Selasa, 05 Januari 2021

Awal Baru

 Hanya ingin memberikan apresiasi untuk diri sendiri karena sudah bertahan sejauh ini dengan baik. Akhir tahun kemarin menjadi waktu yang cukup though bagi saya dengan berbagai persoalan yang beruntun seakan saya belum diijinkan untuk fokus satu saja pada tesis. Tapi pada akhirnya waktu-waktu yang sulit itu menjadikan saya bertumbuh. Saya dipaksa mengambil keputusan cepat dan dipaksa untuk menyadari tanggung jawab saya sebagai seorang leader. Memanajemen orang dengan berbagai karakternya itu tidak mudah. Tekanan dari satu sisi dan sisi lainnya sempat membuat saya stress. 

Yap, awal tahun ini menjadi awal yang baru bagi kami. Akhirnya saya memutuskan untuk berani mengambil langkah radikal yang sempat mendapat tentangan dari bapak. Ini sudah lama saya dambakan sebenarnya. Bagaimana menciptakan suasana kerja yang kondusif bagi karyawan dan juga saya. Sehingga pelanggan yang datang merasa bahagia juga. Alhamdulillah...meskipun belum bisa memberikan gaji yang dikatakan layak, tapi bersyukur bisa hire lebih banyak orang. Semoga saja bisa memberikan lebih banyak manfaat baik untuk mereka. Tujuannya agar lebih sedikit orang yang merasa tereksploitasi. Tapi mereka bekera dengan perasaan gembira karena mendapatkan pengalaman dan pembelajaran. To be more "human".

Karena yang dicari adalah keberkahannya kan...memang secara moneter, profit yang didapat belum seekspansif usaha kuliner yang seharusnya. Tetapi, coba kita mulai dari sini. 

Terima kasih, sudah berani mengambil langkah.

Terima kasih, tim baruku.

Senin, 28 Desember 2020

Ketiban Sampur

Ini adalah istilah Jawa yang menggambarkan orang yang terlanjur mendapat kalungan selendang dari sang penari mau tidak mau dia harus ikut menari. Yap, kurang akhir tahun kemarin diskusi tentang ini dengan seorang dosen dan beberapa kolega dalam lingkaran kami. Lagi-lagi tentang family business. Pernah saya tulis juga di blog beberapa waktu lalu. 

Menjadi keturunan dari orang orangtua yang memiliki bisnis biasanya dianggap sebagai sebuah good fortune karena memiliki privilege lebih dari yang lainnya ketika bisnis keluarganya berhasil. Sebagai anak dari pemilik bisnis, biasanya akan diwarisi untuk meneruskan bisnis tersebut apalagi jika sudah memiliki nama besar. Jangan salah juga, kontribusi bisnis keluarga dalam perekonomian ternyata cukup besar. Kita bisa lihat Astra, Gudang Garam, dll. Meskipun sudah melantai di bursa, kepemilikan saham terbesar tetap dipegang oleh keluarga besar. Tidak sedikit pula pemilik bisnis juga berlaku sebagai pemangku manajemen. Jika bicara pada tataran bisnis besar, tentu itu adalah good fortune, meskipun tidak dipungkiri juga usaha pribadi tetap berperan di sana.

Bagaimana dengan bisnis keluarga yang berada dalam ranah UMKM? 

Jika boleh berpendapat, tidak semua keturunan bisnis keluarga mendapatkan good fortune bagi dirinya. Bisnis keluarga bisa menjadi bisnis yang berkembang jika dikelola secara profesional. Mereka bisa melibatkan tenaga berkompeten untuk menjalankan bisnis mereka. Bisa pula mereka terjebak dalam lingkaran manajemen yang tidak profesional karena campur aduk kepentingan keluarga dan kepentingan bisnis secara profesional.

Studi Delloite Private menunjukkan hanya 13% dari total bisnis keluarga di Indonesia yang bisa bertahan hingga generasi ketiga. Biasanya generasi pertama yang membangun hingga berada di atas. Generasi kedua mengembangkan, dan generasi ketiga akan terjadi penurunan. Wow, this too scary. And there's no such thing as too big too fail. Let's see Nyonya Meneer.

Kembali ke fortune. Bagaimana jika orang yang terlanjur mendapat selendang penari itu sebenarnya tidak ingin ikut menari dan terpaksa menari?

Yes, sebagai orang yang "ketiban sampur" itu, barangkali saya merasa bersyukur di satu sisi karena usaha keluarga saya bisa menghidupi saya sejauh ini. Di lain sisi saya tidak ingin ikut menari tapi terpaksa menari. Ada beban tersendiri memang ketika kita ingin mengembangkan bisnis keluarga hingga bisa outopilot dan lebih profesional, tetapi terkendala pada sistem lama yang sulit dirubah. Curcol ini, kadang merindukan juga suasana keluarga yang tidak membahas bisnis dan pekerjaan. It feels like there is no home. Apalagi ketika tidak bisa dibedakan kapan berkumpul melepas penat bersama keluarga dan kapan berbincang tentang bisnis.

Seperti di film-film itu ya ternyata. Ah, kalau pernah nonton Crash Landing On You, teringat pada sosok Yoon Se Ri yang berasal dari keluarga pemilik bisnis. Konflik terjadi ketika ada kompetisi dari anak-anak pemilik bisnis tersebut. Kemudian salah satu akan memilih keluar dan membangun karirnya sendiri seperti Yoon Se Ri. Ahahaha. Kebanyakan drama. 

Sempat kepikiran sebenarnya untuk membuat komunitas untuk para successor bisnis keluarga. Barangkali suatu saat kita bisa saling bertukar pikiran dan berbagi keluh kesah antar successor yang harus membawa nama besar keluarga mereka sepanjang hidup mereka. Wondering aja sih how they deal with personal expectation dan tuntutan keluarga. 

It's not about how you get settled in your life. More than that, it's about how you create a good and greater impact. To have a meaningful life. To live meaningfully. 

For the sake of my lifetime goal: Ph.D. 

Selasa, 01 Desember 2020

Menjadi Awan

 Pernah nonton NKCTI kan ya...banyak banget yang relate tentang ini. Keren lah mas Angga Sasongko sang sutradara yang berhasil mengemas film dengan apik. Setiap kita mungkin akan relate dengan setiap tokohnya, entah itu dari sisi anak sulung, bungsu, tengah, ortu, ataupun...Kale. Hehehe.

Kali ini saya mengambil perspektif Awan, si bungsu. Ya karena saya relate-nya sama dia. Sama-sama bungsu. Saya ketrigger chat saya dengan kakak semalam dan obrolan saya dengan seorang teman yang seorang anak sulung ketika kami membahas film ini beberapa waktu lalu. Pertanyaan yang sering muncul adalah kenapa sih kakak adik sulit akrab? Beruntunglah mereka yang bisa akrab dan seperti sahabat sendiri antara kakak dan adik. Ini juga terjadi pada beberapa teman saya yang lain yang pernah bercerita pada saya. Dan percaya tidak percaya, mostly yang bercerita pada saya adalah seorang kakak. Aneh nggak sih ketika kita bisa lebih akrab dengan kakak dari orang lain dan bukan kakak sendiri? Atau sebaliknya. Hahaha

Gimana ya...hubungan ini tuh rumit memang. Kebanyakan anak sulung yang bercerita pada saya biasanya mereka mengeluhkan prioritas perhatian orangtua lebih banyak pada anak bungsu. Anak sulung sering merasa dinomorduakan. Atau orangtua lebih menurut pada anak bungsu daripada anak sulung. Sementara si bungsu seringkali terlihat tidak peduli dan egois. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Saya sebagai anak bungsu tidak menafikan perasaan yang hadir dan terbentuk itu sejak kecil dari seorang anak sulung. Perasaan mereka valid. Mereka wajar merasa seperti itu. Tuntutan menjadi seorang kakak itu besar. Dari awal mereka dididik untuk melindungi adiknya. Dan ketika tuntutan itu semakin besar, mereka biasanya cenderung untuk menganggap adiknya sebagai beban karena harus bertanggungjawab. Sementara si bungsu? Dia tidak terbiasa diberi tanggung jawab sejak kecil. Paling mentok ya bertanggung jawab atas diri sendiri. Ya memang tidak semua sih...

Sebenarnya tidak perlu saling menyalahkan juga sih...ya sudah terjadi dan baru disadari telah terbentuk di kehidupan dewasa. 

Lalu bagaimana perspektif Awan, seorang bungsu? Tahukah kalian wahai para sulung...hehe. Sebenarnya kami tuh juga merasakan hal yang sama lho... Bedanya, kami merasa dari kecil dianggap tidak berdaya. Pernahkah kalian menolak kami untuk ikut main dengan kalian karena dianggap merepotkan? Ya memang kami tumbuh dengan rese dan merepotkan kalian. Hahaha

Nah, dari sini seorang bungsu sebenarnya secara naluri ingin melakukan pembuktian bahwa mereka bisa melakukan segala sesuatu sendiri dan mencari validasi akan kemampuan mereka di luar. Dan ketika mereka lebih bisa diterima dan diapresiasi di luar, makanya mereka lebih nyaman di luar. 

Jadi tuh mereka sebenarnya merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi keluarga atas diri mereka. Makanya mereka mencari apa yang mereka bisa lakukan yang membuat mereka merasa berarti. Hidup bermakna itu ternyata kebutuhan juga. 

Tapi itu tadi...semua kembali ke personal masing-masing. Ada tipe yang memang sudah "mutung" dan akhirnya menjadi adik yang benar-benar egois karena sudah terbentuk di mindset mereka bahwa mereka tidak bisa dan tidak mau lagi berkontribusi ke keluarga seperti yang dibayangkan keluarga pada umumnya. Ada yang tipis-tipis menyadari dan berusaha.

Kami tuh ingin belajar bertanggung jawab atas diri sendiri karena selama ini merasa menjadi beban keluarga. Makanya kami egois tidak mau direpotkan juga karena tidak mau lagi merepotkan.

Setiap perspektif sulung dan bungsu tidak salah. Perasaan mereka valid. Hanya untuk memulai hal yang baru memang akan banyak kecanggungan untuk sesuatu yang sudah embodied, sudah membentuk kepribadian sejak kecil hingga dewasa. 

Kata Kale, "Sabar, satu per satu."

Pada akhirnya tempat pulang ya tetap keluarga kok. Bagaimanapun bentukan kepribadian setiap personal dari masing-masing anggota keluarga ya itulah mereka dengan segala dinamikanya. Menjadi orang yang menuntut atau dituntut sama-sama tidak mudah dan melelahkan. Dinikmati saja. Yang penting kita sama-sama saling menyadari bahwa setiap kita bertumbuh dengan pace masing-masing. Semua sedang berusaha menjadi lebih baik dari versinya. 

Untuk yang berjalan lambat, nggak papa, yang penting tetap berprogres. Mau itu orang lain noticed atau tidak. You still grow.

Untuk yang merasa lelah atas orang lain, nggap papa, merasa kesal itu wajar. Jangan lupa sayangi diri sendiri juga. 

Sebenarnya bahasa sayang itu sederhana, tapi seringkali kita tidak tahu bagaimana membahasakannya. 

Apapun bahasanya, perasaannya tetap sama. Sayang.



Kamis, 26 November 2020

Sense of Accomplishment

November. Saya tidak menyangka bulan ini menjadi bulan yang cukup tough bagi saya dan keluarga. Rasanya kejadian-kejadian sedih beruntun terjadi sejak akhir Oktober kemarin. Bergantian dan beruntun, silih berganti. Dari bapak jatuh, saudara yang meninggal, saudara yang sakit, ibu jatuh, kakek kritis hingga akhirnya berpulang tanggal 19 November kemarin. 

Bulan ini seperti hendak menggembleng saya. Puncaknya saat kakek berpulang kemarin saat saya tidak bisa sepenuhnya hadir membersamai beliau di detik-detik terakhirnya karena sedang bertugas untuk suatu kegiatan di Jogja. Sore setelah kakek dimakamkan, saya langsung kembali lagi ke hotel dengan load pekerjaan yang sebenarnya kalau kondisi normal bisa saya kerjakan tanpa stress, tapi karena kondisi yang capek dan stress, menjadi terasa sangat berat. Hari Jumat kemarin yang begitu kejar-kejaran antara urusan kuliah, pekerjaan, dan keluarga. Pernah kan mengalami stress tekanan sampai mual-mual? Rasanya badan tegang semua meskipun sudah berusaha untuk rileks. Sampai malam itu saya sambil menunggu abang gojek menangis sendirian di pinggir jalan Solo setelah kelelahan keliling Jogja mencari sesuatu yang akhirnya baru ketemu setelah pencarian ke-4. Literally nangis karena capek. 

Sampai akhirnya ternyata di hadiah tidak terduga hadir di Hari Minggu. Para partisipan dan master trainer memberikan apresiasinya. Itu rasanya mak-cless...benar-benar best moment of the year bagi saya. Pengalaman pertama men-deliver sesi dalam Bahasa Inggris di depan para GM dan profesional lainnya. Mungkin bagi banyak orang ini adalah hal yang biasa. Tapi bagi saya ini hal pertama dan cukup berarti bagi saya. Suatu hal yang dari dulu saya bayangkan sebagai "sense of accomplishment" ketika berhasil men-deliver sesuatu di depan publik. Saya memang tidak ahli dalam public speaking, tapi saya menikmati momen-momen saya menjadi center of attention dan saya menjadi fasilitator bagi orang lain untuk mendapatkan pengetahuan baru pada saat yang bersamaan, in a positive way. 

Rasanya berhari-hari ngubek-ubek ratusan materi toolboxes untuk dikemas dalam suatu training plan, training program, hingga session plans, terbayar sudah. I did it!

Saya masih membayangkan suatu saat bisa mendeliver hasil penelitian saya yang bisa berkontribusi cukup berarti bagi keilmuan di forum-forum internasional lainnya dengan baik. Hopefully, someday. 

Saya ingat beberapa waktu lalu saya sempat bertanya pada seorang kakak sekaligus "supervisor" bagi saya: "Kapan sih Mbak merasa sudah melakukan yang terbaik?" Karena selama ini saya seperti jarang sekali melakukan sesuatu hingga push to the limit dan hasilnya melebihi ekspektasi. Hanya di saat-saat tertentu saja. Dan itu sudah lamaa sekali saya tidak merasakannya. 

Kita tidak pernah mengetahui limit kita di mana sampai kita benar-benar menyentuhnya.

Allah, I want more. More "sense of accomplishment" moments.

Rabu, 28 Oktober 2020

Ruang

Saya sedang menyelesaikan buku ringan yang akhir tahun kemarin diekstafet kepada saya untuk selanjutnya saya ekstafet kembali ke orang lain setelah saya membacanya. Jadi ini adalah semacam latihan juga untuk hidup minimalis dengan menyedikitkan attachment kita pada barang atau sesuatu. Semakin sedikit yang bisa kita organize, semakin baik, semakin lapang hidup kita. Yah, barangkali saat ini mulai banyak orang terobsesi pada konsep Marie Kondo dengan seni tidying-up. Lebih pada belajar mindful dengan apa yang kita miliki dan hadir sepenuhnya pada kondisi saat ini di sini. Tentu saja kita yang terbiasa hidup memuaskan diri dengan membeli banyak barang akan terasa sulit menerapkannya. Saya sendiri pun.

Awal-awal saya sangat semangat untuk mulai memilah baju mana yang masih saya pakai dan mana yang sudah tidak saya pakai. Belajar betul untuk membatasi jumlah pakaian yang ada di lemari. Jika menginginkan sesuatu yang baru, paling tidak ada jumlah yang sama yang harus dikeluarkan dari lemari. Ternyata saya sampai saat ini belum bisa. Malah justru menyulitkan diri sendiri dengan mengikuti komunitas tukar baju agar baju-baju lama tertampung dan mendapat baju baru. Ternyata, baju baru yang saya dapatkan malah tidak sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Pada akhirnya kembali lagi ke kotak barang yang ingin saya tinggalkan. Bukan salah konsep yang ditawarkan oleh komunitas tukar baju itu sih sebenarnya. Tapi saya sendiri yang bermasalah dengan belum mampunya saya untuk mindful dengan apa yang benar-benar saya butuhkan.

Saat ini justru orang-orang lebih kesulitan mencari tempat agar barang-barang lama mereka dapat dikelola atau digunakan, tapi mereka sendiri masih sibuk mencari yang baru. Nah, ini akan terus berlanjut seperti siklus dan makin sedikit kemampuan orang untuk mengelola apa yang sudah mereka miliki. Karena untuk menginginkan sesuatu yang "seperti orang lain" ada yang harus diganti atau dilepas. Semakin banyak menginginkan sesuatu, semakin sempit pula kapasitas penampungan jika tidak ada yang dikurangi atau dilepas.

Masing-masing kita memiliki kapasitas yang berbeda-beda dalam mengorganisir atau menampung sesuatu. Ada yang kapasitas fisik luas, tetapi kapasitas batin mereka tidak cukup luas. 

Sebenarnya kita butuh ruang yang lebih lapang, bukan barang yang lebih banyak.

Ruang lapang itu adalah untuk diri kita sendiri. 


Senin, 26 Oktober 2020

Ekspektasi

Tahun ini banyak hal yang sudah terjadi yang di luar perkiraan kita bukan? Manusia seperti dipaksa untuk memutar arah. Tidak apa-apa. 
Jadi kerjaan saya selama pandemi ini hanyalah nongkrong di depan laptop dan scrolling media sosial sambil mencari-cari sesi online yang bisa saya ikuti sebagai selingan paper review dan drakor tentunya. Hehe. Nggak papa ya, niat untuk mengubah blog ini menjadi lebih serius tentang isu-isu pembangunan, sepertinya akan kandas dengan gaya tulis saya yang sedang ingin santai. Nah, salah satu sesi yang agak rutin saya ikuti adalah Hening Serentak bersama mas Adjie Santosoputro melalui live IG-nya. Ya saya jadi boros pulsa data sih memang. But I can't help
Sekitar Juni lalu kita berlatih untuk mengurangi ekspektasi. Lagi-lagi titik beratnya pada relationship. Huft, ini pe-er terberat saya. Membayangkannya saja sudah menghela napas berat duluan. Seperti berhadapan dengan Gunung Merbabu untuk didaki. Iya, saya masih saja berada dalam ketakutan yang sama. Meski sudah belajar sedemikian rupa untuk sedikit demi sedikit berbaur dan bergaul secara terbuka dengan siapa saja. Malah curhat lagi.
Oke, jadi kan kita nih manusia, siapapun itu pasti pernah mengalami hari yang sulit. Barangkali penampakan di luar masih terlihat tangguh, bisa jadi di kedalaman hati ada sisi kerapuhan. Dan kita harus akui dan menerima itu. Belajar jujur dengan diri sendiri, bahwa ada keinginan untuk dicintai dan mencintai. Di dalam diri kita itu tersusun atas kewelasasihan dan kerapuhannya. Ada sisi cinta, ada sisi sakit/patah hati. 
Di hidup ini, adakah yang tidak berubah? Semua berubah. Seperti arus sungai, ia akan terus mengalir. Kita tidak bisa menyentuh arusnya untuk kedua kalinya. Kita tidak bisa sama persis untuk kedua kalinya.
Maka sejatinya keakuan diri kita sebenarnya tidak ada. Dengan memahami keakuan yang tidak kekal, maka sebenarnya pun kita tidak bisa memiliki. Rasa memiliki adalah ilusi. Maka kehilangan itu juga semu.
Pada akhirnya kita juga akan terlepas dari diri kita, bukan?
Titik nol.

Minggu, 25 Oktober 2020

Trauma

 "Kita tidak bisa mengatur arah angin, tapi kita bisa mengatur layar kapal." -Kale (NKCTHI)

Seseorang pernah berkata pada saya, "Kalau motor sudah pernah jatuh parah sampai stangnya bengkok, akan sulit untuk diperbaiki lurus sempurna meski masih bisa berjalan normal." Intinya, kalau motor tidak bisa lagi kembali ke sedia kala seperti baru dipakai pertama kali. Biasanya kan kalau motor yang normal dalam kondisi berjalan stang motor akan cenderung dalam posisi yang lurus ke depan kecuali kalau diputar arah oleh pengemudi. Beda kalau motor yang habis kecelakaan stirnya cenderung kebanting ke kanan atau ke kiri meski kita tidak mengendalikannya. Ini berarti bahwa si pengemudi harus senantiasa memegangi stirnya agar tetap lurus. Tentu sangat lebig melelahkan bagi pengemudi. Dan inilah yang menyebabkan lebih besarnya risiko kecelakaan selanjutnya ketika pengemudi dalam kondisi yang lelah. Menurut yang beliau ceritakan kepada saya, sampai saat ini belum ada satu bengkel pun yang bisa mengembalikan kondisi itu seperti semula.

Saya tidak begitu paham sih urusan otomotif, tapi insight yang saya dapatkan dari beliau ini banyaaak banget. Thanks to him for so many life learning. I do love him. *tisu mana tisu 😅

Oke. Bukan masalah otomotif yang ingin saya tuliskan di sini. Tapi saya sedang ingin berefleksi sih apakah kondisi seseorang yang mengalami trauma itu seperti itu? Di luar sana ada orang-orang yang harus minum obat sepanjang hidupnya agar mereka bisa beraktifitas dengan "normal". Ada yang struggle dengan peristiwa-peristiwa traumatis dalam hidup mereka dan berjuang untuk menyembuhkan luka batin mereka. Ada yang tetap bisa memakai sepeda motor dengan selalu waspada memegang kendali stir agar tidak mudah berbelok karena kelelahan menahan stir yang sudah bengkok.

Mungkin amannya kita akan berpikir untuk menjual saja motor itu dan membeli yang baru. Tapi ada beberapa orang yang pilihan itu tidak mudah dilakukan. 

Kita tidak bisa memprediksi kejadian-kejadian luar biasa dalam hidup yang berimbas pada stir yang bengkok. Motor dengan stir normal saja masih bisa jatuh jika pengemudinya lalai, atau bahkan sudah mengemudi berhati-hati tapi ada saja yang tidak sengaja menabrak. Inilah mengapa dalam society ada rule of the game. Dibuatlah rambu-rambu lalu lintas, dibuatlah aturan tes untuk mendapatkan ijin mengemudi, dan prosedur-prosedur keselamatan lain. Itu semua untuk meminimalisir risiko. 

Lalu jika risiko sudah berwujud nyata menjadi bencana? Ya mau gimana lagi. Terima aja. Pergi ke bengkel mana tahu bisa diperbaiki sedikit biar stir tidak bengkok-bengkok banget. Atau kalau cuma lecet-lecet biasa kan tidak masalah. Atau misal harus ganti onderdil. Dan bengkel yang direkomendasikan adalah di dealer-dealer resmi dengan suku cadang aslinya. Kalau kita nih manusia sudah pernah jatuh dalam kejadian traumatis, kembalinya ke mana? Siapa yang menciptakan kita?

Nah, ini bukan tentang NIHILISM. Tapi bagaimana menjadi optimistic nihilism. Wadidaw kenapa jadi berbelok ke filsafat? Ada hubungannya tapi kepanjangan kalau dibahas bareng di sini. 

"Sabar, satu per satu." Kale - NKCTHI

Untuk yang belum nonton atau baca bukunya, NKCTHI (Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini). 9/10 sih dari sisi pesan moralnya. Nangis bombay di sepanjang film. 😅
.
.
@30haribercerita