Jumat, 03 Agustus 2012

Cahaya Delapan Lentera (Antologi Cerpen)

Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Barry Irama, Rizal Faoji, dkk

"Satu cerita cahaya lentera, inspiratif. Cerita lentera lain, berkarakter. Ada lentera yang menyuguhkan konflik yang menarik, ada yang mengalikan alur dengan lancar, dan ada yang menyuntikkan semangat. 
'Vision without execution is a daydream, execution without vision is a nightmare. So, what is the truth?' Cahaya 8 Lentera akan menjawabnya."
(Kun Geia, Penulis Novel "The Lost Java")


Delapan lentera itu bukan sesuatu yang magis. Mereka hanyalah sosok yang menebar cahaya kebaikan dengan menulis. Bukan hanya kata-kata yang puitis, tetapi juga pesan keindahan yang manis.
Ibarat delapan binang yang ada di rasi pohon willow musim panas. Lentera itu selalu memancarkan cahaya. Cahaya yang tak berdimensi, tak berdinding, dan tak terbatas. Cahaya itu bersinar ke semua elemen kehidupan. Memantik semangat untuk bermimpi. Memanaskan gairah berkarya. Membuka cakrawala.
Delapan lentera berpadu dalam melukis siluet cahaya yang indah. Pesonanya memikat hati siapa saja yang memandangnya. Merasuk hingga pori-pori kalbu dan jiwa. Ragam warna cahayanya sangat eksotis. Ada yang memancarkan keindahan bersama sang Bunda tercinta. Ada yang memendarkan cahaya kekuatan melalui sebuah usaha bersama sang Ayah. Ada pula yang berbagi kisah kasih bersama sahabat dan teman dekat, lalu terpancarlah cahaya persahabatan. Selain itu, ada juga cahaya imaji yang berkilau begitu memukau melalui jejak perjuangan dalam meraih mimpi, dalam menggapai sebuah prestasi.
Bersiaplah menikmati keelokan Cahaya Delapan Lentera!


190 hal + i-xii
14,5 cm x 20,5 cm
ISBN 602898179-6
Penerbit Deepublish

PEMESANAN:

Nurul Fajriyah (085726182673)
Yuris T. Saputra (08995138419)

Kamis, 26 Juli 2012

Jogja-Jakarta-Karawang-Ciamis di Bulan Juli

Bulan ini adalah bulan di mana saya melewati ulang tahunnya yang ke-23 di sebuah kereta menuju Jakarta dengan dinyanyikan lagu "wer-ewer-ewer" oleh seorang waria yang tiba-tiba datang di dekatnya. Sore itu sawah-sawah telah menguning dengan warna senja di ujung barat.
Sebenarnya keberangkatan saya ke Jakarta juga sebagai penghilang "sedikit kekesalan" yang berkecamuk di hati. Biarlah, perjalanan yang melepas kesedihan itu. Satu motif lain lagi selain tujuan utama perjalanan adalah karena saya ingin secara random bertemu dengan seseorang yang sedang sangat ingin saya temui saat itu. Mengucapkan kata, "Hi, long time no see" or just smile. Setidaknya dengan kepergian saya itu saya mendapatkan 1% probabilitas itu. Mungkin kurang. What I really want to say to "him/her" is "thank you so much!".
Nyatanya memang saya tidak bertemu kemarin. Tapi saya menemukan banyak hal-hal baru. Terutama tentang kegentingan orang-orang Jakarta. Tentang perjalanan dengan sekelompok orang tak dikenal dan berbicara dengan bahasa yang tidak saya pahami sama sekali, tapi mereka kelihatan bahagia.
Malam itu saya berada di sebuah mobil menuju Ciamis, tepatnya Rajadesa. Saya beserta dua orang teman duduk di jok paling belakang. Di jok tengah ada dua orang pemuda kira-kira berumur 20an tahun. Di jok paling depan ada seorang sopir dan seorang temannya sopir yang mirip seperti salah seorang artis komedi Indonesia. :P
Saya dijemput di sebuah mushola di depan Stasiun Jatinegara usai maghrib. Dua orang teman saya, sebut saja De dan Phun sudah berada di mobil. Kali ini kami akan dibawa dulu ke Grogol. Sepanjang perjalanan saya mengawasi pemandangan kota Jakarta yang mewah itu. Rasanya seperti orang udik yang baru melihat Jakarta. hahaha... Lampu-lampu di jalan dan gedung bermain-main di mata saya. Ini seperti sebuah pertunjukan kembang api yang dipuisikan. Dalam hati saya menyenandungkan salah satu lagu favorit, "You Belong to Me"-nya Jason Wade. Apakah suatu saat ada orang yang akan menyanyikan lagu itu untuk saya saat saya sedang melakukan perjalanan jauh?
Jika orang-orang bilang bahwa LDR itu sulit dan sakit. Justru saya sangat ingin merasakan hal itu untuk beberapa saat. Saya ingin merasakan kerinduan yang amat sangat pada orang yang dicintai yang berada di tempat yang jauh dari kita. Dan pertemuan itu akan berakhir dengan happy ending. Hehe
Kembali ke mobil van menuju Grogol tadi. Saya mulai terkantuk-kantuk di mobil itu. Setelah saya bangun tiba-tiba kami sudah berada di suatu daerah yang disebut slum area yang mungkin masih di pinggiran Jakarta. Tiba-tiba lagi kami sudah berada di perumahan padat di pinggiran rel kereta api. Beberapa lama kemudian kami sudah berada di perumahan lain. Saya berusaha melihat jam tangan yang tidak kelihatan karena gelap. Ternyata sudah menunjukkan pukul 12 malam. Phun bertanya pada sopir,
"Pak, masih jemput berapa orang lagi?"
"Masih 6 lagi neng. tambah motor juga."
APAAA???? Ini sudah larut malam! Masih juga jemputin orang??? Dan itu 6 orang! Di mobil sudah ada 6 orang! Saya mulai memperkirakan posisi duduk kami masing-masing. Hanya ada dua jok lagi yang tersisa untuk orang bisa duduk secara manusiawi. Tapi ini 6 orang??? Tambah motor pula! Pikiran buruk mulai menyeruak di alam pikiranku. Jangan-jangan kami mau diculik. Karena dari tadi yang dijemput adalah orang laki-laki semua. Hanya kami bertiga yang perempuan sendiri di mobil itu. Saya mulai memikirkan jurus-jurus untuk melarikan diri jika saat menegangkan itu tiba. Saat dimana kami disekap, kemudian dibuang atau dimusnahkan atau...ah, khayalan menyeramkan mulai bermunculan di otak. Tapi rasanya kewaspadaan itu segera dikalahkan oleh rasa kantuk dan lelah yang teramat sangat. Lelah karena harus duduk berdempetan setelah ketambahan satu orang laki-laki di jok kami. Saya duduk di tengah kedua teman saya yang sama-sama menyandarkan kepalanya di bahu saya (kanan dan kiri). Mau bergerak saja susah sekali. Mau mencari posisi tidur yang nyaman hampir mustahil. Akhirnya saya tertidur juga dengan posisi kepala tanpa sandaran dan kadang kerkantuk-kantuk ke jok depan membuat kepala yang sedang migran tambah sakit. Rasa lapar karena belum makan malam harus kami tahan dan berharap mobil ini akan berhenti di rumah makan. What the journey...
Pukul 2.15 dini hari. Kami sudah berada di daerah Karawang. Ah, ini mengingatkanku pada puisi Chairil Anwar "Karawang Bekasi".


KARAWANG BEKASI

Oleh: Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
(Yang Terempas dan Yang Putus, Pustaka Rakyat, 1949)


Ya, rasanya mereka yang terbaring di antara Karawang-Bekasi itu berbicara kepada saya dalam malam hening itu. Angin dari luar jendela menerpa wajah yang telah bangun sambil mengucap syukur bahwa kami telah berada di Karawang dan seketika melupakan fantasi kejadian penculikan itu. Kami memasuki perkampungan padat di sekitar sungai yang diapit oleh dua badan jalan. Kemudian berhenti di depan rumah bercat pink-hijau yang ternyata sudah ada seorang wanita paruh baya menunggu di sana. Ia mengenakan daster tidurnya sambil tangan kanannya mengapit seputung rokok yang menyala. Sebentar-sebentar ia hisap rokok itu. Tiba-tiba pikiran jahat menyeruak lagi. Apalagi mereka berbicara dengan bahasa Sunda. Tidak satupun dari kami bertiga yang paham akan bahasa itu. Jangan-jangan mereka merencanakan sesuatu... Dalam hati saya berbisik, waduh, jangan-jangan kami mau diculik untuk dijual melalui wanita ini kemudian kami dijadikan pelacur...haaah...???
Saya berusaha untuk bersikap sewajar mungkin dengan tetap waspada. Mobil sepertinya akan berhenti agak lama. Maka saya turun sebentar dari mobil sambil meregangkan otot-otot dan menghirup udara luar. Saya mengambil duduk di pinggir jalan sempit itu. Beberapa wanita lain sudah mulai bermunculan dari rumah itu. Mereka semua masih muda. Bercelana pendek dan kaos ketat pendek menampilkan lekuk-lekuk tubuh mereka yang ramping. Juga seorang anak kecil yang muncul di sela-sela mereka. Saya hanya melihat pemandangan bagaimana para lelaki di mobil itu saling bahu-membahu berusaha untuk memasukkan motor ke dalam mobil. Gila! Saya semula memprediksi bahwa pintu belakang mobil tidak akan bisa titutup rapat karenanya. Ternyata setelah dengan berbagai uji-coba posisi, mereka bisa! Motor berhasil dinaikkan dengan sempurna. Selanjutnya si bapak sopir menyuruh saya masuk ke mobil lagi dengan bahasa Sunda yang kurang lebih saya tahu artinya bahwa saya harus masuk mobil lagi. Saya pun harus kembali menghadapi "siksaan mobil" itu. Di luar ibu paruh baya itu berpamitan dengan para gadis muda yang berada di balik pagar. Sementara si anak kecil itu menangis sekeras-kerasnya. Ternyata ia harus berpisah dengan para gadis muda itu yang ia panggil sebagai "kakak". Anak itu terus menangis sambil berteriak, "kakaak...kakak...". Jok depan telah dikosongkan. Ternyata jok depan itu diperuntukkan untuk ibu dan anak itu dan seorang pemuda yang kelihatan masih remaja kira-kira usia SMP-SMA plus sopir. Di jok tengah kini sudah ada empat orang laki-laki muda. Di jok belakang ada kami bertiga dan seorang laki-laki di samping Phun dengan kaos merahnya dan rambut gondrongnya. Sementara dua orang laki-laki berada di bak belakang untuk menjaga motor. Mereka duduk lesehan. Lengkap sudah susunan penumpang mobil van yang kemudian kami bertiga sebut dengan van mikrolet karena semua-muanya bisa dimasukkan di sana.
Pukul 2.45 perjalanan ke Ciamis baru saja dimulai. Saya terlelap lagi sepanjang perjalanan.
Pukul 4.30 kami tiba di Bandung. Berhenti di sebuah rumah makan untuk makan (pagi atau malam?) dan shalat subuh. Pagi itu seluruh penumpang kelihatan sangat kuyu, termasuk diri saya.
Kira-kira 45 menit kemudian kami berangkat lagi. Kali ini saya tidak tidur dan hanya memakan camilan yang telah saya beli di rumah makan tadi. Kenangan Kota Bandung mulai muncul lagi di benak. Kenangan akan stasiun yang menurut ssaya bagus, juga kenangan akan perjalanan yang "kurang mengasyikkan" jika tidak bisa disebut annoying. Beberapa jam kemudian kami telah berada di Tasik Malaya. Saya berusaha mengetahui posisi kami dengan melihat plakat-plakat di sepanjang pinggir jalan. Atap mobil yang pendek membuatku harus menunduk untuk melihat keluar. Rasanya mobil ini melaju dengan kencang karena saya seringkali harus terbata-bata membaca tulisan di plakat tidak sampai selesai karena mobil sudah melaju ke depan lagi. Nuansa persawahan yang menghijau di pagi hari yang dingin memenuhi mata saya. Kedua teman saya masih tidur. Sementara para penumpang di depan bercakap-cakap dengan serunya sambil tertawa-tawa. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena mereka menggunakan bahasa mereka sendiri (Sunda). Saya tersenyum melihat pemandangan itu. Mereka kelihatan seperti satu keluarga. Seketika suasana lelah dan suntuk tadi malam berganti dengan kecairan yang menenangkan pagi itu. Ternyata sejak wanita itu berada di mobil, suasana mobil jadi hidup.
Oya, ada hal yang sangat saya herankan dari penumpang di mobil itu. Hampir di setiap tempat yang dilewati, mereka menyapa orang dengan teriakan akrab seperti teman sendiri. Seperti yang dilakukan oleh wanita itu yang menyapa beberapa pemuda di pinggir jalan masih di Karawang dini hari. Ia sapa dengan bahasa Sunda yang terkesan akrab. Kemudian Pak Sopir menyapa beberapa orang di Tasik Malaya saat melewati pasar yang agak padat. "Woi! #$%@&&*&%@!^%...dst" entahlah pokoknya pakai bahasa Sunda juga. Ini kami sedang berada di dunia manakah? Mengapa mereka berteman dengan siapa saja dan menyapa siapa saja? We were in a very strange world...
Tempat yang kami lalui mulai menunjukkan daerah pedesaan seperti di daerah Tegal. Jalan mulai berkelok-kelok. Pemandangan mulai dipenuhi dengan sawah, bukit, dan hutan. Rumah-rumah yang ada tampak seperti rumah adat. Saya seketika berucap syukur saat menemukan sebuah plakat di pinggir jalan bertuliskan Ciamis. Finally...
Jalan yang dilalui semakin sempit dan primitif. Semakin banyak pula orang yang disapa oleh pak sopir.
Sampai di tempat tujuan, kami disambut oleh seorang bapak yang kemudian mengantarkan kami ke sebuah rumah di tepian sawah dengan berjalan kaki. Di rumah itu seorang ibu shalihah yang begitu ramah menyambut kami. Ia kemudian mempersilakan kami untuk istirahat di kamar yang telah di sediakan di bagian belakang. Sebuah kasur lebar menyapa kami dengan begitu manisnya. Udara sejuk di pinggiran sawah dan kasur empuk. What the heaven...
Siang hari kami sudah harus berangkat lagi untuk mengejar angkutan yang bisa membawa kami sampai terminal terdekat. Dengan jalan kaki kurang lebih 1,5 km di jalanan berbatu, akhirnya kami mencapai jalan raya. Tidak ada halte, kami duduk di pinggir jalan menunggu kedatangan angkutan. Kata orang sekitar kira-kira 45 menit lagi ada angkutan. Perut keroncongan, saya isi dengan semangkuk bakso yang berada di seberang jalan sambil menunggu angkutan datang. Posisi duduk di pinggir jalan itu persis seperti gelandangan yang membutuhkan santunan! hahaha...
Satu mobil sebenarnya pernah menghampiri kami dengan plat AB menawarkan tumpangan. Tapi entah mengapa dengan begitu bodohnya secara spontanitas orang Jogja, saya menolak halus tawaran itu dengan alasan mau menunggu angkutan saja. Dua orang teman saya tercengang melihat saya. Hahaha...
Karena lama menunggu, kami sempat berinisiatif jika ada truk yang lewat kami akan naik truk itu! Sempat ada satu truk lewat, tapi tidak mau berhenti karena penuh muatan. Mungkin sopir truk itu berpikir, mau ditaruh di mana kalian, mau naik gimana caranya, pakai rok gitu...
Akhirnya angkutan yang dinanti tiba juga tepat waktu. Mobil sudah agak hampir penuh. Tapi masih muat untuk kami bertiga. Penumpang lain juga banyak yang membawa bawaan khas pasar. Sebagian besar penumpangnya adalah wanita. Dan hampir semuanya berkerudung. Hanya satu orang yang tidak. Kami melewati jalan yang sama dengan tadi pagi. Kali ini dengan mobil dan orang-orang yang berbeda. Sempat terbersit keinginan suatu saat bisa tinggal di sini.
Sampai di terminal Ciamis yang sederhana. Kami bergegas menuju agen bus ke Jogja. Ternyata bus ke Jogja berangkat jam 7 malam. Saat itu baru jam 4 sore. Untungnya agen itu menyediakan tempat duduk bekas jok bus yang nyaman untuk para calon penumpang yang sedang menunggu bus.
Hari kemudian mulai berganti senja. Silih berganti orang datang dan pergi dari kios agen itu. Kami bertiga menghabiskan waktu dengan nyemil, baca buku, ngobrol, dan sesekali tidur. Menjelang maghrib tiba-tiba ada sekelompok anak kecil bermain-main di depan kios. Mereka berlari dan bergulat satu sama lain. Mulai datang pula seorang anak kecil perempuan bersama seorang kakaknya. Nama mereka Fatimah dan Sayidah. Phun akhirnya mulai akrab dengan mereka dan mengajak mereka bermain bersama. Orang-orang di kios hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Itu seperti saat kami berada di masjid melihat orang ngajar TPA. Hihihi...
Pukul 7 akhirnya bus yang dinantikan datang. Saatnya kembali ke Jogja...
Angin dingin di Ciamis telah menyapu kenangan perjalanan kami.

Kamis, 31 Mei 2012

Karut Marut Pertambangan Indonesia


Saya tergerak untuk menulis ini karena teringat dengan sebuah pulau kecil yang beberapa bulan lalu memberikan pengalaman berharga bagi kehidupan saya hingga saat ini. Pulau kecil yang dulu dikenal sebagai Bumi Timah Kaulan itu, kini dikenal dengan pulau kecil yang memiliki sejuta pesona pantai pasir putih dan batu granitnya. Pulau Belitong. Sejak mendengar berita beberapa waktu terakhir ini, saya cemas pada nasib orang-orang yang pernah menjadi sahabatku di sana. Mereka yang setiap pulang sekolah menambang ke kulong. Mereka yang ketika laut tidak memungkinkan bagi mereka untuk mencari ikan, mereka akan pergi ke kulong atau berkebun karet dan sawit. Hampir semua kulong (tempat penambangan timah) di desa yang saya singgahi itu adalah illegal. Itu adalah pertambangan rakyat tanpa izin. Setiap ada polisi yang datang harus mereka sogok agar mereka bisa tetap aman meneruskan usaha tambang mereka, yang sebenarnya itu adalah tambang sisa! Mereka hanya mengais sisa dari penambang-penambang besar yang dulu pernah mengeruk habis cadangan timah di bumi timah itu! Ya, mereka itu hanya mengais!
Kemudian sejak aturan kementerian ESDM keluar dengan UU no. 4 tahun 2009 nya itu, para penambang mineral, yang salah satunya adalah timah dan nikel (yang banyak terdapat di pulau itu), berusaha memacu sebesar-besarnya ekspor mereka sebelum tahun 2014 nanti ketika ekspor barang tambang mineral dalam bentuk mentah itu tidak diperbolehkan lagi. Akibatnya harga barang tambang mineral mentah beberapa waktu terakhir turun drastis dari sebelumnya. Para penambang kulong itu, yang tadinya sehari bisa mendapatkan keuntungan hingga 300an ribu rupiah per kilogram yang mereka dapatkan, mereka kini hanya bisa mendapatkan kisaran seratus ribuan saja dari jumlah yang sama, bahkan terkadang kurang dari itu. Itu untuk mereka yang menambang secara illegal. Mereka yang menambang dengan bekerja di perusahaan pertambangan besar (yang kebanyakan mendapatkan predikat HITAM untuk penilaian program PROPER dari KemenLH), yang dikhawatirkan dari mereka adalah ketika jatah beras bulanan yang selama ini mereka peroleh dari perusahaan tambang akan dihentikan karena kemudian banyak perusahaan tambang yang gulung tikar. Mengapa harus rakyat kecil lagi yang harus jadi mainan?
Untuk saat ini saya bisa menerima alasan mengapa pemerintah mengeluarkan UU No. 4 tahun 2009 bahwa tahun 2014 nanti, para penambang Indonesia tidak bisa lagi mengekspor bahan tambang mentah mereka langsung ke luar negeri. Bahwa lonjakan ekspor dengan adanya UU yang dikeluarkan tahun 2009 lalu itu menjadi sangat tinggi, ini dikhawatirkan Indonesia akan segera kehabisan bahan tambangnya yang hanya digunakan untuk negara lain sementara kita sendiri mengimpor barang jadi atau setengah jadi dari mereka dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kita itu bodoh atau apa ya? China pun sudah melakukannya dari dulu. Mengapa mereka mengimpor terus dari Indonesia sementara mereka sendiri punya persediaan tambang yang besar? China tinggal terima mentahnya terus diolah deh itu bahan dijual lagi ke kita. Sementara nanti kalau Indonesia habis persediaannya, Cina bisa gali sendiri milik mereka dan olah sendiri, kemudian dijual ke kita dengan harga tinggi karena mungkin saat itu barang-barang itu sudah langka di dunia ini. Nggak hanya Cina sih, beberapa negara lain juga melakukan hal serupa. Cina sudah diwanti-wanti USA untuk menjaga lingkungannya sehingga mereka harus segera meninggalkan dirty industry.
Yang menjadi sorotan di sini adalah, apakah pemerintah waktu mengeluarkan UU tahun 2009 lalu itu tidak melalui kajian mendalam mengenai unintended effect-nya? Bahwa bisa jadi penyelundupan akan semakin marak. Kesalahannya adalah bahwa pemerintah waktu mengeluarkan UU itu tidak langsung disertai dengan aturan teknisnya. Sehingga yang ada di pikiran pengusaha tambang adalah ekspor habis-habisan sebelum thaun 2014 itu. Ini permasalahan produksi man, maka harus diselesaikan dengan produksi, bukan dengan trade. Jika permasalahannya adalah bahwa masih minimnya pengolahan pemurnian hasil tambang mineral di Indonesia, itu kenapa? Ya, mungkin insentif dari produsen tambang untuk ekspor lebih tinggi daripada kalau dijual ke Indonesia. Kenapa lagi? Karena kapasitas pengolahan Indonesia belum memadai. Ini masalah produksi, lagi-lagi.
Saya nggak mikirin tuh pengusaha tambang besar deh, serugi-ruginya mereka pun masih bisa makan. Tapi cukong-cukong yang ada di sekitar mereka yang mengais rezeki dari mereka, yang nggak berdaya itu yang perlu dipikirkan juga.
Plis, paling tidak ada upaya dari pemerintah deh buat mengantisipasi kerugian yang dialami oleh masyarakat kecil yang terlibat secara langsung maupun tidak secara langsung dengan area pertambangan mineral itu. Saya kemudian akan teringat Pak Tatin dan kelompok budidaya rumput lautnya di Belitong sana. Apakah mereka saat ini lebih mengandalkan laut dan kebun untuk mencukupi hidup mereka? Kemudian apakah permasalahan yang ada di kelautan Indonesia tidak mengganggu mereka? Dan apakah kebun-kebun sawit yang menjadi andalan Indonesia itu, ternyata sebagian besar dimiliki oleh pengusaha sawit Malaysia yang semena-mena membuka lahan tanpa memperhatikan lingkungan negara tetangganya, dan ketika asap sampai ke negara mereka, mereka akan menyalahkan Indonesia. What the Indonesia!
Akhir kata, semoga rekan-rekan tim pertambangan riset LOI bisa menemukan sesuatu yang berarti untuk negeri ini! Kami, tim pangan juga akan bekerja keras, kawan! Semangaaat!

Rabu, 30 Mei 2012

He is George Hogg


And life is colour and warmth and light;
And a striving evermore for these;
And he is dead who will not fight;
And who dies fighting has increase.

—Julian Grenfell






 

Sabtu, 28 April 2012

Economist and Physician (from old blog entry)



Sejak saya benar-benar tahu bahwa ternyata saya memiliki asma beberapa waktu lalu dari seorang dokter, saya jadi tertarik untuk mendalami tentang dunia kesehatan, apalagi di hari-hari saat saya harus menghirup nafas dalam-dalam karena asma kemarin saya sedang mengerjakan replikasi jurnal yang bertemakan kesehatan yang ditulis oleh Paul Getler berjudul “Insuring Consumption Against Illness”. Hal ini didukung lagi dengan semakin seringnya saya berpapasan dengan orang yang mengendarai motor dengan jas putih khasnya serta pembicaraan-pembicaraan di kelas yang beberapa menyinggung sedikit tentang kesehatan.
Dan sampailah saya pada update-update status facebook yang berhubungan dengan profesi dokter. Saya jadi tertarik untuk menguak apa sih bedanya ekonom dengan dokter?
Saat kelas Pengantar Ekonomi dulu, yang saya pahami cara berpikir seorang ekonom adalah bagaimana kita melihat segala kemungkinan yang ada dari berbagai perspektif. Tentu kita tetap melihat masih dalam framework ekonomi. Baik di satu sisi belum tentu baik di sisi lain. Kalau di kelas SPE saya lebih memahaminya sebagai second-best theory. Apapun kebijakan yang direkomendasikan oleh seorang ekonom merupakan alternative yang second-best, bukan first best. Inilah yang mengajarkan para ekonom agar tidak sombong. Sedangkan seorang dokter juga demikian. Mereka tidak serta merta melakukan vonis kamu menderita penyakit tertentu atau kamu akan mati dalam beberapa hari lagi. Melainkan mereka mengkaji gejala-gejala yang paling mendekati dengan cirri-ciri penyakit tertentu untuk kemudian memutuskan kebijakan yaitu obat apa yang paling sesuai dengan si pasien.
Seorang ekonom mencoba untuk mengobati perekonomian dengan menganalisis gejala-gejala dan kebijakan apa yang kira-kira paling sesuai. Nah, mereka berdua nih pakai yang namanya kira-kira. Ya begitulah. Namanya juga gak ada yang pasti. ^^V
“Our profession, after all, deals partly with guess work; we do not deal in absolutes.” - Paul Beeson, M.D.
So, apakah kedokteran ilmu eksak? Mmm…once again, I GUESS…no. Karena mereka tidak hanya berhadapan dengan rumus-rumus, atau angka-angka (paling angka di tensi meter, atau apalah…grafik juga lho…haha..ngaco) melainkan juga berhadapan dengan society.
Eaaa…perasaan tadi tulisannya mau dibikin agak serius kok jadi nglantur gini. (efek ketika menulis dengan ide di otak dan di tengah-tengah kita kasih jeda buat makan, tidur2 ayam, dan shalat). Ehm, lanjut!
Ah, iya, inget. Saya mendapatkan penjelasan dari teman yang berkuliah di Pendidikan Kedokteran, bahwa menjadi seorang dokter itu sekarang tidak hanya bagaimana mereka mengobati pasien saja, melainkan juga menjelaskan atau memberikan pengertian yang benar kepada pasien. Nah, cara mengkomunikasikan inilah yang membutuhkan seni. Jangan sampai si pasien malah tambah shock karena mendapat penjelasan yang tidak dia mengerti atau malah jadi tambah sakit. Begitu juga dengan ekonom. Ekonom membutuhkan seni bagaimana mengkomunikasikan hasil kajiannya kepada berbagai pihak (pemerintah, masyarakat, dll) dengan cara yang berbeda-beda. Gak mungkin kan kita ngemeng sama pak tani di desa dengan kurva-kurva dan perdebatan teori-teori. Maunya si pasien adalah hidup lebih baik, lebih sehat. Pasiennya ekonom kan bisa banyak orang dalam sekali praktek. Efeknya multiplier. Kalo dokter hanya menghadapi individu-individu yang berbeda. Nah, ini ni yang mau  kita bahas.
PASIEN
Kita sudah tahu bahwa pasiennya ekonom sama dokter beda tuh. Ya iya lah. Kerjaan ekonom kan pasiennya bisa ribuan orang, puluhan perusahaan, yang semuanya saling kait-mengkait, jadinya kompleks gitu. So, kita butuh simplifikasi. Makanya kita pakai yang namanya model. Dari model itu berbagai asumsi dibangun. Dari asumsi yang realistis sampai yang paling di awing-awang. Kita Cuma focus pada variabel atau target tertentu dan nantinya saat pengambilan kebijakan baru mempertimbangkan variabel-variabel lain.
Dokter? Hampir sama. Tentu saja mereka melakukan kajian tentang berbagai penyakit. Biasanya mereka kebanyakan berangkat dari case study yang kemudian di-build jadi teori. Dan dalam implementasi kebijakan (memilih obat yang sesuai), mereka juga mempertimbangkan karakteristik dan riwayat masing-masing individu. Bisa jadi satu gejala penyakit yang sama membutuhkan penanganan yang berbeda. Ekonom juga begitu, seharusnya. Habisnya kita terlalu banyak asumsi sih. Jadinya ekonom cenderung untuk terlalu mudah melakukan “agregasi” (saya lupa satu kosakata untuk mengungkapkan ini). Ekonom seharusnya berpikir dengan berbagai kemungkinan dan mempertimbangkan karakteristik individu, entitas, dan negara itu berbeda-beda.
Nah, di sini perbedaan antara sang dokter dengan sang ekonom:
Dokter mengobati secara individual, ekonom mengobati individual secara global. Itulah mengapa ekonom lebih banyak dididik untuk berpikir lebih dan prakteknya secara individu ataupun komunal sangat sedikit diajarkan. Dokter dididik lebih banyak ke praktek.
So, how economist (dalam hal ini masih calon_secara masih mahasiswa cupu) can practice as physicians do?
Kita butuh untuk: read more, see more, feel more, think more, research more, studying more, write more, baru bisa ke kebijakan. Kebijakan apa yang bisa diambil? Paling kecil adalah dalam menerapkan kehidupan sehari-hari sebagai individu, rumah tangga, kelompok masyarakat, atau perusahaan. Baru kalau kita sudah dalam lingkup pemegang otoritas kebijakan suatu negara bahkan dunia, kita baru akan benar-benar menerapkannya. Itu saja harus melibatkan banyak orang, dari mulai yang melakukan penelitian, formulasi kebijakan, pembuat undang-undang, penentuan pengelola, menurunkannya menjadi program, proyek, hingga tetek bengek yang begitu banyaknya untuk bisa kena sasaran akhir. Proses yang panjang dan melelahkan. Itulah yang membedakan ekonom dengan dokter. Dokter bisa melakukan itu semua dalam waktu beberapa menit saja. Mendengarkan dan memeriksa keluhan pasien, mencernanya di otak kira-kira dia sakit apa, trus baru milih obat, langsung tuh dikasih ke pasien obatnya. Meskipun kadang mereka juga butuh waktu yang lebih sih, untuk kasus-kasus tertentu seperti merawat. Yah, itu juga tugasnya perawat. Ah, gak begitu tahu tentang tetek bengek rumah sakit. ^^V
Inilah yang membedakan mereka. Waktu pengimplementasian kebijakan. Ekonom membutuhkan waktu yang panjang sehingga lambaaaat banget, tapi sekali berhasil impact-nya besar banget secara global (aggregate). Kalau dokter mereka lebih bisa cepat dalam pengimplementasian kebijakan kepada target (pasien). Hingga ketika kebijakan itu berhasil, impact-nya akan besar secara individu.
To the world, you might be someone. To someone, you might be the world.
Itulah mengapa ekonom lebih banyak dibenci, dipukuli (gak gitu2 juga sih, konotatif maksudnya) bahkan dijatuhkan, daripada dokter yang lebih banyak disanjung, bahkan dicintai. Ehm…:P
Is it the economist curse? Wallahu’alam. ^^V
Hipotesis sementara: “The difference between economist and physician is about the time.”

Special thanks to: a doctor in the early morning in that day. :P
I learned it from you:
“Some patients, though conscious that their condition is perilous, recover their health simply through their contentment with the goodness of the physician. - Hippocrates 460-400 B.C.”
Begitu juga seharusnya dengan para ekonom. Seharusnya mereka benar-benar murni menunjukkan kebaikan itu kepada masyarakat sebagai pasien mereka. Bukan kepada partai atau kelompok tertentu.

Tentang Dia

Tidak sengaja saya masih menemukan arsip tulisan ini di komputer lama. Nukilan ini saya ambil dari sebuah buku sejarah yang entah siapa pengarangnya. Buku itu saya temukan di perpustakaan kecil Sekolah Angkasa dekat Adisucipto saat saya SMA dulu ketika menemani seorang kakak yang mencari bahan untuk penelitian. Saya sangat bersyukur menemukan buku itu meskipun tidak sempat saya baca secara penuh, tapi saya sempat menuliskan kata-kata ini dan yang paling saya ingat dari cerita tentang beliau adalah ketika dalam sebuah ekspedisi bersama para muridnya dalam kegelapan subuh. Di sebuah desa tampak para ibu berjalan menelusuri kegelapan menuju masjid. Keteguhan dan kebersahajaan. Itulah mengapa Jenderal Sudirman adalah salah satu tokoh pahlawan yang saya kagumi.

Amalkan Janji dan Tekad

Di dalam kita menghadapi ujian yang sedasyat seperti sekarang ini. Kita tak boleh bimbang-bimbang, tidak boleh was-was. Kita percaya kepada kekuatan lahir dan batin kita. Dengan segala kekuatan yang nyata, dengan cara yang sesuai dengan kekuatan serta keadaan alam di bumi Indonesia mewujudkan sesuatu senyawa yang amat kuat. Senjata amat tajam, untuk menjalankan pertahanan dan pertempuran senjata apapun jua. Percaya dan yakin, alat yang ada pada kita, untuk melakukan pertempuran secara apapun juga dan secara besar-besaran.
Hanya ada satu syarat yang perlu sekali dipenuhi oleh rakyat seluruhnya, ialah kita masing-masing harus insaf dan ikhlas meninggalkan harta benda kita, gedung-gedung kita, dan anak istri kita.
(dari Jendral Sudirman)

_pindahan dari blog lama_

Jumat, 13 April 2012

Suatu Malam

"Jangkrik! Jangkrik!" 
"Hmm, Hmm, Hmm, Hmm"
Bunyi bonang, demung, saron, kenong, dan perangkat gamelan lain kemudian bersahut-sahutan dengan nyaring. Sesaat kemudian tiba-tiba mereka hening bersamaan.
"Layoong....layooong...." dengan lantang seorang laki-laki menembang secara solo.
Malam itu aku duduk sendirian di tempat duduk penonton deretan ketiga dari depan. Aku melihat penonton di seberang barisan tempat duduk sedang asyik menyimak bersama keluarga dan temannya. Dalam hati aku hanya tersenyum pahit pada diriku sendiri. Dasar jangkrik, seorang gadis keluyuran sendirian di malam hari hanya untuk menonton pertunjukkan karawitan yang tempatnya cukup jauh dari rumahnya. 
Sementara itu hatiku terus berdebar-debar mencemaskan bagaimana nanti jadinya ketika pulang sendirian di malam hari yang dingin dengan sepeda motor. Waktu sudah menunjukkan jam 21.30. Sampai di rumah bisa jam 22.30. Duh Gusti, maafkanlah aku yang nekat ini...
Setelah MC memberikan selamat malam, para penonton pun berhamburan ke luar gedung. Di luar telah disajikan berbagai macam jajanan pasar oleh panitia. Aku hanya melewatinya sambil tersenyum kepada para panitia yang menjaga deretan makanan yang disajikan. Aku bergegas menuju parkiran dan membawa kabur motor bututku mengarungi suasana malam yang sepi di sudut kota Yogyakarta. 
Untuk mencapai rumah, motorku harus melewati gang gelap dan kumuh di salah satu sudut dekat Pasar Beringharjo. Saat itu anak-anak punk sedang berkumpul di emperan toko. Ternyata mereka sedang membuat pola gambar graffity di tembok-tembok kosong gang itu. Pilox warna-warni seketika menghiasi tembok-tembok usang itu dengan gambar yang apik.
Di ujung gang yang lain aku melewati seorang bapak yang sedang memaki-maki seorang bapak yang lainnya. Kata-kata dari kebun binatang sekilas terdengar lantang di telingaku saat aku melewati mereka. Di samping mereka ada sebuah mobil merah tua diparkir di depan toko kelontong yang sudah tutup. Sudut gang yang gelap itu berubah menjadi pandangan yang mencekam di hadapanku. Kupacu gas lebih kencang.
Hatiku sedikit lega ketika motorku akhirnya telah memasuki area jalan raya. Mobil dan motor mulai ramai saling mendahului.
*** 
Hahaha...itu sepenggal kisah fiksi dari perjuangan mendapatkan rekaman tembang karawitan karya R.C.Hardjosubroto sang maestro karawitan Jogja. Sebenarnya saya ingin meneruskan ceritanya menjadi sebuah cerpen, tapi tiba-tiba ide mentok berhenti sampai di situ. Ya sudahlah, saya cerita tentang tembangnya saja ya.
Petikan tembang dalam cerita di atas merupakan salah satu favorit saya selama ini. Tembang ini pula yang sehari-hari menemani aktivitas saya di depan layar komputer. Saya tidak tahu yang ini judulnya apa. Hahaha
Hmm, mungkin Anda tidak tahu siapa itu R.C.Harjosubroto? Anda tahu lagu dolanan yang sering kita nyanyikan sewaktu SD dulu, "Gundul-Gundul Pacul"? Ya, beliaulah pencipta lagu tersebut. Lagu dolanan yang selama ini kita kenal sebagai lagu rakyat karena tidak diketahui siapa pengarangnya.
Hmm, saya bukanlah orang yang ahli dalam pengetahuan tentang hal-hal ini. Saya tidak tahu apa-apa tentang karawitan, tentang gamelan. Saya hanya penikmat saja. Sejak kecil ayah gemar menyetelkan lagu uyon-uyon untuk para tamu di rumah makan, sehingga mau tidak mau telinga ini terasa akrab dengannya.
Karya R.C. Hardjosubroto lain yang selalu membuatku tersenyum adalah Fragmen Nangka Rungkat. Tembang ini mengisahkan dialog di masyarakat ketika sebuah pohon nangka rubuh. Mereka bergotong royong untuk membereskannya. Sebenarnya ada juga tembang karawitan karya beliau yang dikemas dengan nuansa jenaka dan berBAHASA INDONESIA! Di telinga mungkin akan terasa aneh mendengar tembang karawitan Jawa dengan BAHASA INDONESIA. Tapi Anda akan tersenyum geli mendengar syairnya. Judulnya adalah Rumahku. 
"Anda ingin tahu dimana rumahku?...."
Itu petikan lirik pembukanya. Selanjutnya dengarkan sendiri hingga akhir.
Beliau pula yang menciptakan tembang dengan salah satu petikan syairnya, "Kuwi apa kuwi, kembange melati. Sing tak puja-puji, aja dho korupsi..."
Kalau tidak salah judulnya Aja Ngona-Ngono Kuwi apa ya...? Lupa saya...Tapi yang jelas tembang ini mungkin sudah begitu akrab di telinga masyarakat Jogja. Tembang ini berusaha menjadi nasehat bagi para pemimpin untuk tidak melakukan korupsi. Iya tetap menggunakan kata "aja" (artinya jangan) untuk mendidik masyarakat yang mendengarkan lagu ini. Selama ini pendidikan gaya barat selalu berusaha untuk menghindari kata "jangan". Saya tidak tahu alasannya. Tapi di Alquran pun dituliskan "LA" saat mengisahkan bagaimana Imran mendidik anaknya untuk TIDAK menyekutukan Allah, yang di ayat selanjutnya Imran memberikan penjelasan, "Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kezaliman yang besar."
Tidak semua kalimat larangan itu bisa menghindarkan dirinya dari kata "jangan" atau "tidak boleh". Bahkan perkembangan ilmu psikologi anak yang baru-baru ini saya dengar justru malah menganjurkan untuk menggunakan kata "jangan" itu di akhir kalimat. Anak cenderung mendengarkan kata-kata bagian akhir. Sekarang coba deh, bagaimana dengan kalimat larangan untuk merokok? 
Coba bandingkan:
"Jangan merokok di ruang publik!"
"Merokoklah pada tempatnya!"
"Jangan merokok! Merokok itu ...bla bla bla."
"Merokok dapat menyebabkan ... bla bla bla."

Ah, pusinglah saya membahas ini. Saya kan sedang membahas tembang.
"Kae... lho, kae... lho." (petikan tembang Persatuan Pembangunan)

Yogyakarta, 13 Februari 2012