Selasa, 10 Mei 2016

STUDY ABROAD?




Hello my dreams, how are you?
Baru kali ini saya merasakan bahwa bersyukur itu ternyata sulit. Kadang saya terhenyak sendiri ketika melihat beberapa postingan dari teman di media social yang mengingatkan untuk selalu bersyukur karena bias jadi di luar sana banyak orang yang menginginkan kehidupan seperti diri kita sekarang. Benar juga pepatah Jawa bilang, “urip kuwi wang sinawang”, bahwa hidup itu selalu indah dilihat dari sudut pandang orang lain.
Mungkin benar orang-orang mengatakan kalau kebanyakan berselancar di dunia maya hanya akan menambah penyakit hati dari iri, dengki, dan lain sebagainya karena melihat postingan-postingan indah dari teman-teman kita. Kita melihat kehidupan mereka yang sempurna. Tunggu dulu, kita juga harus ingat bahwa untuk mencapai postingan wah itu mereka juga melewati sesuatu yang menguras tenaga dan pikiran mereka.
Saya sekarang sudah menikah. Saya masih memiliki mimpi untuk merasakan kehidupan di luar sana yang secara spesifik saya terjemahkan dengan ‘study abroad’. Dengan kondisi saya yang sekarang ini mungkin itu adalah hal yang saya pikir mustahil bagi saya. Tapi jauh dalam hati saya tetap menginginkannya apapun yang terjadi sekarang. Saya memang tidak mengusahakan apa-apa lagi sekarang. Semua hasil kursus IELTS dan berbagai informasi beasiswa masih tersimpan rapi di dalam rak buku dan folder laptop. Saya hanya ingin menyimpan mimpi itu beberapa saat hingga entah kapan mimpi itu akan saya kejar lagi atau justru saya tinggalkan begitu saja.
Atas kehendak Allah, saya menikah dengan seseorang yang sangat berbeda dengan saya. Beliau adalah seorang praktisi minded banget. Sementara saya seorang teoritis minded banget. Saya bermimpi untuk kuliah setinggi-tingginya, sementara suami saya berpikir realistis dengan kehidupan yang ada di sekitarnya. Dia adalah orang yang sangat rasional dan bertanggungjawab. Sementara pikiran saya masih sangat random dalam menentukan sikap. Saya tadinya membayangkan akan memiliki suami yang sama-sama nyambung dalam hal passion. Allah menakdirkan saya menikah dengan seseorang yang memiliki passion yang tadinya sangat saya hindari. Well yeah, kita tidak akan pernah membayangkan sesuatu yang kita benci justru Allah hadirkan untuk kita cintai. Bisa jadi apa yang kamu benci itu baik bagimu, dan bias jadi sesuatu yang kamu sukai itu belum tentu baik bagimu. Pada titik ini saya dipaksa untuk mencari seribu alas an untuk berkhusnudzon pada Allah, hikmah apa sih sebenarnya yang Allah hendak hadirkan untuk kita. Tidak selalu yang indah-indah menurut kita itu Allah berikan secara kontan.
Satu pelajaran di sini guys…kita boleh menyiapkan diri sebaik mungkin untuk mendapatkan yang sesempurna mungkin. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa manusia antar manusia tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi kita. Akan ada banyak hal yang mungkin akan kita temui dari pasangan kita tentang ketidakcocokan-ketidakcocokan pada dirinya. Jangan takut pada ketidakcocokan itu. Itu justru tantangan tersendiri bagi kita untuk saling mendewasakan diri masing-masing mengenai perbedaan yang ada dan membumbuinya dengan cinta. Karena rasa masakan yang lezat seringkali berasal dari rasa bumbu-bumbu yang berbeda. Justru kalau satu bumbu saja rasanya akan hambar, bukan begitu? Ciee…
Okeh, balik lagi ke mimpi study abroad. Jadi dengan kondisi saya yang kurang mendukung untuk achieve my dream itu saya sering buka-buka kehidupan dan cerita orang-orang yang sudah mencapai itu. Kehidupan yang penuh petualangan dan lain-lain. Rasanya iri dan membayangkan seandainya dan seandainya bla bla bla. Setan sudah mulai memenuhi pikiran saya dan kemudian memberontak dengan kondisi yang ada, kemudian menjadi tidak mensyukuri apa yang ada hingga justru berbagai tanggungjawab terabaikan sudah. Itu kondisi terburuknya. Padahal andai kita tahu, mungkin mereka yang sudah mengenyam pendidikan di luar sana ke berbagai belahan dunia juga merasakan suatu kesepian yang tidak kita ketahui. Mereka ingin sekali memiliki keluarga kecil seperti kita. Menikah dan berjuang bersama pasangan meski itu adalah hal yang sederhana yang bias dilakukan. Mereka memandang kita hidup bahagia dan berkecukupan. Mereka mungkin juga menaruh iri saat kita memposting foto aktifitas bersama dengan pasangan missal memandikan kucing bersama, masak bersama, menonton TV berdua, bernyanyi bersama dalam mobil saat dalam perjalanan, dan lain-lain. Kita yang iri pada mereka, di luar sana ada juga yang iri dengan kita. Itu satu pesan yang harus terus saya ingat untuk tidak membuat kecewa orang-orang yang menginginkan posisi kita sekarang dengan tidak mensyukuri keadaan kita.
Bisa menggapai impian untuk kuliah di luar negeri itu mungkin sulit dan butuh perjuangan, tapi mendapatkan jodoh yang seperti jodoh kita saat itu juga sulit lho…
Oke, saya memang menginginkan jodoh yang memiliki passion yang sama dengan saya, tapi di luar itu saya ternyata mendapatkan lebih dari sekedar passion yang sama. Saat para istri mengeluhkan suami yang jarang membantu pekerjaan rumah, justru saya mendapatkan suami yang jauh lebih mahir mengenai tetek bengek pekerjaan rumah hihihi. See? Untuk mensyukuri suatu keadaan kita cukup mengingat satu kebaikan dan melupakan seribu keburukan.
Intinya saya tidak ingin terjebak pada apa-apa yang tidak bias saya lakukan, tapi saya harus memotivasi diri sendiri untuk focus pada apa-apa yang bias saya optimalkan.
Saya memang ingin ini dan ingin itu. Just do it. If you can’t do what you love, just love what you do and you will find yourself doing what you love.
Yang terpenting bagi seorang ibu rumah tangga ketika tidak memungkinkan bagi mereka untuk achieve their goals for higher education is to keep their passion to learn more and more. Bukan sekedar degree yang hendak kita raih, tapi ilmu yang bermanfaat bukan?
Lantas saya menghakimi diri sendiri dengan pertanyaan: mengapa saya ingin kuliah di luar negeri? Untuk apa dan siapa saya kuliah di luar negeri? Memang saya akan mendapat banyak hal baru dan bermanfaat di sana. Sudahkah terpikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya sebagai tanggungjawab dari degree yang sudah diraih selanjutnya? Itu yang sampai sekarang belum bias saya jawab dengan pasti hingga sampai detik inipun saya belum mampu membuat motivation letter secara jujur.
I just keep my dream and act like what I dream. Itu adalah bentuk lain dari achievement saya piker. Keep moving forward, honey! :-) 

Wonosari, 10 Mei 2016
Saat menunggu kepulangan suami pergi mengaji ^_^ 

Kamis, 03 Desember 2015

Senja di Laut Merah

Untukmu yang pernah menyapaku senja itu
Aku tak pernah tahu siapa dirimu
Kau datang begitu saja dengan tiba-tiba
Mengubah hidupku untuk selamanya

Senja itu, di pantai Laut Merah
Bayangan kita tersapu oleh indahnya matahari jingga di ujung dermaga
Seulas senyum yang tak kupahami
Hanya kuacuhkan

Dalam sujud-sujud kerinduan
Dalam tilawah yang panjang
Harap cemas di Multazam
Bisik doa di Arafah
Betapa Allah Maha Romantis dan begitu indah mempertemukan kita

Kakak,
Terima kasih telah menemukanku
Kini aku tak perlu lagi mencari-cari
Karena kau ada di depanku
Teruslah berada di depanku, menjadi imamku

Kini aku tak perlu lagi berpindah shaf untuk menghindarimu
Kini aku tak perlu lagi memalingkan muka karena disapa

Kini aku menjadi pendampingmu
Sampai di surga kelak
Aku ingin tetap menjadi bidadarimu




*mengenang hati yang bergejolak setahun silam. Untuk kakak terbaik, sekaligus suami terbaikku. ^_^



Fenomena Perubahan Drastis (2)

Maaf terpotong dari posting sebelumnya.

Bahwa hidayah adalah sesuatu yang tak terbeli apapun!
Kemudian saya tarik kembali dari masa Mas Gagah hingga sekarang. Seiring dengan proses saya dalam mempertahankan hidayah itu lama kelamaan saya menemukan soaok-soaok Mas Gagah dengan fenomena perubahan drastisnya masing-masing. Mlai dari kawan sendiri, hingga kalangan public figure. Ada decak kagum dan syukur dengan fenomena seperti ini. Rasanya mimpi untuk menebarkan sebanyak-banyaknya kepada dunia betapa nikmatnya dekat denhan Allah, betapa indahnya ajaran Islam itu satu per satu mulai muncul di permukaan. Makin banyak orang tentunya yang memiliki mimpi yang sama. Membumikan Islam sebagai rahmatan lil ’alamin. Mulai banyak yg tersadar untuk berbenah diri dan lingkungan.

Selintas saya teringat dengan sososok Teuku Wisnu dengan hijrah drastisnya. Sebagai public figure apalagi, mungkin akan banyak sekali goncangannya. Kini beliau bahkan menjadi salah satu duta komunitas one day one juz. Beliau berubah di saat puncak kariernya di atas. Lantas itu mungkin akan sangat mempengaruhi kariernya saat itu. Dari yang memiliki prinsip sederhana dan mengikuti arus pada umumnya, kini menjadi sosok idealis. Masih banyak lagi sebenarnya public figure yang mengalami fenomena serupa.

Positifnya adalah kemudian makin banyak yang mengenal sosok-sosok Mas Gagah seperti itu sehingga masyarakat tdak menganggapnya hal aneh lagi. Mas Gagah-Mbah Gigih yang lain tidak perlu lagi nerasa minder dan mengalami pergolakan hebat dengan lingkungan dankeluarga jika semua sudah terbiasa dengan sosok-sosok itu. Mereka bukanlah orang aneh ataupun error. Hanya sedang berproses memperbaiki diri menjalankan sebaik-baiknya perintahAllah. Itu saja.

Mungkin di masa awal kemunculan Mas Gagah dulu, masih banyak yang mengalami pencibiran dan mengucilan, apalagi untuk mbak-mbak yang berjilbab lebar. Tapi saya lihat sekarang iu sudah tidak terlalu menjadi masalah ketika paea muslimah kemudian sedikit demi sediki mulai memanjangkan kain jilbab mereka hingga aurat tertutup sempurna dan rapi.

Kita patut berterima kasih oada para guru dan ulama yang tiada henti mengajarkan pada kita pesan-pesan kebaikan. Betapa beratnya amanah mereka. Di satu sisi mereka seperti kaki kanan di surga dan kaki kiri di neraka. Jika sedikit saja mereka tidak konsekuen dengan aoa yang dikatakannya, Allah sudah murka. Tapi itulah kerennya Islam, mau tidak mau kita harus terus memperbaiki diri. Bukan berarti lantas tak berdakwah sama sekali, tapi itu yang memacu mereka untuk terus memperbaiki diri. Dan Allah pasti akan tolong. Maka kita doakan para guru kita untuk senantiasa dijaga Allah dalam kebaikan, diberikan istiqomah yang hebat.

Saya pun mencermati tak sedikit pula sosok-sosok Mas Gagah yang kemudian mengalami fase penurunan bahkan kejenuhan. Dari yang semangat kemudian mundur perlahan dari area peperangan. Tentu ini satu hal yang perku dievaluasi. Terlepas Mas Gagah datang dari harakah manapun, saya agak tergelitik dengan sosok Kyai Gufran yang dihadirkan sebagai salah satu wasilah AHA momennya Mas Gagah. Jika di cerpennya memang tidak disebutkan secara spesifik apa mencetus awal mula perubahan Mas Gagah, di filmnya kemudian dimunculkan sebagai seorang kyai yang di kalangan masyarakat munhkin lebih universal dan tidak menyangkut harakah apapun. Bahwa sejatinya hidayah bisa datang dari mana saja. Terlepas perbedaan antar organisasi. Semuanya berperan dalam mencetak sosok-sosok Mas Gagah yang istiqomah dalam kebaikan-kebaikannya.

Suatu saat kita akan jumpai betapa banyaknya Mas Gagah bertebaran di lingkungan kita dan menebarkan kebaikan-kebaikan lainnya.

Semoga sosok-sosok Mas Gagah rterus dijaga Allah dalam hidayah mereka. Karena ternyata memoertahankan hidayah itu jauh lebih sulit darioada ketika Allah mendatangkan hidayah itu. Kita tinggal menjeputnya. Sedangkan untuk mempertahankannya, butuh mujahadah, butuh perjuangan yang tiada henti hingga akhir hayat. Bukankah ultimate goal kita adalah bareng-bareng masuk surga? Ketemu sama Allah dan rasul-Nya. Subhanallah, itu nikmat yang tiada tara, tak tergantikan aoapun!


Fenomena Perubahan Drastis



Sekedar prolog...
Ah, sudah lama tidak menjejakkan kaki di sini sejak menyatakan diri hendak menikah hingga sudah ada sosok yang saya panggil sebagai suami tercinta. Yang saya lihat kebanyakan dari rekan-rekan sesama "newly married woman" adalah fenomena dari yang rajin menulis di blog, menjadi lebih rajin menulis status mesra di sosmed. Mungkin saya juga mengalami hal tersebut. Semacam ada euforia newly married. Bagi saya itu wajar dan dimaklumkan saja, karena mereka sedang mengalami fase perubahan besardalam hidupnya dan membutuhkan wadah untuk berbagi keterkejutan-keterkejutan itu. Apalagi mereka yang awalnya tidak oernah pacaran, kemudian menikah. Toh, seiring berjalannya waktu mereka akan tersadar untuk berproses dan belajar untuk lebih dewasa dalam mencintai.

Saya juga maklum hal postingan-postingan seperti itu juga cukup mengusik khalayak umum, terutama rekan-rekan yang masih single. Maka inilah saatnya kita belajar saling bertoleransi memahami perbedaan. Bukankah salah satu tanda kedewasaan adalah dewasa dalam mensikapi perbedaan sikap dan pandangan orang? For sure, kecakapan seperti ini sangat dibutuhkan dalam membina rumah tangga ke depannya, bekal utama bagi yang segera maupun sudah menikah. Akan selalu ada perbedaan pandangan dan sikap. Banyak pasangan muda maupun tua yang kerap dilanda konflik bahkan hingga perceraian karena itu tadi, kurang dewasa dalam mensikapi perbedaan. Alih-alih membehani diri sendiri, malah sibuk memaksakan perbaikan dalam diri orang lain. Maka cinta sejati nantinya akan terus tumbuh dalam nuansa saling menghargai, saling berlomba memperbaiki diri. How sweet ya...hehe.

Anyway, tapi saya tidak sedang ingin membahas itu karena sudah banyak yang membahasnya. Kok saya malah kebablasan bahas ini. Fenomena perubahan yang ingin saya bahas di kali ini adalah tentang fenomena Mas Gagah. Maklum, sekarang sedang banyak fans Mas Gagah dari zaman awal buku itu terbit hingga sekarang yang menunggu filmnya segera diluncurkan insya Allah awal tahun depan. Saya sedang mencermati beberapa fenomena seperti yang terjadi pada Mas Gagah.

Saya dulu pun mengalaminya, sewaktu awal-awal memutuskan untuk berhijab sampai akhir hayat. Ada sebuah fenomena "penemuan besar" dalam hidup. Dimana seseorang menjadi sangat tertarik oada Islam dan berusaha sekuat tenaga mengamalkan ajarannya. Allah menjadi tujuan utama. Benar-benar tujuan utama! Eagerness untuk selalu dekat dengan Allah begitu snagat kuat. Rasanya nikmat aekali. Selalu terinspirasi dengan nasehat-nasehat agama dan kebaikan.  Itulah yang sedang Allah berikan kebaikan dalam agamanya. Allah mudahkan orang itu untuk mendalami dan mengamalkan agama. Rasanya seperti menjadi seora mualaf yang baru saja berhijrah menemuka  Islam yang sesungguhnya, seakan kemarin-kemarin kita sama sekali tidak mengenal Islam, padahal dilahirkan dari keluarga yang sudah memeluk Islam dan menjalankan ajarannya. Tapi rmomen AHA! itu tidak semua orang mendapatinya. Bersyukurlah, sangat bersyukurlah untuk teman-teman yang sudah merasakannya.

Kita jadi tahu banget tujuan hidup kita untuk apa. Merasakan sekali kasihbsyaang Allah yang begitu luar biasa. Tidak tergantikan oleh papagun! HIDAYAH!

Senin, 16 Maret 2015

The Happiest "YES"

Someday I want to say the happiest "YES".

Let Allah choose the best choice, the best way, the best time, for us.


And Allah did it! ^_^
10 Dec 2014

Sebentuk Cinta dari Allah

Bahwa setiap rasa pedih yang dialami adalah tanda kasih sayang Allah
Allah hendak menghapus dosa-dosa yang belum sempurna ditaubati

Bukankah Allah sebaik-baik pemelihara?
Yaa Muhaimin...
Allah tidak akan pernah sia-siakan hamba-Nya
Ketahuilah
Ini pertanda cinta dari Allah

Sebagaimana Siti Hajar yang terus menyandarkan segala harapan pada-Nya saja
Meskipun seluruh bukit dan pasir gersang terus membisikkan tiada lagi harapan untuknya
Ia tetap berikhtiar sebaik-baiknya
Ia tetap menyandarkan segalanya pada-Nya saja
Ya, pada-Nya saja



#latepost
#happyending

Rabu, 11 Februari 2015

Satu Kata Bernama ISTRI

Ayah,
Kini aku adalah seorang istri
Aku telah membagi cinta dengannya
Karena mulai saat ini
Kunci surgaku berpindah padanya: SUAMIKU

Ayah,
Kau selamanya tetap kunci surgaku
Kau selamanya tetap menjadi cinta pertamaku

Kini
Ada satu kata yang menambah timbangan amanahku
Satu kata bernama ISTRI


11/2/2015