Kamis, 31 Mei 2012

Karut Marut Pertambangan Indonesia


Saya tergerak untuk menulis ini karena teringat dengan sebuah pulau kecil yang beberapa bulan lalu memberikan pengalaman berharga bagi kehidupan saya hingga saat ini. Pulau kecil yang dulu dikenal sebagai Bumi Timah Kaulan itu, kini dikenal dengan pulau kecil yang memiliki sejuta pesona pantai pasir putih dan batu granitnya. Pulau Belitong. Sejak mendengar berita beberapa waktu terakhir ini, saya cemas pada nasib orang-orang yang pernah menjadi sahabatku di sana. Mereka yang setiap pulang sekolah menambang ke kulong. Mereka yang ketika laut tidak memungkinkan bagi mereka untuk mencari ikan, mereka akan pergi ke kulong atau berkebun karet dan sawit. Hampir semua kulong (tempat penambangan timah) di desa yang saya singgahi itu adalah illegal. Itu adalah pertambangan rakyat tanpa izin. Setiap ada polisi yang datang harus mereka sogok agar mereka bisa tetap aman meneruskan usaha tambang mereka, yang sebenarnya itu adalah tambang sisa! Mereka hanya mengais sisa dari penambang-penambang besar yang dulu pernah mengeruk habis cadangan timah di bumi timah itu! Ya, mereka itu hanya mengais!
Kemudian sejak aturan kementerian ESDM keluar dengan UU no. 4 tahun 2009 nya itu, para penambang mineral, yang salah satunya adalah timah dan nikel (yang banyak terdapat di pulau itu), berusaha memacu sebesar-besarnya ekspor mereka sebelum tahun 2014 nanti ketika ekspor barang tambang mineral dalam bentuk mentah itu tidak diperbolehkan lagi. Akibatnya harga barang tambang mineral mentah beberapa waktu terakhir turun drastis dari sebelumnya. Para penambang kulong itu, yang tadinya sehari bisa mendapatkan keuntungan hingga 300an ribu rupiah per kilogram yang mereka dapatkan, mereka kini hanya bisa mendapatkan kisaran seratus ribuan saja dari jumlah yang sama, bahkan terkadang kurang dari itu. Itu untuk mereka yang menambang secara illegal. Mereka yang menambang dengan bekerja di perusahaan pertambangan besar (yang kebanyakan mendapatkan predikat HITAM untuk penilaian program PROPER dari KemenLH), yang dikhawatirkan dari mereka adalah ketika jatah beras bulanan yang selama ini mereka peroleh dari perusahaan tambang akan dihentikan karena kemudian banyak perusahaan tambang yang gulung tikar. Mengapa harus rakyat kecil lagi yang harus jadi mainan?
Untuk saat ini saya bisa menerima alasan mengapa pemerintah mengeluarkan UU No. 4 tahun 2009 bahwa tahun 2014 nanti, para penambang Indonesia tidak bisa lagi mengekspor bahan tambang mentah mereka langsung ke luar negeri. Bahwa lonjakan ekspor dengan adanya UU yang dikeluarkan tahun 2009 lalu itu menjadi sangat tinggi, ini dikhawatirkan Indonesia akan segera kehabisan bahan tambangnya yang hanya digunakan untuk negara lain sementara kita sendiri mengimpor barang jadi atau setengah jadi dari mereka dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kita itu bodoh atau apa ya? China pun sudah melakukannya dari dulu. Mengapa mereka mengimpor terus dari Indonesia sementara mereka sendiri punya persediaan tambang yang besar? China tinggal terima mentahnya terus diolah deh itu bahan dijual lagi ke kita. Sementara nanti kalau Indonesia habis persediaannya, Cina bisa gali sendiri milik mereka dan olah sendiri, kemudian dijual ke kita dengan harga tinggi karena mungkin saat itu barang-barang itu sudah langka di dunia ini. Nggak hanya Cina sih, beberapa negara lain juga melakukan hal serupa. Cina sudah diwanti-wanti USA untuk menjaga lingkungannya sehingga mereka harus segera meninggalkan dirty industry.
Yang menjadi sorotan di sini adalah, apakah pemerintah waktu mengeluarkan UU tahun 2009 lalu itu tidak melalui kajian mendalam mengenai unintended effect-nya? Bahwa bisa jadi penyelundupan akan semakin marak. Kesalahannya adalah bahwa pemerintah waktu mengeluarkan UU itu tidak langsung disertai dengan aturan teknisnya. Sehingga yang ada di pikiran pengusaha tambang adalah ekspor habis-habisan sebelum thaun 2014 itu. Ini permasalahan produksi man, maka harus diselesaikan dengan produksi, bukan dengan trade. Jika permasalahannya adalah bahwa masih minimnya pengolahan pemurnian hasil tambang mineral di Indonesia, itu kenapa? Ya, mungkin insentif dari produsen tambang untuk ekspor lebih tinggi daripada kalau dijual ke Indonesia. Kenapa lagi? Karena kapasitas pengolahan Indonesia belum memadai. Ini masalah produksi, lagi-lagi.
Saya nggak mikirin tuh pengusaha tambang besar deh, serugi-ruginya mereka pun masih bisa makan. Tapi cukong-cukong yang ada di sekitar mereka yang mengais rezeki dari mereka, yang nggak berdaya itu yang perlu dipikirkan juga.
Plis, paling tidak ada upaya dari pemerintah deh buat mengantisipasi kerugian yang dialami oleh masyarakat kecil yang terlibat secara langsung maupun tidak secara langsung dengan area pertambangan mineral itu. Saya kemudian akan teringat Pak Tatin dan kelompok budidaya rumput lautnya di Belitong sana. Apakah mereka saat ini lebih mengandalkan laut dan kebun untuk mencukupi hidup mereka? Kemudian apakah permasalahan yang ada di kelautan Indonesia tidak mengganggu mereka? Dan apakah kebun-kebun sawit yang menjadi andalan Indonesia itu, ternyata sebagian besar dimiliki oleh pengusaha sawit Malaysia yang semena-mena membuka lahan tanpa memperhatikan lingkungan negara tetangganya, dan ketika asap sampai ke negara mereka, mereka akan menyalahkan Indonesia. What the Indonesia!
Akhir kata, semoga rekan-rekan tim pertambangan riset LOI bisa menemukan sesuatu yang berarti untuk negeri ini! Kami, tim pangan juga akan bekerja keras, kawan! Semangaaat!

Rabu, 30 Mei 2012

He is George Hogg


And life is colour and warmth and light;
And a striving evermore for these;
And he is dead who will not fight;
And who dies fighting has increase.

—Julian Grenfell






 

Sabtu, 28 April 2012

Economist and Physician (from old blog entry)



Sejak saya benar-benar tahu bahwa ternyata saya memiliki asma beberapa waktu lalu dari seorang dokter, saya jadi tertarik untuk mendalami tentang dunia kesehatan, apalagi di hari-hari saat saya harus menghirup nafas dalam-dalam karena asma kemarin saya sedang mengerjakan replikasi jurnal yang bertemakan kesehatan yang ditulis oleh Paul Getler berjudul “Insuring Consumption Against Illness”. Hal ini didukung lagi dengan semakin seringnya saya berpapasan dengan orang yang mengendarai motor dengan jas putih khasnya serta pembicaraan-pembicaraan di kelas yang beberapa menyinggung sedikit tentang kesehatan.
Dan sampailah saya pada update-update status facebook yang berhubungan dengan profesi dokter. Saya jadi tertarik untuk menguak apa sih bedanya ekonom dengan dokter?
Saat kelas Pengantar Ekonomi dulu, yang saya pahami cara berpikir seorang ekonom adalah bagaimana kita melihat segala kemungkinan yang ada dari berbagai perspektif. Tentu kita tetap melihat masih dalam framework ekonomi. Baik di satu sisi belum tentu baik di sisi lain. Kalau di kelas SPE saya lebih memahaminya sebagai second-best theory. Apapun kebijakan yang direkomendasikan oleh seorang ekonom merupakan alternative yang second-best, bukan first best. Inilah yang mengajarkan para ekonom agar tidak sombong. Sedangkan seorang dokter juga demikian. Mereka tidak serta merta melakukan vonis kamu menderita penyakit tertentu atau kamu akan mati dalam beberapa hari lagi. Melainkan mereka mengkaji gejala-gejala yang paling mendekati dengan cirri-ciri penyakit tertentu untuk kemudian memutuskan kebijakan yaitu obat apa yang paling sesuai dengan si pasien.
Seorang ekonom mencoba untuk mengobati perekonomian dengan menganalisis gejala-gejala dan kebijakan apa yang kira-kira paling sesuai. Nah, mereka berdua nih pakai yang namanya kira-kira. Ya begitulah. Namanya juga gak ada yang pasti. ^^V
“Our profession, after all, deals partly with guess work; we do not deal in absolutes.” - Paul Beeson, M.D.
So, apakah kedokteran ilmu eksak? Mmm…once again, I GUESS…no. Karena mereka tidak hanya berhadapan dengan rumus-rumus, atau angka-angka (paling angka di tensi meter, atau apalah…grafik juga lho…haha..ngaco) melainkan juga berhadapan dengan society.
Eaaa…perasaan tadi tulisannya mau dibikin agak serius kok jadi nglantur gini. (efek ketika menulis dengan ide di otak dan di tengah-tengah kita kasih jeda buat makan, tidur2 ayam, dan shalat). Ehm, lanjut!
Ah, iya, inget. Saya mendapatkan penjelasan dari teman yang berkuliah di Pendidikan Kedokteran, bahwa menjadi seorang dokter itu sekarang tidak hanya bagaimana mereka mengobati pasien saja, melainkan juga menjelaskan atau memberikan pengertian yang benar kepada pasien. Nah, cara mengkomunikasikan inilah yang membutuhkan seni. Jangan sampai si pasien malah tambah shock karena mendapat penjelasan yang tidak dia mengerti atau malah jadi tambah sakit. Begitu juga dengan ekonom. Ekonom membutuhkan seni bagaimana mengkomunikasikan hasil kajiannya kepada berbagai pihak (pemerintah, masyarakat, dll) dengan cara yang berbeda-beda. Gak mungkin kan kita ngemeng sama pak tani di desa dengan kurva-kurva dan perdebatan teori-teori. Maunya si pasien adalah hidup lebih baik, lebih sehat. Pasiennya ekonom kan bisa banyak orang dalam sekali praktek. Efeknya multiplier. Kalo dokter hanya menghadapi individu-individu yang berbeda. Nah, ini ni yang mau  kita bahas.
PASIEN
Kita sudah tahu bahwa pasiennya ekonom sama dokter beda tuh. Ya iya lah. Kerjaan ekonom kan pasiennya bisa ribuan orang, puluhan perusahaan, yang semuanya saling kait-mengkait, jadinya kompleks gitu. So, kita butuh simplifikasi. Makanya kita pakai yang namanya model. Dari model itu berbagai asumsi dibangun. Dari asumsi yang realistis sampai yang paling di awing-awang. Kita Cuma focus pada variabel atau target tertentu dan nantinya saat pengambilan kebijakan baru mempertimbangkan variabel-variabel lain.
Dokter? Hampir sama. Tentu saja mereka melakukan kajian tentang berbagai penyakit. Biasanya mereka kebanyakan berangkat dari case study yang kemudian di-build jadi teori. Dan dalam implementasi kebijakan (memilih obat yang sesuai), mereka juga mempertimbangkan karakteristik dan riwayat masing-masing individu. Bisa jadi satu gejala penyakit yang sama membutuhkan penanganan yang berbeda. Ekonom juga begitu, seharusnya. Habisnya kita terlalu banyak asumsi sih. Jadinya ekonom cenderung untuk terlalu mudah melakukan “agregasi” (saya lupa satu kosakata untuk mengungkapkan ini). Ekonom seharusnya berpikir dengan berbagai kemungkinan dan mempertimbangkan karakteristik individu, entitas, dan negara itu berbeda-beda.
Nah, di sini perbedaan antara sang dokter dengan sang ekonom:
Dokter mengobati secara individual, ekonom mengobati individual secara global. Itulah mengapa ekonom lebih banyak dididik untuk berpikir lebih dan prakteknya secara individu ataupun komunal sangat sedikit diajarkan. Dokter dididik lebih banyak ke praktek.
So, how economist (dalam hal ini masih calon_secara masih mahasiswa cupu) can practice as physicians do?
Kita butuh untuk: read more, see more, feel more, think more, research more, studying more, write more, baru bisa ke kebijakan. Kebijakan apa yang bisa diambil? Paling kecil adalah dalam menerapkan kehidupan sehari-hari sebagai individu, rumah tangga, kelompok masyarakat, atau perusahaan. Baru kalau kita sudah dalam lingkup pemegang otoritas kebijakan suatu negara bahkan dunia, kita baru akan benar-benar menerapkannya. Itu saja harus melibatkan banyak orang, dari mulai yang melakukan penelitian, formulasi kebijakan, pembuat undang-undang, penentuan pengelola, menurunkannya menjadi program, proyek, hingga tetek bengek yang begitu banyaknya untuk bisa kena sasaran akhir. Proses yang panjang dan melelahkan. Itulah yang membedakan ekonom dengan dokter. Dokter bisa melakukan itu semua dalam waktu beberapa menit saja. Mendengarkan dan memeriksa keluhan pasien, mencernanya di otak kira-kira dia sakit apa, trus baru milih obat, langsung tuh dikasih ke pasien obatnya. Meskipun kadang mereka juga butuh waktu yang lebih sih, untuk kasus-kasus tertentu seperti merawat. Yah, itu juga tugasnya perawat. Ah, gak begitu tahu tentang tetek bengek rumah sakit. ^^V
Inilah yang membedakan mereka. Waktu pengimplementasian kebijakan. Ekonom membutuhkan waktu yang panjang sehingga lambaaaat banget, tapi sekali berhasil impact-nya besar banget secara global (aggregate). Kalau dokter mereka lebih bisa cepat dalam pengimplementasian kebijakan kepada target (pasien). Hingga ketika kebijakan itu berhasil, impact-nya akan besar secara individu.
To the world, you might be someone. To someone, you might be the world.
Itulah mengapa ekonom lebih banyak dibenci, dipukuli (gak gitu2 juga sih, konotatif maksudnya) bahkan dijatuhkan, daripada dokter yang lebih banyak disanjung, bahkan dicintai. Ehm…:P
Is it the economist curse? Wallahu’alam. ^^V
Hipotesis sementara: “The difference between economist and physician is about the time.”

Special thanks to: a doctor in the early morning in that day. :P
I learned it from you:
“Some patients, though conscious that their condition is perilous, recover their health simply through their contentment with the goodness of the physician. - Hippocrates 460-400 B.C.”
Begitu juga seharusnya dengan para ekonom. Seharusnya mereka benar-benar murni menunjukkan kebaikan itu kepada masyarakat sebagai pasien mereka. Bukan kepada partai atau kelompok tertentu.

Tentang Dia

Tidak sengaja saya masih menemukan arsip tulisan ini di komputer lama. Nukilan ini saya ambil dari sebuah buku sejarah yang entah siapa pengarangnya. Buku itu saya temukan di perpustakaan kecil Sekolah Angkasa dekat Adisucipto saat saya SMA dulu ketika menemani seorang kakak yang mencari bahan untuk penelitian. Saya sangat bersyukur menemukan buku itu meskipun tidak sempat saya baca secara penuh, tapi saya sempat menuliskan kata-kata ini dan yang paling saya ingat dari cerita tentang beliau adalah ketika dalam sebuah ekspedisi bersama para muridnya dalam kegelapan subuh. Di sebuah desa tampak para ibu berjalan menelusuri kegelapan menuju masjid. Keteguhan dan kebersahajaan. Itulah mengapa Jenderal Sudirman adalah salah satu tokoh pahlawan yang saya kagumi.

Amalkan Janji dan Tekad

Di dalam kita menghadapi ujian yang sedasyat seperti sekarang ini. Kita tak boleh bimbang-bimbang, tidak boleh was-was. Kita percaya kepada kekuatan lahir dan batin kita. Dengan segala kekuatan yang nyata, dengan cara yang sesuai dengan kekuatan serta keadaan alam di bumi Indonesia mewujudkan sesuatu senyawa yang amat kuat. Senjata amat tajam, untuk menjalankan pertahanan dan pertempuran senjata apapun jua. Percaya dan yakin, alat yang ada pada kita, untuk melakukan pertempuran secara apapun juga dan secara besar-besaran.
Hanya ada satu syarat yang perlu sekali dipenuhi oleh rakyat seluruhnya, ialah kita masing-masing harus insaf dan ikhlas meninggalkan harta benda kita, gedung-gedung kita, dan anak istri kita.
(dari Jendral Sudirman)

_pindahan dari blog lama_

Jumat, 13 April 2012

Suatu Malam

"Jangkrik! Jangkrik!" 
"Hmm, Hmm, Hmm, Hmm"
Bunyi bonang, demung, saron, kenong, dan perangkat gamelan lain kemudian bersahut-sahutan dengan nyaring. Sesaat kemudian tiba-tiba mereka hening bersamaan.
"Layoong....layooong...." dengan lantang seorang laki-laki menembang secara solo.
Malam itu aku duduk sendirian di tempat duduk penonton deretan ketiga dari depan. Aku melihat penonton di seberang barisan tempat duduk sedang asyik menyimak bersama keluarga dan temannya. Dalam hati aku hanya tersenyum pahit pada diriku sendiri. Dasar jangkrik, seorang gadis keluyuran sendirian di malam hari hanya untuk menonton pertunjukkan karawitan yang tempatnya cukup jauh dari rumahnya. 
Sementara itu hatiku terus berdebar-debar mencemaskan bagaimana nanti jadinya ketika pulang sendirian di malam hari yang dingin dengan sepeda motor. Waktu sudah menunjukkan jam 21.30. Sampai di rumah bisa jam 22.30. Duh Gusti, maafkanlah aku yang nekat ini...
Setelah MC memberikan selamat malam, para penonton pun berhamburan ke luar gedung. Di luar telah disajikan berbagai macam jajanan pasar oleh panitia. Aku hanya melewatinya sambil tersenyum kepada para panitia yang menjaga deretan makanan yang disajikan. Aku bergegas menuju parkiran dan membawa kabur motor bututku mengarungi suasana malam yang sepi di sudut kota Yogyakarta. 
Untuk mencapai rumah, motorku harus melewati gang gelap dan kumuh di salah satu sudut dekat Pasar Beringharjo. Saat itu anak-anak punk sedang berkumpul di emperan toko. Ternyata mereka sedang membuat pola gambar graffity di tembok-tembok kosong gang itu. Pilox warna-warni seketika menghiasi tembok-tembok usang itu dengan gambar yang apik.
Di ujung gang yang lain aku melewati seorang bapak yang sedang memaki-maki seorang bapak yang lainnya. Kata-kata dari kebun binatang sekilas terdengar lantang di telingaku saat aku melewati mereka. Di samping mereka ada sebuah mobil merah tua diparkir di depan toko kelontong yang sudah tutup. Sudut gang yang gelap itu berubah menjadi pandangan yang mencekam di hadapanku. Kupacu gas lebih kencang.
Hatiku sedikit lega ketika motorku akhirnya telah memasuki area jalan raya. Mobil dan motor mulai ramai saling mendahului.
*** 
Hahaha...itu sepenggal kisah fiksi dari perjuangan mendapatkan rekaman tembang karawitan karya R.C.Hardjosubroto sang maestro karawitan Jogja. Sebenarnya saya ingin meneruskan ceritanya menjadi sebuah cerpen, tapi tiba-tiba ide mentok berhenti sampai di situ. Ya sudahlah, saya cerita tentang tembangnya saja ya.
Petikan tembang dalam cerita di atas merupakan salah satu favorit saya selama ini. Tembang ini pula yang sehari-hari menemani aktivitas saya di depan layar komputer. Saya tidak tahu yang ini judulnya apa. Hahaha
Hmm, mungkin Anda tidak tahu siapa itu R.C.Harjosubroto? Anda tahu lagu dolanan yang sering kita nyanyikan sewaktu SD dulu, "Gundul-Gundul Pacul"? Ya, beliaulah pencipta lagu tersebut. Lagu dolanan yang selama ini kita kenal sebagai lagu rakyat karena tidak diketahui siapa pengarangnya.
Hmm, saya bukanlah orang yang ahli dalam pengetahuan tentang hal-hal ini. Saya tidak tahu apa-apa tentang karawitan, tentang gamelan. Saya hanya penikmat saja. Sejak kecil ayah gemar menyetelkan lagu uyon-uyon untuk para tamu di rumah makan, sehingga mau tidak mau telinga ini terasa akrab dengannya.
Karya R.C. Hardjosubroto lain yang selalu membuatku tersenyum adalah Fragmen Nangka Rungkat. Tembang ini mengisahkan dialog di masyarakat ketika sebuah pohon nangka rubuh. Mereka bergotong royong untuk membereskannya. Sebenarnya ada juga tembang karawitan karya beliau yang dikemas dengan nuansa jenaka dan berBAHASA INDONESIA! Di telinga mungkin akan terasa aneh mendengar tembang karawitan Jawa dengan BAHASA INDONESIA. Tapi Anda akan tersenyum geli mendengar syairnya. Judulnya adalah Rumahku. 
"Anda ingin tahu dimana rumahku?...."
Itu petikan lirik pembukanya. Selanjutnya dengarkan sendiri hingga akhir.
Beliau pula yang menciptakan tembang dengan salah satu petikan syairnya, "Kuwi apa kuwi, kembange melati. Sing tak puja-puji, aja dho korupsi..."
Kalau tidak salah judulnya Aja Ngona-Ngono Kuwi apa ya...? Lupa saya...Tapi yang jelas tembang ini mungkin sudah begitu akrab di telinga masyarakat Jogja. Tembang ini berusaha menjadi nasehat bagi para pemimpin untuk tidak melakukan korupsi. Iya tetap menggunakan kata "aja" (artinya jangan) untuk mendidik masyarakat yang mendengarkan lagu ini. Selama ini pendidikan gaya barat selalu berusaha untuk menghindari kata "jangan". Saya tidak tahu alasannya. Tapi di Alquran pun dituliskan "LA" saat mengisahkan bagaimana Imran mendidik anaknya untuk TIDAK menyekutukan Allah, yang di ayat selanjutnya Imran memberikan penjelasan, "Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kezaliman yang besar."
Tidak semua kalimat larangan itu bisa menghindarkan dirinya dari kata "jangan" atau "tidak boleh". Bahkan perkembangan ilmu psikologi anak yang baru-baru ini saya dengar justru malah menganjurkan untuk menggunakan kata "jangan" itu di akhir kalimat. Anak cenderung mendengarkan kata-kata bagian akhir. Sekarang coba deh, bagaimana dengan kalimat larangan untuk merokok? 
Coba bandingkan:
"Jangan merokok di ruang publik!"
"Merokoklah pada tempatnya!"
"Jangan merokok! Merokok itu ...bla bla bla."
"Merokok dapat menyebabkan ... bla bla bla."

Ah, pusinglah saya membahas ini. Saya kan sedang membahas tembang.
"Kae... lho, kae... lho." (petikan tembang Persatuan Pembangunan)

Yogyakarta, 13 Februari 2012

Sabtu, 31 Maret 2012

Tentang Kenaikan Harga BBM

Hari ini setelah kabar Sidang Paripurna DPR sampai di telinga, saya mendapat pesan dari salah seorang adik angkatan, “mbak, gimana tanggapanmu BBM gak jadi naik?” Saya tahu dia bertanya seperti itu karena saya selama ini dipandang sebagai “orang yang pasar minded”. Maksudnya mungkin penganut paham laizes faire yang berpikir segala sesuatu serahkan saja pada mekanisme pasar. Saya hanya tersenyum dalam hati membaca pesan itu.
Saya bukanlah pakar ekonomi ataupun mahasiswa yang tahu benar tentang isu kenaikan BBM ini. Tapi melihat situasi yang ada, rasanya tidak bisa dibenarkan juga jika seorang mahasiswa ekonomi tidak berbuat apa-apa soal isu ini. Saya jika ditanya memihak siapa, maka tentu saya akan menjawab bahwa saya berpihak para rakyat. Tapi bukan berarti saya tidak setuju jika harga BBM dinaikkan. Bukannya saya tidak sepakat dengan teman-teman yang melakukan demonstrasi untuk membela rakyat. Saya justru salut dengan mereka yang mati-matian melakukan diskusi dan mau panas-panas turun ke jalan untuk menunjukkan pembelaan mereka. Tapi saya punya sikap yang lain.
Saya memang tidak ahli dalam menganalisis ekonomi. Tapi ini pendapat saya yang masih terlalu kolot ini. Inilah alasan kolot saya tidak menolak kenaikan BBM.
Pertama, seperti yang dijelaskan oleh Pak Anggito dan para ahli ekonomi yang sempat melakukan kajian mengenai subsidi BBM bahwa Indonesia pada kenyataannya kini adalah net importer , artinya kita lebih banyak melakukan impor daripada ekspor. Which is, mau tidak mau pendapatan ekspor migas kita yang digunakan untuk subsidi BBM dalam negeri akan semakin menyusut dengan kenaikan harga minyak dunia. Sehingga beban subsidi makin lama makin berat sehingga anggaran untuk subsidi sektor lain pun berpeluang akan dikorbankan. Padahal subsidi infrastruktur, subsidi pupuk untuk petani, subsidi untuk orang-orang miskin tentu lebih produktif dan lebih berpeluang untuk memboosting perekonomian Indonesia. Berbeda dengan subsidi BBM, dengan menyubsidi BBM artinya negara mensubsidi konsumsi. Dan itu tidak pandang bulu apakah mereka kaya atau miskin, dan berdasarkan data statistik dari Kemenkeu didapatkan bahwa sebagian besar yang mengkonsumsi BBM adalah mereka yang memiliki mobil dan motor. Dan hanya 20% saja yang merupakan kendaraan umum (ini yang perlu disubsidi). Jika tidak dikurangi, sampai kapan pertumbuuhan ekonomi Indonesia berkualitas bukan lagi consumption driven growth?
Kedua, menanggapi kekhawatiran daya beli masyarakat akan turun karena harga-harga naik. Masyarakat miskin tentu tidak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi ini. Menurut saya, gejolak kenaikan harga-harga secara umum itu hanya akan bertahan sementara paling lama 3 bulanan. Kemudian harga-harga akan kembali stabil. Yang perlu dilakukan oleh para negarawan adalah bagaimana mengamankan masyarakat miskin dari gejolak kenaikan harga tersebut? Intinya mengamankan daya belinya. Setelah gejolak berakhir, bukan lantas langkah itu juga berakhir, tapi bagaimana bantuan yang semula untuk mengamankan daya beli itu, kini ditujukan untuk keperluan produktif, sehingga perlu yang namanya pendampingan di sini. Selama ini kita milih enaknya saja, kasih dan urusan selesai tanpa kita tahu merek gunakan untuk apa bantuan itu. Ya masyarakat miskin kalau diberi uang banyak tiba-tiba tentu mereka akan berpikir konsumsi daripada investasi, karena selama ini mereka bekerja untuk keperluan konsumsinya.
Toh, memang pada akhirnya BBM tidak jadi dinaikkan pada tanggal 1 April ini. Itu mungkin karena wakil rakyat kita masih berusaha mendengar suara hati rakyat. Mereka berusaha untuk berpihak pada rakyat. Tapi saya justru berpikir seakan mereka takut pada rakyat. Sisi positifnya adalah bahwa rakyat masih memiliki kekuasaan. Tapi kita juga perlu mengedukasi masyarakat tentang kenyataan yang dihadapi oleh Negara ini. Bahwa kita adalah net consumer sekarang. Kita sudah over-demanded terhadap BBM sedangkat kita menuntut harga tetap rendah. Dalam ilmu ekonomi yang saya pelajari saat ini, tuntutan itu seakan tidak realistis dan seperti tidak lazim terjadi di dalam pasar. Oke, silakan sebut saya kapitalis. Terserah, memang ini yang saya pelajari dari ilmu ekonomi. Bahwa economics is a cold blooded. Ini kenyataan positivism. Jika ingin normative, ya maunya harga tetap rendah sementara demand kita tinggi. Inginnya rakyat kita sejahtera, tidak lagi terpuruk dalam kemiskinan yang membuat mereka semakin menderita. Saya tentu juga punya rasa itu. Tapi jangan lari juga dari kenyataan. Sampai kapan kita menyubsidi konsumsi orang-orang kaya? Sampai kapan rakyat kita dibutakan dari kenyataan pasar?
Jika kita ingin membuat negeri impian kita sendiri dengan mekanisme harga yang kita tentukan sendiri, maka kuasailah pasar itu! Kenyataannya sekarang kita tidak kuasai pasar dunia dengan minyak kita. Kita seharusnya punya sawit, tapi kita masih tidak bisa kendalikan harga CPO dunia. Apa yang salah dengan Indonesia?
Ketiga, memang seharusnya pemerintah tidak lagi melakukan penetapan harga dan membiarkan harga bergerak dengan sendirinya di pasar. Yang pemerintah lakukan adalah melakukan stabilisasi harga tersebut, sehingga ketika terjadi lonjakan besar, masyarakat tidak terlalu bergejolak. Intinya, dengan harga bergerak sendiri, pemerintah tidak perlu melakukan pengumuman akan naik ataupun akan turun tuh harga. Pasar akan terus bergulir saja. Dengan demikian, gejolak multiplier akibat pengumuman tidak akan terjadi. Yah, begitulah, kadang saya juga merasa pasar itu kejam. Ia hanya memihak mereka yang memiliki daya beli. Mereka yang tidak punya daya beli akan ter-crowd out dari pasar. Itulah fungsinya charity. Orang yang kelebihan WTP akan meng-cut pendapatannya untuk menaikkan daya beli masyarakat miskin. So, what to subsidize is the people (production side), not subsidize the market by price, because market will run as it does and it will create the dead-weight-loss.
Jadi ingat sebuah hadist yang mengisahkan tentang pengaduan seorang sahabat kepada rasulullah ketika harga-harga bahan pokok melonjak akibat peceklik dan dia meminta rasulullah untuk menetapkan harga. Maka rasulullah pun menjawabnya dengan “bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan kezalimanku di akhirat kelak dengan menetapkan harga? Paceklik itu terjadi atas kehendak Allah.” Intinya, kita bisa ambil pelajaran dari hadist tersebut bahwa kenaikan harga minyak dunia karena sentiment pasar dunia akan isu-isu tertentu itu sunatullah. Tapi penimbunan itu manusia yang melakukan kezaliman itu sendiri.
Keempat, kita mau nih menurunkan emisi karbon dunia. Target Negara kita tahun 2030 penurunan sekitar 57%. Tapi bagaimana bisa dicapai jika kita masih subsidi bahan bakar kendaraan yang menyumbang masalah kemacetan dan polusi di Negara ini? Baik, memang BBM tidak hanya berkaitan dengan emisi karbon saja, tapi terkait dengan kebutuhan pokok masyarakat. Lantas apa yang bisa dilakukan pemerintah? Untuk menjawab ini, saya sudah jelaskan di atas.
Saya tidak tahu keputusan yang dibuat oleh partai-partai itu karena murni membertimbangkan kepentingan rakyat dengan disandingkan teori ilmiah atau hanya sekedar sok berpihak pada rakyat dan takut kehilangan simpati. Saya tidak tahu apakah para tokoh politik yang semula ikut melakukan kajian-kajian tentang kenaikan harga BBM mengapa pada akhirnya tidak bersuara apakah itu karena mereka tidak berdaya dan merasa iba dengan rakyat yang semakin sulit ataukah hanya karena takut image mereka turun. Tapi saya yakin, kawan-kawan mahasiswa yang turun ke jalan itu, meskipun tidak semuanya, mereka murni memihak masyarakat. Saya hanya berharap mereka semua bertindak karena murni memihak kepada masyarakat dan semoga keputusan itu adalah keputusan terbaik. Penimbunan berakhir, harga cabai segera kembali turun 100% kembali.
Ah, lagi-lagi saya merasa bahwa masyarakat memang tidak berdaya dengan apa yang terjadi di pasar dunia ini. Bahwa dunia ini ternyata hanya dimainkan oleh beberapa orang saja yang berkuasa tanpa kita bisa melawan. Jika mau melawan pun rasanya terlalu naïf karena kita tidak punya bukti yang cukup logis. Tapi jika suatu saat kita bisa membuat arus sendiri, maka kita pun bisa pengaruhi mekanisme pasar dunia.
Wallahu’alam.

backsound: "Galang Rambu Anarki" - Iwan Fals

sumber gambar:
http://isuenergi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1168:asumsi-target-produksi-minyak-2012-disetujui-dpr&catid=38:minyak&Itemid=231

Selasa, 21 Februari 2012

Deck 6

Dengan barang-barang di punggung, kami berlima melangkah terburu-buru menuju tangga KM. Leuser yang melabuh di dermaga Tj.Priok tengah malam itu. Tangan kanan kami satu per satu menunjukkan tiket masuk kepada pemeriksa tiket di bawah tangga.
“Hati-hati, tangganya agak goyang!” Dani yang menjadi pemimpin perjalanan kami dengan kapal ini memperingatkan.
Dengan nafas kepayahan karena beban di punggung dan udara malam, aku menaiki satu per satu anak tangga hingga pemandangan dalam kapal itu terlihat dari mata kepalaku sendiri. Orang-orang di dalam kapal sudah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Beberapa masih mencoba menjejalkan berkarung-karung bawaan mereka ke dalam ruangan kapal, beberapa mencari-cari tempat peristirahatan yang nyaman dengan mata menyapu seluruh ruangan kapal. Kami turun ke lantai dasar untuk mencari tempat tidur. Bau pengap mulai menyeruak ke wajah. Sepanjang kami menyapu pandangan ke tempat tidur kayu yang berjejeran di ruangan remang-remang itu telah dipenuhi dengan orang-orang melayu dan hokian yang tidur, main catur, main kartu, makan, kerokan, dan aktifitas santai lainnya yang membuat suasana menjadi semakin pengap dan padat.
“Udah penuh, Dan. Kita ke atas aja deh. Pengap banget di sini.” Mita yang merupakan satu-satunya teman perjalananku yang perempuan pun protes.
Akhirnya kami naik lagi ke atas dan atasnya lagi hingga kami menemukan deck 6 yang tanpa ruangan. Seorang bapak menghampiri kami yang tampak celingukan.
“Di dalam penuh dik, mending di sini aja. Pake alas ini. Nanti bayarnya gampang.” Bapak itu langsung menggelar karung plastik putih yang disulap menjadi alas di emperan deck 6.
Akhirnya karena sudah merasa lelah berkeliling kapal, kami pasrah menerima tawaran bapak itu. Barang-barang pun kami jatuhkan di emperan deck yang langsung berhadapan dengan tangga ke ruang bawah dan mendapatkan angin segar dari pintu keluar yang berada di kiri dan kanan deck 6. Dengan sedikit enggan, aku duduk bersandar di dinding yang kotor depan tangga sambil memeluk tas ransel. Sementara teman-teman memeriksa seisi emperan deck dan sebagian berjalan-jalan ke luar. Aku dan Mita pasrah duduk di emperan itu, termangu dan letih setelah hampir satu hari menunggu dalam ketidakpastian kapan kapal akhirnya berangkat.
Wah, ternyata kami cukup beruntung mendapatkan tempat ini lebih dulu karena tidak lama setelah itu orang-orang masih bingung mencari tempat singgah untuk mereka di bagian kapal ini. Kemudian seorang bapak yang menggendong anak perempuannya yang berumur kira-kira 4 tahun menyusul kami di emperan deck 6 itu. Bapak itu tampak tua dan letih dengan pakaian yang sangat sederhana. Sementara anaknya menggelayut di lengannya sambil mengusap ingus di hidung yang sudah belepotan di pipinya. Anak itu tampak takut dan sedih. Mereka tidak berucap apa-apa dan langsung duduk diam di samping kananku. Aku mencoba tersenyum pada anak itu tapi ia membalasnya dengan tatapan takut. Akhirnya aku menyerah untuk menghiburnya dan beranjak dari duduk untuk berkeliling deck 6 yang berukuran 8x1,5 meter itu.




Akhirnya aku berhenti di depan sebuah pintu yang ditempeli gambar Spiderman hitam berpose di atas gedung tinggi sambil menjentikkan jemarinya yang mengeluarkan benang jaring laba-labanya. Di atasnya tulisan “Theater Film KM.LEUSER” ditempel dengan solasi seadanya. Kemudian mataku tergoda pada tulisan di samping kanannya yang ditulis tangan dengan pulpen: DILARANG MENEMPATI DEPAN THEATER FILM. Samping kirinya ada kertas karton kosong yang ditempel dengan solasi bening seadanya, di atasnya ditulis: “FILM HARI INI”.
Nampaknya ini sedikit menghiburku karena membuatku terkekeh geli.
“Eh, lihat deh, ternyata ada teaternya to di sini. Wuih, beruntung sekali kita. Hehehe...”
Kulihat teman-temanku akhirnya beranjak dari tempatnya masing-masing penuh minat.
“Bayar gak nih? Film apa ya yang diputer?”
“Weh, keren juga nih kapal. Udah kayak bioskop aja. Hahaha...”
“Halah, paling filmnya yang nggak mutu.”
“Masa sih, lha wong ini gambarnya ada Spiderman, Harry Potter, Transformer. Keren nu...”
Satu per satu mereka mengeluarkan komentar spekulasinya. Tapi ini akhirnya bisa membuka percakapan di antara kami yang sudah berwajah kuyu hingga tak terasa akhirnya subuh menjelang.
***
Di luar sepertinya gerimis. Kami tidur setelah berjuang melaksanakan shalat subuh sambil terhuyung-huyung karena gelombang laut. Rasanya lega sekali akhirnya bisa merebahkan tubuh di emperan deck 6 dengan beralaskan karung plastik seadanya. Ah, memang sudah lama aku mengimpikan bisa naik kapal pesiar seperti di film Titanic dan akhirnya aku mengalami pengalaman pertama naik kapal pesiar meskipun ngemper seperti ini. Hahaha...anggap saja kami sedang berada di kapal sekelas Titanic.
Pagi itu kami terbangun oleh suara Dani yang mengabarkan keadaan di luar.
“Eh, mau lihat pelangi di tengah laut nggak?”
Sontak aku bangun dan mengambil kamera sakuku di tas kecil kemudian bergegas ke luar. Luhung ternyata sudah duduk termangu di luar menatap pemandangan indah di hamparan laut lepas. Mita menyusulku di belakang sementara Reki masih tertidur dengan tenang.
“Wah, keren! Kok bisa sih di tengah-tengah gitu?” aku pun beraksi dengan kamera merahku. Seutas senyum menyembul di balik wajah kami yang diterpa angin laut bercampur butiran-butiran lembut air laut.
“Eh, udah waktunya sarapan nih. Kumpulin tiket sarapan gih, biar nanti aku sama Luhung yang ngambilin” sang ketua perjalanan tiba-tiba muncul dari dalam.
“Emang disediain sarapan ya? Wah, tambah keren aja nih kapal.” sentilku.

bersambung...
(hehe tunggu ya...)