena pantas. Ini adalah menikahnya orang yang sangat kaya spiritual, meski bisa jadi belum terlalu kaya secara material. Al ba’ah menurut Rasulullah sendiri tidak sekedar material, tapi juga spiritual.
Yang manakah kita? Mari kita telusuri lehih jauh lagi manusia seperti apakah diri kita sebenarnya saat ini?
Apakah kita manusia nafsu?
Apakah kita manusia akal?
Atau apakah kita manusia hati?
Siapakah mereka ini?
Nah, mereka yang menikah karena ingin inilah manusia nafsu itu. Ia adalah manusia yang tidak ingin dan memang tidak tertarik pada kebaikan karena sejatinya ia telah kehilangan jati dirinya sebagai manusia. Misal, tertarik karena kecantikan saja, bukan sebagai manusia. Sedangkan mereka yang menikah karena butuh adalah manusia akal. Ia adalah manusia yang menginginkan kebaikan tapi dirinya sendiri belum ada ketertarikan pada kebaikan. Karena menikah tidak hanya tergantung pada kekuatan akal. Hum…agak susah sih menjelaskannya. Kita ambil contoh mengenai konsep sabar. Jika ditanya, “Apakah kamu mau bersabar?” Ia menjawab, “Ya, saya mau.” Tapi kemudian ditanya lagi, “Apakah sabar itu enak?” Kemudian ia menjawab, “Sabar itu tidak enak.” Nah, ini adalah pernyataan orang yang tidak tertarik pada kesabaran, meskipun ia ingin. Seringkali orang logis (akal) itu menjadi sangat tidak logis. Ia menginginkan sabar, tapi ia menganggap bahwa sabar itu tidak enak. Nah, dengan anggapan seperti itu ia berarti telah membantah keinginannya. Tidak logis bukan, orang menginginkan sesuatu yang tidak mengenakkan? Ia menginginkan sabar yang menurut dia nggak menyenangkan gitu lho…seperti halnya menginginkan makanan yang tidak enak. Nah loh… Menurut akal yang lurus, seharusnya ia menganggap sabar itu enak. Tapi apakah sabar itu gampang?
O.O Humm….masih bingung?
Mari kita coba contoh kedua, tentang konsep “ikhlas”.
Apakah ikhlas itu baik? à mayoritas menjawab “ya”.
Inginkah kita menjadi orang yang ikhlas? à for sure, yes.
Misal contoh kasus gini, barang kita dipinjam orang dan ia kembali dalam keadaan rusak. Ikhlaskah kita menerimanya? Sebagian dari kita mungkin masih nggak rela. Kita ingin ikhlas, tapi saat itu ada kesempatan kita masih menggerutu. Logiskah kita pada keinginan kita untuk ikhlas?
Atau misal saat kita lagi kedatangan tamu yang nggak penting di saat kita lagi ada urusan yang sangat penting. Ikhlas nggak menerima dan menjamunya? Hehe…
Sekarang dibalik. Misal kita lagi laper banget, terus tiba-tiba ada orang ngasih makanan gratis, enak pula. Apakah kita logis jika kita malah menggerutu karenanya?
Nah…saya sendiri pas ustadz menyampaikan sampai di sini saya speechless…#makjlebjleb
Allah Maha Tahu kalau kita itu ingin bisa ikhlas, dan Allah ingin membantu kita dengan menghadirkan kejadian-kejadian itu tadi. Tapi seringkali kita menolak bantuan-Nya.
Ikhlas itu kaitannya dengan pengertian akan sebuah kejadian. Misal, pas beli buah, kita dapatnya malah kepasan yang udah kecut atau jelek. Orang yang ikhlas akan menjawab, “Alhamdulillah, untung jeruk kecut ini ada di saya, bukan orang lain.” Karena ia merasa bahwa dengan ia mendapatkan jeruk kecut itu ia telah menyelamatkan orang lain dari mendapatkan jeruk yang kecut, dengan orang lain itu tidak tahu kalau sedang dibantu.
Ketika kita mendapatkan kesenangan tapi dengan senang itu tidak ada keuntungannya untuk orang lain, maka kita telah berbuat zalim terhadap kesenangan kita itu. Bukankah orang yang ikhlas itu bahagia dengan kebahagiaan orang lain?
Hummm…oke, sekarang gini. Kita kepengin pahala yang besar nggak? Terus, manakah yang lebih besar pahalanya: senyum pada orang yang senyum, atau senyum pada orang yang manyun? Hehe…
Nah, kita tidak ingin masuk neraka bukan? Neraka itu tempat untuk orang yang berbuat dosa dan maksiat. Nah, apakah dosa dan maksiat itu sendiri sudah menjadi sesuatu yang sangat tidak menarik bagi kita? Atau justru kita masih menikmati dosa dan maksiat? Astaghfirullah…:’(
Oke, kita kembali ke masalah pernikahan.
Ijab Kabul itu sendiri adalah janji untuk menjadikan suami/istri menjadi satu-satunya laki-laki/wanita yang paling menarik untuk dirinya. Sedangkan manusia akal itu sendiri adalah ia yang tidak tertarik pada yang diinginkan, tapi tertarik pada yang tidak diinginkan. Karena itu manusia akal adalah manusia yang tengah berada pada kondisi yang tidak ideal atau sakit. Orang sakit meskipun lapar ia tidak enak makan bukan? Maka seringkali karena ketertarikannya melenceng dari janjinya, banyak manusia akal kemudian melanggar janji ijab kabul mereka.
Selanjutnya, mari kita lihat siapakah manusia hati itu?
Manusia hati adalah mereka yang menginginkan kebaikan dan memang tertarik pada kebaikan itu. Inilah manusia yang sudah pantas untuk menikah. Manusia yang perjalanan hidupnya telah sampai ke hati, karena sejatinya perjalanan hidup adalah perjalanan kita ke dalam, yaitu hati.
Kalaupun kita seringkali masih merasa pedih ketika bersedekah atau berbuat kebaikan untuk orang lain tapi yang kita dapat justru keburukan dari orang yang dibantu itu. Pedih di hati yang dirasakan itu adalah disebabkan oleh dosa-dosa kita. Dan saat itulah, selama kita tidak mengucapkan kepedihan itu/tetap memendam saja kepedihan itu di dalam hati, itulah indikasi Allah sedang menghapus dosa-dosa kita. . Kebaikan itu sendiri merupakan hal yang tidak berhenti pada satu kejadian saja, tapi ia punya sifat yang mengalir.
Perihnya menahan, tidak mengungkapkannya pada orang lain dan diterima saja kekecewaan itu, kemudian Allah akan menggantinya dengan kelapangan hati.
Sabar itu sendiri merupakan akibat dari beningnya hati, akibat dari lurusnya pikiran yang ada di hati kita, akibat dari kemampuan kita untuk bertahan lebih lama menghadapi masalah, untuk bertahan lebih lama dari masalah yang terjadi. Karena masalah dalam hidup ini tidak pernah lama, karena ia dating dari Allah Ar Rahman.
Adapun tujuan dari menikah itu adalah kesediaan untuk saling:
  1. Saling mengerti. Mereka yang sudah berlomba-lomba untuk menyalahkan diri sendiri, bukan saling menyalahkan. Karena ada saatnya yang benar itu tidak harus dijelaskan. Ia terkadang bisa dijelaskan melalui kesantunan dalam bersikap.
  2. Saling mendengar pikiran-pikiran pasangan hidup. Mereka yang sudah saling mengerti, tafahum, tidak diucapkan pun mereka sudah paham.
  3. Saling memperhatikan impian-impian pasangan hidupnya.
  4. Saling menyediakan diri sebagai “sayap” yang menerbangtinggikan pasangan hidupnya.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum: 21)
Lalu, kapan kita akan menjadi pantas untuk menikah? Ikhlas itu sendiri adalah sebuah proses bukan? Bagaimana kita bisa ikhlas jika tidak menjalani prosesnya? Begitu juga dengan menikah. Semua adalah proses yang dijalaniKepantasan itu sendiri adalah hal yang abstrak. Ia akan menemukan bentuk aslinya ketika sudah melakukannya.
Menikah, minimal kita sudah punya bakat kepantasan itu, tinggal temukan latihannya. Sedangkan latihan mengelola hati yang paling efektif adalah dengan menikah. Ini bisa menjadi pembuktian bahwa keinginan kita pada orang lain adalah selalu mengandung kebaikan untuk orang tersebut. Jadikan keinginan kita adalah untuk kebaikan orang lain dan buktikan bahwa itu memang baik melalui diri sendiri (teladan). Misal kita menginginkan agar pasangan kita bisa rajin shalat sunnah karena kita yakin itu baik untuk dirinya. Maka kita buktikan dengan diri kita rajin shalat sunnah dan bahwa itu baik untuk diri kita sendiri.
Jika ingin pasangan yang baik, jadikan diri kita baik dengan kekuatan yang lebih, dengan siapapun jodoh yang ditakdirkan nanti. Karena kebaikan itu sendiri adalah proses. Sejatinya persoalan menikah itu bukan dengan siapa kita akan menikah, melainkan dengan siapa saat kita sudah menikah. Ngerti nggak maksudnya? Coba didalami lagi…
Bisa jadi ada orang baik dapatnya jodoh yang kurang baik. Maka usaha dia adalah dengan mengusahakan dirinya sendiri lebih baik dengan kekuatan lebih dibandingkan  dengan mengusahakan pasangan agar lebih baik. Hum…ambigu kalimatnya. Maksudnya gini, sembari mengusahakan pasangan agar lebih baik, usaha untuk menjadikan diri sendiri lebih baik itu lebih keras gitu lho.

Oke, masuk ke konsep SAMARA
SAKINAH, itu ada dalam diri kita, karena ia adalah ketenangan. Keluarga sakinah berarti keluarga yang tidak menjadikan kesenangan dunia menjadi tujuannya. Tidak silau oleh gemerlap kesenangan dunia. Orientasi keluarga sakinah adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini berarti meletakkan kepentingan akhirat di atas kepentingan dunia. Misal, keluarga sakinah adalah yang menganggap perkara terlambat bangun subuh itu merupakan bencana yang lebih besar dibandingkan dengan perkara kehilangan mobil seharga jutaan. Simple kan? Karena urusan pertama adalah urusan akhirat dan yang kedua hanyalah urusan duniawi.
Keluarga sakinah menjadikan dunia sebagai jembatan menuju akhirat. Apapun selalu bernilai akhirat. Meletakkan pengertian-pengertian akhirat di atas pengertian dunia. Memahami bahwa susah itu menyenangkan: “Tiadalah seorang hamba yang sedang diuji Allah terhadap kesusahan melainkan dia sedang direncanakan oleh Allah untuk menjadi pribadi yang besar.” Ia tidak menyimpan kebencian sekecil apapun kepada sesame dan menganggap biasa segala yang biasa dan menganggap luar biasa segala yang memang luar biasa. Yang biasa itu dunia, dan yang luar biasa itu akhirat. Maka ia akan ringan mengatasi segala urusan dunia, dan akan tetap bisa mempertahankan ketertarikan kepada pasangannya saja. Sedangkan yang luar biasa itu urusan akhirat, urusan apa saja yang menimbulkan akibat untuk hidup sesudah mati. Keluarga sakinah itu sendiri tidak mudah terusik oleh urusan-urusan dunia. Pribadi sakinah memandang apapun sebagai jalan untuk ke surge.
MAWADDAH, melambangkan cinta ke langit. Cinta yang membuat kita dan yang kita cintai semakin mencintai Allah ta’ala. Gunakan apapun yang kita cintai untuk mengejar surga.
RAHMAH, mengasihi tanpa berharap dikasihi. Bahagia kita terasa pada saat kita bisa membahagiakan orang lain. Kita tidak mungkin bahagia sendirian karena bahagia sendirian itu aneh. Kenapa? Gini, kita nggak mungkin kan bahagia tanpa dibahagiakan? Nah, Kita juga tidak mungkin kan dibahagiakan sama orang yang belum bahagia? Maka sejatinya bahagia adalah membahagiakan orang lain.

Hosh…Alhamdulillah selesai. Semoga bisa paham dan bermanfaat.  ^_^

Jumat, 15 November 2013

"Uang Transportasi"

Ternyata emang gitu ya wartawan ecek-ecek itu?
Ya...nggak semuanya sih...tapi ternyata emang ada bener wartawan ecek-ecek itu.

Bilangnya sih minta uang transportasi, tapi "memeras" calon pembeli.
Hey, ini saya tidak sedang membicarakan jilbab hitam atau bunda putri.
Saya sedang membicarakan apa yang saya alami sendiri.
Bahwa mereka, yang ngaku kuli tinta, meminta suap dan saya terpaksa beri.

Walhasil?
Pemberitaan ditulis dengan seadanya.
Jika kemarin tidak kukasih, apa iya mereka masih mau memuatnya?
Begitukah jual-beli media?
Jijik gua...

Iya sih,
Berita yang disebarkan bukan perkara korupsi atau binatang najis ajnabi
Iya sih,
Beritanya tentang hal-hal positif yang memang seharusnya publik layak konsumsi
Tapi?
Saya hanya nggak suka sama proses mereka mencari bahan publikasi
Bukankah mereka seharusnya telah diberi code of conduct sebagai seorang kuli?

Uang transportasi
Hah, saya benci dengan diri sendiri karena saya sendiri yang bertransaksi
Uang transportasi
Ternyata sudah membudaya di negeri ini

Ya!
Semua itu dianggap biasa
Bahkan dianggap tidak sopan jika tidak memberi mereka
Bahkan sudah dianggarkan di setiap instansi-instansi pemerintahan
Bahkan transaksinya resmi tercatat di pembukuan

Uang transportasi
Praktek korupsi yang dilegalkan
Menyedihkan!

Yogyakarta, 15 November 2013
#sajak_status

Sabtu, 19 Oktober 2013

"Maukah kamu bersabar?"

"Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat." (QS.25:20)
 Ayat ini menjadi begitu berkesan bagi saya sejak 2010 kemarin. Saat itu saya masih kuliah S1 dan berambisi sekali untuk mengukir prestasi dalam bidang karya tulis ilmiah. Berbagai ajang perlombaan saya ikuti tapi berkali-kali pula mentok hanya sampai di finalis. Rasanya ingin sekali menjadi salah satu yang namanya dipanggil untuk menerima hadiah juara. Mungkin niatan yang salah inilah kemudian Allah belum mengizinkan saya untuk meraih apa yang diinginkan. Pada suatu ketika saya dan teman baik satu jurusan melihat tawaran lomba di UI. Saat itu bukan ambisi lagi bagi kami untuk mencari kejuaraan (karena sudah lelah, hehe). Ambisi kami adalah bahwa para finalis yang diundang ke Jakarta nanti akan ikut serta dalam diskusi perumusan usulan kebijakan untuk ekonomi Indonesia tahun berikutnya. Apalagi itu nantinya akan disampaikan langsung kepada ibu menteri. Kami hanya ingin itu saja sudah alhamdulillah kalau tercapai. Dan kemudian doa kami terjawab karena kami menjadi salah satu finalis yang mempresentasikan karyanya di Jakarta. Kami berdua sangat senang karena karya tulis yang dikerjakan dalam waktu satu hari dan dikumpulkan pada detik-detik terakhir deadline, juga tanpa editing sama sekali kok ya bisa lolos finalis dengan ajang yang menurut saya itu lebih bergengsi daripada ajang-ajang sebelumnya yang saya ikuti. Alhamdulillah ya...akhirnya impian kami ke Jakarta terwujud.
Singkat cerita menjelang keberangkatan kami harus menyiapkan materi presentasi. Malam sebelum keberangkatan, saya tilawah dan menemukan ayat ini yang dua kalimat terakhirnya mak jleb-jleb buat saya. Pas kondisi saya yang sebenarnya masih mengharapkan kemenangan dan pasrah jika memang nggak dapet, yang penting bisa ikut diskusi dan memberikan presentasi terbaik. Saat itu saya benar-benar seperti diingatkan oleh Allah, bahwa Allah melihat betapa kerasnya usaha yang telah kita lakukan untuk mencapai impian. Saat belum juga terwujud, Allah dengan begitu santun dan lembut menyapa kita, "Maukah kamu bersabar?" Tiada jawaban lain yang bisa terucap selain, "ya, saya mau ya Allah..."
Justru saat niat berangkat tidak begitu berambisi, Allah justru memberi hadiah juara itu. Bahkan lebih dari itu, persahabatan dengan rekan-rekan dari berbagai penjuru universitas di Indonesia.
Saya teringat dengan nasihat salah seorang murobi waktu dulu di SMA, kalau lagi sedih atau dalam masalah coba buka Al Quran secara random dan baca sampai puas dengan artinya juga. Biasanya Allah akan menyelipkan solusi di situ. Tadi malam pula saya menemukan ayat ini kembali dalam tilawah. Pas kok ya kondisi hati sedang galau karena sesuatu. Malam ini mungkin kondisinya beda dengan malam yang dulu saat pertama kali tersentuh oleh ayat ini. Kalau dulu saya terhenyaknya oleh dua kalimat terakhir, sekarang oleh tiga kalimat terakhir. Jadi:
"Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat." (QS.25:20)
Seakan Allah memberi tahu langsung kepada saya bahwa kamu ini sedang diuji dengan adanya orang lain itu.
"Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain"
Segala tingkah lakunya mungkin bisa menjadi ujian bagi kamu untuk bersabar dan sekuat tenaga bersabar. Kemudian Allah lagi-lagi bertanya pada kita dengan lembut, "Maukah kamu bersabar?" Allah Maha Melihat kok apa yang sudah kamu usahakan. Allah sudah menghitung kok berapa kali kamu jatuh bangun. Allah cuma menawarkan pada kita, "Maukah kamu bersabar?"
I DO!
Kemudian tiada lain yang bisa terucap selain doa agar Allah senantiasa membimbing kita dalam kesabaran dan keistiqomahan. 
Yakin deh, Allah akan senantiasa memberikan jawaban-jawaban terbaik dari setiap doa-doa kita.

Selasa, 18 Juni 2013

Masih tentang BBM (lagi)

Masih nyambung dg post saya tetang BBM sebelumnya. Ini nih ada SALAH SATU studi dari Pak Dartanto mengenai subsidi BBM di Indonesia pengaruhnya terhadap fiskal sama kemiskinan.
Ini dia link-nya.
Copas aja sih dari ringkasan salah seorang senior di jejaring sosial. Bilang aja males baca. Hehe... Eh, tapi sebelumnya saya sempet review nih jurnal kok buat kerjaan. Ciyus. Tapi lupa, karena pada akhirnya yang dipakai bukan CGE. Ya sudah, lupakan.
Intinya gini.
Dengan menggunakan CGE-microsimulation, hasil risetnya menunjukkan bahwa jika subsidi BBM dikurangi 25 persen saja maka bisa berdampak pada peningkatan jumlah penduduk miskin 0,25 persen
Sementara itu, kalau subsidi BBM dicabut 100 persen, dan 50 persen'nya dialihkan untuk belanja infrastruktur atau dalam bentuk subsidi lain (produktif) justru bisa mengurangi jumlah penduduk miskin 0,27 persen.
Nah, itulah mengapa pemerintah menerbitkan yang namanya P4S (Program Percepatan dan Perluasan Perlindungan Sosial_huft...sambil ngos-ngosan ngejanya -,-) dan BLSM itu tadi. P4S isinya macem-macem: BSM (beasiswa siswa miskin), PKH (program keluarga harapan), raskin, ada juga yg buat infrastruktur khususnya air bersih. Gitu...what the goverment want to do is to re-allocate the subsidies to the right one, re-address itu lah. Kalo boleh ngaku-ngaku, saya ikut buatin draft pedomannya lho...(meski cuma ngrecokin doang sih...hehe -,-')
Naah lagi, sekarang tugasnya anak muda nih, mengawasi dan memastikan pelaksanaannya tepat sasaran dan efektif. Saya bilang mahasiswa aja lah ya, karena saya juga masih bau-bau mahasiswa kok (hehe :P)/
Jadi itu, sekarang bukan saatnya turun ke jalan lagi membuat anarki dan kemacetan. Tapi sekarang saatnya turun ke desa-desa, kecamatan. Turun ke masyarakat langsung kalau berani! Turun ke slum areas, pasar-pasar becek, antrian panjang di kantor pos dan titik pembagian raskin, dll. Jika hanya berani teriak di jalan tapi masih males kalo turun ke masyarakat, ah, itu belum mahasiswa yang sesungguhnya.
Gitu kawan...yap, sekarang saatnya teman-teman di BEM siapkan massa untuk turun ke masyarakat, kecamatan, desa-desa, pos-pos pembagian BLSM, raskin, KPS, dll. Ini perlu banget diawasi lho...trus lakukan studi apakah mereka merasakan manfaatnya atau nggak. Buktikan bahwa mereka jadi malas atau ketergantungan kalau sebelumnya kalian berargumen begitu. Laporkan jika ada hal-hal aneh ke pihak-pihak berwenang atau melalui media massa juga oke.
Sudahlah, keputusan untuk menaikkan harga BBM sudah disepakati di paripurna kan...akan sangat costly dan tambah costly sekali...kalau masih berusaha protes dan minta uji materi lagi oleh DPR. Justru nanti jatuhnya bakal memperburuk keadaan karena memaksa pemerintah lebih lama dalam ketidakpastian. Ngerti dong ya...
Salam satu jiwa!

Minggu, 16 Juni 2013

Cerita Tentang Kelompok Transgender di Jakarta

Sekedar sharing...
Mendengar transgender mungkin agak gimana gitu ya di telinga. Iya, mereka tetap perlu didampingi.
Pertama, tentu terkait agama lah ya, dan itu tidak perlu didebat lebih jauh.
Kedua, bahwa mereka adalah warga negara yang harusnya mendapatkan haknya sebagai warga negara kan ya. Terutama terkait akses layanan publik. Jadi itu, dari hasil seminar saya kemarin, ada paper tentang isu ini. Ceritanya gini. Kelompok transgender di beberapa wilayah kodamadya di ibukota itu sebagian besar mereka tidak memiliki KTP. Padahal hanya dengan itu warga negara bisa mendapatkan akses layanan publik yang lebih luas, terutama untuk mereka yang sebagian besar harusnya masuk ke dalam kategori miskin.
Kenapa?
Gini, mereka kebanyakan pindah dari tempat tinggalnya karena penolakan dari keluarga dan lingkungan asalnya. Mereka minggat tanpa pendidikan dan bekal yang layak. Kebanyakan di usia muda, belum punya KTP atau tanpa surat keterangan domisili atau pindah. Kebanyakan hanya lulus SD/SMP, ada juga yg SMA.
Nah, untuk mengurus KTP mereka kesulitan karena tidak ada surat keterangan pindah itu tadi, kalau mau ngurus di alamat asalnya pun mereka juga sering ditolak karena tidak diakui. Ada juga yg dapet tapi itu dengan menyogok petugas dan itu pun dikasih dengan nomor kode orang lain (ditipu). Akhirnya KTP itu pun tetap tidak bisa digunakan untuk akses bantuan-bantuan pemerintah.
Guys, meskipun mereka dalam pandangan agama seperti itu, tapi mereka juga makhluk Allah yang membutuhkan kasih sayang Allah dan cahaya cinta-Nya. Kita tidak tahu tentang akhir hayat diri kita sendiri apalagi mereka. Don't judge them from their current condition. They simply can change into the better one, with the guidance from Allah.
They're still need us.
Contribute more, the best we can do.

Tentang BBM Lagi

Ya, saya masih pada pendapat saya sebelumnya. Mendukung kenaikan harga BBM, dan pengurangan subsidi BBM agar dialihkan ke program-program penanggulangan kemiskinan.
Umm, untuk hal ini saya akui, saya masih cupu banget dalam hal pengetahuan ekonomi dan rasanya sangat sombong jika saya mengatakan sebagai orang yang terlibat tidak langsung dalam proses di tingkat kebijakan negara. Tapi yang namanya orang belajar, sah-sah saja kan ya memberikan pendapat. Ini tidak ada kaitannya dengan analisis politik. Ciyus! Koreksi boleh-boleh banget kok...namanya sharing knowledge kan ya... (peace maker banget ^^V)
Pertama, saya agak heran dengan pendapat salah seorang adik angkatan di sebuah organisasi tingkat kampus yang mengatakan bahwa subsidi untuk rakyat miskin dalam bentuk BLSM (semacam BLT gitu) yang HANYA turun dua kali untuk lima bulan itu justru yang memanjakan dan membuat rakyat malas. Gini, lebih memanjakan (membuat malas) mana subsidi harga BBM yang segitu banyaknya dan nggak kebanyakan malah dinikmati orang kaya dibandingkan subsidi untuk rakyat miskin itu? Dua, jangan ge-er dulu, BLSM itu sifatnya sementara hanya untuk mempertahankan daya beli masyarakat miskin selama terjadi kenaikan harga BBM. Toh, dalam jangka panjang mereka pun ada programnya sendiri. Jadi program untuk orang miskin itu dibedakan jadi dua: program untuk menanggulangi immediate impact (program jangka pendek) dan program jangka panjang. Nah, program jangka panjang inilah yang ibarat kata tidak langsung memberi ikannya tapi memberi kailnya. Misal para mantan TKI di daerah Tj.Priok nih, mereka dikasih modal skill dan alat-alat modal lain untuk buka usaha sehingga mereka tidak bisa berangkat lagi jadi TKI gitu.
Perlu diketahui, tentu, dan itu hampir niscaya, saya pun sudah membuktikannya lewat skripsi saya kemarin, bahwa kenaikan harga (misal pangan dan BBM) itu akan meningkatkan angka kemiskinan di suatu negara, citeris paribus. Kita melihat efeknya dari dua sudut pandang: efek langsung dan tidak langsung. Efek langsung inilah yang ingin ditanggulangi dengan program BLSM ini agar angka jumlah orang yg jatuh ke lubang kemiskinan atau makin parah miskinnya itu nggak banyak-banyak amat dan nggak parah-parah amat gitu lho. Itulah mengapa programnya didesain cuma sementara. Jadi yg BLT kemarin kok malah diterusin sama SBY itu semata-mata urusan politik, tidak masuk dalam analisis ekonomi sebelumnya. -,- Ya, silakan tepok jidat dulu kalo mau.
Nah, didesain sementara itu ya biar itu tadi, nggak bikin malas-malas banget. Karena dalam jangka panjang perilaku orang tentu akan lebih adaptatif dalam kondisi kekinian. Pas awal-awal harga naik mungkin mereka shock dan bingung gitu lho mau nyari tambahan uang kemana. Tapi dalam jangka lebih lama, ekonomi secara keseluruhan bisa smooth dan saling menyesuaikan (istilah kerennya, new equilibrium). *terlepas dari perdebatan klasik dan neo-klasik ya...-,-*
Jika sempat ada beberapa alasan tokoh politik menolak kenaikan harga BBM karena penimbunan dan ada beberapa politikus negara yg bermain curang di sana, itu beda lagi urusannya sama analisis ekonominya mengapa urgent banget untuk dinaikin tuh harga. Itu adalah masalah kelembagaan proses peneluran kebijakan itu. Jadi kalo itu masalahnya fokus saja lah di sana dengan upaya pencegahan dan mekanisme agar hal itu dapat dihindari.
Jika khawatir itu jadi politik mendulang suara dengan BLSMnya, humm...sebenarnya kan mau naikin BBMnya udah dari kemarin nih, tapi diulur terus sama beberapa politisi yang tidak sepakat. Jadinya diundur terus dan jadinya baru kejadian menjelang pemilu ini kan, jadi ituh kesannya kayak politik mendulang suara gitu. Padahal ide awalnya bukan banget. Murni karena itung-itungan ekonomih. Saya melihat sendiri bagaimana orang-orang di belakang meja itu riweh siang malam kaji ini kaji itu, teliti ini teliti itu. Program-program penanggulangan kemiskinan itu tidak tiba-tiba keluar begitu aja, tapi semua berdasarkan hasil riset akademik, dan itu tidak hanya kuantitatif, kualitatif juga, dan tidak hanya dilakukan satu lembaga/pihak saja, tapi sering juga pemerintah minta bberapa lembaga lain untuk lakukan kajian agar melihat hasil kajian dari berbagai sudut pandang. Itu masih belum selesai. Masih harus diajukan dulu ke rapat kabinet dan tetek bengeknya. Di situlah proses politik mulai. Kadang orang di belakang meja pada sebel kan ya udah capek-capek teliti setengah mati, eh, jatuhnya yang keluar jauh panggang dari unsur akademik, malah kebanyakan politik. Ugh...gap inilah yang sangat menyebalkan. *sok teu aye*
Jadi kawan, saya kira yg perlu banget diawasi oleh mahasiswa skarang adalah justru pengawasan mengenai program-program penanggulangan kemiskinan itu sendiri. Di lapangan masih banyak terjadi kebocoran, masalah, dan banyak hal. Awasi proses pembayaran dan penyalurannya, Siapa saja yg belum dapat. 
Atau justru kalau mau melakukan pendampingan ke kelompok-kelompok marjinal misal, para transgender yang tidak punya KTP karena selalu ditolak keberadaannya oleh pemda setempat karena masalah kartu identitas sehingga tidak bisa mengakses layanan publik. Atau penduduk urban di slum-area yang ditipu mengenai kepemilikan tanah mereka sehingga tahu-tahu mereka harus digusur oleh pemerintahnya sendiri. Atau tentang program bantuan yang banyak bermunculan di daerah tapi diaku-aku oleh banyak pihak yg sebetulnya tidak bekerja apa-apa tapi menikmati duitnya. Lebih dekatlah dengan mereka. Para pemangku kebijakan sedang bekerja keras melakukan yang terbaik sebisa mereka. Tapi ada beberapa agent (pelaku) di bawah atau di sampingnya yang tidak seindah yang mereka harapkan. Itu lho yang perlu jadi perhatian kita itu. Tidak terpaku terus di atasnya, tapi juga di level bawah di tingkat pelaksananya yang kadang dan seringkali terjadi gap informasi antara pusat dan daerah.
Ya gitu deh.


Kebon Sirih, 10.46 sepulang dari slum-area daerah Tanjung Priok.
Di kamar kos, sambil memprsiapkan mental menyaksikan kemacetan esok hari.